
Disebuah rumah sederhana yang terlihat sangat kecil, seorang pria paruh baya tengah menghisap sebatang rokok dengan pikirannya yang mengembara jauh. Asap yang berasal dari rokok yang dihisapnya nampak mengepul memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Dia tersenyum miring, dan kini senyuman itu secara perlahan berubah menjadi kekehan kecil namun menyeramkan. Pandangannya memutari sekeliling rumah itu, rumah dimana dia dan ibunya dulu tinggal disini sebelum ibunya meninggal.
"Aku dulu pernah hidup bergelimang harta, dan semuanya musnah semenjak sibrengsek itu menghancurkan keluargaku. Kalau saja dulu dia menuruti perintah mama dan papa, mungkin saat ini keluarga dan juga harta kami tidak akan pernah hilang. Mungkin aku juga akan menikmati masa tuaku dengan hidup nyaman dan tenang bersama anak dan istriku." Keluhnya dengan sorot mata yang sirat akan kesedihan.
Erick, ya pria itu adalah Erick Nugraha, putra sulung dari keluarga Nugraha. Kehidupannya berubah total semenjak perusahaan papanya bangkrut. Kehilangan harta, papanya, anak dan istrinya, mungkin masih membuat Erick bisa bersabar dan bertahan. Tapi kehilangan sosok mamamya yang begitu dia cintai, perlahan membuat pikiran pria itu menjadi buta dan penuh dengan dendam.
Dia mulai menyalahkan takdir dan juga adiknya, Barra. Mamanya meninggal karena terlalu larut dengan kesedihan dan juga penyesalan yang begitu besar. Penyesalan karena ulahnya yang akhirnya membuatnya kehilangan anak anaknya.
Dan penyesalan itu yang akhirnya membuatnya menjadi stres berkepanjangan hingga memicu penyakit jantung yang selama ini sudah dinyakatan sembuh itu harus kembali kambuh. Dan pada akhirnya wanita itu meninggal dengan membawa sejuta penyesalan didalam hidupnya yang belum sempat dia tuntaskan hingga ajal menjemputnya.
"Kali ini aku tidak akan segan segan lagi untuk melenyapkan anak ingusan itu. Dulu kau selamat karena dalam perlindungan adik bungsuku yang bodoh itu, tapi kali ini apa kau yakin bisa selamat bocah. Mungkin tubuhmu akan selamat, tapi aku yakin setelah dunia mengetahui tentang hal ini, kau akan merasa malu dan pada akhirnya kau juga akan mati.
Kau akan merasakan apa yang aku rasakan dulu. Pertama kau akan kehilangan perusahaanmu karena aku yakin para investor akan menarik seluruh sahamnya setelah ini. Kedua, kau akan kehilangan nenek tercintamu itu, dan ketiga sudah pasti kau juga akan kehilangan istrimu. Mana mungkin istrimu itu akan mau hidup denganmu yang sudah berubah menjadi miskin bocah. Karena semua wanita sama saja, mereka hanya menginginkan harta saja."
Erick tertawa keras sembari menatap foto keponakannya, dan juga sebuah benda yang akan dia jadikan sebagai alat untuk menghancurkan Alvian. Dia sudah tidak sabar untuk segera menyaksikan detik detik kehancuran Alvian.
"Permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai." Gumamnya dengan seringaian licik diwajahnya.
Hari yang ditunggu tunggu oleh semua orang pun telah tiba. Sesuai janji Alvian, Balroom hotel mewahnya kini sudah disulap menjadi tempat untuk diadakannya ijab qabul dan juga resepsi pernikahan Alex. Kesan mewah dan elegan nampak terlihat jelas ditiap tiap sudut ruangan yang begitu luas tersebut.
Disana ditengah tengah ruangan, Alex duduk dengan gelisah sembari sesekali melihat kearah samping dimana Alvian sedang duduk mengulum senyum padanya. Pria tampan paripurna itu tahu, sahabat istrinya sekaligus rivalnya itu sedang gelisah.
Rival ? Alvian memang menyebutnya begitu, semenjak ketahuan sang istri yang tampak bahagia kemaren, entah kenapa dia mengklaim Alex sebagai rivalnya. Padahal jelas sekali kalau Alex sudah tidak berniat kembali pada Aira, jangankan kembali melirik pun tidak.
Bagi Alex dihatinya saat ini hanya ada Jiza dan selamanya akan tetap seperti itu. Aira hanyalah masalalunya dan masa depannya hanya unyuk Jiza seorang.
"Kau gugup ?" Bisik Alvian dengan senyum mengejeknya.
"Tentu saja, aku lebih baik berhadapan denganmu diarena ring daripada berhadapan dengan penghulu begini." Keluhnya dengan wajah jenaka.
Alvian melotot hingga bola matanya seakan ingin melompat keluar. Mendengar ucapan Alex serta merta membuatnya sedikit takut, takut kalau rivalnya itu akan kembali apda Aira.
"Apa maksudmu berkata seperti itu ? Kau tidak ingin menikah dengan Jiza ? Apa kau berniat kembali pada Araku ?" Geramnya dengan nafas memburu karena cemburu.
Sontak Alex langsung mendelik tak suka.
__ADS_1
"Kau gila !" Bisiknya sembari mengedarkan pandangan. "Aku bahkan tidak berpikir kearah sana, bisa bisanya kau berucap seperti itu." Dengusnya tidak kalah sinis.
Alvian menarik nafas lega dengan tangan yang mengelus dadanya.
"Tadi kau berkata seperti itu." Dengusnya.
"Maksudnya aku ingin cepat cepat melewati momen ini. Rasanya jantungku mau pecah saking kuatnya deg degan."
"Kau itu pria masa begitu saja gugup, payah." Ejeknya sambil mengulum senyum jahil.
"Berisik." ketusnya, namun beberapa detik kemudian dia seolah tersadar.
"Apa kau cemburu padaku Tuan Siregar ?"
"Apa ! ee..enak saja, siapa bilang aku cemburu apalagi sama manusia modelan sepertimu."
"Bilang saja cemburu, susah sekali mengakuinya. Kadang aku merasa heran, bisa bisanya Aira jatuh cinta sama pria sepertimu." Cibirnya.
"Itu karena aku terlalu tampan." Nada bicara Alvian berubah angkuh dan sombong.
Alex mendesah, lelaki ini selain gengsinya gede, tingkat kesombongan dan percaya dirinya juga diatas rata rata. Alex baru saja hendak membalas ucapan Alvian, saat penghulu sudah datang dan langsung duduk didepannya. Dan seketika obrolan absurd mereka pun terpaksa dihentikan.
"Apa sudah siap ?" Tanya Bapak penghulu.
"Bukan hanya siap pak penghulu, kekamar pun langsung hayo." Celetuk Alvian yang sukses membuat ruangan luas itu dipenuhi dengan gelak tawa para tamu.
Alex melotot dan memberikan tatapan protes yang sialnya malah diacuhkan oleh lelaki menyebalkan itu. Disambut gelengan kepala Bapak Penghulu karena ulah jahil orang yang mempunyai pengaruh kuat diNegerinya ini.
Sementara Oma Tamara nampak menepuk keningnya melihat tingkah cucunya yang memalukan itu. Beruntungnya Aira tidak ada disini, coba saja kalau wanita itu tahu sikap suaminya, entah akan jadi apa cucunya itu menghadapi kemarahan Aira nanti.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Alex ikuti perkataan saya ya."
"Bismillahirrohmanirrohim.."
"Saya terima nikahnya..." (Skip ya )
"Bagaimana para saksi ?"
"Sah."
"Sah."
Alex langsung menghela nafas panjang yang dia rasa begitu plong seakan beban berat baru saja diangkat dari rongga dadanya yang sedari tadi terasa sesak. Diusapnya keringat yang menetes dikening dan juga dahinya. Sementara Alvian terkikik geli melihat penampilan Alex saat ini, pasalnya dulu dia juga pernah merasakannya.
Dia juga pernah diposisi Alex, merasa gugup saat tangannya menjabat dan menggenggam erat pak Penghulu.
Suasana hening tadi berubah riuh saat telinganya mendengar bisik bisik para tamu. Penasaran dia menoleh kearah pintu yang nampak terbuka. Dan seketika. jantungnya berdesir indah dan disusul degupan jantung yang berpacu semakin kencang.
Matanya enggan berkedip menatap sosok wanita yang aura kecantikannya begitu kentara. Siapa lagi jika bukan sosok istrinya, Aira. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan baju gamis brokat warna biru langit dengan hijab warna senada.
Alvian bahkan sampai bengong dengan mulut terbuka. Pesona istrinya semakin lama semakin kuat. Dia menyukai ini, menyukai perubahan Aira sekarang. Membuatnya jatuh cinta berkali kali dengan kadar yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Tidak berbeda jauh dengan Alvian, Alex pun nampak terkesima dengan penampilan gadis yang beberapa saat lalu sudah berubah menjadi istrinya itu. Walaupun tidak secantik Aira dan tidak memakai hijab, tapi aura kecantikan Jiza tidak kalah dengan wanita disebelahnya.
Mereka berdua Aira dan Jiza, adalah dua orang berbeda namun satu jiwa. Jika yang satunya sakit maka yang lainnya akan merasakan sakit juga. Dan jika yang satunya senang begitu juga sebaliknya.
Dan kini kedua wanita cantik itu melangkah anggun dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantik mereka. Berjalan anggun menuju ketempat dimana suami mereka sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
**TBC**
__ADS_1