
Alex menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Jiza, raut wajah pria itu masih menyimpan kesedihan mendalam. Kehilangan sosok sahabat sekaligus saudara baginya begitu membuatnya terpukul. Walaupun Sean adalah pria brengsek, nyatanya namanya selalu terpatri kuat dihatinya.
"Kamu nggak masuk dulu ?" Tanya Jiza pelan dengan suara lirih, dia tahu kekasihnya itu sedang dalam keadaan masih berduka.
Alex tersenyum tipis sangat tipis hingga hampir saja tidak bisa terlihat. Tangannya meraih kepala kekasihnya, mengusapnya lembut lalu menariknya supaya mendekat kearahnya.
Cup
Kecupan singkat dikening, namun mampu membuat gadis itu merasa sangat nyaman.
"Aku lelah, bolehkah kalau aku langsung pulang saja ?"
Jiza mengangguk sembari mengulum senyuman tipis. Jemarinya bergerak mengusap rahang tegas Alex.
"Hati hati dijalan, fokus sama jalanan ya, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Atau kalau mau, kamu bisa menginap dirumahku Alex, ada kamar tamu disana. Aku yakin papa dan mama pasti memberi ijin, maaf tapi aku hanya khawatir sama kamu."
Alex tersenyum senang menyadari kekhawatiran Jiza, sungguh dia beruntung mendapatkan gadis yang begitu baik seperti kekasihnya ini.
"Jangan khawatir, aku akan pelan pelan. Nanti aku kabari setelah sampai dirumah. Masuklah ini sudah larut, sampaikan salamku pada orangtuamu ya, maaf aku tidak bisa mampir."
Jiza kembali mengangguk, gadis itu keluar setelah sebelumnya mencium singkat kening Alex, menimbulkan rasa bahagia dihati pria itu.
"Aku akan menjemputmu besok."
Setelah Jiza masuk kedalam rumah, Alex langsung melajukan mobilnya menembus kegelapan malam menuju keapartemennya. Sepanjang perjalanan airmata pria itu tiada henti mengalir, mengingat semua kenangan tentang kebersamaannya dengan mendiang Sean.
Se, aku nggak nyangka kalau kamu akan pergi secepat ini. Bahkan kamu belum sempat berbicara kembali denganku. Maaf Se atas semua kesalahanku yang pernah aku lakukan padamu. Aku ikhlas Se, semoga kamu tenang disana ya.
Alex terus memacu laju mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga beberapa menit kemudian dia sudah sampai diapartemen miliknya.
Klek
Membuka pintu perlahan, sejenak pria itu termenung kala melihat kearah ruang tamu. Tersenyum getir saat mengingat diruang itu dia biasa bercanda ria dengan sahabatnya. Saling berbagi cerita suka dan duka. Entah disaat Sean yang sedang dalam masalah ataupun sebaliknya.
Semua kilasan bayangan kenangan itu terekam dan berputar layaknya sebuah klise film. Kebersamaan mereka layaknya sebuah lem dan perangko, lengket. Dimana ada Sean disitu pasti ada Alex, tentunya sebelum kejadian dulu yang membuat hubungan mereka menjadi renggang dan akhirnya putus.
Alex merebahkan tubuhnya disofa depan TV, mendongakkan kepalanya dengan kedua mata yang terpejam. Airmata itu kembali keluar dari kedua sudut matanya, biarlah saat ini dia dikatakan sebagai pria cengeng. Karena kenyataannya dia memang benar benar kehilangan sosok Sean.
Walau aku kesal nyatanya aku begitu merindukan kebersamaan kita Se, apa kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku sangat merindukanmu sahabatku, aku bahkan belum memelukmu tapi kau sudah pergi meninggalkanku disini.
Alex kembali tergugu dalam duduknya, meringkuk dipinggiran sofa dengan punggung yang bergetar. Memang kita baru akan sadar jika orang itu sangat berarti dalam hidup kita setelah dia pergi meninggalkan kita.
***
Dilain Tempat...
Sama halnya seperti Alex, Aira kini tengah duduk dipinggir balkon kamar Alvian. Dengan kepala mendongak menatap langit yang sudah berubah gelap. Hanya ada bintang dan rembulan yang menghiasi luasnya langit.
Aira memejam, sejurus kemudian kembali menatap langit, dimana disana dia melihat satu bintang yang bersinar sangat terang dan berkedip kedip.
"Apa itu kamu kak ? Kamu ingin melihat keadaanku disini. Apa kamu senang, karena sudah pergi meninggalkan aku. Bagaimana kamu akan senang saat melihatku begitu menderita disini. Aku sangat kehilanganmu kak, nyatanya aku masih sangat merindukanmu sampai detik ini.
Aku menyesal karena kamu tidak memberiku lebih banyak waktu untuk merawat dan menghabiskan waktu kita berdua. Apa kamu kecewa padaku hingga kamu menghukumku seperti ini. Hiks..hiks..Kak Se aku sangat merindukanmu."
Aira merosot jatuh kelantai dengan tubuh lemahnya. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya yang lemah. Gadis itu masih tergugu dengan kilasan bayangan kenangan mereka disaat masih kecil dulu.
__ADS_1
"Ara, jangan lari kakak capek sekali."
"Ayolah kak, masak begitu saja kau itu sudah capek, dasar pria lemah." Ejek Aira kecil.
"Jangan mengejekku, awas ya aku akan menangkapmu."
"Coba saja..hahaha."
Keduanya berlarian dipinggir pantai saling mengejar dengan wajah bahagia khas anak anak kecil pada umumnya.
"Ara, janji ya nanti kalau sudah besar jangan nikah sama cowok lain."
"Emang kenapa kak ?"
"Pokoknya ngga boleh, awas saja kalau Ara nikah sama cowok lain, soalnya hanya Kakak ya g boleh nikah sama Ara. Apa kamu mengerti."
"Aku mengerti kak."
"Besok kakak akan pergi, kakak harap Ara akan selalu menunggu kakak sama seperti siang yang setia menunggu datangnya malam."
Aira masih menangis tersedu sedu, rasanya hatinya tidak sanggup menerima kepedihan ini. Dia mulai lelah dengan kehidupan ini, yang selalu mempermainkan hidupnya seakan dia adalah sebuah boneka.
Seseorang didepan pintu nampak memandang keadaan kekasihnya dengan hati yang teriris iris. Seakan ribuan jarum menusuk jantungnya, sakit dan sesak secara bersamaan.
Dia tidak bisa melihat keadaan Ara-nya yang nampak rapuh. Dengan gontai dia melangkahkan kakinya menuju sang kekasih hati.
Layaknya secepat laju kereta api, begitulah dia secepat kilat merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Mendekap erat hingga kemudian melabuhkan kecupan kecupan kecil disemua wajah Aira.
"Tolong jangan begini sayang, dimana Araku yang biasanya kuat dan tangguh. Berani menghadapi dunia dengan wajah tegak dan senyuman manisnya."
"Aku lelah Al, aku sangat lelah."
"Kamu begitu sedih dan terpuruk hingga melupakan jika disampingmu masih ada aku Ra. Kamu melupakan ada hati yang harus kamu jaga, ada seseorang yang siap menjadi bentengmu. Ada tangan yang siap menggenggam tanganmu, dan ada dada dan bahu yang siap menerima sandaran kepalamu Ra. Apa aku tidak begitu berarti dimatamu Ra. Apa hanya ada Sean seorang dihatimu.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk selalu membahagiakanmu, tapi sepertinya kamu masih belum bisa menerima uluran tanganku. Aku kecewa Ra, apa aku juga harus mati dulu baru kamu akan berpaling menatapku dan menangisi kepergianku."
Setelah mengucapkan kata kata itu, Alviaan melepaskan total pelukannya dan berdiri lalu berjalan menjauh dari Aira. Dia lelah, perjuangannya selama ini tidak ada artinya dimata gadis itu. Hanya ada Sean dan lukanya.
Aira termangu, syok dengan kata kata Alvian. Tapi dia membenarkan ucapan pria itu, dia begitu egois. Larut dalam kesedihan hingga melupakan ada hati yang harus dia jaga. Ada seseorang yang juga butuh perhatiannya. Dan seseorang itu yang selalu menemaninya dikala dia sedang terjatuh dan terpuruk.
Dia tidak bisa kehilangan lagi, dia memang sedih karena kehilangan Sean, tapi hatinya sepenuhnya milik Alvian.
Apa aku harus mati dulu baru kamu akan menangisiku.
Aira tersentak lalu secepat kilat berdiri dan berlari masuk kedalam kamar. Dilihatnya Alvian tengah berjalan menuju pintu dengan langkah gontai.
Bruk
Aira memeluk erat Alvian dari belakang, bahkan sangat erat seakan takut untuk melepaskannya. Membuat pria itu termangu dalam kebingungannya.
"Ra.." Panggilnya lirih sembari mengusap punggung tangan Aira yang kecil.
"Maaf, jangan pergi."
Alvian menghela nafas, mencoba berdamai dengan keadaan. Dia akan melepas gadis itu jika memang Aira merasa terbebani hidup dengannya.
__ADS_1
"Apa artinya aku dihatimu Ra."
"Maaf Al, maafkan aku."
"Aku akan ikhlas melepasmu jika memang kamu tidak bahagia hidup denganku."
"Tidak, aku tidak ingin kita pisah Al." Gugunya dengan keras.
"Tapi kamu akan tersiksa hidup denganku Ra, aku memang mencintaimu, tapi jika kamu terbebani dengan hubungan ini aku akan melepasmu."
Aira menggelengkan kepalanya dengan keras, dia sadar dia salah. Dia sadar jika pria ini yang dia inginkan. Mungkin akhir akhir ini kepalanya terbentur tembok hingga lupa ingatan dan baru sekarang dia menyadarinya.
"Maaf." Lirih Alvian kekeh dengan keputusannya, dia akan melepaskan Aira dan pergi dari kehidupan gadis itu.
Aira melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh kekar Alvian. Mata sembabnya menatap dalam mata cokelat Alvian. Dan selanjutnya hal yang tidak Alvian duga duga sebelumnya, Aira melabuhkan ciumannya dibibirnya.
"Ra.." Suara Alvian tercekat karena sikap Aira yang terlihat sangat agresif.
Aira tidak perduli dengan tekad penuh dia kembali mencium pria itu, bahkan sekarang bukan hanya sekedar ciuman singkat, tapi lebih dari itu.
Mendorong keras tubuh Alvian hingga jatuh keatas ranjang, lalu merangkak naik keatas tubuh kekasihnya. Astaga, sepertinya dia sudah lehilangan urat malunya, tapi dia tidak perduli, saat ini yang ada dipikirannya adalah membuat pria itu tetap ada disampingnya.
"Ra." Tangan Alvian mencekal tangan Aira yang bergerak membuka kancing kemejanya, menatap manik mata kekasihnya lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak begini, kita ti...hhmmpp."
Ucapannya terputus karena bibirnya sudah dibungkam habis oleh Aira membuat pria itu mau tidak mau akhirnya membalas ciuman panas sang kekasih.
Saling berciuman melampiaskan perasaan hati masing masing, membuat Alvian semakin terlena. Ya, sejenak dia ikut terbawa oleh suasana, hingga kemudian akal sehatnya sadar ketika melihat gadis itu sudah membuka seluruh pakaiannya, menyisakan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.
"Sayang.." Panggilnya lembut mencoba menyadarkan pujaan hatinya.
"Kenapa ?" Tatapan mata Aira nampak tidak suka.
"Kita tidak akan melakukannya."
"Kenapa ? Bukankah kamu akan menikahiku besok, sekarang ataupun besok sama saja kan. Lagipula tadi kamu juga sudah melakukannya." Kilahnya dengan nafas tersengal sengal karena sesuatu yang butuh dilepaskan.
Mata pria itu membelalak sempurna mendengar ucapan Aira.
"Kamu bilang akan menikahiku besok, apa kamu berubah pikiran ? Kalau iya maka sebagai gantinya aku yang akan menikahimu besok, sayang."
Sejurus kemudian senyuman itu terbit, kian lama semakin lebar. Kini kendali penuh berada ditangannya, dengan gesit dia membalikkan tubuh polos Aira lalu menindihnya dengan seringaian lebar.
"Aku tidak akan melepasmu baby." Bisiknya sembari menggigit kecil daun telinga Aira.
"Cerewet."
Alvian tertawa keras sebelum akhirnya dia benar benar membuktikan ucapannya, tidak melepaskan gadis itu barang sedetikpun.
Selamat tinggal kak, aku juga ingin bahagia. Cukup kutempatkan namamu disudut hatiku dan akan tetap mengenangmu disana.
TBC
Maaf ya, Aira baru up, soalnya authornya namatin couple A dulu.
__ADS_1
See you next again..
jangan lupa tinggalkan jejak.😘