Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Sudah jatuh tertimpa tangga


__ADS_3

Airmata gadis itu terus mengalir deras tiada henti. Hatinya yang sudah luka dan hancur, kini semakin hancur setelah mendapati kenyataan pahit. Aira melampiaskan emosinya dengan menangis tersedu sedu didepan pusara kedua orangtuanya. Hatinya sangat perih saat satu satunya orang yang selama ini memberikan kasih sayang dengan tulus, sudah tidak ada didunia ini.


"Mama..papa..kenapa kalian meninggalkan Ara sendirian didunia yang kejam ini pa, ma. Ara sungguh tidak sanggup jika harus hidup tanpa adanya kalian disisiku. Kalian bilang akan selalu mendampingiku sampai cucu kalian lahir, tapi mana buktinya pa, kalian pergi sebelum aku sempat membahagiakan kalian berdua."


Kedua orangtua Sean yang melihat bagaimana rapuhnya gadis itu menjadi tidak tega, bahkan Nyonya Silvi nampak tidak kuasa menahan kesedihan yang melanda dihatinya. Menangis terisak dipelukan suaminya dengan tatapan mata yang terus terarah pada Aira.


Sementara Alex hanya menatap sendu pada gadis yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya. Mungkin semenjak peristiwa yang terjadi diantara mereka. Ada rasa ingin melindungi dan memiliki gadis didepannya ini, dan dia sadar jika rasa dihatinya semakin kuat. Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana rapuhnya gadis itu setelah kehilangan kedua orangtua.


Diusia yang masih sangat muda yaitu 19 tahun, Aira sudah mengalami serentetan kejadian yang menimpanya secara bertubi tubi. Dari pertama dia dijodohkan dengan Sean, sampai akhirnya pria brengsek itu menjualnya padanya, dan sekarang dia harus kehilangan orang orang yang paling dia sayangi.


Hati siapa yang kuat jika diberi cobaan yang begitu besar dan menyakitkan dan itu datang silih berganti. Beruntung gadis itu masih bisa mengontrol emosinya. Mengingat itu kembali Alex merasakan hatinya sangat sakit dan perih.


Nyonya Silvi melangkah pelan hendak menuju kearah menantunya. Niat hati ingin menghibur dan memberinya dukungan.


Namun niatnya terhenti tiba tiba, saat sebuah suara terdengar menggema disana.


"Aira.."


Gadis lemah itu menoleh lalu sedetik kemudian airmatanya kembali luruh saat melihat sosok yang saat ini berdiri didepannya.


Jiza, menatap sendu sahabatnya yang nampak memprihatinkan. Dengan segera gadis itu melangkah cepat kearah Aira lalu memeluk erat tubuh lemah Aira. Sementara Aira langsung menumpahkan segala lara dan kepedihan yang ada dihatinya.


Jiza menatap iba pada sahabatnya yang terlihat penuh luka. Dia juga ikut menangis tersedu sedu, meratapi nasib malang yang menimpa sahabatnya. Gadis itu sudah tahu apa yang terjadi pada Aira dan juga pernikahannya. Sungguh dia tidak menyangka jika, suaminya ternyata seorang iblis berwujud manusia.


"Aku kehilangan papa dan mama Za, kenapa mereka meninggalkan aku sendiri disini. Kenapa mereka tidak mengajakku juga Za." Ngilu hati Jiza mendegar jeritan hati Aira yang begitu menyayat hati.


"Sstt..jangan bicara begitu Ra, masih ada aku disini, kau tidak sendirian. Aku akan selalu mendampingimu. Kumohon jangan berkata seperti itu lagi, jika kau pergi lalu siapa yang akan menemaniku didunia ini. Apa kau tega meninggalkan aku disini."


Aura semakin mengeratkan pelukannya, seakan tidak ingin melepaskan dekapan hangat sahabatnya. Sungguh dia masih merasa beruntung, disaat dia membutuhkan tempat sandaran, Jiza sahabatnya, datang diwaktu yang tepat.


"Ayo kita pulang, mama sudah menunggumu." Bisiknya pelan.


Jiza memapah tubuh lemah Aira, hendak membawanya kedalam mobilnya. Saat melewati kedua orangtuanya, langkah Jiza terhenti karena panggilan dari ibu Sean.


"Aira, ikutlah bersama kami sayang." Suara lemah Nyonya Silvi terdengar lirih ditelinga keduanya. Sesaat Jiza berhenti sejenak lalu menatap bergantian pada sahabat dan wanita didepannya. Melihat Aira yang diam saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun membuat Jiza menghela nafas kasar.


"Tante, biarkan Aira ikut denganku. Mungkin saat ini dia ingin menenangkan diri. Tante tenang saja, saya sahabatnya, dan pasti akan menjaganya dengan baik. Lebih baik Om dan Tante mengurus orang yang menjadi penyebab kejadian ini."


"Tapi nak..." Cegahnya lagi berusaha menjelaskan sesuatu, namun urung saat kata kata tajam Jiza sukses membuatnya membisu.


"Tante tahu, dari awal saya sudah memperingatkaan Aira untuk tidak gegabah menerima pernikahannya. Walaupun saya tahu dia mencintai anak tante, tapi hati saya mengatakan jika pria itu bukanlah pria baik baik. Walaupun saya belum pernah bertemu dengan suaminya, tapi entah kenapa perasaan saya begitu mencemaskan Aira. Tapi melihat raut bahagia diwajah sahabat saya, akhirnya saya berusaha berpikir positif dan berharap Aira menemukan kebahagiaan bersama suaminya.

__ADS_1


Jika saya tahu akhirnya akan seperti ini, pasti dari awal saya akan mencegah pernikahannya. Sungguh saat ini pun saya masih merasa geram dengan sikap suaminya yang brengsek itu. Saya tidak menyangka jika anak tante ternyata seorang pria yang berhati iblis. Maaf tante, bukannya saya tidak sopan, tapi kenyataannya memang seperti itu." Ketus Jiza pedas lalu segera berpaling meninggalkan kedua orang itu yang hanya terdiam dengan perasaan bersalah yang begitu besar.


Jiza segera membawa Aira pergi dari tempat tersebut menuju kerumahnya. Saat mendengar kabar yang menimpa sahabatnya tadi dengan segera Jiza datang untuk menemui Aira, walau saat itu dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.


Ditengah perjalanan Aira meminta Jiza untuk membawanya pulang kerumah orangtuanya. Tanpa bantahan gadis itu mengikuti kemauan Aira tanpa berucap sedikitpun.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai didepan rumah sederhana namun terlihat sangat asri. Perlahan Aira turun dari mobil lalu melangkah berjalan kerumah orangtuanya dengan perasaan berkecamuk.


Namun sesampai disana matanya mengrenyit saat melihat papan nama yang bertuliskan jika rumahnya itu sudah dijual. Seakan bingung Aira menoleh kesana kemari berusaha mencari seseorang yang mungkin bisa menjelaskan keadaan tersebut.


Melihat sahabatnya kebingungan, dengan segera Jiza menghampiri Aira. Dan sama seperti sahabatnya, ekspresi Jiza tidak kalah bingung.


Disaat mereka berdua merasa bingung, tiba tiba datang seorang pria dengan setelan jasnya menghampiri dua gadis yang berdiri didepan rumah tersebut.


"Ekhem..permisi ada yang bisa saya bantu." Ucapnya pada dua gadis tersebut.


Aura dan Jiza menoleh seketika saat mendengar ada sebuah suara menyapa mereka. Lagi kening Aira berkerut saat melihat wajah asing didepannya.


"Anda mencari siapa nona ? Kenapa berdiri didepan rumah ini ?" Tanyanya santai dengan senyuman menghiasi diwajahnya yang lumayan tampan.


"Apa maksud anda, tentu saja saya saya disini, ini rumah orangtua saya."


Pria itu kembali tersenyum.


Aira semakin merasa curiga, pasalnya pria itu mengenal kedua orangtuanya, bahkan dia sendiri pun tidak mengenalnya.


"Siapa anda Tuan ? Bagaimana anda bisa tahu nama orangtua saya ?" Tanya Aira dengan pandangan menelisik penuh curiga.


"Maaf Nona, tapi saya harus mengatakan ini pada anda, saya tahu anda sedang berkabung."


Ucapan pria itu sukses membuat Aira semakin pemasaran.


"Tolong katakan dengan jelas Tuan."


Nampak pria itu menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya berucap.


"Nona Aira, anda harus pergi dari rumah ini, karena kedua orangtua anda sudah menjual rumah ini pada saya."


"Apa !"


****

__ADS_1


Kedua mata Aira tiada henti menumpahkan airmata kesedihan yang saat ini melanda hatinya. Rasa sesak dan sakit hati seakan sudah melebur bersama aliran darahnya. Gadis itu masih terisak pelan menahan tangisan yang ingin sekali dia tumpahkan.


Jiza menatap iba pada sahabatnya yang namoak tidak terlihat biasa saja. Dia tahu seperti apa luka yang ada dihati sahabatnya itu.


"Pulang kerumahku ya Ra." Bujuk Jiza pelan.


"Nggak usah Za, tolong antar aku kerumahnya saja."


"Tapi Ra..."


"Kumohin Za, aku ingin sendiri dulu." Jawabnya lemah.


Jiza menghela nafas mendengar ucaoan Aira, dia dapat merasakan beratnya hidup yang dijalani Aira.


"Baiklah." Jawabnya pasrah, lalu melajukan mobilnya menuju keperumahan elit dengan Aira sebagai pemandu jalannya.


Jujur dia tidak tahu dimana rumah suaminya Aira, bahkan wajah dan namanya saja dia tidak tahu. Kekecewaan dan rasa amarah karena Aira tidak mendengar perkataannya membuatnya enggan untuk hadir dipernikahan Aira. Dan kini dia menyesali perbuatannya yang tidak perduli pada gadis itu.


Jiza sungguh menyesal, jika saja saat itu dia dengan tegas meyakinkan Aira, mungkin saat ini senyum Aira masih menghiasi bibirnya.


Aira turun dari mobil saat mereka sudah sampai didepan rumah besar milik Sean. Langkahnya pelan menuju pintu masuk, meninggalkan Jiza yang hanya bisa menatap punggung kecil itu hingga kemudian tidak nampak lagi dari pandangan matanya.


Sementara Aira melangkah masuk dengan kaki yang bergetar, mata gadis itu terus menatap nanar seluruh rumah yang meninggalkan kenangan manis dan buruk dihidupnya.


Kakinya terus melangkah menuju kamarnya, membuka pintunya dengan tangan yang gemetar. Aira menatap ranjangnya dengan tatapan penuh arti, disanalah satu satunya saksi bisu bagaimana dia menyerahkan dirinya pada Sean, sosok suaminya yang sangat kejam dan berhati iblis.


Aira mengusap sisi ranjang dengan hati yang pedih, mengingat perlakuan manis Sean yang ternyata adalah palsu membuatnya semakin teriris. Baru dua hari usia pernikahannya, tapi selama itu dia sudah dua kali kehilangan. Pertama suaminya dan kedua orangtuanya.


Aira terus menangis terisak didalam kamarnya yang sunyi, hingga tiba tiba sudut matanya menangkap adanya sebuah benda yang tergeletak diatas nakas.


Tangan mungilnya meraih benda itu dengan hati yang berdebar kencang. Membuka map tersebut dengan tangan yang bergetar hebat, berharap jika yang ada dipikirannya adalah salah.


Namun beberapa detik kemudian tangannya bahkan seluruh tubuhnya mendadak lemas tidak bertenaga. Tubuhnya merosot drastis kelantai dengan hati yang semakin hancur. Ibarat perumpamaan Sudah jatuh tertimpa tangga.


Itulah yang dialami gadis malang itu, setelah deretan kejadian menimpanya, kini dia harus menerima kembali nasib buruk yang menimpanya.


Sean, memberikan surat gugatan cerai, lebih tepatnya surat pembatalan pernikahan antara dirinya dan Aira dengan suatu alasan yang tidak masuk akal. Dia tidak bahagia.


Aira terus saja menangis meratapi nasibnya yang sungguh malang. Kini sudah tidak ada lagi alasan dia untuk tinggal dirumah ini. Dia harus pergi, maka dari itu Aira bergegas berdiri untuk segera mengemasi barang barangnya.


Namun baru saja dia melangkah satu kaki, tubuhnya mendadak kembali ambruk jatuh kelantai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2