Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Sandaran Lain


__ADS_3

Bian mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena robek terkena bogeman mentah sang asisten. Wajahnya masih terlihat memerah karena amarah, sorot matanya yang tajam seakan mampu mengguliti kulit Ricko.


Bian bangkit berdiri lalu duduk di kursi kebesarannya. Bibirnya mendecak sebal saat ekor matanya melirik sang asisten yang justru terlihat santai dan tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun karena sudah memukulnya hingga wajahnya yang tampan terlihat sangat kacau.


Bagaimana bisa pria didepannya ini memasang wajah datar setelah apa yang dia lakukan padanya. Jujur walau marah tapi didalam hatinya dia sedikit bingung melihat amarah Ricko yang nampak tudak biasa itu. Dalam hati menerka nerka apa dia sudah melakukan kesalahan besar hingga membuat sang asisten nampak murka.


Karena dia sangat tahu bagaimana watak dan sifat Ricko yang kesehariannya selalu bersikap ramah dan sopan. Pasti ada sesuatu yang besar hingga membuat si pria ramah ini sampai begitu murka.


"Aku tidak tahu kenapa kau memukulku, tapi setidaknya kau bisa menjelaskannya padaku Rick. Kau bukan tipe pria pemarah seperti yang baru saja kau lakukan." Ucap Bian dengan sorot mata tegas.


Bukannya menjawab pria itu malah duduk didepan Bian dengan memasang wajah tanpa dosa. Bahkan terkesan santai dan masa bodoh membuat Bian semakin kesal.


"Kapan kau akan menemuinya ?" Tanyanya dengan wajah mulai serius.


"Menemui siapa maksudmu ?" Keningnya kini berkerut pertanda dia bingung dengan maksud pertanyaan asistennya.


"Ck, kau itu memang sudah pikun apa cuma pura pura pikun ?" Decaknya kesal. " Tentu saja Cleo, apa kau sudah menemuinya ?" Imbuhnya lagi.


Bian menggeleng pelan, mendadak wajahnya berubah sendu ketika Ricko menyebut nama gadisnya. Dan melihat reaksi loyo Bian malah membuat hati pria didepannya semakin kesal.


"Aku tidak berani menemuinya Rick, kau kan tahu kalau dia sangat membenciku."


"Apa kau yakin kalau dia membencimu ?" Tanyanya yang di jawab oleh Bian dengan nada lemas.


"Entahlah --"


"Ck, itulah bodohnya dirimu Bi, bukannya cepat cepat menyelesaikan masalahmu. tapi kau malah menghindarinya. Kau tahu kau itu sangat pengecut, wajar saja kalau Cleo membencimu." Ketusnya.


"Ak- aku memang pengecut Rick, dia berhak membenciku karena aku sudah membohonginya selama ini."


"Dan karena alasan itu makanya kau ingin melepasnya ? Bukan malah mendukungnya ?"

__ADS_1


"Entahlah --" Lagi lagi hanya jawaban itu yang dilontarkan oleh Bian.


Mendengar jawaban Bian yang nampak pasrah, Ricko lantas berdiri sembari melemparkan tatapan tajamnya pada bos sekaligus sahabatnya itu.


"Aku tidak menyangka kau sepengecut ini Bi. Aku harap suatu saat nanti kau jangan sampai menyesali keputusanmu ini. Asal kau tahu, saat ini Cleo sangat membutuhkan sandaran Bi, mungkin dia memang membencimu. Tapi tahukah kau jika wanita adalah makhluk paling pandai berbohong ? Diluar dia nampak menolak dan selalu berkata jika dia baik baik saja padahal hatinya begitu rapuh dan sangat membutuhkan sandaran. Saat ini dia terlihat sangat membencimu, tapi apakah kau tahu kalau dihatinya dia juga mungkin membutuhkan dirimu, dukunganmu dan perhatianmu. Pikirkan kata kataku Bi, semoga kau belum terlambat untuk menyadarinya."


Dengan hati kesal Ricko berjalan menuju pintu keluar, namun belum tangannya menyentuh handle pintu pria itu kembali berbalik dan mengucapkan kata kata yang mampu membuat hati Bian semakin gelisah.


"Ingat Bi, jangan sampai Cleo menemukan kenyamanan dan bersandar di pundak orang lain. Jika itu terjadi maka aku orang pertama yang akan bertepuk tangan dan mengucapkan selamat menikmati penyesalanmu."


Blam


Suara pintu tertutup dengan sangat kencang menyisakan Bian yang terpaku sendirian di ruangannya dengan hati yang semakin gelisah.


Di suatu tempat...


Didepan pusara yang selalu terawat dengan baik Cleo nampak duduk bersimpuh dengan hati yang berkecamuk. Gadis itu bahkan tidak memperdulikan keadaan tubuhnya yang kotor terkena tanah becek. Pandangan matanya masih menatap kosong pusara dengan tulisan nama Amira.


Cleo mengusap airmata yang dari tadi terus mengalir membasahi kedua pipinya. Sejak datang ke tempat ini tidak ada satu katapun yang dia ucapkan selain doa yang dia panjatkan didalam hati untuk sang kakak tercinta.


Cleo menghela nafas panjang, menghembuskannya secara perlahan seakan ingin melepas beban berat yang ada dipundaknya. Lalu pandangannya berkeliling menatap area pemakaman yang nampak sepi.


Jujur saat ini dia sedang bingung hendak kemana. Badannya masih terlalu lemas untuk mencari tempat tinggal.


Aku harus kemana kak ?


Cleo bisa saja pulang kerumah dimana dia dan kakaknya dulu tinggal, tapi percuma saja karena mungkin saudara ayahnya masih menguasai rumah itu. Bahkan kalau dia nekad bukan hanya hinaan yang dia dapat tapi mungkin keluarganya akan kembali mengusirnya dengan sangat kejam.


"Tidak baik seorang gadis berada sendirian ditempat sepi seperti ini. Bagaimana kalau ada yang menculikmu ?"


Suara berat seseorang terdengar dari arah belakang membuatnya langsung menoleh. Keningnya berkerut saat menatap sosok yang sedikit familiar baginya. Sosok pria dewasa yang sangat tampan namun begitu tegas dan berwibawa. Melihat wajah pria ini membuatnya ingat dengan sosok Alvian, kakak sepupu dari Bian.

__ADS_1


"Anda siapa Tuan ? Kenapa berada disini ?" Tanyanya dengan nada hati hati dan sedikit cemas.


Bukannya menjawab sang pria malah terkekeh ketika menyadari raut wajah gadis didepannya yang terlihat pucat. Wajar kalau gadis itu merasa takut, pasalnya tempat ini begitu sepi dan hanya ada mereka disana.


Cleo yang mendengar kekehan pria itu semakin memasang wajah waspada, walau tidak urung hatinya ketar ketir saat ini. Saat dia hendak membalas ucaan pria itu mendadak terdengar suara lain yang membuat keduanya langsung berpaling ke asal suara.


"Astaga, kamu membuatnya ketakutan sayang." Suara lembut seorang wanita dengan perut buncitnya tiba tiba keluar dari mobil hitam yang terparkir di pinggir area pemakaman.


Si pria yang melihat istrinya turun bergegas menghampiri dengan raut wajah panik, takut terjadi sesuatu pada sang istri dan calon bayinya.


"Kenapa kamu keluar sayang, kan mas bilang tunggu di dalam." Ucapnya lembut namun penuh ketegasan.


"Kalau aku ga keluar dia akan semakin takut mas." Kekehnya sembari tertawa kecil.


Lalu wanita itu memandang Cleo yang masih berdiri ditempatnya dengan sebuah tas jinjing yang berada di samping kaki kanannya.


"Hai Cleo, masih ingat denganku ?" Tanyanya sembari melemparkan senyuman manis.


"Anda --" Kerutan dalam terlihat diwajahnya berusaha mengingat sosok wanita cantik didepannya ini.


"Kita pernah bertemu di Rumah Sakit waktu Aira melahirkan. Apa kau ingat." Ucapnya lagi.


Cleo masih berusaha mengingatnya hinga beberapa detik kemudian kedua bola matanya melebar saat ingatannya melayang pada sosok wanita yang dulu pernah bertemu dengannya di Rumah Sakit Ganendra, Rumah Sakit yang sama ketika dia dirawat beberapa hari yang lalu.


"Anda --"


TBC


Maaf baru update, makasih untuk sahabat mam semua yang sudah mendukung mam sampai sejauh ini.


Yang nanya babang Alex, masih lanjut ya say, tapi nunggu Aira selesai dulu baru nanti di lanjut lagi..

__ADS_1


Happy reading semua..selamat bermalam senin ditemani hujan..bbbrrrr dinginnya.


__ADS_2