
Alvian menggenggam erat tangan Bapak Penghulu bersiap untuk mengucapkan Ijab Qabul. Dengan wajah pucat dan sedikit gugup, pria itu pada akhirnya mampu mengucapkan kata kata sakral itu dengan lantang dan hanya satu kali tarikan nafas. Tersenyum lega saat kata kata sah menggema diruangan tersebut.
"Bagaimana pada saksi ?"
"Sah."
"Sah."
Helaan nafas lega terdengar keluar dari indra penciuman Alvian, rasa gugup yang sedari tadi menderanya langsung hilang dan berganti dengan rasa bahagia yang tiada terkira. Kekasihnya sekarang sudah sah menjadi miliknya untuk selamanya, dan dia tidak perlu merasa takut lagi jika gadis itu akan pergi menjauh darinya.
Alvian mengedarkan pandangannya kearah tangga saat suara bisik bisik para tamu terdengar hingga ketelinganya. Sama seperti tamu undangan, dia pun ikut terpana saat gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu melangkah turun dengan diapit oleh orangtua Sean.
Alvian mengembangkan senyuman paling manis hingga membuat Aira sejenak terpana akan ketampanan suaminya. Karena asiknya dia terbengong hingga tidak sadar jika Alvian sudah berada tepat didepannya dengan sebelah tangannya yang terulur kedepan menyambut sang istri.
"Sayang.." Panggil Tuan Andre menyadarkan putrinya yang sedang asik dalam lamunannya dengan tatapan matanya tidak berpaling dari wajah Alvian.
"Eh.. iya pa." Jawab Aira tersentak dari lamunannya.
"Itu suamimu sudah datang dan sambut ukuran tangannya sayang." Bisiknya ditelinga putrinya.
Aira langsung berpaling kedepan dan mendapati sang suami yang sudah berdiri disana mengulurkan tangannya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Sayang, tanganku sudah lelah sampai kapan kamu akan membiarkan tanganku menggantung begini."
Aira tersipu dengan wajahnya yang sudah memerah. Menyambut uluran tangan Alvian dengan senyum malu karena kepergok sedang mengagumi wajah tampan suaminya.
"Al, Paman titip putriku, tolong jaga dan lindungi dia. Putriku sudah hidup menderita selama ini, jadi paman meminta padamu jangan membuatnya tersakiti lagi." Ucap Tuan Andre dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku janji Paman, Al akan selalu mencintainya dan menjaganya dengan nyawaku sebagai taruhannya. Paman jangan khawatir." Jawabnya dengan tegas dan sarat akan kesungguhan hatinya.
Tuan Andre mengangguk lalu menyerahkan putrinya untuk dibawa oleh pria yang dia percayai bisa menjaga Aira.
"Putri kita akan bahagia dengan orang yang tepat pa, jangan khawatir lagi." Hibur Nyonya Silvi saat melihat suaminya meneteskan airmata.
__ADS_1
Tuan Andre meraih tangan istrinya yang berada dipundaknya, tangan kanannya meraih pinggang sang istri dan membawanya kedalam pelukannya.
"Papa menangis bahagia Ma, melihat putri kita dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya."
Nyonya Silvi mengusap punggung suaminya yang tengah bergetar karena tangisnya, ini kali kedua dia melihat suaminya menangis, pertama kali Tuan Andre menangis saat melihat kondisi Aira dulu ketika dihancurkan oleh putranya sendiri. Bahkan saat kepergian Sean, Tuan Andre sama sekali tidak mengeluarkan airmata. Pria itu hanya diam dengan tatapan matanya yang kosong.
Tapi tidak memungkiri didalam hatinya Tuan Andre merasakan duka yang teramat dalam, bagaimanapun Sean adalah putranya, putra yang membuat dirinya merasa bahagia saat tangan kecilnya dulu menggenggam jemarinya. Putra ketika pertama kalinya dia yang mengajari Sean berjalan, dan selalu menggenggam tangannya untuk memberikan perlindungannya.
Semenjak istrinya divonis tidak bisa mengandung kembali, semenjak itulah dia selalu mencurahkan kasih sayangnya penuh pada Sean, memanjakannya hingga dia tidak pernah menyadari efeknya dimasa depan karena sikapnya yang terus memanjakan putra satu satunya itu.
Kembali kepengantin baru, Alvian berjalan pelan mengiringi langkah istrinya menuju ketempat dimana diadakan Ijab Qabul. Masih ada beberaapa berkas yang harus ditanda tangani oleh keduanya.
"Apa istriku ini begitu mengagumi ketampanan suaminya, melamun sampai tidak menyadari kehadiranku hm. Aku memang tampan paripurna sayang, banyak yang tergila gila padaku, jadi sudah seharusnya kamu bersyukur mempunyai suami sepertiku." Bisiknya ditelinga Aira sembari tangan kanannya yang memeluk posesif pinggang Aira.
"Mas, berisik." Ketus Aira jengah dan juga malu secara bersamaan.
"Berisiknya nanti malam saja ya, dikamar." Godanya lagi.
"Mas." Pekiknya pelan dengan tatapan tajam mengarah ke suaminya.
"Silahkan untuk menandatangani berkasnya, selamat kalian berdua sekarang sudah sah menjadi suami dan istri." Ucap Bapak Penghulu sembari menguraikan senyuman simpul melihat bagaimana posesifnya Alvian memeluk istrinya.
Setelah memberikan sedikit pencerahan tentang hubungan diantara suami dan istri, tentang hak dan juga kewajiban suami dan istri, Bapak Penghulu akhirnya berpamitan undur diri karena dirasa tugasnya sudah selesai.
Alvian menatap mesra istrinya yang berada disampingnya. Tidak ada acara lebih karena memang Alvian hanya mengadakan Ijab Qabul saja. Sementara resepsinya akan dia gelar 3 bulan setelah kepergian Sean, dia rasa itu adalah waktu yang tepat mengingat jika sekarang masih dalam suasana duka.
Hanya ada keluarga dan juga beberapa tetangga yang Alvian undang dihari bahagianya itu. Nampak Om dan Tantenya dari pihak sang Papa, yaitu kedua orangtua Bian, adiknya dan juga seorang gadis yang sepertinya adalah sahabat dari adiknya Bian.
"Selamat nak, ingat sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Berperilaku yang baik dan buat istrimu nyaman berada disisimu." Pesan Tuan Nugraha selalu papanya Bian.
"Terima kasih Om, Al akan selalu mengingat pesan paman."
"Selamat ya sayang, kamu cantik sekali." Ujar Tante Mira dengan senyuman lembutnya.
__ADS_1
Alvian menatap haru Paman dan Tantenya, dari sekian saudara papanya hanya Om Nugraha dan Tante Mira yang selalu bersikap baik padanya dan juga Oma Tamara. Entah apa sebabnya mereka membencinya dan juga Omanya, mereka tidak pernah sekalipun memberitahunya.
"Tante juga cantik dan anggun." Lirih Aira dengan wajah yang tersipu malu.
Tante Mira terkekeh pelan melihat istri dari keponakannya itu yang sedang malu malu, tatapannya beralih kearah Alvian lalu memeluknya dengan kasih sayang.
"Ingat jangan nakal lagi, kalau Tante masih mendengar kenakalanmu siap siap telingamu putus karena jeweran Tante." Ancam Tante Mira.
"Keponakanmu ini sudah insyaf Tante, yang ada Tante akan merasa bangga sama Alvian." Selorohnya dengan nada sombong, sementara Aira memutar bola matanya jengah.
"Ck, kamu ini mirip sekali dengan papamu, sombong dan angkuh."
"Iya donk, kan aku anaknya."
Tuan Nugraha menatap jengah keponakannya itu, lalu merubah tatapannya dengan mimik muka serius.
"Al, bujuk adikmu itu untuk memegang perusahaan Om napa, Om sudah tua sudah tidak sekuat dulu. Lagipula Om ingin istirahat dirumah dan bercanda dengan cucu Om. Tapi sepertinya adikmu itu punya kelainan, tidak pernah sekalipun Om melihatnya bersama seorang wanita." Keluhnya dengan nada frustasi.
"Om, biarkan Bian untuk sementara dikantor Alvian, bocah itu masih ingin menikmati kemandiriannya. Nanti Al pastikan dia akan menuruti permintaan Om."
"Terima kasih nak, Om sebenarnya bangga pada anak itu, dia tidak seperti pria lainnya yang memanfaatkan kekayaan orangtuanya. Kamu tahu, Bian bahkan menolak semua fasilitas yang Om berikan. Entah apa yang ada dipikiran anak itu, tapi Om yakin semua itu karena dia melihat sosok hebat seperti dirimu Al."
Alvian mengangguk haru dengan kasih sayang yang diberikan oleh adik dari papanya itu, disaat dia mengusap sudut matanya, tanpa sengaja dia melihat sosok Bian yang berdiri dibalik dinding. Pria tampan itu mengurai senyuman, dia tahu jika sang adik mendengarkan semua yang dikatakan oleh papanya.
Sementara itu seseorang melangkah menuju kearah keduanya. Dengan didampingi oleh wanita cantik yang terus menggandeng lengannya dengan mesra. Senyuman bahagia tidak pernah luntur dari wajahnya yang tampan, sesekali jemarinya mengelus tangan wanita yang memeluk lengannya erat.
"Ara.." Panggilnya lembut yang langsung disambut senyuman merekah diwajah Aira.
"Alex, Jiza."
Sepasang kekasih itu saling berpandangan setelah sampai didekat Aira dan juga Alvian dengan Jiza yang sudah melepas pelukannya dilengan kekar Alex.
Alex menatap wajah gadis yang sempat bersemayam dihatinya, ada rasa lega dan bahagia. Entahlah sepertinya semua tamu yang datang ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan pengantin baru. Semua wajah memancarkan kebahagiaan dan ikut berdoa semoga pernikahan keduanya langgeng dan terus bahagia sampai maut yang memisahkan.
__ADS_1
TBC