
Salah satu ruangan di dalam mansion yang sangat luas dan megah itu kini semakin berkilau setelah disulap menjadi istana megah, mewah dan elegan oleh para tangan tangan ahli yang akan menjadi saksi bisu bersatunya ikatan sakral dan suci antara dua manusia berbeda jenis. Suara suara bising yang sejak awal terdengar karena tidak sabar untuk menanti akan kehadiran sang calon pengantin pria maupun wanita. Belum lagi rasa penasaran mereka yang sangat tinggi karena pernikahan yang digelar secara mendadak dan tiba tiba.
Kini suara itu seakan ditelan bumi dan hanya menyisakan keheningan tatkala seorang pria muda yang begitu sangat tampan dan rupawan dengan setelan jas pengantin berwarna putih yang melekat ditubuhnya yang kekar dan tegap. Sorot matanya tetap memancarkan aura dingin mencekam sesuai dengan cirinya selama ini yang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.
Sebisa mungkin Bian menyembunyikan kegugupannya dibalik wajah tampannya yang dingin dan datar. Sorot matanya yang tajam dan memancarkan aura dingin membuat semua yang hadir disana sama sekali tidak melihat jika saat ini dirinya sedang dilanda rasa gugup yang begitu besar. Terbukti dari keningnya yang terlihat mulai basah oleh keringat dan ada beberapa yang sudah mengalir di pelipisnya.
Pria sedingin kulkas itu nampak mengedarkan pandangannya kesegala arah penjuru. Sedari tadi dia tidak melihat kehadiran gadisnya. Sudut matanya terus bergulir kesana kemari mencari pujaan hatinya membuat Alvian yang berada di sampingnya menggulirkan mata jengah.
”Mau kau cari sampai lepas tu bola mata juga ga bakalan muncul sebelum waktunya.” Cetusnya dengan nada setengah meledek membuat Bian langsung menoleh pada kakak sepupunya itu.
”Siapa bilang aku sedang mencari Cleo ? Kau saja yang terlalu kepedean.” Kilahnya menutupi rasa gugup dan malu karena kepergok saudara lucknutnya itu kalau dia memang sedang mencari Cleo.
”Memang aku bilang kalau kau sedang mencari Cleo mu itu.” Timpalnya penuh penekanan membuat Bian mendelik sadar kalau kakak sepupunya itu sedang mengerjainya.
Sial
Alvian menahan kekehannya melihat wajah jenaka adik kulkasnya itu. Rasanya senang sekali dia bisa mengerjai sang adik yang bahkan jarang sekali tersenyum itu.
Obrolan kakak beradik itu terhenti kala sang penghulu sudah datang dan duduk di singgasananya. Kedua matanya yang teduh penuh wibawa ternyata cukup mampu membuat pria sedingin kulkas itu dilanda gugup. Terbukti beberapa kali sang calon pengantin berdehem pelan guna menetralkan rasa gugupnya.
”Jangan tegang begitu santai saja, tegangnya nanti malam saja kalau sudah berdua dikamar.” Kelakar pak penghulu berusaha mencairkan suasana tegang dan mencekam bagi sang calon pengantin.
Sontak saja ucapan penuh canda pak penghulu membuat semua yang hadir disana tertawa kencang terutama Alvian yang memang sedari tadi menahan tawa saat melihat wajah tegang adiknya itu. Berbeda dengan Bian yang langsung merubah wajah tegangnya menjadi masam guna menutupi rasa malunya gara gara ucapan frontal pak penghulu didepannya ini.
Sial, kalau bukan penghulu yang bakalan nikahin gue sama Cleo, sudah pasti tak gencet tu mulut lemesnya.
__ADS_1
”Dia bukan tegang pak, cuma udah ga sabar aja pengen cepet cepet masuk kamar.” Tambah Alvian yang mana malah membuat suasana semakin ramai oleh gelak tawa para hadirin disana.
Melihat suaminya yang senang sekali menjahili adik sepupunya, Aira hanya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan sifat sang suami yang sekarang ini berubah total, jahil dan menyebalkan.
”Papamu dek, ilang sifat kulkasnya sekarang muncul sifat jahilnya. Nanti kalau sudah besar kalian jangan seperti papa ya.” Kelakarnya pada dua balita yang hanya membalas ucapan mamanya dengan senyuman lebar.
Disaat Bian tengah diledek habis habisan oleh Alvian dan pak penghulu, disisi lain Cleo nampak duduk di dalam kamar dengan kedua tangannya yang saling merem@s menghilangkan rasa gugup yang sedari tadi menghampirinya. Ditatapnya cermin besar didepannya yang kini menampilkan wajah cantiknya yang bahkan dia sendiri pun merasa pangling.
”Kau gugup ?” Wajah ayu nan imut itu menatap sahabatnya sekaligus calon kakak iparnya yang sedari tadi terlihat tak tenang.
Cleo mendongak keatas, melihat wajah Chery yang berdiri dibelakangnya dari balik cermin. Sahabatnya itu terlihat sangat dewasa dan anggun dengan pakaian kebaya brukat yang menempel pas ditubuh langsingnya. Senyum tulusnya semakin memancarkan kecantikan alami gadis yang terlihat sangat bahagia.
”Sedikit.” Balasnya melempar senyum.
Dahi Cleo mengkerut mendengar ucapan maaf yang jeluar dari bibir sahabatnya itu.
”Untuk ?”
”Untuk yang pernah terjadi diantara kita, sungguh aku tidak bermaksud unnnnn..”
”Shuttt..jangan membicarakan yang sudah terjadi. Aku sudah melupakannya.” Potong Cleo cepat saat tahu apa maksud ucapan maaf Chery.
”Kau sudah tidak marah padaku ?” Tanyanya polos namun penuh harap.
”Mana bisa aku marah padamu, kau itu sahabat langkaku jadi harus dipertahanin.” Guraunya berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
Chery mencebik. ”Langka, udah kayak hewan yang dilindungi negara aja aku tu.”
Cleo terkikik mendengar gerutuan Chery, dia senang sahabat cerewetnya sudah kembali lagi seperti sediakala.
”Sayang, bawa kakak iparmu keluar, suaminya sudah menunggu dibawah.”
Seruan sang mama yang mendadak terdengar muncul berbarengan dengan sosoknya yang sudah berdiri diambang pintu. Entah sejak kapan wanita paruh baya itu sudah berdiri disana dengan tampilannya yang begitu anggun nan elegan.
”Apa ijab qabulnya sudah selesai ma ?” Tanya Chery antusias, dari dulu gadis itu memang sangat menginginkan sahabatnya itu bisa menjadi kakak iparnya dan itu semua terkabul hari ini walau dengan cara yang aneh dan serba dadakan.
Dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi, Nyonya Mira mengangguk pelan lalu menggandeng sang menantu untuk dibawa kehadapan putranya.
”Kamu cantik sekali sayang.” Pujinya menimbulkan semburat merah di kedua pipi menantunya itu.
”Mama juga sangat cantik.” Balasnya dengan senyum malu membuat Nyonya Mira gemas.
”Ayo, suamimu sudah menunggu dibawah.”
Cleo meraih uluran tangan ibu mertuanya dengan senyuman yang merekah. Diapit oleh Chery yang berjalan disisi kirinya. Dalam diam hati gadis itu bergemuruh hebat mendengar kata suami yang dilontarkan oleh mama mertuanya tadi.
Suami ?
TBC
Assalamualaikum. maaf baru update, mamnya jangan di amuk ya..hehe
__ADS_1