Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Menjelang Hati Bahagia


__ADS_3

Hari ini suasana dirumah Alvian nampak begitu berbeda tidak seperti biasanya yang sepi dan sunyi. Beberapa orang nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan demi memperlancar acara pernikahan yang hari ini digelar dirumah tersebut.


Alvian benar benar membuktikan ucapannya, semalam sesaat setelah menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya, dia menghubungi asistennya untuk mempersiapkan acara pernikahannya yang akan dilaksanakan esok hari. Tentu saja perintahnya langsung dikerjakan oleh sang asisten dengan diselingi gerutuan seperti biasanya.


Dan dia patut membanggakan kinerja Bian, adik sekaligus asistennya, terbukti pria tampan itu mampu menyelesaikan semuanya dalam waktu yang sangat singkat.


"Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu Bi." Tanya Alvian berpura pura tidak tahu.


"Kau ini masih juga bertanya kak seakan akan tidak tahu apa apa. Padahal aku seperti ini juga karena ulahmu yang menyita waktu istirahatku seenak perutmu." Dengan kesal pria itu menjatuhkan tubuhnya disisi Alvian.


Alvian terkekeh lalu menepuk punggung adik sepupunya itu dengan pelan, dari sekian saudaranya yang lain, hanya Bian lah yang dekat dengannya.


"Makasih ya sudah bantuin kakak." Ucapnya tulus.


Bian bengong dengan mata yang mengerjap, mendadak merasa aneh dengan sikap kakaknya.


"Apa kau itu benar Alvian kakakku ?"


Alvian memutar bola matanya jengah.


"Kau itu mau jadi adik durhaka ya. Gajimu kupotong 80% bulan ini." Gerutunya.


Manik mata hitam pekat itu membola mendengar ultimatum sang kakak.


"Yang benar saja, gimana aku mau bayar cicilan apartemen kalau gajiku saja dipotong segitu besar."


"Kamu itu kaya, tapi apartemen kok ngutang." Cibirnya pada adik sepupunya. " Bahkan Paman dan Bibi bisa membelikanmu sepuluh apartemen Bi."


"Aku mau beli dari hasil kerja kerasku sendiri kak, kakak kan sudah tahu kalau aku sudah terbiasa mencukupi segala kebutuhanku sendiri. Lagipula aku kan lelaki, cemen kalau apa apa minta sama orangtua." Belanya bangga dengan dirinya sendiri.


Alvian tersenyum, inilah yang dia sukai dari adiknya itu. Sifat mandirinya dan tidak menggantungkan hidupnya pada kekayaan orangtuanya membuat Alvian akhirnya menjadikan Bian sebagai asistennya. Didukung dengan otak licik dan cerdas membuat perusahaannya semakin maju semenjak Bian ikut dengannya.


Padahal Om dan Tantenya juga bukan orang sembarangan, mereka juga mempunyai perusahaan besar yang tersebar di beberapa ibukota lainnya. Namun Bian lebih memilih memberikan hak itu pada adik perempuannya yang saat ini masih kuliah semester akhir. Bukan berarti orangtua Bian tidak sayang padanya, hanya saja dia lebih ingin menikmati kemandiriannya saat ini, walau berkali kali Daddy nya menyuruhnya untuk menggantikannya diperusahaan.


"Kakak bangga padamu Bi, kamu memang adik yang luar biasa." Ucapnya dengan tersenyum. " Kakak puas dengan hasil kinerja kamu."


"Kalau puas berarti ada bonus donk."


Alvian menatap jengah namun tidak menyurutkan rasa bangganya pada sang adik. Walaupun mencibir, tapi pria itu tetap melakukan sesuatu untuk adiknya.


"Bonusnya ada di apartemenmu, kakak sudah melunasi apartemenmu."

__ADS_1


Mata Bian membola seakan tidak percaya, namun beberapa detik kemudian ponselnya menyala pertanda ada panggilan masuk.


"Tuan Bian, maaf saya diperintah Tuan Alvian untuk mengantar mobil keapartemen anda. Dan saya sudah memasukkannya digarasi, nanti kuncinya saya antar kerumah Tuan Alvian."


Bian memandang kakaknya dengan perasaan yang tidak bisa dia utarakan. Saat sadar pria itu dengan tidak tahu malu memeluk kakaknya tanpa perduli tatapan aneh beberapa orang yang ada disana.


"Hei, jangan peluk peluk, nanti dikira aku doyan pisang. Geli tau nggak."


"Ck, ayolah kak biarkan saja, aku hanya ingin mengucapkan terima kasihku padamu itu saja." Sungut Bian dengan tidak melepaskan pelukannya.


"Lakukan pekerjaanmu lebih giat lagi jika kamu ingin berterima kasih padaku. Kamu adikku sudah sepatutnya aku melakukan itu padamu."


"Baiklah, sekarang berhubung semuanya sudah beres aku mau tidur dulu, aku ngantuk sekali kak."


"Kamu ingin kutendang kebenua Afrika ?"


"Ayolah kak, aku ngantuk sekali."


"Tidak sebelum acara pernikahanku selesai, setelah itu terserah kamu mau tidur seharian atau selamanya juga aku tidak akan melarangmu."


"Ck, kau ini kak."


Sementara itu dikamar Oma Tamara tiada henti mengurai senyuman manis. Melihat betapa cantiknya gadis yang saat ini sedang mengenakan kebaya putihnya. Walaupun acaranya hanya sederhana namun tidak mengurangi rasa bahagia wanita yang sudah lanjut usia itu.


Tadinya Alvian menginginkan acara yang mewah dan meriah, tapi mengingat jika ini masih dihari duka setelah kepergian Sean, pria itu memundurkan acara resepsinya nanti setelah kondisi sudah membaik, demi menghormati Aira dan juga kedua orangtua Sean.


"Kamu cantik sekali sayang." Pujinya tiada henti memandang wajah cantik Aira.


"Tentu cantik Oma, diakan primadona kampus." Sahut Jiza, gadis itu ikut bahagia mendengar sahabatnya akan menikah tadi pagi, walaupun dia merasa terkejut dengan kabar yang begitu mendadak.


"Benarkah ?"


"Iya Oma, bahkan aku sendiri kadang merasa iri melihat bagaimana dia menjadi rebutan para kumbang." Godanya sembari mengerlingkan matanya kearah Aira yang mendadak cemberut.


"Aku kan tidak pernah menanggapi mereka Za, maaf kalau bikin kamu iri." Cetusnya dengan tersenyum, dia tahu jika sahabatnya hanya bercanda.


Oma dan Jiza langsung tergelak mendengar ucapan Aira. Saat ingin membalas kata kata Aira, mendadak pintu terbuka dan muncul wajah Nyonya Silvi disana.


"Mama."


"Apa sudah selesai sayang ? Ayo suamimu sudah menunggu dibawah." Ucapnya lembut.

__ADS_1


"Ma..maaf." Ucap Aira lirih, sebenarnya dia merasa tidak enak dengan mamanya Sean, pasalnya dia menikah disaat Sean baru pergi 2 hari yang lalu.


Seakan mengerti Nyonya Silvi melangkah lalu duduk disamping Aira. Mendongakkan kepala Aira hingga membuat gadis itu menatapnya.


"Tidak apa apa sayang, kamu juga berhak bahagia. Mama justru senang kamu sudah bisa keluar dari kesedihanmu. Masalah Sean mama minta maaf karena tidak bisa memutar waktu kembali. Seandainya bisa mama pasti tidak akan pernah menikahkan kalian berdua. Mama minta maaf ya sayang, karena keegoisan kami yang membuatmu menderita."


"Tidak ma, jangan berkata seperti itu. Semuanya adalah takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Ara ikhlas ma, mungkin itu semua terjadi karena Allah mempunyai rencana yang indah buat Ara."


Nyonya Silvi tersenyum, lalu membelai sayang pipi Aira.


"Kamu benar, mama juga sudah ikhlas dengan kepergian Sean. Sekarang Papa dan Mama hanya punya kamu, putri kami. Walaupun kamu sudah menikah jangan lupakan kami ya sayang. Pulanglah jika kamu merasa sedih, pintu rumah kami selalu terbuka untuk putri mama ini."


Aira langsung memeluk mamanya, mencurahkan rasa bahagianya yang begitu besar. Dia sangat beruntung mendapatkan mertua yang begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Tentu ma, bagi Ara sekarang hanya papa dan mama orangtua Ara."


Nyonya Silvi tersenyum senang, begitupun dengan Oma Tamara dan Jiza. Mereka bersyukur dan ikut bahagia karena Ara mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari orangtua Sean.


"Sudah jangan menangis nanti make up nya luntur. Ayo kebawah, Ijab Qabulnya sudah selesai. Selamat ya, sekarang kamu sudah sah menjadi Nyonya Alvian. Mulai sekarang statusmu sudah berubah, dan mama minta hormati suamimu jangan sekalipun membantah ucapan dan perintahnya ya. Surgamu berada ditelapak kaki suamimu nak. Jangan meninggikan suaramu saat berbicara dengan suamimu, karena ridho Allah terletak pada ridho suamimu sayang." Pesan Nyonya Silvi pada putrinya.


"Iya ma, Ara akan selalu mengingat apa yang mama katakan."


Mereka lalu berdiri membantu Aira menuju lantai bawah. Saat membuka pintu langkah mereka terhenti dengan adanya sosok pria yang berdiri tepat didepan pintu. Sepertinya pria itu akan masuk kedalam, terlihat tangannya yang terangkat keatas ingin mengetuk pintu.


"Boleh papa yang mengantarmu kebawah sayang." Tanya Tuan Andre dengan mata yang berkaca kaca.


"Papa." Pekik Aira senang lalu menghambur kepelukannya. "Ara pikir papa tidak jadi datang."


"Putri papa sangat cantik, bagaimana papa tidak datang saat hari bahagia putri papa ini hm ?" Jawabnya lalu mencium keningnya dengan sayang.


Menekuk lengannya sembari menatap wajah sang putri.


"Ayo."


Tersenyum manis Aira melingkarkan tangannya daan bergelayut manja dilengan kokoh pria paruh baya tersebut. Disusul Nyonya Silvi yang berdiri disampingnya dengan menggenggam erat tangan kirinya.


Dibelakang Jiza menuntun Oma Tamara dengan senyuman yang tidak pernah luntur dengan kedua mata yang terus menatap kedepan kearah ketiga orang yang berjalan dengan sesekali tertawa.


Jiza bersyukur, Aira dikelilingi oleh orang orang yang begitu sayang padanya setelah serentetan kejadian buruk menimpanya. Pada akhirnya sahabatnya menemukan kebahagiaannya, dan dia berharap semoga sahabatnya itu selalu bahagia sampai seterusnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2