Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Melepas rindu


__ADS_3

"Araku, putriku, mama sangat merindukanmu." Rengkuh Nyonya Silvi dengan begitu erat pada gadis didepannya ini, nampak airmata mengalir dikedua sudut matanya.


"Ara juga sangat rindu pada kalian berdua, pa, ma." Sambut Aira yang langsung menenggelamkan tubuhnya didada bidang papa mertuanya, setelah sebelumnya dia memeluk Nyonya Silvi.


Mereka bertiga pada akhirnya saling berpelukan menumpahkan rasa rindu yang begitu besar dengan saling terisak menangis. Bahkan kini Nyonya Silvi yang tampak tidak bisa menahan perasaannya lagi. Wanita itu yang paling menangis keras dibandingkan dengan kedua orang yang ada dipelukannya.


Alvian nampak tersenyum tipis dengan airmata yang mengalir disudut matanya. Pria itu ikut terhanyut melihat drama menyedihkan yang terpampang jelas didepan matanya.


"Apa kabar kalian berdua Pa, ma." Tanya Aira setelah acara peluk pelukannya selesai.


Tuan Andre tersenyum lembut sembari mengusap surai hitam Aira yang tergerai lurus.


"Kami baik sayang kamu jangan khawatir. Justru papa yang harusnya bertanya, bagaimana kabarmu selama ini sayang ? Semenjak kamu menghilang, papa benar benar kehilangan jejakmu."


"Aira baik baik saja Pa."


"Lalu bagaimana kamu bisa bersama dengan Tuan Alvian sayang ?"


"Papa Kenal dengan Alvian ?" Tuan Andre mengangguk pelan, ada rasa penasaran saat Aira menyebut nama Alvian tanpa embel embel.


"Dia rekan bisnis papa." Jawabnya dengan tersenyum.


Rupanya Tuan Andre memang mengenal sosok Alvian, bagaimana dia tidak kenal, selain karena memang mereka berdua terlibat kerjasama bisnis, Tuan Andre memang tahu sosok pria tampan yang sangat berpengaruh didunia bisnis.


Pengusaha dengan kekayaan nomor 3 di dunia, dan juga jangan lupakan sepak terjangnya didunia bisnis yang sudah tidak diragukan lagi. Bahkan para pengusaha lainnya saja tampak segan dan takut jika berurusan dengan pria didepannya. Karena sejatinya Alvian adalah sosok pria yang selalu menepati ucapannya, dia akan menghancurkan siapapun yang sudah berani berurusan dengannya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan papa sayang ?"


"Itu pa, dia.."


"Aira calon istri saya Tuan Andre, dua minggu lagi kami akan segera menikah." Potong Alvian cepat sembari mengulum senyuman tulus.


Aira memasang wajah tidak enak saat melihat ekspresi wajah kedua mantan mertuanya itu, raut wajah terkejut dan kebingungan.


"Apa maksudnya ini sayang ? Apa yang dikatakan oleh Tuan Alvian ini adalah benar ?" Tanya Tuan Andre.


Aira menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang saling meremas.


"Maafkan Ara pa, tapi yang dikatakan mas Alvian memang benar. Kami berencana untuk menikah sesuai yang dia katakan." Jawab Aira yang membuat Alvian bernafas lega, pria itu sempat berpikir jika Aira akan menyangkal perkataannya, mengingat didepannya ini adalah mantan mertuanya yang pasti berhubungan dengan Sean, mantan suami Aira.


Tuan Andre berpaling kearah istrinya dan keduanya saling memandang dengan tatapan yang sukit diartikan, beberapa detik kemudian nampak Nyonya Silvi menggelengkan kepalanya pelan pada suaminya. Berharap suaminya itu mengerti dengan kode yang dia berikan.


Jangan mengatakan apapun pa, please, biarkan putri kita menemukan kebahagiaannya. Bathin Nyonya Silvi dengan harap harap cemas.


"Kenapa meminta maaf nak, ini bukan salahmu. Kamu juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu. Tolong maafkan papa dan mama yang selama ini menjadi penyebab hidupmu menderita. Jika saja kami tidak bersikeras unyuk menjodohkan kalian berdua, mungkin saat ini kamu sudah pasti hidup bahagia. Dan juga papa tidak akan kehilangan sahabat papa." Ucap Tuan Andre sedih dengan tatapan mata yang sudah berkaca kaca jika mengingat mendiang sahabatnya, Andi.


Aira menghambur dipelukan Tuan Andre, dengan tangis isakan yang mulai terdengar kembali. Perkataan papa mertuanya tentu saja membuatnya merindukan sosok kedua orangtuanya yang sudah tiada.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti putri papa ini akan berubah jelek." Goda Tuan Andre berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


Setelah selesai dengan drama tangis menangis, keduanya mempersilahkan Aira dan juga Alvian untuk duduk dan menikmati hidangan yang sudah mereka persiapkan. Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu menghela nafas lega, merasa bersyukur karena pada akhirnya putrinya menemukan seseorang yang sangat mencintainya dan juga mampu memberikan perlindungan untuknya.


Terbukti mereka melihat langsung bagaimana dengan telatennya Alvian melayani Aira dengan kelembutan dan kasih sayang. Bahkan tatapan pria itu begitu mendamba pada sosok putrinya.


"Ekhem..Nak boleh papa bertanya sesuatu padamu nak ?" Suara Tuan Andre membuat tangan Alvian yang hendak menyuapkan nasi kemulut Aira sontak berhenti kemudian saling melemparkan pandangan mata.


"Boleh silahkan pa." Jawab Aira dengan tersenyum.


Tuan Andre menatap kearah Alvian seakan merasa sungkan dengan pria muda didepannya itu. Melihat hal itu Alvian hanya memberikan senyuman tulus, dia sudah mempersiapkan hatinya semenjak dia memutuskan untuk mempertemukan keduanya.


Melihat senyuman Alvian, pria paruh baya itu bernafas lega, tadinya dia khawatir sebab pertanyaan yang ingin dia ucapkan itu berkaitan dengan Sean, putranya.


"Apa kamu masih membenci Sean nak ?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga setelah cukup lama dia menahan bibirnya untuk tidak mengeluarkan kata kata keramat itu.


Aira membeku dengan raut wajah yang berubah pucat, mendengar kata Sean secara spontan tubuhnya memberikan reaksi yang luar biasa. Bahkan tubuhnya bergetar hebat hingga keringat dingin mulai merembes mengalir dikeningnya.


Sungguh rasa trauma yang diberikan oleh pria itu begitu kuat, hingga hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuatnya bergetar dan memucat.


Menyadari perubahan yang terjadi pada Aira, tentu saja membuat Nyonya Silvi menjadi khawatir. Wanita cantik itu memberi kode pada suaminya untuk menghentikan niatnya.


Nampak Tuan Andre menghela nafas kasar dengan tatapan penuh iba pada gadis yang sudah dia anggap putrinya itu.


"Maafkan papa nak, papa sungguh tidak tahu jika akibat dari perbuatannya ternyata menimbulkan dampak yang begitu besar padamu. Lupakan saja apa yang papa tanyakan tadi, anggap saja papa tidak pernah menanyakannya padamu."


Aira masih mematung lama hingga kemudian dia merasakan sebuah tangan besar menggenggamnya penuh dengan kehangatan, mencoba memberinya kekuatan melalui genggaman tangannya.


Jangan takut, ada aku bersamamu.


Itu yang mungkin ingin diucapkan oleh Alvian pada gadis itu melalui sorotan matanya dan juga genggaman tangannya, dan nyatanya usahanya berhasil, perlahan tubuh Aira menjadi rileks dan kembali seperti biasa.


Melihat bagaimana Alvian yang begitu melindungi putrinya membuat sepasang suami istri itu tersenyum lega. Mereka memutuskan untuk tidak mengatakan kondisi Sean saat ini, dilihat dari sikap Aira yang memberikan reaksi berbeda dari yang mereka bayangkan.


Setelah hampir seharian bercengkerama menuntaskan rasa rindunya, kini Aira berpamitan untuk pulang. Bukan apa apa hanya saja sosok pria disebelahnya ini sudah berkali kali memberinya kode.


"Papa, Aira pamit pulang ya, kebetulan mas Alvian masih urusan yang harus diselesaikan."


Tuan Andre mengangguk mengiyakan permintaan putrinya.


"Jika ada waktu mainlah kerumah sayang." Ucap Nyonya Silvi sembari memeluk Aira, nampak wanita itu meneteskan airmata saat akan melepas kepergian Aira.


"Insya Allah ma, nanti Ara akan kerumah dengan mas Alvian."


Setelah dirasa cukup Aira dan Alvian melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan Aira yang terus bergelayut manja dilengan kokoh Alvian. Membuat pria itu tersenyum dengan hati yang berbunga, gadisnya sudah mulai bersikap manja padanya.


"Makasih ya Mas kejutannya, aku bahagia banget." Ucapnya sesaat setelah mereka berada dimobil.


"Hanya makasih saja nih ?" Goda Alvian sembari menaikturunkan alisnya.


"Mas minta bayaran ?"

__ADS_1


"Tidak ada yang gratis didunia ini sayang. bahkan kentut saja harus bayar loh."


Aira mencebik sembari mengerucutkan bibirnya, dengan segera gadis itu melepaskan lengan Alvin dan berpaling menghadap lurus kedepan.


Alvian tergelak melihat kekasihnya merajuk, dengan gemas dia mengacak acak ujung kepala gadis itu dengan lembut. Pria itu memajukan tubuhnya hingga jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa centi saja.


"Aku akan minta bayarannya nanti setelah menikah, aku ingin servisanmu yang selalu memabukkan itu ya sayang." Bisiknya ditelinga Aira.


Blush


Pipinya langsung merona karena ucapan Alvian yang terdengar liar. Degupan jantungnya kembali berdetak sangat kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari tubuhnya.


"Mesum." Desisnya untuk menutupi rasa gugupnya.


Alvian tertawa terbahak bahak karena tingkah Aira yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Kamu akan tahu mesumku seperti apa setelah menikah nanti sayang, dan aku jamin kamu akan ketagihan dengan sikap mesumku itu." Godanya lagi.


Astaga, dia benar benar mesum sekali.


Tidak ingin meladeni kekasihnya yang masih dalam mode mesum tingkat dewa, Aira mengalihkan perhatiannya dengan membuka tas jinjingnya. Mencoba mencari sesuatu didalamnya, keningnya berkerut saat apa yang dicarinya tidak dia temukan.


"Mas ponselku dimana ya."


Alvian yang hendak memutar kunci starter mendadak menghentikan niatnya dan beralih menatap wajah Aira yang panik.


"Sudah kamu cari dengan benar ? Mungkin terselip diantara sisi dalam tas kamu yank."


Aira kembali membuka dan mengobrak abrik isi tasnya, namun nihil tidak ada ponselnya disana.


Perlahan dia mulai mengingat ingat dimana dia meletakkan benda pipih tersebut. Sedetik kemudian dia menepuk keningnya saat sudah berhasil mengingatnya.


"Ya Allah mas, aku lupa kalau ponselku masih ada didalam tadi."


"Baiklah kamu disini, aku akan mengambilnya." Alvian bergerak melepas safety beltnya dan hendak membuka pintu mobil.


"Tidak mas, biar aku saja, kalau mas yang masuk nanti malah kelamaan. Mas tunggu aku dipintu keluar aja ya, aku nggak lama kok, cuma mengambil ponselku saja." Tutur Aira yang diangguki kepala oleh Alvian.


"Oke."


Aira langsung keluar mobil dan setengah berlari masuk kembali kedalam resto. Dia tidak ingin membuat Alvian menunggu lama dirinya maka dari itu dia berjalan dengan agak terburu buru.


Sesaat sudah sampai di ruangan tadi Aira hendak membuka pintu yang ternyata masih sedikit terbuka. Namun niatnya terhenti saat telinganya mendengar sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati.


Gadis itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari menahan isakan yang ingin keluar. Dengan tangan yang gemetar dia membuka pintu dan melangkah masuk kembali kesana.


"Apakah yang kalian katakan itu adalah kebenaran ?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2