
Setelah kepergian Frans yang pergi dari ruangannya dalam keadaan marah, Sherina tampak menggeram kesal dan kembali melampiaskan amarahnya dengan berteriak keras sembari mengumpati pria itu. Sherina marah karena Frans yang sudah berani menolak perintahnya, apalagi ditambah pria itu yang mengancamnya membuat amarah didalam hatinya semakin bergejolak.
Sherina duduk kembali di kursi kebesarannya dengan nafas yang tersengal sengal karena kelelahan setelah melampiaskan amarahnya dengan teriak teriak yang tidak jelas bahkan suaranya pun sampai menjadi serak. Wajah putihnya menjadi merah disertai dengan nafas yang memburu.
"*******\, lihat saja Frans apa yang akan aku lakukan padamu karena sudah berani melawan perintahku." Geramnya dengan sorot mata yang memerah.
Sherina meraih ponselnya yang ada diatas mejanya lalu nampak gadis itu menekan bberapa tombol nomer seseorang. Kakinya berjalan kesana kemari sembari menunggu panggilannya terhubung dengan seseorang diseberang sana.
"Halo --"
"-----------"
"Dimana kau ? Aku ingin bertemu denganmu sekarang."
"-----------"
"Baiklah aku akan ke apartemenmu sekarang juga."
Setelah menekan tombol off, Sherina langsung meraih tas dan langsung berjalan keluar dengan langkah yang terburu buru. Tidak ada satupun karyawan yang berani menegurnya pasalnya saat ini hanya dengan melihat wajah masamnya saja semua orang sudah tahu kalau CEO mereka sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
__ADS_1
*
Sementara itu Frans yang dalam keadaan marah pun kini nampak sedang berada didalam ruangannya bergelut dengan beberapa berkas yang menumpuk. Selalu begitu, dari dulu Frans selalu melampiaskan amarah dan kesalnya dengan terus bekerja dan bekerja. Baginya itu adalah salah satu cara pelampiasan yang cukup ampuh untuk mengalihkan amarahnya.
Frans masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya ketika ponselnya berdering pertanda ada yang sedang menghubunginya. Saat melirik siapa yang sudah berani mengganggunya, Frans mengernyitkan dahinya ketika tau kalau panggilan telpon itu berasal dari salah satu anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengawasi Sherina.
Frans memang sangat marah dan kecewa pada Sherina, apalagi jika mengingat kata kata hinaan yang diucapkan oleh gadis itu tadi membuat harga dirinya bagai diinjak injak olehnya. Tapi semarah apapun dia pada Sherina, tidak menyurutkan kewajibannya untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh Tuan Besar padanya untuk selalu menjaga dan melindungi Sherina dan perusahaan apapun yang terjadi.
Lagipula ada satu sebab kenapa dia menahan amarah dan sakit hatinya pada gadis itu selain karena tugasnya, semua itu tidak lain karena rasa cintanya yang begitu besar pada gadis itu. Walau dia tahu Sherina adalah gadis yang angkuh dan berambisi tapi tidak membuat rasa cinta didalam hatinya pudar tapi malah semakin membesar.
Frans yakin suatu saat nanti Sherina akan melihat cinta didalam hatinya yang sangat besar untuk gadis itu, dan dia yakin suatu saat nanti gadis itu akan berubah. Saat ini tugasnya adalah menjaga dan selalu memantau semua kegiatannya. Untuk itulah dia menugaskan beberapa anak buah andalannya untuk selalu menjaga dan mengawasi Sherina dari kejauhan. Apalagi setelah kejadian beberapa saat lalu diruangan gadis itu, Frans yakin kalau Sherina akan berbuat nekad dan menghalalkan segala cara.
"Dimana dia --" Tanyanya tanpa basa basi.
"Cari tau siapa yang dia temui, dan tetap awasi dia jangan sampai lengah. Kabari aku kalau kau menemukan sesuatu yang mencurigakan atau kalau kau melihat dia keluar, mengerti."
"Baik Bos."
Dddrrrttt
💬
"Bos, Nona bertemu dengan sahabatnya Milly dan saat ini keduanya sedang bersiap keluar dari apartemen Nona Milly."
__ADS_1
Frans meghela nafas kasar sembari memijit pelipisnya, kepalanya mendongak menatap langit langit kantor yang transparan menampakkan langit biru cerah. Pesan dari anak buahnya sukses membuat kepalanya mendadak pusing.
"Apa yang kamu lakukan disana Rin ? Kenapa kamu bertemu dengannya ? Aku harap kamu tidak benar benar menjalankan niatmu itu, atau kau akan berhadapan denganku."
Bukan tanpa sebab Frans mengkhawatirkan Sherina yang bertemu dengan sahabatnya, Milly. Pasalnya dia tahu seperti apa gadis yang menjadi sahabat Sherina itu. Milly adalah sosok wanita serigala berbulu ular. Sikap baiknya selama ini pada gadis itu hanyalah kedok semata, karena yang sebenarnya adalah Milly mau bersahabat dengannya demi mencari dan mengorek kelemahan Sherina.
Rasa iri dan cemburu pada Sherina karena dia terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, sementara dirinya berasal dari kalangan bawah yang sekedar untuk makan saja dia harus bekerja keras. Dia iri karena Sherina mempunyai segalanya, orang tua, kekayaan, derajat dan juga otak yang super cerdas. Sementara dirinya, demi mencapai di level itu dia terpaksa melemparkan dirinya keorang orang kaya untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia iri dengan kebahagiaan Sherina, maka dari itu dia ingin merebutnya diam diam dengan berpura pura menjadi sahabat baiknya.
Sayangnya walaupun Sherina adalah gadis pintar dan angkuh, tapi sebenarnya dia itu adalah gadis yang sangat polos. Maka dari itu dia tidak pernah merasa curiga dengan kepura puraan Milly, karena gadis itu bisa menutupinya dengan sangat baik.
Tapi tidak dengan Frans\, pria itu sangat tahu dengan jelas apa dan bagaimana sifat asli seorang Milly\, maka dari itu dia selalu menempatkan beberapa anak buahnya untuk selalu mengawasi dan melindungi Sherina dari jauh. Dan kini rasa khawatir Frans semakin bertambah ketika tahu kalau Sherina menemui Milly\, karena sudah pasti gadis j*****g itu akan memberikan ide ide gila yang bisa mengancam keselamatan perusahaan dan juga Sherina.
Frans sungguh khawatir kalau gadis yang dia cintai itu benar benar berbuat nekad, bukan masalah karena perusahaan yang bakal terancam, tapi lebih kemasalah lain yaitu tentang keselamatan gadis itu. Pasalnya dia tahu siapa sosok Fabian Nugraha yang dia kenal. Selain karena dia adalah anak dari seorang pengusaha besar, tapi bukan itu yang dia takutkan.
Frans lebih khawatir dengan sosok kakak dari pria itu yang tidak lain adalah Alvian Aditya Siregar. Semua pebisnis pasti tahu dengan sosok pria berdarah dingin yang tidak segan segan menghabisi lawannya apabila ada yang berani menyentuhnya ataupun keluarganya. Apalagi dia tahu kalau Bian adalah adik kesayangan pria itu, Frans sangat takut jika suatu saat Sherina akan berhadapan dengan pria yang terkenal dengan kekejamannya itu.
Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali dia harus menurunkan egonya untuk bertemu dengan Bian. Ya, dia harus bertemu dan berbicara dengan pria itu, atau kalau tidak dia akan terlambat dan berujung dengan sebuah penyesalan yag amat besar.
Mengingat itu cepat cepat Frans meraih ponselnya dan segera menghubungi sekretarisnya, dia harus bertindak cepat.
"Buat janji temu dengan pimpinan BA. Group, katakan kalau asisten Sherina ingin bertemu dan berbicara empat mata dengan beliau."
TBC
__ADS_1