
Grep
"Apa kamu sudah gila hah ! Ot*akmu sudah tidak waras ?" Bentak Bian kala dia berhasil menangkap tubuh Cleo yang hampir saja terjun bebas ke bawah gedung.
"Lepasin !" Teriak Cleo histeris sembari mencoba melepaskan belitan kedua tangan Bian di tubuhnya. " Pergi ! Aku tidak butuh pertolonganmu."
"Cle --"
"Pergi Bian, aku benci kamu, aku benci !" Pekiknya lagi dengan wajah memerah karena amarah, sakit dan kecewa bercampur aduk.
"Tidak, aku tidak akan pergi." Jawabnya tegas, masih terlihat jelas diwajahnya gurat panik dan rasa takut.
Bagaimana tidak panik, ketika dia membuka pintu atas gedung, pemandangan pertama yang dia lihat mampu membuatnya syok. Kekasihnya itu sedang berdiri tepat dipinggir gedung dan bersiap untuk terjun bebas kebawah.
Dan beruntungnya dia datang tepat waktu ketika gadis itu sudah mengangkat sebelah kakinya. Dengan cepat Bian menarik lengan kekasihnya lalu memeluknya erat dengan jantungnya yang bergemuruh kencang serta wajahnya yang memucat karena syok berat.
"Sayang...aku bisa jelasin semuanya, tapi aku mohon jangan seperti ini." lirihnya dengan suara sendu, bahkan nafas pria itu masih terlihat naik turun.
Cleo yang hatinya masih dipenuhi oleh amarah dan kecewa mencoba berontak dan tidak mengindahkan bujukan Bian yang mencoba untuk menjelaskan masalah yang saat ini terjadi. Bahkan gadis itu memukul punggung Bian dengan membabi buta.
Sementara Bian sendiri tidak mencoba untuk mengelak dari pukulan yang diberikan kekasihnya walaupun punggungnya terasa nyeri karena hantaman tangan Cleo yang lumayan keras.
Gadis itu tidak bisa menghentikan tangisannya yang semakin keras dan menyayat sembari disertai dengan pemberontakan mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan erat kekasihnya.
"Lepasin !"
"Aku akan melepaskannya asalkan kamu berjanji akan mendengarkan apa yang akan aku katakan padamu." Sahut Bian masih dengan dekapannya.
"Jangan harap Bi, sudah terlambat, aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun." Ketus Cleo sambil terus memberontak.
Denyutan dihati Bian makin terasa kala kekasihnya sudah tidak lagi memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Rasanya seakan ada tusukan di jantungnya saat mendengar Cleo memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja.
__ADS_1
"Sayang --" Lirihnya sendu memanggil Cleo dengan tampang sedih.
Bagaimanapun usaha Bian mencoba membujuk dan merayu, nyatanya tidak bisa meluluhkan hati Cleo yang terlanjur marah dan kecewa. Bahkan saking kuatnya dia memberontak membuat Cleo akhirnya bisa terlepas dari dekapan Bian.
Namun sayang jarak antara dirinya yang tidak terlalu jauh dari pinggir gedung dan berontaknya dia yang terlalu kuat membuat gadis itu terhuyung kebelakang dan membuat tubuhnya mencapai pinggir gedung hingga pada akhirnya....
"Aaaakkkkkhhh --"
Bian melotot sempurna melihat kekasihnya yang terlempar kebelakang dan melayang jatuh kebawah. Secepat kilat pria itu berlari kembali dan mencoba menangkap tubuh kekasihnya tanpa perduli apakah keduanya akan sama sama jatuh kebawah gedung.
Grep
Suasana mendadak hening dan mencekam, menyisakan suara hembusan angin yang terasa kencang. Di sana di atas gedung dengan sebelah tangannya yang mencengkeram erat terali besi yang berada di pinggir gedung sementara satu tangannya lagi menggenggam kuat tangan Cleo. Sementara tubuh mungil itu terayun ayun di pinggir gedung dan jika genggaman tangan Bian terlepas maka tubuh mungil itu akan sukses terjun dengan sempurna kebawah sana.
"K-kak --" Panggilnya dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, entah kemana hilangnya keberaniannya yang menggebu tadi karena saat ini hanya ada ketakutan yang terlihat disana.
"Tenanglah, aku tidak akan melepaskanmu." Sahut Bian dengan suara beratnya, pria itu berusaha menarik tubuh kekasihnya dengan sebelah tangannya walaupun rasanya sulit sekali.
Cleo terdiam dengan bibir masih mengatup namun terlihat sekali bibirnya bergetar walau gadis itu berusaha menahannya. Perlahan sudut matanya mencoba melirik kebawah sana, dimana tubuhnya saat ini melayang diatas ketinggian beberapa puluh meter dari tanah.
Entah Cleo harus bahagia ataupun bersedih melihat betapa pria ini begitu mencintainya dan takut akan kehilangan dirinya. Seketika airmatanya kembali mengalir deras menyiratkan kebahagiaan, tapi begitu ingat bagaimana pria ini yang membohonginya selama ini, seketika rasa kecewa itu kembali datang.
Hingga beberapa detik berlalu dan Bian masih berusaha membawa tubuh kekasihnya itu naik keatas, Cleo mulai merasakan nyeri dan sakit di sebelah tangannya. Apalagi keringat mulai membasahi keduanya membuat genggaman itu sedikit terasa licin.
Menyadari akan hal itu, rupanya Cleo mulai pasrah. Toh bukannya memang ini yang dia inginkan, mengakhiri hidupnya agar bisa segera bertemu dengan kakak tercintanya itu.
"Lepaskan aku Bi --" Ucapnya lirih dengan kedua mata yang menatap lekat manik mata tajam kekasihnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sayang walau apapun yang terjadi. Diamlah dan turuti apa kataku." Geram Bian dengan wajah dingin.
"Bi --" lagi dengan gelengan kepala pertanda dia sudah menyerah, apalagi genggaman itu kini sedikit merosot karena tangan keduanya yang mulai berkeringat.
__ADS_1
"Kalau kamu mati, maka aku juga akan ikut mati Cle."
Airmata Cleo semakin deras mengalir, gelengan kepalanya semakin keras mendengar kata kata Bian.
"Please lepaskan aku Bi, jangan mengorbankan dirimu hanya untuk orang yang tidak berguna seperti aku, apalagi aku adalah gadis pembawa sial. Aku tidak mau orang baik sepertimu mendapatkan kesialan." Ucapnya sendu.
"Apa kau tidak bisa diam hah !" Bentaknya dengan mata yang kini sudah tergenang airmata. " Aku sudah bilang kalau aku tidak akan melepaskanmu sayang, tidak akan. Tolong berjuanglah aku tidak ingin kehilanganmu." Sambungnya lagi dengan suara lirih namun disertai dengan isakan kecil.
"Aku sangat mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku Cle, jangan. Tolong dengarkan dulu penjelasanku, aku janji setelah itu terserah apapun keputusanmu aku akan mengabulkannya. Kalau kamu ingin lepas dariku aku akan melepaskanmu dan pergi menjauh darimu, tapi aku mohon kamu harus tetap bertahan hidup sayang."
Isakan Cleo semakin kencang mendengar kata kata cinta Bian, dan kali ini gadis itu menuruti apa perintah dari kekasihnya itu. Sepertinya tidak ada salahnya mencoba untuk mendengarkan penjelasan kekasihnya itu. Perkara bagaimana nanti keputusannya akan dia pikirkan kembali.
Hingga pada akirnya setelah melewati beberapa menit, Bian berhasil menarik tubuh Cleo dengan sisa tenaga terakhirnya. Dan saat tubuh mungil itu sudah sampai keatas, Bian segera membawa Cleo menjauh dari pinggir gedung tersebut dan langsung memeluknya erat.
"Syukurlah --" Bisiknya dengan nafas tersengal sengal, mengecupi seluruh wajah Cleo tanpa ada satupun yang terlewati, lalu menangkup kedua pipinya dengan tangan besarnya, terlihat sekali wajah tampannya yang masih di liputi kecemasan. "Apa kamu terluka ?"
Cleo masih terdiam sambil menatap wajah cemas kekasihnya. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya, jujur saat ini dia masih syok berat. Dia hanya bisa memejamkan kedua matanya meresapi kehangatan yang di berikan oleh pria itu ketika kening keduanya saling menempel. Dapat dia rasakan deru nafas mint kekasihnya yang masih turun naik.
"Tolong jangan melakukan hal konyol lagi, sungguh aku tidak tahu bagaimana nanti aku menjalani hidupku jika harus kehilangan orang yang aku cintai lagi." Desahnya dengan suara lirih menahan sesak, sungguh hanya dengan membayangkan hidupnya tanpa adanya Cleo disisinya membuat Bian merasakan sesak yang teramat sangat.
"Ak-aku --"
Kata kata Cleo yang ingin membalas perkataan kekasihnya melayang diudara ketika gadis itu mendadak terkulai lemas dan tidak sadarkan diri didalam pelukan Bian. Karena syok berat ditambah dengan tubuhnya yang masih lemas, gadis itu akhirnya jatuh pingsan yang mana membuat Bian lagi lagi terkena serangan panik untuk yang kedua kalinya.
TBC
Maaf ya gays, mam baru update, misua sakit jadi mam mempunyai kegiatan baru..ni aja nyuri nyuri waktu buat bikin skenario.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,,like, komen dan juga votenya.
Mampir juga di novel mam lainnya yabg sudah tamat ya..Rindu Suara Azdhan
__ADS_1
Untuk babang Alex sementara waktu rehat dulu ya, mam janji setelah aira Tamat babang Alex lanjut lagi.
Happy Reading