
Jiza menatap sendu wajah pucat sahabatnya yang sampai sekarang masih betah memejamkan kedua matanya. Tangannya terulur mengusap lembut wajah cantik Aira yang masih saja terpejam.
Pandangannya kini beralih pada tubuh gadis itu yang nampak semakin kurus dan tidak terawat. Padahal sebulan yang lalu Aira masih terlihat segar bugar sebelum pria brengsek itu datang lagi didalam kehidupan sahabatnya.
"Hai Airaku sayang, apa kabarmu." Sapanya lirih dengan mendudukkan tubuhnya dikursi samping bankar.
Bibir Jiza terlihat sangat bergetar hebat, pertanda jika gadis itu sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya. Namun sekuat kuatnya dia bertahan, jika melihat tubuh sahabatnya yang nampak memprihatinkan, lama kelamaan diapun tidak bisa bertahan lagi. Airmatanya dengan seenaknya menerobos keluar dengan sangat deras.
Jiza sekali lagi menatap seluruh tubuh Aira yang nampak menyedihkan. Luka sayatan dileher dan lengannya membuat dirinya bergidik ngeri sekaligus marah. Bagaimana bisa sahabatnya itu berpikiran jauh sampai ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Apa dia tidak memikirkan bagaimana nasibnya jika sahabatnya itu meninggalkannya.
Walaupun begitu Jiza tidak bisa sepenuhnya menyalahkan diri Aira. Bagaimanapun hidup gadis itu sangatlah menderita. Jiza yang membayangkannya saja sudah merasa takut, apalagi Aira yang secara langsung yang mengalaminya. Pasti sangat berat cobaan hidup yang dijalani oleh Aira.
"Kamu tahu Ra, aku sangat bersyukur mempunyai sahabat yang hebat dan tangguh seperti dirimu. Kamu gadis yang kuat dan tegar, walau aku tahu cobaan hidup selalu mengikutimu kemanapun kamu melangkahkan kaki. Buka matamu Ra, sahabatmu ada disini. Aku mohon jangan membuatku merasa khawatir seperti ini." Jiza tergugu dengan tangisan yang memilukan hati, bahkan Alex yang ada dibelakangnya saja langsung pergi keluar ruangan, pria itu tidak sanggup jika harus berlama lama melihat pemandangan yang membuatnya sesak.
"Ikutlah denganku Ra, aku akan membawamu pergi jauh jika kamu tidak bahagia ada ditempat ini." Lanjut Jiza dengan tangan yang menggenggam erat tangan Aira.
Gadis itu menenggelamkan wajahnya disisi tubuh Aira, sungguh hatinya merasa sangat sesak. Melihat tubuh lemah Aira yang berbaring tidak berdaya dibrankar membuat hati Jiza ikut merasakan sakit.
Jiza berjengit kaget saat merasa tangan Aira sedikit bergerak, dengan cepat gadis itu menegakkan tubuhnya. Wajahnya yang sedari tadi nampak sedih kini berubah menjadi cerah, saat kedua mata Aira secara perlahan membuka.
"Aira sahabatku, kamu akhirnya sadar. Alhamdulillah ya Allah. Aku akan memanggil dokter." Seru Jiza dengan suara bergetar karena bahagia, lalu tangannya memencet tombol merah yang ada disamping brankar.
"Za.." Panggil Aira dengan suara lemahnya.
"Tenanglah, aku disini bersamamu." Ucapnya dengan tersenyum hangat.
Aira mengangguk lemah lalu pandangan matanya menatap sekeliling ruangan.
Klek
Pintu terbuka dan muncul seorang dokter yang dibelakangnya diikuti oleh suster dan Alex. Pria itu juga merasa bahagia saat mengetahui Aira sudah siuman dari komanya.
"Bagaimana keadaanmu nona Aira ?" Tanya Dokter dengan tersenyum hangat padanya.
"Alhamdulillah dokter, hanya saja saya sedikit merasa sakit diseluruh tubuh." Keluhnya dengan suara lirih.
"Itu wajar nona, mengingat anda koma selama lebih dari 3 hari. Apa anda juga merasa pusing ?"
Aira mengangguk. " Baiklah saya akan memberikan anda obat penghilang rasa nyeri ya. Saya harap anda minum obatnya, dan beristirahat. Jangan terlalu banyak bergerak nona, tubuh anda masih lemah " Ucap dokter lalu segera pergi setelah selesai memeriksa Aira.
"Aku senang akhirnya kamu siuman Ra, kamu tahu bagaimana khawatirnya aku saat mendengar jika kamu sedang koma Ra." Ucap Alex sembari menggenggam erat punggung tangan Aira. Tatapan pria itu terlihat sangat sedih saat menatap gadis didepannya.
Aira berusaha tersenyum walau masih terlihat lemah dan pucat.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa Lex, makasih udah mengkhawatirkan aku." Balas Aira dengan tatapan mata teduhnya yang selalu bisa menghipnotis pria tersebut.
Alex mengecup punggung tangan Aira dengan lembut, dengan mata yang menatap mata hitam Aira dengan pancaran mata yang sirat akan cinta.
"Jika saja kamu menerima lamaranku, pasti saat ini kita sudah bahagia Ra. Dan kamu tidak akan pernah mengalami hal semacam ini, karena aku akan selalu melindungi setiap jam bahkan setiap detik." Ucapnya lagi dengan sendu. " Sekarang setelah melihat keadaanmu seperti ini, semakin membuat keinginanku bertambah besar. Apa kamu tetap akan menolak lamaranku Ra ?"
Aira menghela nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya dengan panjang. Demgan senyuman manis berkembang dibibirnya, Aira membelai sayang pipi Alex.
"Tetaplah menjadi sahabatku, jangan mengotori hubungan kita dengan ikatan percintaan Lex. Karena aku tidak akan sanggup jika suatu saat akan muncul rasa benci dihati kita jika ada salah satu dari kita yang tersakiti."
"Tapi Ra cintaku tulus untukmu, dan aku tidak akan pernah membuatmu terluka Ra."
"Aku mohon mengertilah Lex."
"Apa kamu masih mengharapkan Sean Ra ?" Tanya Alex hati hati.
Aira memejamkan kedua matanya ketika tiba tiba rasa sakit menusuk hatinya saat Alex menyebut nama Sean.
"Bagaimana aku bisa berpikir untuk kembali padanya Lex, sementara mendengar namanya saja hatiku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan jika didunia ini hanya ada dua orang manusia, aku berharap jika salah satu dari mereka bukanlah pria itu." Ucap Aira tanpa menyebutkan nama Sean, sepertinya gadis itu benar benar menghilangkan nama Sean, terbukti sekedar menyebut namanya saja, Aira enggan melakukannya.
Alex menatap sendu wajah Aira, pria itu tahu betul bagaimana hancurnya hati gadis itu sekarang. Alex melirik kearah Jiza, bertepatan dengan gadis itu yang juga melirik padanya. Alex kembali menghela nafas saat dilihatnya isyarat yang diberikan Jiza padanya. Isyarat yang mengatakan supaya Alex berhenti untuk membahas tentang Sean. Perlahan Alex mengangguk mengiyakan permintaan Jiza yang membuat gadis itu mendesah lega.
"Oke, mari kita lupakan yang sedih sedih, sekarang saatnya kita bergembira merayakan kebahagiaan ini karena kamu sudah kembali sadar. Kamu tahu Ra, aku sudah tidak sabar untuk segera mengajakmu kembali berlibur kevillaku. Pasti kamu sudah merindukan suasana disana bukan ?" Ucapnya dengan mata berbinarnya.
"Hei sembarangan kalau bicara, kamu tahu semenjak hari itu aku sudah memutuskan tidak akan menyentuh Aira. Aku menyayanginya, jadi aku tidak akan menyentuhnya sebelum kami menikah."
"Ck, aku tidak percaya padamu Lex, wajahmu itu sirat akan kebohongan." Ketus Jiza, entah kenapa ucapan Alex sedikit membuat sudut hatinya terasa ngilu, padahal dia sudah tahu bagaimana hubungan Alex dan Aira selama ini.
"Aku tidak berbohong Za, aku benar benar sudah tidak melakukannya." Bela Alex yang entah kenapa hatinya ingin sekali membuat gadis itu percaya padanya.
Aira tersenyum melihat tingkah keduanya, gadis itu melihat ada sedikit percikan api cinta diantara kedua sahabatnya itu, walaupun belum begitu besar. Tapi Aira yakin jika keduanya ada rasa saling ketertarikan.
"Alex berkata benar Za, kamu ingat saat hari pertama pria itu mulai menggantikan pak Gio. Itu hari terakhir Alex memutuskan untuk tidak melakukannya padaku. Entahlah apa yang ada dipikirannya, tapi aku sekarang mulai mengerti, jika dia memutuskan begitu pasti ada satu penyebabnya, dan penyebabnya adalah karena dia sudah jatuh cinta pada seorang gadis. Bukan begitu Lex." Tanyanya sembari melihat wajah Aalex yang nampak gugup.
"Eh..I-iya kamu benar Ra." Jawab Alex dengan suara lirih.
"Boleh aku tahu siapa gadis beruntung itu ?" Tanya Aira dengan bibir terangkat membentuk senyuman, sementara sudut matanya melirik sekilas pada wajah Jiza yang nampak berubah masam.
"Tentu saja kamu orangnya Ra." Ucap Alex berusaha bersikap wajar.
"Kamu yakin ?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Tapi aku merasa jika gadis itu bukan aku Lex, atau itu hanya perasaanku saja."
"Eh..itu..bukan seperti itu Ra. Gadis itu memang kamu."
"Kamu tidak pandai berbohong Lex, apa kamu takut jika gadis itu menolakmu karena masa lalumu yang buruk itu." Tebak Aira sambil tersenyum.
"Ra, gadis itu memang kamu." Tegas Alex berusaha meyakinkan Aira.
"Kamu tidak mencintaiku Lex, kamu hanya merasa iba padaku, sebab itu kamu ingin melindungiku kan. Percayalah perasaanmu padaku itu bukanlah cinta, itu hanya bentuk rasa sayang seorang sahabat."
Alex tertegun, lalu tersenyum saat menyadari jika perasaannya pada Aira memang hanya bentuk rasa sayangnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih.
"Kamu memang benar Ra, aku hanya menyayangimu sebagai seorang sahabat. Terima kasih sudah mengingatkanku." Ucapnya tulus.
"Lalu kapan kamu akan melamarnya."
Alex mendadak lesu. "Aku ragu Ra, apa dia akan menerima masalaluku yang buruk seperti yang kamu ucapkan tadi."
Aira kembali tersenyum, lalu melirik pada Jiza yang nampak tertunduk dengan wajah sedih.
"Bagaimana Za, apa kamu mau menerima masalalu Alex yang buruk. Kamu tahu sendiri kan hubungan kami berdua juga bukan hanya sebatas sahabat saja, apa kamu akan ikhlas menerima Alex ?"
Kedua orang itu terkejut lalu saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Apa maksud kamu Ra ?" Tanya Jiza dengan suara gugup.
"Maksudku ? Sudahlah aku tahu kalian berdua saling mencintai walaupun diantara kalian tidak ada yang saling mengakui. Pergilah lalu bicarakan baik baik, dan segera putuskan apa yang aku bicarakan tadi, jangan sampai kalian menyesal jika semuanya sudah terlambat."
"Apa maksud..."
"Aku ingin istirahat, kalian pergilah." Usirnya lalu langsung merebahkan tubuhnya dibrankar dengan posisi membelakangi kedua sahabatnya.
Alex dan Jiza saling berpandangan, mendadak situasi berubah canggung. Alex menghela nafas lalu menatap Aira yang tidur dengan tatapan penuh arti. Dia tahu jika gadis itu hanya pura pura tidur, tapi jika memikirkan kembali ucapan Aira, hati kecil Alex memang mengakuinya.
Dengan pelan dan lembut, tangannya meraih tangan Jiza lalu menariknya untuk keluar dari ruangan Aira.
Beberapa saat setelah kepergian kedua sahabatnya Aira nampak membuka matanya lalu tersenyum tipis. Gadis itu merasa senang karena pada akhirnya kedua sahabatnya itu mengikuti kemauannya. Dengan tenang Aira kembali memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap. Namun baru beberapa detik matanya terpejam, suara pintu terbuka dan disusul suara kaki melangkah membuatnya kembali membuka mata.
"Ada apa lagi Lex ?" Tanyanya sembari membalikkkan badannya.
"Ra...."
TBC
__ADS_1