
Satu bulan berlalu semenjak kejadian itu, Cleo benar benar membuktikan ucapannya. Gadis itu selalu menghindari moment moment pertemuannya dengan Bian, jikapun mereka tidak sengaja bertemu Cleo selalu bersikap seolah olah tidak mengenal Bian. Bahkan Cleo selalu menjaga jarak diantara keduanya dan mencoba bersikap profesional, baginya hubungan keduanya hanya sebatas antara bos dan anak buah saja, tidak lebih.
Walau sekarang dia menjabat sebagai sekretaris pribadi pria itu, tapi tidak sekalipun Cleo membahas masalah pribadi diantara mereka. Dia benar benar murni melakukan pekerjaannya dengan sangat profesional. Ya, saat ini Tuan Adi sudah memberikan kuasa penuh perusahaan yang selama ini dia pegang kepada putra sulungnya itu, jadi secara otomatis atasan Cleo saat ini bukanlah Tuan Adi, melainkan Bian.
Sementara Bian sendiri juga melakukan hal yang sama pada gadis yang dia benci itu, sikap dan sifatnya masih tetap sama tidak ada satupun yang berubah. Dan itu juga yang menjadi penyebab Cleo membulatkan tekadnya untuk menghilangkan perasaannya pada Bian. Gadis itu benar benar ingin move on dari pria tampan yang selalu membuat hatinya sakit.
Hari ini suasana kantor BA. Group nampak sibuk seperti biasanya, namun yang terlihat lebih sibuk adalah Cleo dan juga sang asisten Bian, Ricko. Pasalnya hari ini bos mereka sedang tidak ada dikantor. Bian sedang mengurus perusahaan Alvian karena sang pemilik sedang menemani istrinya Aira yang saat ini sedang di Rumah Sakit hendak melahirkan.
Jadwal kelahiran anak pertama mereka tepat sesuai dengan HPL, dan kini Aira beserta suaminya dan juga anggota keluarga yang lain sedang berkumpul di Rumah Sakit milik Tuan Andre. Pasangan suami istri itu bahkan terlihat sangat antusias menunggu detik detik kelahiran cucu pertama mereka. Nyonya Silvi bahkan sampai rela berjaga semalaman demi menemani sang putri dirumah sakit.
Tidak ketinggalan dengan Nyonya Mira yang selalu heboh menyiapkan ini dan itu, kedua wanita paruh baya itu terlihat sangat kompak dalam merencanakan dan menyiapkan keperluan cucu mereka. Tingkah mereka berdua membuat kedua suami mereka hanya bisa diam sembari menggelengkan kepala.
"Sayang apa terasa sangat sakit ?" Nada khawatir terlihat jelas di suara Nyonya Silvi saat melihat putrinya yang kembali meringis.
"Entahlah ma, perut Ara terasa sangat kencang dan sesak. seperti ditendang dua anak sekaligus ma." Jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya saat rasa sakit itu kembali muncul.
"Coba sini aku lihat yank." Sela Alvian sembari membuka kedua kaki istrinya sedikit lebar.
"Eeeeee...kamu mau ngapain ?" Tanya Nyonya Slivi heran saat melihat menantunya itu malah melakukan hal yang aneh menurutnya.
"Ya mau ngintip sebentar ma, mau lihat apa yang dilakukan oleh anak Al sampai membuat mamanya kesakitan gitu, kali aja Al bisa memberitahunya supaya jangan membuat mamanya kesakitan ma." Jawabnya polos.
Pletak !
"Awww..sakit Oma."
"Dasar anak gendeng, oma yakin itu cuma akal akalan kamu aja yang pengen lihat kue apem Aira kan ? Pake alasan mengintip anak segala, kamu pikir Oma bakal kemakan bualanmu itu. Lagi pula mana ada orang mengecek ibu hamil pake diintip segala." Sungut Oma Tamara dengan raut wajah kesal yang seketika disambut gelak tawa oleh semua orang, sementara Aira hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu sambil menatap tajam sang pembuat onar yang sepertinya nampak acuh seolah olah itu adalah hal yang biasa.
"Mas mending kamu keluar aja deh, aku disini biar sama mama Silvi dan Aunty Mira saja." Usirnya dengan terus meringis.
Wanita cantik itu merasa kesal pada suaminya, bisa bisanya disaat seperti ini pria itu malah bertingkah aneh dan konyol.
"Tapi yank."
"Keluar massss,,issshh." Aira menggenggam pinggiran ranjang dengan kuat saat rasa sakit itu kembali menyerangnya, kali ini lebih lama dan lebih sakit.
__ADS_1
"Tarik nafas lalu keluarkan sayang,ayo mama yakin kamu pasti kuat."
"Ini sangat sakit ma."
"Rasa sakitnya akan menghilang saat anak kalian lahir nanti, rasanya seperti tidak bisa diucapkan dengan kata kata. Semua terasa indah, rasa sakit dan kurang nyaman selama sembilan bulan lebih, semuanya akan hilang tak tersisa saat kita melihat malaikat kecil kita yang selama ini berada didalam perut kita sudah lahir dengan selamat."
Ya, yang diucapkan oleh wanita cantik itu adalah kebenaran, rasa mual, sakit pinggang, tidak bisa tidur nyenyak dll semuanya akan musnah saat kita melihat bagaimana anak kita lahir dengan selamat dan sehat. Ada rasa haru dan bahagia yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu.
Aira menatap lekat wajah wanita yang selama ini sudah begitu banyak berkorban untuknya, bahkan wanita ini lebih membela dirinya yang hanya menantu daripada sang anak kandungnya dulu, hal yang jarang sekali dilakukan oleh wanita lain saat anaknya membuat kesalahan. Jika orangtua lain masih membela sang anak kandung mereka walaupun kesalahan anaknya begitu besar dan malah menyalahkan si korban.
Sangat berbeda sekali dengan pasangan suami istri didepannya ini, Tuan Andre dan Nyonya Slivi adalah tipe orangtua yang akan selalu membela kebenaran tidak perduli jika kebenaran itu akan membuat anaknya berurusan dengan polisi. Bagi mereka siapapun orang yang melakukan kesalahan, maka wajib untuknya menerima hukumannya.
"Ma, makasih sudah melindungi Ara selama ini, aku sayang mama dan papa, walaupun kalian bukanlah orangtua kandungku, tapi selamanya mama dan papa akan selalu dihati Ara dan tidak akan pernah digantikan oleh siapapun. Maafkan Ara kalau selama ini sudah begitu banyak kesalahan yang Ara lakukan dan mungkin saja tanpa sengaja Ara sudah menyakiti hati mama dan papa."
Nyonya Silvi tersenyum tulus, mengecup kening Aira yang nampak basah karena keringat.
"Jangan berkata seperti itu, bagi kami Ara tetaplah putri kesayangan papa dan mama."
Aira menangis haru begitupun dengan Nyonya Mira, melihat bagaimana besannya itu begitu tulus menyayangi istri keponakannya yang hanyalah mantan menantu. Sepertinya dia memang harus belajar banyak dari wanita yang memiliki hati seperti malaikat itu.
Sudut mata Nyonya Silvi mengikuti arah pandangan besannya dengan kening berkerut.
"Iya ya, mama juga baru sadar loh sayang, apa jangan jangan anak kalian ini kembar ?"
"Nggak mungkin ma, Dokter bilang perut Ara besar karena berat bayinya yang besar, lagipula waktu USG dedeknya cuma satu ma."
Kedua wanita itu nampak mengangguk anggukkan kepalanya sambil terus bergumam.
"Tapi kok aneh ya." Gumam mereka berbarengan.
"Issshhh...ma sakit, ini sakit banget, Ara nggak kuat lagi."
Kedua wanita itu berubah panik dan langsung berdiri, salah satu dari mereka langsung menekan tombol merah yang ada diujung brankar pasien.
"Dokter, tolong lihat anak saya, dia kesakitan lagi." Ujar Nyonya Silvi saat Dokter kandungan itu masuk kekamar pasien.
__ADS_1
"Nyonya, biar saya lihat kondisi jalan rahimnya ya, sudah pembukaan berapa." Jawabnya sembari memberi isyarat pada perawat untuk mengecek kondisi Aira.
"Dok, sudah pembukaan sepuluh."
"Baik, karena sudah waktunya untuk melahirkan jadi tolong untuk yang menemani pasien didalam hanya satu orang saja ya Nyonya.'' Ujar sang Dokter dengan senyum ramahnya.
Setelah memutuskan kalau hanya Nyonya Silvi saja yang menemani Aira, Nyonya Mira pun langsung keluar ruangan dan membaur bersama dengan yang lainnya.
"Mari Nona, rileks saja dan ikuti aba aba dari saya. Tarik nafas perlahan dan keluarkan dari mulut ya. Usahakan jangan terlalu banyak pikiran, rileks dan santai ya, supaya dedenya cepat keluar."
Aira mengangguk pelan, lalu mulai mengikuti anjuran sang Dokter. Mulai menarik nafas dalam namun perlahan dan mengeluarkannya lewat mulut, begitu seterusnya hingga tiba saatnya untuk sang bayi yang terus bergerak berusaha mencari jalan keluarnya sendiri. Wanita itu semakin merasakan perutnya seakan diremas remas dan tulang tulangnya seakan lepas secara bersamaan.
Semangat yang diberikan oleh sang Dokter yang tidak pernah melepaskan senyumnya, dan juga keberadaan sang mama yamg menemaninya membuat jiwa semangat Aira menjadi besar. Dengan perjuangan yang begitu besar akhirnya keluarlah seorang bayi tampan yang sangat putih disusul dengan suara tangisannya yang sangat nyaring.
"Oeeeeekkkkk."
"Alhamdulillah, selamat ya Nona dan Nyonya besar atas kelahiran putra dan cucu pertamanya. Putra anda normal dan lengkap ya Nona, dengan berat badan 2,9 dan panjangnya 49 cm." Jelas Dokter wanita tersebut dengan senyum ramahnya dan raut wajah lega.
"Terima kasih Dokter." Jawab Aira dengan senyum lemahnya, namun kemudian senyum itu menghilang saat dia kembali merasakan sakit yang luar biasa dibagian perutnya. " Dokter..."
"Kenapa Nona ?"
"Perut saya sakit lagi."
"Apa ! Astaga Nona ada satu lagi bayi anda yang akan keluar." Serunya dengan wajah panik dan langsung bergegas membantu kembali persalinan anak dari pemilik Rumah Sakit tersebut.
"Hah.."
TBC
Haduh Aira ternyata bayi kamu yang satunya malu malu ya, ngumpet dibelakang kakaknya,,hahahaha
__ADS_1