Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Sisi Lain Aira


__ADS_3

Bian benar benar membawa pamannya, Erick, kerumah Alvian dengan sang papa yang selalu berada disampingnya. Kondisi pria paruh baya itu bahkan sudah terlihat sangat berantakan. Ada beberapa luka memar dan lebam di wajah dan juga anggota tubuhnya.


Sementara di rumah besar Alvian, hanya ada beberapa orang saja, yaitu Alex, Jiza, Tante Mira, Aira, Alvian dan juga Oma Tamara. Sedangkan orangtua Sean, Alex dan juga Jiza, mereka sudah berpamitan pulang untuk beristirahat.


Langkah pria paruh baya itu terlihat terseok seok, dengan tangannya yang terus ditarik oleh dua anak buah Tuan Adi.


Bruk


Tubuh tuanya terhempas kelantai dengan keras, membuat Erick tersungkur dalam kondisi lemah. Perlahan wajah paruh baya itu terangkat memandang sekeliling. Nampak beberapa orang tengah duduk disofa yang ada diruang tamu, dengan ekpresi wajah mereka yang terlihat marah.


Namun ada satu orang yang berekspresi kaget bahkan terlihat syok. Dan orang itu langsung berdiri berjalan kearah belakang. Membuat Erick tersenyum miris, sadar jika semua orang nampak membencinya.


Aira, wanita cantik itu tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya saat melihat kondisi paman dari suaminya itu. Dengan cepat dia berdiri dan melangkah menuju dapur.


Dengan bantuan salah satu artnya, Aira membawa kotak obat, sementara artnya membawa baskom berisi air hangat dan juga satu gelas air putih.


Sementara diruang tamu, Alvian terlihat berjalan menuju kearah pamannya. Pandangan matanya tajam menelisik, sebenarnya ada rasa iba dihatinya, tapi jika mengingat semua perbuatan kakak dari papanya itu, seketika membuat emosi Alvian kembali tersurut keluar.


"Dimana keberanian yang kau tunjukkan tadi paman ? Apa kau begitu senang karena sudah menghancurkan hidup keponakanmu sendiri. Kenapa kau begitu membenciku."


Erick, pria paruh baya itu tersenyum miring, menatap wajah tampan didepannya yang begitu mirip dengan sang adik, Barra. Ada rindu yang terlihat ditatapan bola mata Erick, rindu yang begitu besar untuk sang adik.


"Ya, aku sangat senang walau agak kecewa karena kau masih bisa tersenyum. Aku akan lebih puas lagi kalau melihat istri j*****u itu mati." Kekehnya kecil.


Rahang Alvian mengeras mendengar ucapan pamannya, pria itu tidak bisa lagi menahan emosinya.


Bugh


"B*****n sepertimu memang tidak layak untuk hidup. Atas dasar apa kau membenci istriku hah, bahkan dia saja tidak mengenalmu. Bagaimana bisa kau membencinya b*****k."


"Kau ingin tahu alasannya kenapa aku sangat membencinya dan juga dirimu ? Itu karena dia sama sama j*****g seperti ibumu. Hahahahaha......dan j******g itu yang sudah menghancurkan keluargaku bocah sialan."

__ADS_1


Bugh


"Ibuku bukan seorang j*****g, dia wanita terhormat. Beraninya kau menghina ibu dan istriku hah."


Alvian terus saja menghajar Erick hingga membuat pria itu tersungkur lemas disana dengan wajahnya yang sudah tidak berbentuk. Bahkan ada darah yang keluar dari beberapa anggota tubuhnya.


"Kau bisa membunuhku kalau ingin, aku akan menerimanya dengan senang hati." Ucap Erick dengan suara lirih.


Dengan begitu aku bisa membayar atas semua kesalahanku dimasa lalu keponakanku. Gumamnya dalam hati.


Alvian tertawa sumbang, tatapan matanya berubah menyeramkan menatap pada pamannya.


"Membunuhmu ? Itu terdengar sangat mudah dan ringan Erick, aku tidak akan mengabulkannya. Menghabisi nyawamu adalah hukuman yang paling ringan bagiku, dan aku tidak akan pernah melakukannya. Aku akan menyiksamu sampai kau sendiri berharap untuk mati, tapi kau tidak bisa mati. Dan itu adalah hukuman yang pantas untuk kau dapatkan."


Erick tersentak, ada rasa takut dihatinya namun dengan segera pria paruh baya itu menepisnya. Tersenyum, jika dengan menyiksanya dia bisa membayar penderitaan keponakannya itu, maka akan dia terima.


Tidak ada yang tahu jika sebenarnya Erick sangatlah menyayangi keponakannya itu. Namun rasa bersalah dan kekecewaan dimasa lalu enggan membuat pria itu menunjukkan rasa sayangnya.


Ditambah rasa kecewanya pada sang istri yang pergi meninggalkan dirinya dengan membawa serta putra mereka, semakin membuat Erick merasa tertekan dan putus asa. Nyatanya pilihan orangtua tidak selamanya baik walaupun gadis itu berasal dari kalangan atas.


Monika, yang notabenenya anak seorang konglomerat yang setiap harinya selalu bergelimangan harta. Dia tidak bisa terima saat melihat bisnis suaminya hancur dan bangkrut. Dia tidak bisa terima dan tidak bisa untuk hidup sederhana. Karena itu bukanlah levelnya.


Erick menatap sekeliling dimana semua orang melihat kondisinya yang buruk tanpa sedikitpun ingin menolongnya. Tersenyum miris karena sadar jika semua orang begitu membencinya. Bahkan adiknya, Adi terlihat enggan sekali untuk menatap dirinya.


"Apa kau begitu lemah anak muda, bahkan hanya untuk membunuhku saja kau hanya mengeluarkan sedikit kemampuanmu. Apa j******g itu terlalu memanjakanmu hingga kau berubah menjadi pria lemah." Cibirnya dengan nada memprovokasi Alvian.


"B*****k ! Sudah kubilang jangan menghina ibuku." Pekiknya lalu bersiap kembali melayangkan bogeman mentahnya pada Erick.


"Berhenti !"


Teriakan keras membuat tangan Alvian melayang diudara dengan jarak yang kurang dari 5 centi didepan wajah pamannya. Tubuh pria itu menegak dan berbalik kebelakang. Nampak Aira sedang berdiri disana dengan tatapan tajamnya tertuju padanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan mas ?" Tanyanya dengan suara lirih.


"Aku memberi pelajaran pada pria b*****k ini sayang. Dia sudah berani menghinamu dan juga mamaku." Ucapnya tegas dengan mata yang masih memerah, terlihat nafasnya juga yang naik turun.


"Lalu apa bedanya denganmu mas ? Kaupun terlihat seperti pria b*****k karena menghajar orang yang sudah jelas lemah dan tidak berdaya."


Deg


Alvian tersentak, walaupun perkataan Aira terlihat sangat sederhana, namun begitu mengena dihatinya.


Aira berjalan menghampiri Erick yang terlihat berbaring lemah diatas lantai. Mencoba membantu pria paruh baya itu untuk duduk.


"Sayang, kenapa kamu menolongnya, dia itu....."


Alvian menghentikan kata katanya saat tatapan tajam Aira terhunus tepat dijantungnya, ada kemarahan besar yang terpendam disana, dan Alvian baru kali ini melihat sisi menyeramkan istrinya.


Glek


Tanpa sadar pria itu menelan salivanya yang tampak kering, keringat dingin mulai menetes melihat istrinya yang nampak sangat marah.


"Apa kalian hanya akan menonton saja tanpa ada niat untuk membantuku ? Alex, Bian."


Kedua pria itu nampak syok mendengar suara Aira yang nampak lain dari biasanya. Wanita yang sehari harinya selalu terlihat lembut dan anggun itu saat ini sedang mengeluarkan taringnya yang sangat panjang. Taring yang mampu membuat kedua pria disana gelagapan dan langsung berjalan cepat kearahnya.


Sementara Jiza hanya bisa mengulum senyum tipis melihat Aira yang sedang dalam mode garang. Sebenarnya bukan kali ini saja dia melihat sosok lain seorang Aira, dia yang sudah bersahabat lama dengannya, tentu saja tahu sifat dan watak asli sahabatnya itu yang selama ini tersembunyi.


Jadi tidak heran kalau sekarang dia terlihat santai dan menikmati ekpsresi wajah wajah terkejut didepannya ini.


Lain Jiza lain pula Oma Tamara dan juga Tante Mira. Kedua wanita berbeda usia itu tidak menyangka jika sosok cucu menantunya itu bisa juga bersikap garang. Selama ini mereka selalu melihat sisi lembut Aira, tidak pernah menyangka jika wanita muda itu bisa semarah ini.


Namun ada kesenangan tersendiri dihati mereka berdua, melihat bagaimana kedua cucunya yang nampak tidak berdaya dibawah kuasa Aira. Itu membuatnya sedikit terhibur pasalnya selama ini merekalah yang selalu membuat orang lain tidak berdaya dibawah kuasa mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2