Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Bertemu


__ADS_3

"Araaaa..! Sahabatku my lovely, my duppy huppy..miss you so much."


Pekikan melengking seorang Jiza menyambut kedatangan Aira yang saat itu baru sampai diparkiran kampusnya. Tangan gadis itu dengan cepat membungkam bibir sahabatnya itu yang bergerak ingin menciumnya dengan telapak tangannya.


"Aku masih normal Za, daripada dicium kamu lebih baik aku di cium pelanggan aku. Udah tampan kaya lagi." Cibirnya dengan santai.


Jiza membulatkan kedua matanya lebar, bagaimana gadis itu dengan santai nya berkata sevulgar itu disekitar kampus. Dia tidak tahu apa jika dinding kampus pun bisa berbicara, bahkan rumput pun bisa bergoyang.


"Ra kau gila ya, bicara seenaknya. Emang lupa kita lagi dimana ?" Bisiknya pelan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kampus, takut takut kalau ada yang mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Nggak bakal ada yang denger, lagi pula biarin aja sih kalau ada yang tahu, kan aku ini yang nanggung akibatnya."


Pletak


"Aww..sakit Za."


"Sakit ? Berarti masih waras kan ? Dengar nona Ara yang cantik, kita sebentar lagi mau sidang skripsi, kamu mau sidang kamu berantakan karena ucapanmu barusan ?"


"Nggak sih, aku lupa." Ucapnya setengah berbisik.


"Dasar pikun, yaudah ayo kita ke kelas. Kabarnya dosen baru itu hari ini mulai mengajar. Aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya dari jarak dekat." Ucap Jiza sembari membayangkan wajah dosen barunya itu.


Aira tersenyum lalu memegang lengan Jiza dengan erat.


"Makasih ya Za udah mau jadi sahabat aku, walaupun kamu tahu siapa aku sebenarnya." Bisiknya lirih terdengar ditelinga Jiza.


Gadis itu menoleh, lalu menatap tak suka pada Aira.


"Aku berteman denganmu bukan karena profesimu, tapi aku berteman karena hatimu yang sebaik malaikat. Aku tidak mempermasalahkan apapun pekerjaanmu, bagiku dengan kejujurannmu padaku itu sudah membuatku merasa berharga dimatamu Ra." Ucap gadis itu lembut.


Hati gadis itu menghangat, dari sekian banyak orang, hanya Jiza yang mau berteman dengannya tanpa memandang status dan pekerjaannya. Padahal gadis itu bisa saja menjauh darinya saat dia menceritakan pada Jiza tentang siapa dirinya dan juga bagaimana pekerjaannya.


Tanpa Aira duga, gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, bukan mencaci ataupun merasa iba. Santai dan tenang, dua kata itu yang terlihat di wajah Jiza saat itu.


Lalu gadis itu mengulurkan kedua tangannya pertanda jika dia menginginkan gadis itu menjadi sahabatnya.


Suasana kelas yang tadinya diam kini mendadak ricuh karena langkah kaki sang kepala rektor yang masuk dengan seorang pria yang mengikuti dibelakangnya. Semua orang terutama para gadis nampak berteriak histeris saat melihat wajah sang dosen pengganti pak Gio.


Pertemuan kedua kali ini benar benar membuat seisi ruangan kelas heboh dan gempar. Para mahasiswi sibuk dengan bisik bisiknya memuji ketampanan dosen mereka. Pria itu terlihat sangat tampan dengan tubuh kekar dan kokoh ciri khas seorang lelaki sejati. Jangan lupa rahang tegasnya menambah daya tarik kaum hawa untuk mendekat padanya.


Namun kehebohan diruangan itu tidak membuat seorang gadis yang duduk di bangku belakang ikut serta berpaling menatap wajah sang dosen. Gadis itu asik dengan dunianya sendiri mempelajari bahan bahan skripsi nya dengan tenang dan santai, tanpa perduli dengan keadaan disekitarnya.

__ADS_1


"Ekhem..tenang semuanya. Silahkan kali duduk seperti semula." Pak Andi selaku Kepala Rektor dikampus itu memulai ucapannya.


"Berhubung Pak Gio hari ini sudah tidak bisa mengajar disini jadi Bapak akan memperkenalkan dosen baru pengganti beliau. Walaupun kalian semua sudah tahu dengan nama beliau ini, tapi Bapak akan memperkenalkan kembali pada kalian semua." Ucapannya berhenti sejenak lalu memandang sekeliling ruangan.


"Perkenalkan beliau dosen pengganti pak Gio, beliau ini adalah putra dari pemilik kampus ini. Beliau bernama Pak Se..."


Ucapan pak Andi terpotong karena pria itu mencegahnya, dia memberi tanda pada Pak Andi bahwa dia sendiri yang akan memperkenalkan dirinya sendiri.


"Selamat siang, perkenalkan nama saya Sean Malik Narendra. Kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Mr. Sean."


Deg


Bruk


Suasana hening itu buyar karena suara jatuhnya buku tebal milik Aira. Semua mata memandang kearahnya, menatap heran pada wajah Aira yang sudah putih memucat.


Aira membeku ditempatnya, gadis itu tidak berani mendongakkan kepalanya menatap sang kepala rektor dan juga dosen barunya.


Su-suara itu..dan nama itu. Ti-tidak mungkin.


Aira masih membeku dalam duduknya, Mengabaikan panggilan Pak Andi yang terus menerus memanggilnya.


"Ra..Ara. Kau baik baik saja."


"Ha- hah.." Menoleh terkejut pada Jiza. " A-ada apa ?"


"Kau baik baik saja ? Pak Andi dari tadi memanggilmu."


Aira mencoba menelan salivanya yang terasa kering hingga tenggorokannya terasa begitu tercekat.


"Ra kau baik baik saja ? Ada apa denganmu ?" Seru suara pak Andi kembali terdengar diruangan itu.


Aira mencoba menenangkan diri, walaupun dengan terbata bata, gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan sesak dan airmata yang tiba tiba mendadak datang.


"Ma-maaf pak, saya sedikit pusing."


"Apa kamu ingin ke ruang perawatan ?"


"Tidak perlu pak, saya masih bisa."


"Kamu yakin ?"

__ADS_1


Aira menganggukkan kepalanya keras, berusaha meyakinkan Pak Andi jika dirinya baik baik saja.


"Siapa dia pak ?" Tanya Sean berusaha bersikap tenang. Sama halnya dengan Aira sebenarnya pria itu tidak kalah terkejutnya saat mendapati sosok gadis yang pernah ada dimasa lalunya itu.


"Dia Aira, mahasiswi berprestasi dikampus ini Mr. Gadis itu sangat tangguh dan hebat, walaupun dia anak yatim piatu, tapi dia bisa menyelesaikan kuliahnya hingga ketahap sekarang dan itu pun tanpa beasiswa, karena gadis itu menolak beasiswa yaang diberikan oleh kampus ini Mr." Ucap pak Ando panjang lebar.


Yatim piatu ? Apa kedua orangtuanya sudah meninggal ? Kenapa aku tidak tahu ?


Sean menganggukkan kepalanya berulangkali tanda dia mamahami perkataan pak Andi. Setelah acara perkenalan selesai pak Andi langsung keluar kelas dan segera kembali menuju ruangannya.


Suasana hening dan senyap, Sean yang memang ahli di bidang arsitek memberikan pengajaran ilmunya dengan gaya yang sedikit berbeda, namun masih tetap diterima oleh anak didiknya.


Sean sesekali melirik kearah Aira yang nampak diam dengan muka dinginnya. Tidak sekalipun gadis itu menatap wajahnya, walaupun telinganya mendengarkan semua penjelasan sang dosen.


Sean sedikit geram dengan tingkah Aira yang nampak cuek dan acuh padanya, padahal jelas jelas gadis itu mengenalnya dengan baik. Ingin dia memberi hukuman pada Aira, tapi diurungkannya niatnya itu mengingat jika saat ini mereka berada ditengah tengah mahasiswa lainnya.


Satu jam berlalu, sudah saatnya kelas bubar. Para siswa mulai merapikan beberapa peralatan mereka lalu bersiap untuk keluar ruangan.


"Saya minta pada nona Aira untuk tinggal dikelas terlebih dahulu." Ucapnya singkat dan padat.


Aira terkejut, dia yang ingin cepat cepat pergi dari ruangan yang sedari tadi membuatnya sesak, kini mendadak bingung dengan tingkah dosen barunya. Begitu pula dengan Jiza yang terheran heran dengan mata yang menatap Aira penuh tanya.


Aira menggendikkan kedua bahunya pertanda dia sendiri merasa bingung.


"Silahkan yang lain untuk keluar ruangan sekarang." Teriaknya lagi sembari menatap wajah mereka satu persatu dengan muka dinginnya.


Tanpa banyak tanya, mereka langsung berhamburan keluar ruangan. Dan kini didalam ruangan hanya menyisakan Aira dan Sean.


Sean memandang wajah Aira yang nampak acuh dan dingin. Sudah 15 menit berlalu namun tidak ada satupun dari keduanya yang ingin mengeluarkan suara. Aira masih betah dengan ponselnya menjawab beberapa pesan dari Marcell, sedangkan Sean masih betah dengan keterdiamannya dengan mata yang menelisik tajam ke arah Aira.


Dia begitu banyak berubah, setelah dua tahun tidak bertemu denganku.


Aira mendengus kesal saat dia melirik jam yang melingkar dilengannya. Melirik sinis kearah Sean lalu berucap.


"Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan tolong jangan membuang waktu berharga saya. Saya harus bekerja , permisi."


Gadis itu melangkah menjauh dari pria itu. Saat tangannya sudah memegang handle pintu dan berniat menariknya suara pria itu menghentikan niatnya.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku ?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2