Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Semua sudah terlambat


__ADS_3

Flashback of


Sean menatap sendu pada gadis yang saat ini terbaring diranjang rumah sakit dengan kedua mata yang masih terpejam dengan erat. Dengan selang infus yang menempel dilengan kirinya dan alat bantu pernapasan yang bertengger cantik dihidungnya.


Beberapa menit yang lalu kondisinya sudah melewati masa kritisnya setelah sebelumnya gadis itu sempat dinyatakan hampir meninggal. Dan kini Sean bisa bernafas lega setelah Aira bisa diselamatkan walau sekarang gadis itu masih belum sadar.


Sean mengusap lengan kanan Aira yang dibalut oleh perban, mengecupnya sekilas lalu beralih mengusap bagian lehernya yang juga dibalut kain perban. Tanpa sadar sudut matanya berair jika mengingat bagaimana gadis itu menderita 2 tahun belakangan ini dan itu semua karena ulahnya.


Sean menangis tersedu sedu dengan tangan yang memeluk erat tubuh Aira. Sungguh bukan maksud hatinya kembali membuat gadis ini menderita, namun entah kenapa dia selalu saja mengatakan hal hal yang kejam dan sinis saat berhadapan dengan mantan istrinya itu.


Kecemburuan membuat hatinya menggelap, Sean sadar jika selama ini hatinya memang sudah terpaut pada gadis ini, hanya saja cinta butanya terhadap Dona telah membuatnya menjadi sosok manusia yang kejam dan bengis hingga tidak lagi perduli dengan penderitaan yang dialami Aira.


"Bangun Ra, tolong jangan buat aku merasa bersalah seperti ini. Bangunlah dan hukum aku sepuasmu Ra, jika perlu bunuhlah aku supaya aku bisa menebus kesalahanku. Maafkan Aku Aira, sungguh aku menyesal." Isaknya dengan bibir yang mengecup punggung tangan Aira yang lemas.


Cklek


Pintu ruangan terbuka dan muncul seseorang yang nampak menahan amarah. Terlihat dengan raut wajahnya yang memancarkan aura hitam pekat, dan mendadak situasi diruangan itu langsung berubah mencekam.


Sean menoleh kearah pintu, dan seketika nafasnya tercekat. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah saat melihat sosok yang berdiri ditengah pintu dengan wajah yang memerah.


"A-Alex.."


Alex, pria itu berjalan tegap menuju arah Sean, lalu tanpa berkata apapun langsung menarik kasar tangan Sean dan membawanya keluar ruangan. Sesampainya diluar ruangan, tiba tiba Alex melakukan sesuatu yang tidak dapat diduga oleh siapapun yang ada disana.


Bugh


Bugh


"Alex." Pekik Nyonya Silvi dengan kencang, wanita itu kaget setengah mati dengan tindakan Alex yang tiba tiba.


Tidak kalah terkejutnya, Tuan Andre pun langsung berlari dan berusaha mengendalikan amarah Alex. Namun percuma saja, Alex yang begitu marah ternyata mempunyai tenaga yang sangat besar. Tuan Andre sampai terhempas kebelakang karena Alex yang tidak sengaja mendorongnya.

__ADS_1


Melihat suaminya terjatuh kelantai, Nyonya Silvi berteriak histeris. Mencoba meminta pertolongan pada orang orang yang ada disana. Sementara Alex masih saja menghajar Sean dengan membabi buta. Dan Sean hanya bisa pasrah menghadapi kemarahan sahabatnya itu.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya brengsek. Tidak kah cukup dengan perbuatanmu dulu yang menghancurkannya 2 tahun silam dan sekarang kau mengulanginya kembali." Teriak Alex dengan amarah yang masih membara. Nafas pria itu terlihat ngos ngosan.


Sean hanya diam menunduk sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Jawab aku brengsek !" Umpat Alex kasar. "Aku sudah bilang bukan jika suatu saat kau pasti akan menyesal, dan disaat kau menyesalinya, semuanya sudah terlambat untuk kau memperbaikinya. Aku juga sudah mengatakan padamu, sejak kau memberikan Aira padaku, maka sejak itu juga kau kehilangan hakmu atas dirinya. Dan aku harap kau tidak lupa akan hal itu Sean yang terhormat." Ucap Alex sembari menatap sinis pada Sean.


Sean tertunduk dengan pikirannya yang melayang pada kejadian 2 tahun yang lalu. Dimana dia dengan angkuhnya memberikan istrinya pada Alex, dan berkata jika dia tidak akan pernah menyesali apa yang sudah dia perbuat. Bahkan dengan kejamnya dia sampai harus memberikan obat pada Aira supaya gadis itu tidak berontak.


Perlahan pria itu bangkit berdiri dengan tangan yang bertumpu pada dinding rumah sakit.


"A-aku.."


"Jadi kaukah mantan suami sahabatku. Orang yang sudah membuat sahabatku sampai seperti ini. Orang yang sudah menghancurkan masa depannya, dan orang itu adalah anda Mr, Sean." Suara gadis menghentikan ucapan Sean.


Mereka semua menoleh pada sosok gadis yang sedang berdiri dilorong dengan keadaan kedua tangan yang mengepal kuat. Ada rasa geram dan amarah yang mengelilingi gadis itu.


Jiza Azzahra, sahabat Aira itu nampak berjalan cepat menuju Sean dan yang lainnya. Nafasnya memburu karena menahan emosi yang begitu besar. Kilatan amarah terlihat dimatanya yang menatap Sean dengan penuh rasa lapar.


"Selama ini aku terus mencari tahu siapa sosok suami Aira yang sangat pengecut itu. Dan aku tidak menyangka jika ternyata dia adalah seorang manusia terhormat dengan segala kekuasaannya. Namun sayang tingkah dan perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan jika dia adalah sosok dari keluarga terhormat.


Tingkahnya bahkan tidak lebih baik dari seekor binatang. Dan anda tahu sudah lama sekali saya ingin memberi hadiah pada anda Mr. Dan setelah bertemu dengan anda, maka dengan senang hati saya akan memberikan hadiahmu itu sekarang." Ucap Jiza yang langsung dibarengi dengan gerakan tangannya yang melayang cepat.


Plak


Plak


"Itu hadiah anda untuk 2 tahun masa masa sulit Aira dan karena anda dia harus melakukan pekerjaan yang hina."


Plak

__ADS_1


Plak


"Dan ini hadiah anda karena perbuatan anda yang sudah menyebabkan Om Andi dan Tante Jihan meninggal."


Bugh


Bugh


"Dan ini hadiah terakhir karena anda adalah sosok manusia pengecut yang berhati iblis. Kau tahu bahkan kau tidak pantas disebut manusia. Dan panggilan Mr sangatlah tidak pantas untuk disandang olehmu Sean." Sengit Jiza dengan menatap ketus pada pria yang nampak terduduk kesakitan memegang perutnya.


Sean meringis dengan tangan yang masih memegang perutnya, sungguh tendangan Jiza sangat kuat menghantam perutnya. Namun dia diam saja, tidak ada keinginan untuk membalas ataupun menghindar dari serangan Jiza dan Alex.


"Pergi kau dari sini, aku sangat jijik melihatmu. Dan aku peringatkan ini terakhir kalinya kau menemui sahabatku. Jika aku masih melihat kau datang lagi, mungkin saat itu aku yang akan menghabisimu Sean." Sentak Jiza dengan mata menelisik tajam kearah Sean.


Tidak ingin situasi bertambah panas, akhirnya kedua orangtua Sean membawa putranya untuk dibawa keruangan khusus keluarga mereka. Bagaimanapun Sean adalah putra satu satunya mereka. Walaupun Sean berbuat kesalahan, tapi mereka tidak pernah melepas tangan mereka pada Sean.


Tanpa mereka tahu, selama ini Tuan Anndre juga menghukum putranya dengan cara mencabut semua fasilitas dan memblokir semua kartu debit dan kredit Sean. Pria itu benar benar jatuh miskin dan hanya hidup dari usahanya yang tidak begitu besar. Dan sesuai dugaan Tuan Andre, Dona meninggalkan Sean karena dia berpikir untuk apalagi dia hidup dengan pria miskin yang tidak mempunyai apapun lagi.


Meninggalkan Sean yang saat ini sedang menjalani pengobatan, kita beralih pada Jiza yang masih berusaha menguasai emosinya. Sementara Alex menatap Jiza dengan pandangan tidak percaya, bahkan mulut pria itu sampai menganga.


Alex memang tahu siapa Jiza, gadis tomboi sahabat Aira. Namun dia tidak menyangka jika Jiza bisa bertindak seganas itu. Memikirkan itu membuat Alex bergidik ngeri.


"Apa liat liat." Ketus Jiza dengan pandangan mata yang terlihat mengerikan.


"Ti-tidak." Akex bingung, kenapa dia bisa menjawab dengan gugup seperti itu, apa dia juga merasa takut.


"Minggir aku mau masuk." Ketus Jiza dengan langkah cepat, bahkan gadis itu dengan sengaja menabrakkan bahunya kasar hingga membuat Alex sedikit terhuyung kebelakang.


Akex mengumpat, tapi hanya dia ucapkan dalam hati. Pria itu merasa kesal dengan sikap kasar Jiza yang seperti bukan seorang perempuan saja.


Ck, gadis itu, apa dia pantas disebut sebagai seorang wanita. Kira kira pria mana yang mau hidup sama dia ya, hii membayangkan saja aku tak mampu, bisa babak belur nanti.

__ADS_1


TBC


__ADS_2