
Pria itu membeku dengan wajah yang sangat pucat. Deretan kata kata yang keluar dari bibir sang mama spontan membuatnya menjadi bingung sekaligus terkejut.
"Ap..apa m..maksud mama."
"Ya, kaulah penyebab dari kematian kedua orangtua Aira. Apa perkataan mama kurang jelas Se." Sengit Nyonya Silvi dengan tatapan penuh amarah yang dia tujukan pada putra semata wayangnya.
Saat ini mereka sedang berada disebuah ruangan VVIP yang memang dikhususkan untuk sang pemilik rumah sakit. Sengaja Tuan dan Nyonya Ganendra membawa Sean keruangan mereka supaya bisa menginterogasi pria itu dengan leluasa tanpa harus mengganggu kenyamanan pasien rumah sakit.
Sean masih menatap bingung wajah orangtuanya. Bagaimana mungkin mereka bilang jika dialah penyebab kematian orangtua Aira ? Sementara dia sendiri tidak pernah merasa mencelakai kedua orang itu.
"Se benar benar sangat bingung ma, apa maksud dari semua yang mama katakan tadi ?"
"Kau begitu arogan dan sombong sehingga kau melupakan siapa orang orang yang ada disekitarmu Se. Kau melupakan siapa sosok orangtua Aira. Apa kau pikir mereka tidak tahu apa yang selama ini sudah kau lakukan pada putrinya ? Sepintar apapun dirimu menyembunyikan rahasia ini , tetap saja mereka akan mengetahuinya." Sinis Tuan Andre sembari menatap tajam wajah putranya.
Sean tersentak, lehernya terasa tercekat seakan akan ada yang menjerat lehernya.
Apa maksud papa ? Jangan jangan mereka tahu apa yang sudah aku lakukan pada Aira waktu itu.
"Persis seperti yang ada dipikiranmu saat ini, mereka tahu jika kau sudah menjual putrinya pada teman teman binatangmu itu Se." Ucap Tuan Andre seakan tahu apa yang Sean pikirkan.
Pria itu kembali terkejut, keringat dingin mulai keluar dari pori pori kulitnya.
"Kau ingin tahu bagaimana mereka meninggal Se ? Akan papa katakan padamu supaya mata dan hatimu terbuka lebar lebar." Serunya lagi sembari menatap keluar rumah sakit dari jendela yang ada diruangan tersebut.
"Andi tahu jika kau terpaksa menerima pernikahan ini, walaupun kau berpura pura menerimanya dengan wajah bahagiamu itu. Tidak seperti papa dan mamamu yang tertipu dengan wajah pura puramu itu, dia tahu dengan jelas hanya dengan gerakan tubuhmu saja. Tapi tetap saja dia mempercayakan putrinya padamu, memberikan putrinya pada putra sahabatnya berharap jika kau benar benar mencintai dan bisa menggantikannya untuk menjaga Aira.
__ADS_1
Tapi naluri seorang ayah tetaplah merasa tidak tenang, dia tetap saja merasa jika kau tidak tulus menerima pernikahan ini, walaupun berkali kali kau berusaha untuk meyakinkan nya. Sehari setelah pernikahan kalian, Andi menyewa seorang mata mata untuk mengawasi segala gerak gerik mu dan juga menjaga putrinya dari jarak jauh.
Kau tahu bagi seorang Andi yang kehidupannya jauh dari gelimangan harta, menyewa seorang mata mata pasti membutuhkan biaya yang sangat mahal. Tapi dia tidak memikirkan hal itu, segala upaya dia lakukan walaupun dengan menjual seluruh harta kekayaannya.
Kebahagian putrinya adalah satu hal yang penting bagi hidupnya. Dia ingin memastikan jika putrinya benar benar menjalani kehidupan yang bahagia bersamamu.
Tapi apa yang kau buat Se, kau benar benar melakukan perbuatan hina itu. Bagaimana bisa kau menjual istrimu sendiri sehari setelah pernikahanmu ? Kau sungguh membuat orangtuamu tertampar malu.
Andi tahu apa yang kau lakukan pada putrinya berkat seseorang yang dia perintahkan untuk mengawasi Aira. Setelah mendengar kabar dari mata matanya, hati seorang ayah bagaikan tertusuk pisau yang tajam. Hancur..kau bisa bayangkan itu, bahkan Tante Jihan hampir pingsan mendengar kabar itu.
Berdua dengan memakai motor buntutnya karena mobil mereka yang sudah dijual untuk menyewa orang yang sudah ditugaskan untuk mengawasi putrinya, mereka melaju kencang menuju tempat dimana kau bertransaksi menjual istrimu.
Perasaan panik dan khawatir takut jika mereka terlambat menolong Aira, mereka sampai tidak memperhatikan jalan sekitar, hingga mereka tidak sadar dengan datangnya sebuah truk yang melaju kencang dari arah berlawanan. Dan kejadiannya begitu cepat, Jihan meninggal saat itu juga, sementara Andi beberapa jam setelahnya dia ikut menyusul istrinya. Kau sungguh kejam Se, papa bahkan tidak pernah menyangka jika papa mempunyai putra yang begitu kejam seperti dirimu."
Sean sungguh terkejut, dia tidak menyangka jika selama ini orangtua Aira mengetahui apa yang sudah dia lakukan pada Aira. Dan bertindak sampai sejauh itu, memata matai putrinya.
Seandainya saja saat itu kau mengatakan yang sebenarnya, papa pasti tidak akan memintamu menikah dengannya Se. Tanpa kau harus berpura pura senang demi membuat kami senang yang pada akhirnya membuat hati papa dan mamamu hancur." Pria paruh baya itu mengusap kasar airmatanya sementara sang istri sudah menangis sesenggukan disofa.
"Papa masih ingat dengan jelas pesan yang disampaikan oleh Andi. Bagaimana dia mengatakan padaku, meminta tolong padaku untuk melindungi dan menjaga Aira. Menyelamatkan gadis malang itu dari tindakan kejam suaminya. Tapi papa terlambat. Sesaat sampai disana, papa sudah melihat Aira yang nampak hancur dengan keadaan tubuhnya yang mengenaskan.
Hati papa ikut hancur Se, melihat apa yang sudah kau lakukan pada istrimu. Bagaimana jika yang terjadi pada Aira itu terjadi pada putri papa ? Sayangnya papa tidak mempunyai seorang putri, sehingga Allah masih sayang denganku, dia tidak membiarkan aku merasakan seperti apa yang Andi rasakan.
Papa melihat selembar cek berharga seratus juga yang berada dikamar itu. Sungguh papa tidak menyangka jika kau ternyata benar benar melakukan perbuatan hina itu.
Papa malu, sangat malu mempunyai putra sebejat dirimu. Dan semakin malu saat melihat wajah santai dan wanita jalangmu itu. Wajah kalian yang nampak tidak ada perasaan bersalah. Dan dengan santai nya kau malah pergi keluar negeri setelah apa yang kau lakukan pada Aira dengan meninggalkan surat cerai diatas meja yang sudah kau tanda tangani."
__ADS_1
Sean terkejut bagaimana bisa papanya mengetahui dengan detail apa yang sudah dia lakukan selama ini. Bahkan dia sudah melakukannya dengan hati hati. Dia pikir orangtuanya tidak mengetahui pasal dia yang menceraikan Aira setelah sehari pernikahannya.
Tuan Andre menatap sinis wajah Sean yang terlihat sangat pucat.
"Kau terkejut Se ? Kau akan lebih terkejut lagi setelah tahu siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya selama ini. Kami berdua selalu saja berkilah padamu tidak ingin memberitahu mu, itu karena permintaannya. Tapi setelah perbuatanmu hari ini, sepertinya kami harus memberitahu mu siapa sosok sebenarnya yang sudah mendonorkan ginjalnya untukmu yang saat itu berada diambang kematian."
Ya, seperti apa yang papanya katakan, Sean memang terkejut. Selama ini Tuan Andre selalu beralasan tidak tahu tiap dia bertanya siapa yang sudah memberikan ginjalnya padanya, menyelamatkan hidupnya yang berada diambang kematian. Dan jujur sampai sekarang pria itu masih mencari tahu siapa sosok sang penyelamat hidupnya itu.
"Papa tahu jika sampai sekarang kau masih mencari orang yang sudah mendonorkan ginjal padamu Se. Baiklah papa akan memberitahu mu kali ini." Ucapnya dengan wajah dinginnya.
"Si-siapa pa.?" Ucapnya terbata.
"Sudahlah pa, percuma mengatakan padanya, semua kenyataannya tetap saja tidak akan mengembalikan Aira kita seperti dulu pa. Biarkan pria bejat itu tetap mencari sendiri siapa yang sudah menyelamatkan nyawanya yang berharga itu." Ketus Nyonya Silvi pada suaminya.
"Justru kita harus memberitahunya ma, supaya dia merasakan bagaimana menjalani kehidupan dengan sebuah penyesalan yang mendalam dihati. Sangat tidak enak menjalani kehidupan dengan perasaan bersalah yang menghantui kita setiap hari, seperti yang kita alami setiap hari setiap detik. Kita menjalani hidup dengan selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang tinggi ma, papa ingin dia merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan."
Sean semakin bingung dengan perasaan yang bercampur aduk. Otaknya mulai mencerna perkataan papanya.
Apa maksud papa mengatakan supaya aku hidup dalam penyesalan. Apa jangan jangan...
"Ka..katakan dengan jelas pa maksud papa tadi." Dengan gugup pria itu berucap dengan rasa curiga yang semakin tinggi. Rasa curiga yang pasti akan membuat hidupnya berubah seketika.
"Kau benar ingin tahu siapa pendonor yang selama ini kau cari cari ? ". Ketusnya sinis melihat wajah Sean yang semakin memucat. Hingga sebuah kenyataan yang membuat Sean seakan dihantam sebuah batu yang begitu besar.
"Istrimu ! Aira yang sudah mendonorkan ginjalnya padamu. Istrimu yang kau jual, istrimu yang sudah kau siasiakan. Dia istrimu yang tanpa memikirkan bagaimana hidupnya nanti, dengan tulus dan ikhlas memberikan separuh nyawanya untuk orang yang sangat dia cintai yang dia sangka akan membahagiakan hidupnya nanti."
__ADS_1
TBC