
Pria tampan itu masih betah menatap wajah cantik didepannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiada henti dia mengecup punggung tangan istrinya berkali kali, lalu beralih kembali memandang wajah ayu itu. Membuat Aira tersipu pasalnya suaminya itu tidak sekalipun melepaskan tatapannya yang penuh cinta.
"Mas, jangan menatapku seperti itu, aku malu."
Alvian terkekeh mendengar ucaoaj sang istri, dengan lembut dia mengusap rambut oanjang Aira dan mengecup pelipusnya
"Aku mencintaimu, terima kasih sudah mau mengandung anakku."
"Apa yang kamu katakan mas, tentu saja aku mau mengandung anak pria ya g sangat aku cintai, bahkan kalau kamu minta sepuluh anak pun akan aku berikan." Jawabnya antusias.
"Benarkah ? Kalau aku meminta duapuluh anak gimana ? Apa kamu mau ?" Godanya dengan kening berkerut.
"Aku mau." Jawabnya tegas penuh keyakinan.
"Hahahhaha..tapi aku yang ga mau sayang. Mana mungkin aku membiarkan istriku ini kesakitan dengan mengandung sebanyak 20 kali. Cukup dengan 2 anak saja yang penting keluarga kita bahagia sampai kita menua nanti."
Aira langsung memeluk suaminya itu dari samping, mengecup pipinya dengan singkat.
"Aku mencintaimu mas." Ucapnya dengan nada manja dan mata mengerjap.
Alvian tersenyum kemudian mengecup singkat bibir merah yang selalu menggoda imannya itu. Daj sesaat kemudian wajah Alvian mulai berubah serius namun matanya masih lekat menatap sang istri.
"Sayang, boleh aku bicara sesuatu."
"Apa mas ?"
Agak ragu pria itu hendak mengutarakan apa yang ada dipikirannya, namun dia harus membicarakan masalah ini. Dia hanya tidak ingin membiarkan masalah ini terbengkalai hingga berlarut larut.
"Ehm, tentang kejadian tadi..."
Alvian langsung menghentikan kata katanya saat melihat ekspresi wajah Aira yang langsung berubah murung, bahkan wanita itu kini terlihat tengah menundukkan kepalanya.
"Maaf mas, aku sudah membuat nama keluarga ini malu dengan masa laluku."
"Tidak sayang, aku..."
"Aku tahu mas, karena sebab inilah yang membuatku dulu ragu untuk menerima siapapun pria yang ingin menikah denganku, bahkan dirimu juga. Aku tidak ingin kisah masalaluku menjadi boomerang dan pada akahirnya malah menghancurkan bahkan mempermalukan suamiku karena statusku dulu."
Air mata Aira luruh seketika, dadanya kembali dihimpit rasa sesak mengingat statusnya dimasa lalu. Rasanya luka yang sudah lama tertutup itu perlahan terbuka kembali dan berdarah sakit.
__ADS_1
"Aku rela kalau mas mau meminta berpisah denganku, bagaimanapun aku adalah wanita kotor mas. Aku tidak layak untuk mendapatkan cintaku yang begitu tulus ubtukku, aku tidak ingin kamu kehilangan semua yang kamu miliki."
Aira benar benar menangis tersedu sedu, rasanya tidak sanggup membayangkan dia yang akan berpisah dari Alvian. Hidupnya sudah sangat bergantung pada Alvian, entah apa jadinya dia jika pria itu benar benar menceraikannya. Apalagi kini didalam perutnya telah tumbuh seorang bayi buah dari cinta mereka berdua.
"Hei, siapa yang mengatakan jika kita akan berpisah, berpikir kearah sana pun aku tidak sanggup sayang, apalagi jika itu benar benar terjadi. Hidupku pasti akan hancur tanpa dirimu. Kita ini adalah suami istri bukan sepasang kekasih. Jiwa kita sudah menyatu, hidupmu adalah hidupku, begitu juga sebaliknya.
Aku lebih baik kehilangan harta kekayaanku daripada aku harus kehilangan istriku yang sangat berharga. Kamu melebihi hartaku dan kekayaanku sayang, kamu tidak ternilai harganya karena kamu begitu berharga untukku. Aira hanya untuk Alvian, dan Alvian hanya untuk Aira. Tidak ada yang boleh memisahkan kita berdua, siapapun itu."
Tangis Aira semakin kencang, mendengar pernyataan cinta suaminya yang begitu tulus. Dia begitu bahagia hingga rasanya hatinya tidak sanggup lagi menampung kebahagiaan yang begitu besar ini.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu mas, aku berjanji untuk itu. Mulai sekarang aku tidak akan pernah menjadi kelemahanmu, tapi akan selalu menjadi kekuatanmu. Selalu mendukungmu dan akan selamanya seperti itu." Ucaonya tulus.
"Itu harus, lagipula kamu itu tidak pernah bisa berjauhan dari suami tampanmu ini sayang. Apa kamu lupa kalau kamu itu begitu tergila gila pada suamimu yang mempunyai ketampanan paripurna ini. Artis korea kesayanganmu saja kalah tamoan dengan suamimu ini." Pria itu mulai berkata dengan angkuh membanggakan ketampanannya yang memang paripurna itu.
Aira memutar bola matanya jengah akan sikap suaminya yang kelewat sombong jika sudah menyangkut tentang penampilan dan wajah tampannya.
"Masih tampan Lee Min Hoo."
"Benarkah ? Aku tidak suka ini, besok aku akan mengontaknya dan memintanya untuk operasi wajah. Aku ingin dia merubah wajahnya itu seperti wajahku, supaya istriku yang cantik ini tidak lagi melihat wajah tampan pria lain. Cukup aku saja yang mempunyai ketampanan luar biasa ini." Ucapnya dengan tingkat kepercayaan dirinya yang begitu besar.
"Ya..ya..twrserah mas saja." Ucapnya pasrah, meladeni suaminya bisa bisa seharian penuh mereka berdebat.
Dering ponsel Alvian menghentikan canda tawa mereka berdua. Pria itu bergegas meraih lonselnya dan melihat siapa yang sudah menelponnya. Terlihat nama Bian, sang adik dilayar ponsel. Seketika raut wajah Alvian berubah masam dan dingin.
"Eh..ini Bian menelpon sayang, boleh mas menerima telponnya sebentar ?"
Aira dapat melihat raut wajah suaminya yang berubah masam walau hanya sekilas, dan seketika dia tahu apa penyebab dari perubahan wajah Alvian itu.
"Mas, boleh aku yang berbicara padanya ?"
"Tapi sayang..." Jawabnya ragu, Aira tersenyum simpul, dia menggenggam tangan suaminya.
"Aku berjanji akan baik baik saja mas, percayalah."
Alvian menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya oada istrinya.
"Halo kak, aku sudah membawa paman Erick ketempat biasa kak sesuai permintaanmu." Suara Bian terdengar jelas diseberang sana.
"Halo Bi, assalamualaikum."
__ADS_1
"Eh, kakak ipar, waalaikumsalam kak, maaf kak apa kak Alviannya ada didekatmu, aku ingin mengatakan sesuatu padanya."
"Ada Bi, mas Alvian ada didekatmu sekarang."
"Tolong berikan ponselnya padanya kak, ada yang harus Bian sampaikan pada kak Alvian."
Aira melirik suaminya yang nampak tegang, spontan dia mengusap lembut rahang keras Alvian sembari tersenyum, seakan mengatakan semuanya baik baik saja.
"Bi, tolong bawa paman kesini sekarang ya."
"Eh, kak.."
"Sayang.."
Suara mereka terdengar serentak dan kaget. Bahkan Aira dapat melihat kedua mata suaminya itu membelalak lebar.
"Nggak apa apa mas." Kembali tersenyum pada suaminya. " Bi, kamu masih mendengarku ?"
"I...iya kak, ak..aku disini."
"Bawa paman kemari ya, aku tunggu disini."
"Tapi kak..kak Al."
"Jangan khawatir, mas Alvian setuju kok."
"Baiklah kak, aku akan kesana 10 menit lagi."
"Sayang, apa kamu yakin menyuruh pria b****k itu datang kesini ? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu loh."
"Hussshh, dia pamanmu loh mas, tidak baik berkata kasar padanya."
"Tapi..."
"Sudah, tenang saja. Kalau ada terjadi sesuatu padaku, kan ada kamu dan juga yang lain mas."
"Apa kamu tidak sakit hati padanya sayang, dia sudah mempermalukanmu loh." Sungguh Alvian sangat penasaran dengan tingkah sang istri saat ini.
"Lihat saja nanti mas." Jawabnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Dan Alvian hanya bisa pasrah jika istrinya sudah berkata seperti itu, dia hanya harus sabar menunggu kedatangan Paman dan juga adik sepupunya itu dirumahnya.
TBC