
Sepanjang perjalanan mereka berdua larut dalam keheningan dan hanya terdengar deru kendaraan lain yang saling bersahutan. Cleo asik dengan pikirannya sendiri begitu pun dengan Revan.
Pria yang baru dua kali bertemu dengan Cleo, itupun tanpa disengaja, sibuk menerka nerka ada apa gerangan diantara kedua orang itu. Namun walaupun begitu banyak pertanyaan didalam hatinya, dia enggan untuk ikut campur urusan gadis itu.
Walau sebenarnya ada rasa ketertarikan didalam hatinya pada Cleo, Revan selalu pintar menyembunyikan perasaannya. Dia cukup tahu diri, statusnya sepertinya berbeda dengan gadis ini. Apalagi jika harus bersaing dengan Bian yang dia lihat juga seperti menyukai Cleo.
"Bill, sudah sampai." Ucapnya membuyarkan lamunan gadis dibelakangnya.
"Eh, i-iya Re. Berapa ongkosnya ?"
"Kau boleh membayarnya dengan yang lain." Ujarnya dengaan tersenyum manis.
"Maksudnya ?" Cleo mengrenyit bingung.
"Besok ayo kita makan siang bersama. Apa kau mau ? Anggap saja sebagai biaya transportasi barusan." Tawarnya.
Cleo menimang nimang, bukannya tidak mau dia hanya berpikir apakah besok pekerjaannya sangat padat atau tidak. Tapi sepertinya jadwalnya besok agak sedikit longgar, jadi tidak masalah bukan jika menerima ajakan Revan. Toh Revan sepertinya juga pria baik baik.
"Baiklah besok aku akan menunggumu didepan kantor kayak tadi ya."
"Siap, laksanakan." Jawabnya dengan senyum sumringah.
"Baiklah kalau gitu aku masuk dulu ya, takut Pak Rudi sudah menunggu didalam." Pamitnya dengan sopan yang dibalas anggukan kepala Revan.
"Semoga lancar ya Bill."
"Aamiin..makasih doanya Re, aku pamit." Ujarnya lalu berbalik meninggalkan Revan yang masih stand disana.
Dilain tempat...
Bian masuk kedalam rumah besar dan mewah milik kakak sepupunya, Alvian, dengan langkah lesu dan tidak ada semangat sama sekali. Pikirannya saat ini benar benar sedang kalut.
Alvian yang baru turun dari kamarnya dengan membawa sebuah botol minum kosong nampak mengrenyitkan dahinya saat melihat penampakan seseorang yang sedang duduk bersandar diruang TV. Pria itu berniat mengambil air minum sekaligus membuatkan susu untuk sang istri tercinta.
Karena penasaran, pria yang baru saja menjadi papa baru untuk kedua anak kembarnya itu berjalan kearah sofa. Dahinya semakin berlipat saat mengetahui jika sosok itu adalah sang adik sepupunya, Bian.
Alvian melirik jam dinding yang ada diruang TV tersebut, tepat pukul 10 malam. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat keadaan adiknya yang terlihat berbeda. Semrawut dan berantakan, bahkan pria muda itu masih mengenakan pakaian kantornya.
"Ada apa denganmu ?" Tanyanya penuh selidik.
Bian yang sedang memejamkan matanya sontak langsung terbangun kala mendengar suara kakaknya. Dengan cengiran kuda dibibirnya, pria muda yang sebentar lagi menginjak usia 26 tahun itu beringsut tegak dari rebahannya.
"Kak, boleh Bian tidur disini malam ini ?" Pintanya pada kakak sepupu tercintanya itu.
Mendengar permintaan adiknya yang terasa aneh itu, Alvian hanya memutar bola matanya jengah. Pasalnya pria didepannya ini tumben banget pake minta ijin segala jika mau menginap. Padahal di rumahnya ini juga terdapat kamar Bian.
"Sejak kapan menginap disini harus meminta ijin padaku ? Biasanya juga langsung ngeloyor aja." Ketusnya sembari kembali beranjak kedapur untuk meneruskan niatnya itu.
Bian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa aneh sendiri dengan pertanyaannya saat ini.
"Kak, apa ada makanan ? Aku sangat lapar sekali." Serunya pada Alvian yang sudah berada dipantry.
__ADS_1
"Apa kau sangat miskin sampai makananpun meminta padaku ?" Ejeknya dibalik dapur.
"Ck, ayolah kak aku benar benar sangat lapar." Memasang wajah melas.
"Ada mie instan tuh dilemari." Jawabnya singkat lalu berjalan menuju kamar meninggalkan Bian yang nampak kesal didapur sendirian.
Sementara itu Alvian tergelak sendiri saat melihat bagaimana kusutnya seorang Bian yang selama ini selalu menjaga penampilannya. Bagi seorang Bian, penampilan itu haruslah nomor satu setelah yang lainnya.
"Ada apa dengannya sampai terlihat berantakan seperti itu, seperti orang yang habis putus cinta saja." Gumamnya dengan masih terkikik geli.
"Mas ada apa ? Kenapa lama sekali ?" Tanya Aira dengan kening berkerut saat melihat suaminya yang masuk kekamarnya dengan cekikikan sendiri.
"Eh, sayang kamu menungguku ya. Maaf tadi ada Bian dibawah."
"Bian ? Malam malam begini ? Tumben banget tuh anak pulang kesini mas." Ujarnya dengan dahi berkerut.
Alvian mengangkat kedua bahunya pertanda diapun tidak mengetahui apa apa.
"Minum susunya setelah itu tidurlah." Perintahnya dengan lembut sembari mengusap pipi wanita yang sudah melahirkan anaknya itu dengan kasih sayang.
Aira mengangguk lalu segera meminum segelas susu yang disodorkan Alvian tanpa menunggu perintah kedua kali. Menyodorkan kembali gelas kosong bekas susu kepada suaminya.
"Selalu saja belepotan." Celetuk Alvian lalu dengan secepat kilat membersihkan ceceran susu dipinggir bibir istrinya dengan bibirnya.
"Mas." Serunya lirih dengan wajah tersipu, suaminya itu akhir akhir ini selalu melakukan hal kecil seperti itu tiap dia selesai meminum susunya dengan alasan belepotan. Dasar suami modus.
Alvian terkekeh kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.
"Dasar mesum."
"Kapan masa nifasmu selesai sayang ?"
"Memang kenapa ?" Tanya Aira polos.
"Ya kalau sudah selesai ayo kita bikin adik buat sikembar." Godanya sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Auto Aira melotot tajam pada suaminya, dan itu mampu membuat Alvian bergidik.
"Kedua anakmu bahkan masih merah mas, bisa bisanya mas berpikiran seperti itu. Kalau mau mas aja yang hamil, aku mah ogah." Sungutnya sembari memalingkan wajahnya kesal.
Alvian tertawa terbahak bahak melihat bagaimana lucunya saat sang istri merajuk. Saking kencangnya dia tertawa membuat baby twins mereka terbangun karena kaget dengan suara keras Alvian.
"Ini semua karena kamu mas." Kesalnya sembari memangku Baby Zayn yang menangis keras lalu segera menyusuinya.
Sementara Baby Zyan langsung kembali tidur ketika digendong oleh Alvian. Sepertinya putri kecil keluarga Siregar itu lebih nyaman jika bersama dengan papanya.
Setelah menenangkan putranya yang sudah kembali terlelap, Aira meletakkan kembali Baby Zayn kedalam box bayi tepat disebelah adiknya baby Zyan. Setelah itu dia segera kembali naik keatas ranjang dimana suaminya sudah menunggu dengan senyum manisnya.
"Tidur sayang." Perintahnya lalu merebahkan dengan hati hati tubuh istrinya.
"Mas tidak tidur ?" Tanyanya saat menyadari jika suaminya masih duduk disebelahnya.
__ADS_1
Alvian menggaruk tengkuknya sembari tersenyum kikuk.
"Sebenarnya mas ingin menemani Bian, kelihatannya dia sedang ada masalah. Siapa tahu dengan adanya mas dia bisa menceritakan masalahnya. Apa kamu keberatan kalau mas kesana sayang ?" Tanyanya harap harap cemas.
Aira tersenyum kemudian meraih telapak tangan besar suaminya.
"Pergilah mas, aku nggak apa apa kok."
"Kamu istirahat ya."
Aira mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya dengan manja. "Tapi temani aku dulu ya."
Mendapati sikap manja istrinya membuat Alvian tersenyum senang. Dengan segera dia ikut berbaring disebelah Aira lalu memeluknya dengan posesif.
"Terima kasih sudah mau mengerti sayang. Aku sangat mencintaimu." Bisiknya ditelinga Aira yang dibalas anggukan kepala oleh wanita itu.
Setelah memastikan istrinya benar benar terlelap, Alvian langsung beranjak dari ranjangnya kemudian berjalan menuju pintu keluar. Mencari sosok sang adik yang sudah tidak terlihat dilantai bawah.
Alvian berlalu pergi dari sana menuju kamar Bian yang ada dilantai 2, namun hasilnya sama. Kamar itu nampak kosong seperti tidak ada jejak siapapun didalamnya.
Alvian berpikir kali ini kira kira ada dimana adiknya itu, pasalnya tidak mungkin Bian pergi karena tadi dia sempat melihat mobil pria itu masih ada dipekarangan parkir rumahnya.
Hanya ada satu tempat yang tersisa dan Alvian yakin jika adiknya itu ada disana. Karena itu adalah tempat favorit Bian dari dulu jika dia sedang mempunyai masalah.
Alvian bergegas menuju tangga yang akan membawanya ke loteng atap rumahnya. Dan benar saja saat dia sampai disana, Bian, pria itu sedang berdiri membelakangi pintu.
Pria yang saat ini sudah memakai baju santai itu tidak menyadari akan kedatangan kakaknya. Dia masih asik membisu dengan pandangan lurus kedepan. Sesekali helaan nafas kasar keluar dari hidung dan mulutnya.
"Sikapmu seperti orang yang sedang patah hati Bi, atau memang dugaanku tidak salah ?"
Bian berbalik dan hanya memberikan senyuman tipis, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alvian. Membuat keyakinan pria itu semakin kuat jika adiknya itu memang sedang patah hati.
"Siapa dia."
"Apa ?! Maksudnya ?"
"Orang yang sudah membuatmu kalang kabut karena cinta. Siapa gadis itu."
"Aku tidak patah hati kak, jangan kepedean."
"Aku mengenalmu bukan sehari dua hari Bi, aku sudah mengenalmu semenjak kau lahir. Jadi aku tahu semua sifat dan kebiasaanmu."
Bian menyengir dengan tangannya yang menggaruk belakang telinganya. Kakaknya ini selalu bisa menebak tepat sasaran.
"Siapa dia ?"
TBC
Wara wara
Judul dan cover Aira akan author ganti ya..seperti dibawah ini.
__ADS_1