Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Wanita Tangguhku


__ADS_3

Wajah cantik itu memucat saat sang pria benar benar akan membuktikan ucapannya. Dia harus mencari cara untuk bisa membuat perhatian pria itu berpaling pada hal lainnya. Sungguh dia tidak ingin melakukan hal ini sebelum adanya pernikahan.


Namun tanpa disadari oleh Aira, karena keasyikan melamun dan tenggelam dengan pikirannya sendiri, dia tidak sadar jika saat ini tubuhnya sudah seperti layaknya seorang bayi. Polos tanpa busana, dan itu membuat gairah Alvian semakin membara.


Aira masih belum menyadari, dia masih larut memikirkan cara supaya pria ini tidak melakukan hal hal aneh. Dan dia baru sadar saat merasa tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Saat memandang keatas dia sudah melihat jika dia dan Alvian sudah sama sama polos.


Sontak Aira berontak dan berusaha mendorong tubuh kekar Alvian, sayangnya semua terlambat. Pria itu sudah memasukkan si Beo kedalam sangkarnya dengan cepat dan kilat.


"Aaakkkhh."


Aira memekik kesakitan, pasalnya pria itu melakukan tanpa pemanasan terlebih dahulu, dan airmata gadis itu perlahan mulai keluar dan menetes membasahi kedua pipinya.


"Aku membencimu Al." Isaknya disela pria itu menaikturunkan tubuhnya.


"Bencilah sayang, jika rasa bencimu sudah penuh hingga habis maka saatnya aku akan membalasnya dengan sejuta cinta untukmu, hanya untukmu Airaku. Asalkan kamu tetap disampingku, akan kuterima rasa benci yang kamu berikan untukku." Jawab Alvian dengan nafas tersengal sengal.


Aira tidak berkata apapun lagi, menerima apapun yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Hingga satu jam lamanya mereka berpacu dalam kegiatan panas dan kini Alvian ambruk diatas tubuh Aira dengan nafas yang tersengal sengal dan tubuh yang bermandikan keringat.


Alvian berguling disamping tubuh calon istrinya, mendekap erat tubuh Aira sembari memberikan kecupan kecupan singkat dibahu dan lehernya.


"Maaf.."


Aira hanya diam sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Jujur walaupun dia ikut menikmatinya, dalam hati gadis itu masih merasa kesal dengan pria itu yang sudah berani menjamahnya.


Bisa bisanya dia melakukan hal itu disaat aku masih merasakan kesedihan seperti ini.


"Besok kita menikah." Bisiknya ditelinga Aira.


Aira melotot namun tetap bergeming ditempatnya. Menolak pun percuma, Alvian punya segala cara untuk bisa mewujudkan keinginannya tersebut.


Melihat kekasihnya terdiam membuat pria itu merasa gemas sendiri. Dengan tubuh polosnya dia bangun dan membawa Aira kedalam gendongannya lalu berjalan kearah kamar mandi.


"Ya Allah Al, apa yang kamu lakukan." Pekiknya kaget saat merasa tubuhnya melayang.


"Jangan berisik sayang, apa kamu mau Oma bangun karena suara teriakanmu itu."


"Ta..tapi apa yang kamu lakukan. Aku bisa berjalan sendiri." Gerutunya kembali, kali ini dengan suara yang sudah berubah pelan.


"Aku hanya ingin memanjakanmu sayang, aku tidak ingin calon anakku yang sebentar lagi akan tumbuh diperutmu ini kenapa kenapa."


Aira memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Alvian. Sementara pria itu seakan menulikan apapun yang diprotes oleh Aira. Dengan telaten dia penuh kelembutan Alvian membersihkan tubuh Aira dan juga tubuhnya dibawah guyuran air shower yang sama. Tidak ada kegiatan lainnya, semua reall hanya mandi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian acara ritual mandi bersama sudah selesai dan kini keduanya tengah duduk bersandar diheadboard dengan posisi kepala Aira yang berada dibahu kekar Aira.


Gadis itu kembali sedih saat mengingat tentang Sean yang tidak pernah dia duga akan pergi secepat ini. Sementara Alvian juga diam membisu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ra.."


"Hmm."


"Maaf."


"Untuk."


"Semuanya..aku yang sudah menyakitimu dengan perkataan kasarku. Aku lepas kendali karena sikap cemburuku yang berlebihan. Aku begitu takut jika kamu akan pergi meninggakanku dan kembali padanya. Bagaimanapun aku tahu jika Sean adalah cinta pertama kamu. Aku takut bersaing Ra, karena aku takut jika suatu saat aku akan kalah dari Sean."


"Yang kamu katakan memang benar Al, aku hanyalah seorang wanita murahan. Nyatanya aku memang menjajakan tubuhku untuk membiayai hidupku. Kamu benar nyatanya dihatiku memang masih ada nama Sean wakaupun itu sedikit. Tapi bagaimanapun aku mencintainya, aku tidak bisa kembali padanya. Perlakuannya padaku begitu membekas dihatiku dan itu tidak gampang untuk melupakannya. Saat ini yang aku tahu aku menyayanginya hanya sebatas rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, tidak lebih." Ucap aira panjang lebar.


Alvian melonggarkan pelukannya dan menangkup pipi Aira dengan kedua tangannya yang besar. Mengecupi seluruh wajah Aira dengan penuh cinta dan mendamba.


"Tolong jangan ucapkan kata kata itu lagi sayang, aku sungguh minta maaf. Dan kali ini aku berjanji tidak akan pernah lagi mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu."


***


Alvian menatap heran amplop cokelat berukuran besar yang dia terima dari seorang kurir pengantar paket. Membolak balikkan sampul cokelat tersebut dengan kening berkerut. Dibacanya dengan jelas dan berkali kali nama yang tercantum diatas kanan lembar amplop tersebut.


"Ara, sayang..kamu dimana." Teriaknya membahana, tidak perduli jika sang Oma yang pasti akan menggerutu karena suara teriakannya yang keras seperti guntur.


"Nona belum keluar dari kamar Tuan." Jawab salah satu artnya.


Kening Alvian mengerut, ini sudah siang bahkan sebentar lagi masuk jam makan siang. Tapi kenapa gadis itu belum keluar kamar. Tiba tiba hatinya merasa tidak enak.


"Apa Nona dari tadi pagi dikamar ?" Tebaknya.


"Benar Tuan."


"Baiklah, kembalilah kepekerjaanmu." Perintahnya tegas.


Alvian segera berlari kearah kamar setelah kepergian artnya. Membuka pintu kamar dengan kencang.


Brakk


"Al."

__ADS_1


"Sayang." Seru mereka serentak dengan ekspresi yang berbeda beda.


Aira yang kaget karena kedatangan pria itu yang tiba tiba disertai gebrakan dipintu, sementara Alvian yang menghela nafas lega akibat apa yang ada dipikirannya tidaklah sesuai kenyataan. Dia senang melihat sang kekasih dalam keadaan baik baik saja.


"Ada apa ?"


Alvian melangkah mendekat lalu memeluk erat tubuh Aira sambil memberikan kecupan kecupan singkat diseluruh wajah kekasihnya. Aira yang bingung dengan kelakuan Alvian, hanya diam saja dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia inginkan.


"Kenapa kamu tidak makan sayang, apa kamu tidak lapar ?" Tanyanya lembut, Aira menggeleng lemah.


"Kamu bisa sakit." Tandasnya lagi.


Aira tersenyum tipis kemudian melepaskan diri dari pelukan pria tersebut. Berjalan pelan menuju jendela dinding kaca yang memperlihatkan Taman belakang. Tidak bisa dia pungkiri jika memang saat ini dia masih sangat kehilangan sosok Sean. Kesedihan itu masih ada, wajar karena baru sehari Sean meninggalkan dunia ini.


Tapi Aira pun lega, setidaknya pria itu tidak kembali merasakan sakit yang dideritanya selama ini. Beberapa hari merawat Sean, dia bisa melihat bagaimana pria itu menahan semua rasa sakit yang dia derita selama ini.


Alvian yang kembali melihat rona sedih diwajah Aira, berjalan pelan menghampiri gadis itu dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Aira, memeluknya erat dari belakang. Menikmati aroma wangi Aira yang selalu menenangkan hati dan pikirannya.


"Jangan bersedih, hatiku hancur melihatmu seperti ini." Bisiknya ditelinga Aira.


Aira berbalik kemudian menatap wajah Alvian yang langsung disambut kecupan lembut dikeningnya. Gadis itu merebahkan kepalanya didada bidang Alvian dengan kedua tangan yang melingkar dipinggang kekar kekasihnya.


"Aku mencintaimu Araku."


Aira diam tidak bisa mengatakan satu katapun seolah lidahnya terasa kelu. Saat ini begitu banyak beban yang ada dipikirannya hingga membuatnya tidak bisa berpikir banyak.


Alvian merasa jika Aira masih marah padanya, dengan segera pria itu melepaskan pelukannya. Namun belum sampai terlepas, Aira menahan tubuhnya dengan pelukannya.


"Tetaplah disini Al, aku sangat membutuhkanmu. Bisakah kamu memelukku seperti ini diranjang. Aku lelah dan ingin tidur dipelukanmu."


"Tentu saja sayang, bahkan aku akan memelukmu seperti ini setiap hari jika kamu menginginkannya." Ucapnya dengan perasaan bahagia.


Alvian mengangkat tubuh Aira dan membawanya keatas ranjang. Memposisikan kepala berada dilengannya dan menarik tubuh gadis itu begitu dekat dengannya.


"Tidurlah, aku akan menjagamu disini."


"Jangan pergi."


"Tidak akan pernah."


Tidak menunggu lama gadis itu terlelap dalam tidurnya dengan tangan kiri yang memeluk pinggang Alvian dengan sangat posesif.

__ADS_1


Aku akan selalu menjagamu Airaku, sampai kapanpun hingga detik nafasku yang terakhir. Aku mencintaimu Airaku. gadis tangguhku. Kuatlah seperti biasanya, aku tahu kamu adalah wanita kuat dan tidak mudah menyerah. Untuk kali ini ijinkan aku yang akan terus menjagamu untuk selamanya.


TBC


__ADS_2