
Suasana kediaman Alvian nampak begitu tegang, terlihat jelas dari raut wajah wajah mereka yang ada disana. Orang tua Sean, Tuan Andre dan juga Nyonya Silvi juga terlihat ada dirumah Alvian. Mereka berdua tadi juga berada disana, dipernikahan Alex karena bagaimanapun Alex adalah sahabat Sean, dan mereka sudah menganggapnya seperti anak mereka sendiri.
Tadi sepulang dari pesta, Aira masih saja diam bahkan di dalam mobil pun tidak sekalipun wanita itu mengeluarkan suara. Walau berkali kali Alvian memancingnya, tetap saja wanita itu hanya diam membisu dengan wajah pucat pasi.
Alvian pasrah, saat ini yang terpenting adalah mengetahui kondisi mental istrinya. Jangan sampai Aira merasa terguncang dan stres, maka dari itu selama didalam mobil dia tidak membahas satupun kejadian tadi.
Hingga pada akhirnya rasa panik Alvian semakin besar kala sang istri yang tiba tiba ambruk pingsan saat kakinya baru saja menginjak lantai depan pintu rumah. Sontak saja hal itu langsung membuat Alvian berteriak keras meminta bantuan seisi rumah.
Alex datang bersama Jiza dan kedua orangtua juga mertuanya. Langkah kaki mereka terlihat buru buru, dengan wajah yang tidak kalah cemas berharap semuanya baik baik saja.
Lalu bagaimana dengan Oma Tamara ?
Jangan ditanya lagi, wanita lanjut itu saat ini juga sedang ditangani dikamar pribadinya setelah tadi sempat mengalami drop karena syok berat. Penyakit jantungnya kambuh lagi, beruntung Dokter tidak lama kemudian datang hingga nyawa Oma Tamara bisa terselamatkan.
Sementara Alvian sendiri nampak berjalan mondar mandir dengan penampilannya yang sudah berantakan. Wajahnya tegang memikirkan dua orang yang sangat dicintainya itu kini masih ada didalam ruangannya. Sang Dokter pun belum ada satupun yang keluar.
Cklek
Semua mata menoleh saat melihat dokter keluar dari pintu kamar Oma Tamara. Bergegas Alvian menghambur padanya dengan memberikan pertanyaan bertubi tubi.
"Dokter, bagaimana Oma saya."
Mata sang dokter menelisik wajah tampan didepannya yang kini terlihat sangat berantakan. Senyum kecil terbit dibibir pria paruh baya itu. Selama belasan tahun mengenal keluarga ini, baru sekarang dia melihat Alvian begitu sangat panik.
"Tenanglah Al, Nyonya Tamara baik baik saja, semua sudah normal kembali, detak jantungnya juga sudah stabil, dan saat ini beliau sedang istirahat."
Alvian menghela nafas lega, rasanya sedikit plong hatinya mendengar kabar baik tersebut.
"Tapi saya minta jangan membuat hatinya terselimuti beban dan pikiran, karena itu akan memacu pada kondisi jantungnya. Stres berkepanjangan akan mengakibatkan penderita jantung merasa tertekan dan akan berakibat fatal bagi sipenderita. Jadi setelah ini usahakan untuk tidak membuatnya stres ataupun syok yang berkepanjangan."
"Baik Dok."
"Aku yakin kamu bisa Al, bertahun tahun aku mengenalmu, aku tahu kamu ini adalah cucu yang sangat menyayangi beliau. Nyonya Tamara sangat beruntung mempunyai cucu yang sangat luar biasa seperti dirimu."
Setelah sedikit memberikan pengarahan pada Alvian, Dokter bernama Haris itu pun berpamitan untuk pulang. Tidak lupa dia memberikan resep obat khusus yang harus ditebus oleh Alvian.
Kini perasaan Alvian sedikit lega, setidaknya Omanya sudah dalam kondisi baik baik saja. Tinggal menunggu kabar istrinya yang saat ini masih ada didalam kamarnya dengan ditemani oleh Tante Mira dan juga seorang dokter tentunya.
Pintu kembali terbuka, dan sekarang semua orang nampak sangat antusias berdiri serentak. Tidak sabar ingin mendengar kabar tentang kondisi Aira.
__ADS_1
"Kalian semuanya tenanglah, saya akan menjelaskan kondisi Nona Aira saat ini." Kekehan kecil terdengar keluar dari mulut sang dokter saat melihat semua orang nampak berdiri mengelilinginya.
"Katakan dokter, apa yang sudah terjadi pada istriku. Kenapa mendadak dia pingsan, wajahnya pun sangat pucat tadi." Cecar Alvian yang tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Hei bung tenangkan dirimu, istrimu baik baik saja, hanya..."
"Kenapa dokter."
Pria paruh baya itu menepuk pundak Alvian dengan lembut.
"Jagalah istrimu, jangan membuatnya stres berkepanjangan karena itu akan berdampak buruk pada bayi kalian." Ucapnya dengan tersenyum.
Satu detik
lima detik
Sepuluh detik
Pikiran Alvian benar benar blank, pria itu mematung kaku dengan pandangan mata kosong.
Bayi ? Maksudnya tadi dia bilang bayi itu...
"Istrimu mengandung Al, selamat kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."
"Hamil ? Istriku hamil ?" Dokter mengangguk.
Sementara Alvian masih syok, beberapa orang disana nampak tersenyum bahagia. Dibalik kejadian yang hampir membuat jantungan, kini mereka mendapat kabar yang paling dinantikan oleh semua orang.
Alex yang melihat Alvian justru terbengong, dengan sedikit kesal pria itu berjalan mendekati Alvian lalu menampar pipinya.
Plak
"Sakit n***t !" Geram Alvian tersadar dari lamunannya.
"Mau lagi ? Istri loe hamil bukannya masuk malah bengong. Gimana sih."
Sejenak Alvian menggaruk tengkuknya lalu kembali menatap pada sang dokter. Rasanya dia masih belum bisa mempercayai kejutan ini.
"Hamil ya dok ? Beneran hamil ?" Tanyanya dengan wajah jenaka.
__ADS_1
Alex menepuk keningnya.
"Iya, istrimu sedang hamil dan supaya lebih akurat kamu harus membawanya.....
kedokter kandungan."
Dokter melanjutkan ucapannya yang sempat terputus saat pria tampan itu sudah kabur masuk kedalam sebelum sempat dia menyelesaikan ucapannya.
"Dia begitu bahagia hingga bertingkah laku seperti orang bodoh." Sungut Alex dengan wajah kesal yang dibalas kekehan kecil dari sang dokter.
"Baiklah kalau begitu saya harus pamit, masih ada beberapa pasien dirumah sakit. Jangan lupa beritahu pada Alvian untuk membawa istrinya kedokter kandungan." Pesannya sebelum dia benar benar pergi dari rumah Alvian.
"Pasti Dok, anda jangan khawatir. Kalau perlu saya sendiri yang akan mengingatkannya." Jawab Alex pasti dan tegas.
Sementara didalam...
Alvian sudah berada didalam kamarnya dan dia melihat sang istri yang sudah sadar dengan ditemani oleh tante kesayangannya. Siapa lagi jika bukan Tante Mira, selaku mamanya Bian.
"Sayang..."
Aira yang sedang mengobrol dengan Tante Mira langsung menoleh kearah Alvian. Tangan kanannya berada tepat diatas perutnya seakan sedang membelai anak yang ada didalam perutnya yang masih datar.
Pria itu bergegas menuju ranjang lalu menciumi seluruh wajah Aira tanpa ada sedikitpun terlewati. Mengabaikan sang Tante yang kini sudah menatapnya jengah.
"Mas, ada Tante Mira." Bisik Aira ditelinga suaminya, sumpah demi apapun kali ini Aiara merasa sangat malu akan ulah suaminya itu.
"Biarkan saja sayang, anggap saja patung." Balasnya dengan suara pelan, namun sayang telinga jeli Tante Mira mendengar ucapan lirih Alvian.
Jengkel, wanita cantik itu langsung menjewer telinga keponakannya itu dengan geraman kesal.
"Jadi kamu menganggap tante ini patung hah. Dasar keponakan durhaka kamu ya, tante sumpahin kamu makin tampan ya."
Aira cekikian mendengar banyolan Tante Mira. Bagaimana tidak, jika orang lain akan mengeluarkan sumpah serapah berupa kata kata kotor, lah ini malah menyumpahi Alvian jadi pria tampan.
"Mau tante biar Al makin tampan, tapi Iisss..lepas tante ini sakit banget tahu." Rengek Alvian supaya tantenya mau melepaskan jewerannya.
Pada akhirnya Tante Mira melepas jewerannya ditelinga Alvian. Pria itu mengusap usap telinganya yang kini nampak terlihat sangat memerah karena ulah tantenya.
TBC
__ADS_1