
"Cle ayo cepetan, lama banget sih." Suara cempreng khas milik Chery membuat Cleo memutar bola matanya jengah akan sikap sahabatnya yang sangat tidak sabaran itu.
Cleo berjalan pelan dan agak ragu memasuki pelataran rumah sakit tempat dimana menantu kesayangan keluarga Siregar dirawat pasca melahirkan. Sebenarnya Cleo enggan untuk menjenguk Aira, namun sahabat bawelnya ini selalu memaksa dirinya agar menemaninya menengok keponakan yang katanya adalah kembar.
Bukan apa apa, hanya saja Cleo enggan bertemu dengan seseorang yang sangat dia hindari yang sudah pasti ada disana. Siapa lagi jika bukan pria menyebalkan si Bian itu. Pria yang selalu membuatnya merasakan cinta dan sakit hati secara bersamaan.
"Kamu itu lama sekali sih, udah kayak kura kura aja jalannya." Gerutu Chery sembari menarik pergelangan tangan Cleo.
"Ck, kamu itu dari dulu nggak pernah berubah selalu tidak sabaran." Balasnya dengan muka cemberut.
"Aku sudah nggak sabar kepengen ketemu sama dua keponakan aku yang lucu itu."
"Kok kamu tahu kalau keponakan kamu sangat lucu ? Katanya baru mau lihat." Kata Cleo dengan wajah bertanya.
"Mama sih yang bilang tadi waktu ditelpon." Cengirnya sembari menggaruk belakang telinganya.
Cleo menatap jengah sahabatnya itu yang masih saja menarik pergelangannya. Dengan langkah panjang dan tergesa gesa, mereka berdua akhirnya sampai diruangan tempat Aira dirawat.
Sebuah ruangan VIP Class Room yang memang digunakan untuk khusus keluarga Ganendra. Ruangan yang sangat luas dengan perabotan yang sangat lengkap didalamnya. Ada ruang tamu lengkap dengan TV dan kulkas, kamar mandi, dua ranjang besar selain ranjang rumah sakit.
Benar benar seperti bukan dirumah sakit saja, tapi mirip dengan sebuah kamar pribadi yang dipindah kerumah sakit. Bahkan Cleo bisa mengira ngira luas ruangan ini adalah 10 kali lipat dari kamar kontrakannya yang hanya dua petak saja luasnya.
Cherry, gadis cempreng itu langsung memekik kegirangan sembari berjalan menuju kearah kakak iparnya, Aira. Mengabaikan langsung sahabatnya yang hanya bisa diam menghela nafas panjang.
Sahabatnya itu selalu melupakan dirinya jika sudah bertemu dengan sesuatu yang membuatnya senang. Seperti saat ini, dia langsung melupakan jika dia datang bersama Cleo saat sudut matanya menangkap keberadaan kedua keponakannya yang lucu dan menggemaskan.
Cleo sendiri setelah memberi senyuman dan ucapan salam dan selamat pada Aira, gadis itu sibuk mengamati interior didalam ruang rawat Aira yang sangat mewah menurutnya.
Saking terkagumnya gadis itu dengan pemandangan didepannya sampai membuatnya tidak sadar jika saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian semua orang didalam ruangan tidak terkecuali Aira.
Bahkan gadis itu mengabaikan keberadaan seseorang yang terus saja menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aira memberi kode pada Cherry seakan menyuruh gadis cantik itu untuk membawa sahabatnya mendekat padanya. Cherry yang tahu maksud istri dari kakak sepupunya itu lantas menoleh kearah Cleo yang masih saja kagum dengan ruangan mewah yang menurutnya seperti hotel itu.
Nampak gadis berambut panjang itu memutar bola matanya jengah dengan ketidakpekaan Cleo yang masih terhipnotis dengan ruangan dimana kakaknya dirawat. Terbersit ide jahil dikepalanya untuk menggoda sahabatnya itu.
"Apa kau ingin tinggal disini ? Sepertinya kau sangat mengaguminya Cle." Guraunya sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa maksudmu ? Apa kau mendoakan aku supaya sakit ?" Kening gadis itu berkerut karena pertanyaan konyol sahabatnya.
"Heheheh." Cengirnya. "Habis kau itu terlalu kagum sampai tidak sadar kalau sejak tadi semua orang menatapmu tahu." Imbuhnya.
Cleo tersentak dan gadis itu baru menyadari saat memandang sekeliling ruangan, nampak semua orang menatapnya dengan senyuman. Sontak wajah gadis itu memerah malu karena kepergok sedang mengamati ruangan tersebut.
__ADS_1
Aira yang melihat gadis itu salah tingkah, tersenyum manis lalu melambaikan tangannya meminta Cleo untuk mendekat. Tanpa berkata lagi Cleo langsung berjalan kearah wanita cantik yang selalu tersenyum ramah padanya.
"Hai kak, selamat ya atas kelahiran baby twin nya. Maaf baru bisa menengok." Ucapnya mengalihkan topik, sungguh jika ingin ditanya saat ini dia merasakan malu yang teramat sangat.
"Makasih sayang. Gimana kabarmu ? Kakak dengar dari Cherry kamu magang dikantor papa Adi ya." Suara lembut Aira sungguh membuat Cleo terpana.
"I-iya kak." Gagapnya.
Aira tersenyum lalu menggenggam telapak tangan Cleo yang terasa dingin berkeringat. Dia tahu jika gadis didepannya ini tengah gugup dan malu.
"Santai saja, jangan malu." Cleo mengangguk dan mulai menetralkan deru jantungnya yang sedari tadi berlabuh keras.
"Apa rencanamu setelah selesai wisuda ? Kamu akan bekerja dimana ?"
"Cle masih belum tahu kak, lagipula masih ada sisa satu bulan kontrak magang Cle dikantor Tuan Adi."
"Apa Bian selalu bersikap baik padamu ? Atau bahkan sebaliknya ? Kalau iya kamu bisa ngomong langsung pada kakak, biar nanti kakak jewer kupingnya." Selorohnya sembari melirik kearah sang adik yang nampak memelototkan matanya.
Sebenarnya Aira tahu jika perlakuan Bian pada Cleo sungguh agak keterlaluan, semenjak dua bulan yang lalu adiknya memegang perusahaan Papa Adi, begitu Aira sekarang memanggil Om kesayangan suaminya itu. Aira selalu mengawasi tingkah dan perilaku Bian disana dan tentu saja semua itu atas bantuan suami tercintanya, Alvian.
Menyuruh asisten Bian untuk melapor segala sesuatu tentang sikap dan perilaku Bian terhadap Cleo, dan tentunya semua itu tanpa sepengetahuan Bian.
"Tuan Muda sangat baik kak, dan beliau sangat profesional dalam bekerja." Jawab Cleo singkat, mana mungkin dia mengatakan sikap Bian yang sebenarnya padanya.
Cleo tersenyum simpul.
"Tidak apa apa kak, itu sudah sewajarnya Cle lakukan, bagaimanapun beliau adalah atasan Cleo."
"Tapi.."
"Sudahlah sayang, jangan memaksa Cleo untuk melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan. Dia juga punya privasi sendiri, dan aku rasa apa yang dilakukan Cleo adalah benar, secara kalau dikantor mereka memang atasan dan bawahan." Sela Alvian yang tidak ingin istrinya memperpanjang masalah, melihat kalau wajah Cleo nampak kurang nyaman dengan pembahasan itu.
"Tidak apa apa kak, jangan memarahi kak Aira." Ujarnya dengan tersenyum.
"Apa kau ingin bekerja dikantor kakak saja Cle ?" Tanya Alvian.
"Atau ditempatku juga bisa Al, kebetulan aku sedang membutuhkan asisten pribadi. Dan aku rasa Cleo cocok diposisi itu." Sambar pria tampan yang sejak tadi diam sembari memperhatikan pembicaraan mereka.
"Aku setuju mas, Cleo sepertinya memang cocok dikantor mas." Sela Jiza menimpali ucapan suaminya, entah kenapa hatinya langsung tertarik dengan gadis muda itu padahal baru ini dia bertemu dengan Cleo.
"Sudah sudah, kalian ini kenapa saling berebutan begitu. Cleonya aja belum wisuda kalian kenapa sudah pada ribut begitu." Celetuk Papa Adi melerai perdebatan mereka.
Dan sontak semua yang ada diruangan tersebut tertawa bersamaan menyadari tingkah konyol mereka yang saling memperebutkan seorang Cleo, gadis muda namun dengan sejuta pesona karena sikap ramah dan baik hatinya.
__ADS_1
"Kak, Cle ijin pamit dulu mau kekampus untuk bertemu sama dosen pembimbing Cle. Tadi beliau mengirim pesan untuk bertemu membahas bahan skripsi Cleo." Pamitnya pada wanita cantik didepannya dan juga semua orang disana.
"Baiklah, dengan siapa kamu kesana ? Kalau nggak Bian nanti akan mengantarmu."
"Tidak usah kak, terima kasih. Ada teman Cle yang sudah menjemput dibawah." Kilahnya sedikit berbohong, dia hanya tidak ingin semakin jauh merepotkan keluarga ini.
Tidak ingin memaksa, mereka akhirnya membiarkan gadis itu pergi dari ruangan tersebut diikuti oleh pandangan mata Bian yang selalu mengekori punggung Cleo yang semakin jauh.
Cleo sendiri saat sampai dilobby bawah segera mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online. Tadi gadis itu hanya berbohong saja pada Aira demi menghindari pertolongan wanita cantik itu yang nantinya malah akan membuatnya semakin merasa tidak enak karena sudah merepotkan keluarga tersebut.
"Ternyata selain pembawa sial, kau pun sekarang pintar berbohong ya. Apa memang itu adalah sifat aslimu ?"
Suara maskulin yang sangat familiar ditelinga Cleo membuat gadis itu terpaku dan terdiam sejenak. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Apa sekarang kau juga berubah jadi bisu ?" Sarkasnya geram karena gadis itu yang enggan menanggapi perkataannya.
Cleo berbalik dan tersenyum simpul, dia berusaha bersikap wajar walaupun lagi lagi perkataan pria ini selalu membuat hatinya sakit. Dia sudah bertekad untuk move on dan melupakan pria ini.
Lagipula bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak saling mengenal ataupun bersikap cuek jika bertemu diluar ? Entah itu disengaja ataupun tidak disengaja.
Cleo bagaimanapun dia harus melakukan apa yang sudah dia sepakati dengan dirinya sendiri dan tidak ingin lagi terperangkap dengan lelaki ini walaupun dia yakin saat ini Bian lah yang datang menghampiri dirinya.
"Maaf, Tuan Muda saya tidak tahu jika anda sedang berbicara dengan saya. Kalau begitu saya permisi."
Bian mengepalkan kedua tangannya melihat bagaimana gadis itu berbicara formal padanya, tidak seperti saat berbicara dengan kakak kakaknya. Bian sepertinya kepalamu harus dihantam dulu, bukankah kau sendiri yang menginginkan situasi seperti ini. Lalu kenapa sekarang malah kau sendiri yang merasa keberatan.
Berjalan cepat menyusul Cleo lalu meraih pergelangan tangan gadis itu dengan erat hingga membuat Cleo berbalik.
"Aku akan mengantarmu." Katanya singkat.
Lagi, gadis itu menanggapinya dengan senyuman tipis lalu secara perlahan mulai melepaskan cengkeraman Bian ditangannya.
"Terima kasih Tuan Muda tapi saya tidak mau merepotkan anda. Lagipula pesanan ojek saya sudah datang. Saya permisi." Jawabnya lalu langsung berbalik cepat meninggalkan Bian saat tautan tangannya terlepas dari tangan Bian.
Pria itu berdiri disana dengan wajah memerah dan kedua tangan yang terkepal kuat.
TBC
**Terima kasih bagi pembacaku yang sudah setia menungguku. Maaf baru bisa update, selain galau mam juga sedang tidak sehat jadi butuh beberapa hari untuk istirahat.
Insya Allah mam akan lanjut disini, makasih atas kesetiaannya menunggu ya..
lope..lope..lope..brentet..😘😘😘**
__ADS_1