
BA. GROUP
Siang itu Bian nampak berjalan tergesa gesa keluar dari kantor dengan raut wajah panik dan juga gelisah bercampur menjadi satu. Setelah sampai di area parkir khusus para petinggi perusahaan, pria tampan itu segera masuk kedalam mobilnya lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sangat tinggi tanpa memperdulikan ramainya jalanan dan umpatan para pengendara lain. Saat ini hanya satu tujuannya, yaitu apartemen miliknya dimana kekasihnya sekarang tinggal.
Beberapa menit yang lalu, Bian mendapatkan telpon dari sang mama. Terdengar jelas nada kepanikan di seberang sana ketika mamanya menceritakan kejadian hari ini yang terjadi di salah satu pusat perbelanjaan milik kakaknya itu.
Terkejut, tentu saja pria itu terkejut luar biasa. Bahkan saking terkejutnya, dia sampai meninggalkan meeting penting para pemilik saham yang baru saja digelar. Membiarkan orang orang disana saling menatap kebingungan karena ulah sang presdir yang meninggalkan ruang rapat tanpa berucap satu kata pun.
" Jangan pergi, aku mohon sayang. Semoga saja kau ada di apartemen sekarang." Keluhnya dengan nada gusar melanda hatinya.
Aku akan mengatakan semuanya sayang, tapi ku mohon jangan salah paham padaku.
Mobilnya masih melaju dengan kecepatan tinggi sembari menormalkan detak jantungnya yang begitu cepat berdetak yang disebabkan karena rasa takut yang teramat sangat. Takut jika kekasihnya itu akan salah paham padanya. Selain itu dia merasa sangat takut kalau Cleo akan pergi meninggalkannya.
Brak
Bian berlari kencang menuju unit apartemennya sesaat setelah keluar dari mobil. Pria itu bahkan tidak memperdulikan keadaan mobilnya yang terparkir sembarangan. Karena saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Cleo..Cleo..dan Cleo.
"Sayang --" Teriaknya ketika dia sudah sampai di apartemennya.
Sunyi
Sepi
Apartemennya seakan tidak berpenghuni, ruangan demi ruangan terlihat kosong. Bian berlarian kesana kemari mencari sosok gadis yang saat ini ada dipikirannya namun nihil, gadis itu tidak terlihat dimana mana.
Cklek
Bian membuka kamar Cleo, satu satunya tempat terakhir yang belum dia periksa. Jantungnya kembali berdegup kencang disertai pemikiran buruk takut akan kehilangan pujaan hatinya. Sungguh Bian tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan orang yang sangat dia cintai untuk yang kedua kalinya.
"Sayang --" Serunya dengan suara lirih dan bergetar.
Sama, kamar ini juga kosong seakan tidak berpenghuni. Wajah Bian semakin memucat, dengan gemetar dia membuka pintu lemari pakaian Cleo. ******* nafas lega keluar dari indra penciumannya, ketika melihat barang barang kekasihnya masih tertata rapi ditempatnya.
Pria itu menutup kembali pintu lemari lalu berjalan berkeliling sampai keluar balkon kamar berharap ada kekasihnya disana. Lagi lagi dia harus menghela nafas berat, Cleo tidak ada disana.
"Sayang kamu dimana ?" Gumamnya lirih.
Bian menyugar rambutnya kebelakang, frustasi terlihat jelas diwajahnya yang tampan. Perlahan pria itu kembali masuk kedalam kamar lalu duduk di pinggir ranjang. Matanya yang setajam elang menelisik seisi ruangan yang beraroma vanila, wangi tubuh ciri khas seorang Cleopatra.
__ADS_1
Bian meraih benda pipih disaku celananya lalu mengetik beberapa angka digit disana lalu menempelkannya di telinganya ketika sudah terdengar nada dering pertanda panggilannya terhubung dengan seseorang disana.
"Bagaimana ?" Tanyanya pada anak buahnya diseberang sana yang dia tugaskan mencari keberadaan Cleo.
"----------"
"Baiklah, teruskan pencarian kalian dan cepat hubungi aku jika tugas kalian membuahkan hasil." Perintahnya dengan nada tegas dan dingin.
Hah
Bian meraup wajahnya dengan kasar disertai helaan nafas panjang. Wajahnya masih menyiratkan kepanikan dan gelisah yang begitu besar. Sorot matanya terlihat dingin saat ucapan mamanya kembali terngiang di telinganya.
"Sherina, berani sekali kau menyakiti wanitaku." Desisnya geram dengan suara beratnya.
Rahang kokohnya nampak mengeras pertanda jika saat ini pria itu sedang menahan amarah. Sepertinya dia memang harus memberi pelajaran pada rekan bisnisnya itu dan kali ini dia tidak akan menahannya lagi, mengingat bagaimana janji yang dia ucapkan didepan Frans.
Persetan dengan janjiku pada Frans, kali ini Sherina sudah sangat keterlaluan
Bian berdiri dan hendak berjalan menuju pintu keluar, namun tiba tiba langkahnya terhenti kala sudut matanya menangkap sesuatu tergeletak di sofa panjang yang ada di kamar Cleo. Sontak kedua matanya memicing ketika menyentuh benda tersebut.
"Ini bukannya tas Cleo ? Berarti dia tadi sempat pulang kesini kan. Lalu dimana dia ?" Ucapnya lirih sembari menerka nerka.
Lama Bian termenung memikirkan keberadaan Cleo saat ini, hingga beberapa menit kemudian jantungnya kembali berdetak sangat kencang saat mengingat jika masih ada satu tempat lagi yang belum dia periksa. Satu satunya tempat yang menjadi kesukaan Cleo ketika gadis itu sedang sedih dan butuh ketenangan.
Jangan, kumohon tetaplah bertahan. Semoga kau tidak melakukan apa yang saat ini aku takutkan.
*
*
*
Sementara itu...
Cleo berdiri dengan mata terpejam dan kedua tangan yang direntangkan lebar lebar. Tiupan semilir angin saling bertabrakan membuat rambutnya beterbangan kesana kemari. Tetesan airmata masih terus mengalir diwajahnya yang cantik tanpa ada niatan untuk menghentikannya.
Ucapan ucapan yang dilontarkan oleh Sherina masih terus terngiang ditelinganya bak kaset kusut. Hatinya sakit dan hancur secara bersamaan. Kekecewaan yang besar tidak bisa dia lepaskan dari dalam hatinya ketika tahu semua orang terdekatnya membohonginya.
"Kakak --" Desisnya lirih dengan isakan tangis yang menyayat hati.
__ADS_1
"Jika harus memilih, aku lebih baik tidak ada didunia ini daripada aku harus hidup tapi dengan mengorbankan dirimu. Aku pikir kau pergi karena kecelakaan, tapi ternyata kau pergi setelah mengorbankan nyawamu untukku, adik yang tidak berguna sepertiku. Orang yang selama hidupnya tidak pernah memberikan keberuntungan pada siapapun didunia ini.
Aku seorang pembunuh, seperti yang dikatakan oleh wanita itu. Benarkan kak, aku memang pembunuh, nyatanya kau pergi setelah memberikan jantungmu untukku."
Cleo menyusut airmatanya sekilas, lalu mendongak keatas dimana langit nampak berawan mendung semendung hatinya.
"Kenapa kau melakukannya kak ! Kenapa ?" Teriaknya dengan suara menyayat hati. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, aku tidak butuh jantung ini. Aku tidak butuh hiks --"
Gadis itu ambruk di lantai dengan kondisi tubuhnya yang berantakan. Kedua kakinya serasa lemas dan tidak dapat berpijak.
"Aku hanya butuh dirimu kak, aku sangat butuh dirimu untuk selalu disisiku. Aku rindu kakak sangat rindu. Aku rindu kasih sayangmu, perhatianmu. Hanya kau satu satunya orang yang selalu menyayangiku kak. Bahkan saat ini aku merasa seakan kau ada disini, kakak...hiks."
Dengan tertatih Cleo mencoba bangun laku berdiri di tepi bangunan tersebut. Melihat kebawah nampak orang berlalu lalang dan kendaraan yang terlihat mengecil, mengingat jika saat ini dia ada diatas gedung apartemen berlantai 20.
Cleo memejamkan kedua matanya, kilasan bayangan sang kakak yang tersenyum manis padanya, wajah tulus sang kakak yang sangat menyayanginya. Namun bayangan sang kakak tiba tiba terganti dengan wajah pria yang nampak menatapnya dengan tatapan sendu. Menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Kak Bian..
Airmatanya kembali menetes saat rasa kecewa dihatinya terhadap pria itu kembali menyeruak keluar. Dia terlampau kecewa karena ternyata selama ini dia dibohongi oleh kekasihnya itu. Atau jangan jangan apa yang dikatakan Sherina memang benar. Selama ini Bian menjalin hubungan dengannya semata mata hanya karena keberadaan jantung sang kakak yang bersemayam ditubuhnya, bukan karena Bian yang memang tulus mencintainya.
Memikirkan itu membuat hati Cleo semakin sakit dan sesak. Memikirkan jika selama ini Bian menjalin hubungan dengannya bukan karena pria itu yang mencintainya, tapi karena keberadaan jantung kakaknya yang ada didalam dirinya.
"Aku sangat kecewa padamu kak." Lirihnya dengan hati yang diremas sembilu.
Cleo berdiri tepat dipinggir gedung, tekadnya sudah bulat. Dia tidak bisa menjalani hidup dengan tatapan belas kasihan orang lain. Lebih baik dia mati daripada harus hidup dengan dikelilingi orang orang yang menatapnya penuh iba dan cemooh. Jika dia mati, maka tidak akan ada lagi orang yang terkena sial karena keberadaannya.
Selamat tinggal....
TBC
Apakah Cleo akan benar benar mengakhiri hidupnya ? Atau ada seseorang yang menyelamatkannya ?
Jawabannya ada di part selanjutnya ya..
Ada yang tegang di part ini ? Mam aja tegang loh nulisnya..hehe.
Sambil nungguin Aira up yuk baca juga karya mam yang sudah tamat
RINDU SUARA AZDHAN
__ADS_1
Untuk babang Alex, sementata of dulu ya. mam akan menyelesaikan cerita aira ini lebih dulu.
Jangan lupa kencengin like dan votenya untuk mam ya gays..hehhe