Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Keluhan Bian


__ADS_3

Maaf bab 62 dan 63 mungkin terkena gangguan,,mam akan merevisinya..


***


Waktu begitu cepat berlalu, kini usia kandungan Aira sudah menginjak angka delapan bulan dan bulan besok diperkirakan sang pangeran keluarga Siregar akan meluncur kedunia ini. Hal ini tentu saja membuat hati Alvian yang notabenenya sebagai calon papa muda merasa bahagia. Apalagi keyakinannya akan jenis kelamin sang anak benar benar terbukti, anak pertama mereka adalah laki laki.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Alvian menginginkan anak pertama mereka adalah seorang laki laki, bahkan jika anak pertama mereka perempuan Alvian akan tetap menerimanya dan menyayanginya. Dia hanya berharap jika dia mempunyai seorang putra, dia ingin putranya itu akan melindungi dan menjaga adiknya kelak. Seperti dirinya yang selalu menjaga keluarganya.


Sementara Aira yang tahu keinginan sang suami diawal kehamilan sempat merasa takut jika suaminya itu akan kecewa padanya apabila anak pertama mereka tidak sesuai dengan keinginan suaminya. Dia sempat mengalami stress hingga membuat kandungannya sempat mengalami flek. 


Beruntung kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan ketika usia kandungannya menginjak 6 bulan dia melakukan USG untuk mengecek jenis kelamin anaknya. Dan dia bernafas lega didalam hatinya saat mengetahui jika anak pertamanya adalah laki laki.


Sebenarnya bisa saja dia melakukan USG diusi kandungan 5 bulan, hanya saja dia masih agak takut dan belum mempersiapkan diri jika sewaktu waktu dia kecewa karena harapan suaminya tidak terkabul. Namun semua itu langsung sirna saat ketakutannya itu tidak terbukti.


Dan hari Aira nampak berada diruangan olahraga bersama Alvian dan juga seorang pemandu untuk melakukan senam kehamilan. Dokter berkata untuk sering melakukan senam kehamilan supaya nanti melancarkan jalan keluar bayinya saat melahirkan. Dan dengan telaten dan penuh kesabaran Alvian selalu menemani bahkan ikut mengikuti hampir semua gerakan yang dlakukan istrinya.


Masalah kantor ?


Dia tidak ambil pusing bukankah ada Bian ? Asisten tercintanya sekaligus adik sepupunya. Pria itu menyerahkan tugas perusahaan sepenuhnya pada pria muda yang bahkan usianya belum genap 26 tahun itu. Tepatnya sih 26 kurang 1 bulan.


"Dirumah dia asik bersenam ria dengan kakak ipar, sedangkan disini aku berkutat dengan berkas berkas yang tidak ada habisnya ini. Punya kakak sepupu gini amat ya, bukannya disayang tapi malah dibikin sengsara." Gerutunya sembari memeriksa dan menandatangani berkas berkas diatas meja.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Titahnya memberi perintah pada orang diluar sana.


Terlihat sekretaris cantiknya memperlihatkan kepalanya dengan senyuman ramah menghiasi wajahnya yang masih cantik walaupun sudah berkepala tiga.


"Tuan, papa anda berpesan agar anda segera kekantor beliau siang ini." Ucap Lina sang sekretaris.


"Apa pak tua itu mengatakan hal lain ?"

__ADS_1


Lina mengrenyit bingung, kenapa tuannya ini memanggil papanya dengan sebutan pak tua.


"Ck, dia emang sudah tua Lin, jangan bingung gitu. Sudahlah kamu keluar saja, ngomong sama kamu percuma ga bisa bantu apa apa."


Lina, sang sekretaris tidak mau ambil pusing, dia berbalik setelah mengendikkan kedua bahunya acuh dengan sikap tuannya.


"Lin." Panggilnya lagi membuat Lina langsung berbalik kembali menghampiri tuannya.


"Ya tuan, apa anda membutuhkan sesuatu ?" Tanyanya.


"Apa kamu bahagia saat sudah menikah ?"


"Hah ! Maksud tuan bagaimana ya, saya kurang mengerti. Tentu saja saya sangat bahagia dengan pernikahan kami. Apa tuan menyukai saya ? Saya ucapkan terima kasih tapi maaf tuan saya tidak bisa menerima cinta tuan, karena saya sangat mencintai suami saya begitu juga dengannya." Sarkasnya panjang mengira kalau bosnya itu mempunyai rasa padanya.


Bian memutar bola mataya jengah mendengar tuduhan sekretarisnya itu.


"Dengar..."


"Lagipula usia kita beda jauh tuan, anda lebih cocok menjadi adik saya. Kalau anda mau saya punya adik perempuan masih kuliah, cantik, usianya pun mungkin dibawah sedikitlah dari tuan." Cerocosnya tanpa henti saat Bian belum menyelesaikan kata katanya.


"STOP ! Lebih baik kamu segera keluar dari ruangan saya, kamu itu malah membuatku semakin migrain dengan kata katamu itu. Lagipula siapa yang menyukaimu, kamu itu geer sekali." Gerutunya.


"Syukurlah." Sungguh reaksi yang mampu membuat Bian melongo sempurna, wanita ini malah mengucapkan syukur.


Apa iya wanita ini tidak sedikitpun mempunyai rasa tertarik pada dirinya. Dia itu sangat tampan bahkan mapan,melihat sikap sekretarisnya ini Bian jadi meragukan ketampanan dan juga kharismanya.


"Pergilah."


'Masalah adik saya tuan." Rupanya Lina masih belum puas mempromosikan adiknya.


"Kamu mau gajimu bulan ini saya potong setengah ?" Ancamnya dengan menatap tajam.


"No tuan, saya akan segera pergi." Jawabnya setelah itu ngacir dengan langkah kaki panjang panjang.


"Enak saja mau potong gajiku, biaya kuliah Rindu kan belum kubayar.' Sungutnya sembari duduk dimejanya kembali.

__ADS_1


Sementara Bian yang ditinggalkan oleh Lina diruangannya nampak termangu  dengan pikiran yang melanglang buana. Melihat sang kakak yang saat ini sedang disibukkan dengan kehamilan kakak iparnya hingga mengabaikan pekerjaannya membuatnya berpikir sepuluh kali lipat untuk masuk kejenjang pernikahan. Sepertinya ikatan pernikahan itu nanti akan terlalu membuatnya repot.


Namun jika mengingat permintaan sang papa beberapa bulan yang lalu membuat pikirannya semakin stress. Papanya itu mentang mentang sudah berdamai dengan paman besarnya, dia ingin cepat melimpahkan perusahaan padanya dan mendesaknya untuk segera mencari calon istri.


"Papa sudah tuan Bi, ingin segera pensiun lalu menggendong cucu dirumah saja bersama mama dan paman besarmu itu. Apa kamu tidak kasihan pada kami  bertiga ? Terutama pamanmu itu, setidaknya kalau kamu memberinya cucu, dia akan melupakan rasa sakitnya akan kehilangan kakakmu yang sampai saat ini tidak tahu dimana keberadaannya." Ucap papanya kala itu.


Bian memijit pelipisnya, sepertinya kali ini panggilan sang papa juga tidak jauh jauh membahas masalah ini. Menghela nafas panjang setelah itu kembali berkutat dengan berkas berkas ditangannya.


Jam makan siang....


Bian sudah sampai didepan kantor paman kecilnya yang saat ini dipegang oleh papanya. Dengan langkah cool namun tetap wibawa dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam kantor.


Seketika ruangan lobby bawah menjadi ramai karena kasak kusuk para karyawan wanita yang membicarakannya, namun Bian tetap cuek dan santai melihat tatapan penuh memuja para karyawan papanya itu. Dalam hatinya dia merasa senang dan tersanjung. Itu berarti kharismanya masih tetap memancar keluar.


"Dimana papaku ?" Tanyanya pada sang resepsionis.


"Tuan besar sudah menunggu anda diruangannya tuan muda." Jawab resepsionis yang ber name tage Risa itu.


"Baiklah terima kasih."


Risa melongo sampai lupa untuk membalas ucapan terima kasih Bian. Gadis itu terpesona akan senyum Bian yang mempu membuatnya menjerit sampai guling guling dilantai.


Bian berjalan menuju lift khusus para petinggi perusahaan, yang langsung menuju kelantai paling atas dimana disana hanya ada ruang direktur dan juga asistennya serta sekretarisnya. Dia siap masuk kedalam lift setelah sebelumnya memencet tombol naik sebelum seseorang tiba tiba menubruk dirinya hingga membuatnya sedikit oleng kebelakang.


Bruk


"Astaga." Serunya dengan kesal. "Apa kamu tidak bisa memperhatikan jalanmu ?" Semprotnya pada gadis yang sudah menabraknya.


"Maaf tu.....kak Bian ?" Panggilnya saat sudah melihat wajah orang yang dia tabrak.


Bian mendongak, seketika rahangnya mengeras.


"Kamu !"


TBC

__ADS_1


__ADS_2