
Alvian tiada henti memandangi wajah cantik yang saat ini sedang tertidur dengan sangat pulasnya. Setelah pernyataan cintanya siang tadi, kini keduanya semakin dekat dan tidak ada lagi perasaan canggung.
Dan Alvian pun tidak segan segan untuk tidur ataupun melakukan aktifitasnya dikamarnya yang ditempati oleh gadis yang sudah berubah status sebagai kekasihnya itu. Dan semua itu tentu saja tidak luput dari ceramah panjang lebar dari Oma Tamara yang mewanti wanti cucunya itu untuk tidak melakukan hal yang macam macam.
"Awas saja kalau kamu berbuat yang neko neko, tak sunat dua kali nanti BEOmu itu." Ancam oma Tamara siang tadi.
Alvian yang tengah berbaring mendadak ingat perkataan omanya yang diucapkan siang tadi dan itu sukses membuatnya bergidik ngeri. Dan tanpa sadar matanya mengarah keperut bawahnya menatap pada BEO nya yang sedang tertidur pulas.
Hiii..oma kejam sekali, bagaimana jika oma benar benar memotong BEOku ? Akan hancur masa depanku. BEO kamu jangan aneh aneh ya, tunggu resmi baru nanti kita akan berkunjung kerumah PIPIT.
Tingkah laku Alvian tanpa sadar sudah membuat Aira terbangun, namun sejurus kemudian kening gadis itu berkerut menatap sikap Alvian yang nampak aneh menurutnya. Pria itu terus komat kamit dengan mata yang terus mengarah kebawah.
"Kamu kenapa mas ?" Tanya Aira, ya semenjak keduanya sudah saling membuka hati, Aira berusaha untuk belajar memanggil pria itu dengan sebutan mas.
"BEOku mau dipotong." Ceplosnya tanpa sadar pada siapa dia berucap.
"Hah ! BEO, maksudnya gimana sih ? Beo apa yang mau dipotong." Tanya Aira langsung duduk dari tidurnya.
Alvian terkejut lalu menatap gadis disebelahnya, pria itu tersadar dari ucapannya yang tidak sengaja dia keluarkan.
"N-nggak, maksudku burung beo tetangga kita mau dipotong karena sakit." Lagi jawabannya terasa ambigu membuat Aira kembali bingung.
"Kamu aneh deh mas, burung tetangga yang sakit kenapa kamu yang panik. Lagi kok kamu bisa tahu kalau beo tetangga sakit ?"
Alvia merutuki mulutnya yang asal nyeplos tanpa disaring, hanya karena takut akan ancaman oma nya membuat pria itu bertingkah konyol.
"Sudah nggak usah ngomongin masalah BEO, mending kita ngomongin masalah kita berdua aja sayang, gimana ?" Tanyanya dengan wajah yang sudah mendekat pada Aira, pria itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"M-mas, kamu menjauh dikit ah.." Kata Aira dengan suara gugup dan wajah yang sudah memerah.
"Kenapa ? Kok kamu blusshing gitu." Goda Alvian dengan semakin mendekatkan wajahnya kewajah gadis didepannya.
"Ak-aku..."
Cup
Aira melotot saat pria itu mengecup bibirnya, hanya mengecup tidak lebih.
"Mas."
Alvian terkekeh, dia sangat suka melihat pipi merah Aira, baginya itu semakin membuat gadis itu terlihat sangat cantik.
"Aku hanya mengecup bibirmu saja kamu udah malu gitu, apalagi kalau aku melakukan hal lebih."
"Mas !"
"Hahahaha...ya ya maaf, habisnya kamu sangat lucu sekali Ra."
Aira cemberut lalu memalingkan wajahnya kesamping. Tahu kekasihnya merajuk, dengan cepat Alvian meraih wajah Aira lalu membawanya untuk bisa menatap wajahnya.
__ADS_1
"Jangan marah, aku hanya menggodamu. Lagipula aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhmu bukan, aku akan melakukannya jika kita sudah menikah. Dan aku akan selalu memegang kata kataku. Percayalah padaku." Kata Alvian dengan mimik muka serius.
Bagai hipnotis, Aira menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Merasa gemas Alvian mengecup kening Aira agak lama lalu setelah itu menempelkan keningnya pada kening Aira.
"Aku mencintaimu Ra, sangat mencintaimu." Bisiknya lembut mendayu.
Aira mengangguk menanggapi ungkapan cinta pria yang sudah keberapa ratus kali itu dengan mata terpejam, dia menikmati momen momen yang selalu membuat hatinya berbunga. Jantungnya berpacu dengan sangat kuat, bahkan melebihi saaat bersama dengan Sean dulu.
Jika dulu dia hanya merasakan cinta saja, berbeda dengan sekarang, ada rasa ingin memiliki dan menunjukkan pada dunia jika Alvian adalah miliknya.
"Ayo segera bersiaplah, aku akan membawamu jalan jalan hari ini." Ucap Alvian membuyarkan lamunan Aira.
"Benarkah ? Kamu tidak sedang berbohong kan mas ?" Tanyanya dengan wajah berbinar.
Alvian mengacak gemas kepala Aira. "Kapan aku pernah berbohong sayang, bersiaplah hari ini kita akan kencan dan shopping. Beli apapun yang kamu inginkan Baby, pacarmu yang tampan ini akan membelikan semuanya untukmu."
"Akan aku habiskan uangmu mas."
"Hahahaha..habiskan saja, aku memang mencari uang untuk bisa dihabiskan oleh istri dan anak anakku."
"Aku kan bukan istrimu mas."
"Sebentar lagi, dan sekarang aku sedang menyicilnya."
"Menyicil, memang hutang kok dicicil." Ujar Aira dengan bibir mencebik.
"Anggap saja begitu, jadi nggak nih jalan jalannya, kok malah berdebat sih. Kalau nggak jadi kita tid..."
Alvian tersenyum dengan tangan yang menyentuh pipinya tempat Aira mendaratkan ciumannya.
"Gadisku sangat nakal." gumamnya pelan.
💕 💕 💕
Sementara itu dilain tempat seorang gadis nampak duduk termenung disebuah restoran cepat saji. Wajah sedihnya begitu terlihat dengan mata yang terus menatap kelayar ponselnya. Tangannya mengusap foto yang dia jadikan walpaper ponselnya.
Foto dirinya dengan seorang gadis yang memeluk dirinya dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya yang sangat cantik. Dia ingat, itu foto saat mereka merayakan ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu.
"Kamu dimana Araku, aku sangat merindukanmu sahabatku."
Krieet
Suara kursi ditarik membuat gadis itu mendongak keatas, menatap wajah pria tampan yang saat ini duduk didepannya. Sama seperti dirinya, wajah pria itu juga nampak lesu.
"Kamu sudah dapat kabar tentangnya ?"
Pria itu menggeleng lemah. "Aku belum berhasil menemukannya Za."
"Ini sudah hampir sebulan dia menghilang Lex, aku sangat khawatir sekali. Bagaimana keadaan dia disana, apa dia baik baik saja." Ucap gadis itu yang ternyata adalah Jiza dengan airmata yang sudah menetes.
__ADS_1
Alex menggenggam jemari tangan Jiza dan mengusapnya dengan lembut. Berusaha untuk memberikan kekuatannya pada gadis itu walau tidak dipungkiri dirinya juga sama khawatirnya dengan Jiza.
"Tenanglah, aku akan berusaha lebih keras lagi." Janjinya pada Jiza.
Jiza mengangguk lalu mengusap airmatanya dan berusaha untuk tersenyum, yang membuat Alex semakin terpesona dengan senyuman gadis itu.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan dulu, sambil mencari info, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu." Ajak Alex.
Jiza nampak berpikir sesaat, kemudian mengangguk mengiyakan ajakan Alex, pria yang sudah resmi menjalin hubungan dengannya.
Setelah membayar semua pesanan, mereka berdua berlalu dari restoran tersebut dan melangkah menuju mobil Alex. Saat ini tujuan mereka adalah sebuah pusat perbelanjaan mewah yang ada disalah satu kota Jakarta.
Tidak sampai setengah jam, mereka berdua sudah sampai di Mall T*******k. Dengan sangat posesif, Alex menggenggam tangan Jiza dengan begitu erat, membuat gadis itu sedikit malu sebenarnya. Apalagi pandangan semua orang menatap kearah mereka berdua.
"Alex, jalannya biasa saja, lihat semua menatap kearah kita." Bisiknya ditelinga kekasihnya.
"Biarkan saja, mereka hanya iri lihat bagaimana romantisnya aku sama kamu. Udah kamu diem aja, nanti kamu ilang aku bisa repot." Jawab Alex santai.
Jiza menepuk keningnya, heran dengan sikap pria ini yang mendadak berubah menjadi sangat posesif.
"Aku bukan anak kecil lagi Lex, bagaimana aku bisa hilang. Kamu ini aneh." Gerutunya.
"Justru karena kamu sudah besar, makanya aku harus berhati hati. Emang kamu tidak lihat mata mata serigala lapar yang dari tadi menatapmu itu, siapa tahu kamu diculik sama mereka, kan aku yang sengsara nanti." Kekehnya dan tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
Jiza memutar bola matanya, malas menanggapi Alex yang sudah dipastikan tidak akan mendengar apapun yang dikatakannya jika pria itu sudah muncul sifat posesifnya. Dan dengan terpaksa gadis itu membiarkan saja apapun yang dilakukan oleh Alex.
"Kita mau kemana ?" Tanya Jiza pada Alex.
"Emm, kita belanja baju dulu ya, aku ingin membeli kemeja. Selain itu aku juga ingin membelikan sesuatu untukmu."
Jiza mengangguk, lalu mengikuti langkah Alex yang membawanya kesalah satu department store yang menjual baju khusus pria. Hanya dengan sekali lihat Jiza sudah bisa memastikan jika semua pakaian yang ada disini sangatlah bermerek dengan harga yang sangat fantastis tentunya.
Jiza masih saja mencari pakaian yang sekiranya cocok untuk Alex, dengan sekalian jas dan dasinya. Mereka saling memadupadankan beberapa setelan kemeja dan jas yang cocok.
Saat sedang asik memilih, tanpa sengaja pandangan mata Jiza menatap keluar toko. Dan seketika gadis itu mematung dengan kedua mata yang membelalak sempurna. Bahkan tubuhnya sangat kaku dan wajahnya begitu pucat. Sepersekian detik berikutnya airmata gadis itu mengalir dengan sangat deras.
Sadar jika Jiza tidak ada dibelakangnya, Alex langsung berbalik dan mencari sosok kekasihnya. Wajahnya yang tadi panik berubah lega saat melihat bayangan Jiza yang sedang berdiri membelakanginya. Namun wajah leganya berubah pias saat melihat kekasihnya sedang banjir airmata.
"Za, kamu kok menangis ? Ada apa ?" Tanya Alex dengan suara paniknya.
"Al-lex.." Panggil Jiza dengan suara terbata bata.
"Ada apa sayang ?" Tanyanya lembut.
Jiza masih tidak menjawab, hanya saja matanya beralih pada Alex. Kemudian dia menggerakkan jari telunjuknya kearah belakang Alex. Penasaran akhirnya pria itu berbalik mencoba mengikuti arah telunjuk Jiza.
Bruk
Kantong belanjaan yang dia bawa seketika jatuh kelantai saat tangannya tidak mampu menahan beban itu. Kedua tangannya mendadak berubah lemas seakan tidak bertenaga. Sama halnya seperti jiza, Alex pun sampai meneteskan airmatanya saat melihat pemandangan didepannya.
__ADS_1
TBC