Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Menemani Jiza


__ADS_3

Hari berganti dan tanpa terasa sudah 2 bulan lamanya Cleo bekerja menjadi sekretaris Alex. Dan semenjak 2 bulan lebih lamanya Cleo pun tidak pernah lagi mendengar kabar tentang kekasihnya ataupun sahabatnya, Cherry.


Dan selama dua bulan ini juga Cleo akhirnya bisa mulai menata hatinya dan belajar ikhlas walaupun perjuangan untuk melewati keterpurukannya tidaklah mudah.


Namun dia merasa sangat bersyukur karena selama perjuangannya ini dia selalu didukung penuh oleh Jiza dan juga kedua orangtua Alex yang kini sudah menganggapnya seperti putri kandung mereka, mengingat jika mereka hanyalah mempunyai putra tunggal saja yaitu Alex.


Cleo patut bersyukur karena nyatanya berkat kasih sayang yang diberikan oleh kedua orangtua Alex mampu membuatnya menjadi wanita yang lebih kuat dan tangguh dari sebelumnya.


Siang ini Cleo nampak begitu serius dengan pekerjaannya hingga melupakan jika saat ini sudah waktunya untuk makan siang. Pagi tadi Jiza memintanya untuk menemaninya pergi belanja kebutuhan untuk calon bayinya yang tinggal 2 bulan lagi akan lahir.


Tadinya Jiza meminta suaminya untuk menemaninya tapi berhubung siang nanti Alex ada meeting penting dengan perusahaan Alvian, jadi perempuan itu akhirnya meminta suaminya supaya mengijinkan Cleo untuk menemaninya belanja.


Dan tanpa bantahan Cleo langsung mengiyakan perintah Alex dan karena itulah hingga sampai siang ini Cleo melupakan jam makan siangnya demi menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa cepat selesai dan segera pergi menemani Jiza.


Brukk


Cleo sedikit terlonjak kaget ketika ditengah keseriusannya ada sebuah bingkisan kotak makanan yang ditaruh tepat dihadapannya. Membuat gadis itu seketika mendongakkan kepalanya dengan kening berkerut. Menatap heran sosok wajah didepannya yang selalu dingin dan datar sedatar tembok.


"Perutmu tidak akan kenyang kalau kau malah menatapku seperti itu." Ujarnya tanpa menatap wajah cantik Cleo.


"Ini untukku ?" Tanya Cleo sembari melirik bingkisan makanan yang tergeletak didepannya.


"Bukan, itu untuk OB."


"Ooh..lalu kenapa ditaruh disini harusnya kan anda bi..."


"Kau itu terlalu banyak bicara. Cepat habiskan dan jangan membuang waktuku yang sangat berharga." Ketusnya dengan tatapan matanya yang tajam menghunus kearah Cleo.


Cleo tersenyum lalu tanpa menghiraukan wajah dingin Romi, dia membuka kotak makanan itu dengan wajah sumringah. Menghirup bau makanan yang terasa harum dan menggugah selera.


"Makasih kak." Ucapnya tulus. Di balik sikapnya yang dingin dan jutek ternyata dia orang yang sangat baik dan perhatian.


"Ck, jangan geer aku hanya tidak mau ada karyawan yang pingsan gara gara terlambat makan. Karena jika hal itu terjadi maka aku yang akan repot menyelesaikan tugasmu." Ketusnya sembari berjalan meninggalkan Cleo yang menatap kepergiannya dengan mulut terbuka.


Astaga, aku tarik kata kata pujianku tadi. Ternyata dia sama menyebalkannya dengan kak Bian.


Tanpa gadis itu sadari pria itu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis bahkan sangat tipis hingga tidak ada satu orangpun yang melihatnya.

__ADS_1


Drrrtt


Suara dering telpon membuat Cleo yang sedang melahap makanannya seketika berhenti sejenak lalu meraih benda pipih yang ada disamping laptop.


"Assalamualaikum..iya kak."


"Cle, apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu ? Kau tidak lupa kan siang ini kita akan pergi ?" Suara Jiza terdengar dari seberang.


"Tidak kak, ini Cle sedang siap siap. Pekerjaannya sudah selesai kok. Sebentar lagi Cle kesana ya."


"Oke baiklah kalau begitu aku akan menunggumu dirumah saja ya."


"Oke kak. Assalamualaikum."


Cleo bergegas merapikan bekas makanannya dan juga pekerjaannya. Setelah semuanya selesai dia segera meraih tasnya setelah sebelumnya meminta ijin pada Alex untuk keluar sekarang. Dan tentu saja Alex langsung mengijinkannya, bahkan pria itu menyuruh sopirnya untuk mengantarkan Cleo juga istrinya pergi belanja.


*****


BA. Group


"Ayolah kak, apa kakak benar benar tidak mau menemaniku ?" Tanya Cherry dengan wajah sendunya menatap sang kakak yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


Terkadang Cherry merasa iba melihat kondisi sang kakak yang sangat kacau. Sekarang saja kakaknya itu sudah tidak memperdulikan penampilannya. Rambut yang dibiarkan memanjang dan bulu bulu halus di sekitar dagu dan pipinya. Membuat wajahnya yang biasanya terlihat fres dan tampan kini terlihat seperti menua dan tidak menarik.


"Kakak sibuk dek, pekerjaan kakak banyak sekali. Kakak akan meminta Ricko aja buat menemanimu ya." Sahutnya dengan mata yang masih fokus kearah laptopnya.


Ricko ?


Mendengar nama itu disebut oleh sang kakak membuat desiran dihatinya kembali muncul. Nama sosok pria yang sangat dia cintai sekaligus pria yang sudah menyakitinya hingga membuatnya berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Bahkan keputusan yang belum pernah dia ambil dan karena keputusannya itu membuat seluruh keluarga Nugraha menentang keras terutama kakak sepupunya, Alvian.


"Ayolah kak, apa kakak tidak ingin menghabiskan waktu denganku yang hanya tinggal beberapa hari saja disini ?" Ucapnya lirih dengan suara tercekat.


Bian menghela nafas panjangnya kemudian mengalihkan pandangan matanya dari laptop menatap wajah cantik sang adik yang kini menatapnya dengan tatapan sedih, bahkan terlihat jelas genangan airmata di kedua mata Cherry.


"Berapa kali kakak bilang kalau kakak tidak akan pernah menyetujui keputusanmu dek? Jadi berhenti berpikir untuk pergi jauh dari keluargamu." Tegasnya tidak ingin di ganggu gugat.


Cherry menunduk dengan kedua tangan yang saling meremas kuat. Kakaknya ini adalah orang kedua yang menentang keras keputusannya setelah Alvian. Dan dia yakin jika kedua kakaknya ini sudah berkata tidak itu berarti tidak ada satu orangpun yang bisa menentangnya mengingat bagaimana sikap posesif mereka berdua padanya.

__ADS_1


"Tapi ini impianku kak dan aku berhak memutuskan apa yang terbaik untuk masa depanku." Cherry mendongak memberanikan dirinya memandang wajah Bian yang menatapnya tajam, tampak wajah kakaknya itu memerah menahan amarah.


"Tapi tidak harus ke Itali dek, disini bahkan banyak perguruan tinggi yang sesuai dengan impianmu itu."


"Tapi aku ingin mandiri kak ! Aku ingin berusaha hidup sendiri dan membuktikan kalau aku bukanlah gadis manja yang hanya bisa menghamburkan uang kedua orangtuaku dan juga kedua kakakku." Pekiknya dengan airmata yang sudah berderai.


"Kamu ingin membuktikan pada siapa hm ? Katakan pada kakak apa ada orang yang sudah menyakitimu ? Sebenarnya kakak curiga dengan keputusan mendadakmu ini." Ucap Bian dengan merendahkan suaranya saat melihat tangisan sang adik tercintanya ini.


"Aku tidak membuktikan pada siapa siapa kak, aku hanya ingin mandiri dan aku ingin kuat seperti Cleo sahabatku. Aku sadar jika selama ini aku hanyalah gadis manja yang suka berfoya foya. Aku ingin seperti Cleo yang selalu kuat dan tangguh walau berbagai cobaan selalu menerpanya. Aku mohon ijinkan aku meraih impianku kak." Desisnya lirih dengan suara isakannya.


Bian menyugar rambut panjangnya kebelakang, pria itu nampak terlihat sangat frustasi. Permasalahannya dengan sang kekasih belum selesai kini dia harus dihadapkan dengan masalah sang adik.


"Kakak akan menghubungi Ricko untuk menemanimu."


"Tidak perlu." Jawabnya cepat. " Kalau kakak tidak mau menemaniku, lebih baik aku jalan sendiri daripada harus merepotkan orang lain."


"Tapi dek --" Suara Bian melayang begitu saja ketika sang adik sudah hilang dari pandangan matanya. Berkali kali dia menghela nafas panjangnya melihat sikap adiknya yang mendadak berubah drastis.


Ada apa dengannya ? Apa telah terjadi sesuatu padanya ? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini, aku akan menyelidikinya.


Sementara itu Cherry yang masih merasa kesal dengan langkah panjangnya berjalan keluar dari ruangan kakaknya dan hendak masuk kedalam lift khusus. Saking terburu burunya dia sampai tidak melihat adanya seseorang yang juga berjalan berlawanan arah dengannya. Pandangan gadis itu selalu terarah kebawah hingga akhirnya..


Brukk


Tabrakan keduanya tidak dapat dihindari hingga membuatnya hampir terjatuh ke lantai dingin jika tangan kekar seseorang tidak menahan pinggangnya dengan erat. Membuat posisinya saat ini berada didalam dekapan tangan kekar pria yang dia tabrak.


"Maaf Tu --"


Deg


Ucapannya terhenti seketika dengan jantung yang berdetak sangat kencang saat dia mendongak keatas dan melihat dengan jelas sosok pria yang dia tabrak. Dengan cepat Cherry melepaskan dirinya dari dekapan pria didepannya ini dan langsung memasang wajah datar.


"Maaf atas kecerobohan saya yang tidak sengaja menabrak anda." Ujarnya dengan sedikit membungkukkan punggungnya. " Saya permisi." Imbuhnya lagi setelah itu dia langsung berbalik kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tanpa sedikitpun menoleh kearah belakang.


Meninggalkan sosok pria dibelakang sana yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya untuk mam ya..dukungan kalian yang membuat Mam semangat untuk menulis.


Happy reading..see you di eps selanjutnya..


__ADS_2