Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Nasehat Alvian


__ADS_3

Bian menyengir kuda berusaha menghindari pertanyaan kakaknya. Sementara Alvian menatapnya jengah, dari dulu adiknya ini tidak pernah berubah.


"Sampai kapan kau akan terus begini Bi ? Apa kau tidak kasihan dengan orangtuamu yang begitu menginginkanmu untuk segera menikah ?"


Bian terdiam dengan pikiran berkecamuk.


"Apa kau masih menyalahkannya ? Ayolah Bi, bahkan kau tahu sendiri kalau semua itu bukan salahnya. Kau tahu persis yang terjadi pada Amira semua atas persetujuan nya bukan. Cleo tidak bersalah sama sekali, disini dia hanyalah korban. Bahkan sampai sekarang dia tidak tahu jika kakaknya lah yang sudah mengorbankan diri untuk menolongnya."


"Entahlah kak, aku bingung harus bersikap bagaimana."


Alvian nampak menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Cobalah untuk berdamai dengan hatimu sendiri Bi, jangan lupakan pengorbanan Amira. Ingat dalam tubuh Cleo sudah tertanam jantung Amira. Dengan kau menyakiti Cleo itu berarti kau juga menyakiti Amira."


"Ak-aku membencinya kak, karena dia Amiraku pergi dari dunia ini. Karena dia kekasihku meninggalkanku." Kekehnya yang tetap menyalahkan Cleo atas kepergian Amira.


Alvian geram, dengan cepat dia mencengkeram kerah leher Bian hingga membuat pria itu tercekik.


"Sadar Fabian Nugraha, kepergian Amira bukan karena dia mendonorkan jantungnya untuk Cleo. Tanpa dia melakukan itu pun Amira pasti meninggalkanmu karena penyakitnya. Sampai kapan kau akan selalu menyalahkan gadis itu atas kepergian Amira hah. Jangan jadi laki laki brengsek kamu Bian." Sarkasnya dengan nada penuh amarah lalu menghempaskan tubuh adiknya secara kasar dilantai.


Uhukk


Bian terbatuk batuk dengan wajah yang sudah memerah, sungguh kakaknya itu terlihat sangat menyeramkan jika sedang dalam mode marah.


"Kau ingin membunuhku kak ?"


"Cih, bahkan membunuhmu pun rasanya masih kurang untuk membuatmu sadar Bi." Sinisnya dengan raut wajah tak terbaca.


Bian menghela nafas kasar, lalu bangun dari duduknya.


"Aku berani bertaruh Bi, kalau sebenarnya kau itu mencintai gadis itu kan ? Hanya saja sifat gengsimu yang terlalu besar membuatmu tidak ingin mengakuinya. Aku sarankan cepatlah kau menyadari perasaanmu itu sebelum semuanya terlambat. Kau tahu hati wanita itu sangat lembut dan mudah patah. Jangan sampai dengan sikapmu yang selalu menyakitinya membuatmu harus kehilangan dirinya. Pikirkan baik baik ucapanku." Ucap Alvian sembari menepuk bahu Bian.

__ADS_1


Alvian masuk kembali kedalam rumahnya dan meninggalkan Bian yang masih sendirian diatas rumahnya. Sepertinya sudah cukup baginya memberi nasehat untuk adik kesayangannya itu.


Sementara itu sepeninggal Alvian, Bian masih betah berdiri diatas rumah kakaknya. Pria itu merenungkan ucapan kakak sepupunya jika yang dia rasakan untuk Cleo saat ini adalah perasaan cinta.


Apakah benar yang aku rasakan ini adalah cinta ? Bukan rasa benci seperti yang sudah sudah


Amira apa yang harus aku lakukan ?


Bian menyurai rambutnya kasar, bayangan wajah Cleo kembali menari nari dikepalanya. Wajah sedih gadis itu dan tatapannya yang sarat akan cinta dan kepedihan.


Bian tahu jika gadis itu menyukainya, bahkan saat dia masih menjalin hubungan dengan Amira. Namun pria itu selalu membatasi kedekatan dirinya dengan Cleo mengingat jika dirinya sudah mempunyai kekasih yang notabenenya adalah kakak dari sahabat adiknya itu.


Flashback On


Dua tahun lalu sekilas tentang Amira..


Amira Salsabilla, gadis cantik dan baik hati. Gadis dengan sejuta pesona yang mampu menaklukkan hati seorang pria dingin bernama Fabian Nugraha. Amira sangat mencintai Bian, kekasihnya begitu juga dengan Bian. Bahkan pria itu sudah mempunyai rencana akan menikahi Amira selepas gadis itu menyelesaikan kuliahnya.


Amira yang saat itu mendengar keseriusan Bian saat melamarnya, tentu saja merasa bahagia akan rencana kekasihnya yang akan segera meminangnya. Apalagi masa kuliahnya hanya beberapa bulan saja. Dengan pertimbangan yang sangat matang, akhirnya dia menerima lamaran kekasihnya.


Amira yang hanya hidup bersama adik satu satunya, merasa harus membagi kabar bahagia itu dengan sang adik yang saat itu masih duduk dibangku SMA. Tentu saja Cleo pun ikut bahagia mendengar kabar yang dibawa kakaknya.


Melihat sang kakak sangat antusias dan terlihat senang, secara perlahan gadis itu mulai mundur dan menjaga jarak dengan Bian. Bahkan Cleo mengubur dalam dalam rasa cintanya pada Bian demi menjaga perasaan sang kakak. Karena baginya tidak ada yang lebih berharga didunia ini selain kebahagiaan kakaknya.


Namun rasa bahagia itu hanya sesaat, ketika suatu waktu Dokter memvonisnya mengidap penyakit kanker p*****dara stadium akhir. Sementara pernikahan mereka tinggal dua bulan lagi.


Amira merasa nyawanya menghilang saat itu juga, syok akan kabar yang sangat mengejutkan itu. Dunianya runtuh, bayang bayang pernikahan yang bahagia dengan kekasihnya hilang begitu saja. Amira frustasi dan merasa jika dia tidak pantas bersanding dengan Bian.


Amira menyembunyikan penyakitnya pada Cleo, hanya dia dan Bian saja yang mengetahui rahasia itu. Bahkan disaat saat terakhirnya pun Amira tetap menyembunyikan penyakitnya dan juga meminta Bian untuk merahasiakan tentang dirinya yang mendonorkan jantung untuk adiknya.


Ya, Amira nekat mendonorkan jantungnya demi menolong sang adik ketika Cleo mengalami anfal. Nasib buruk menimpa dua kakak beradik tersebut. Amira yang menderita penyakit berbahaya sementara Cleo menderita penyakit jantung bawaan dari ayahnya.

__ADS_1


Amira yang sangat menyayangi adiknya akhirnya membulatkan tekad untuk mendonorkan jantungnya. Dia berpikir harus ada salah satu diantara mereka yang selamat dan hidup.


Amira tahu umurnya tidak panjang, sementara adiknya pasti bisa selamat asalkan mendapatkan donor jantung. Walaupun Bian tidak setuju dan meyakinkan dirinya bahwa dia akan sembuh, namun Amira tetap kekeh untuk mengorbankan dirinya demi adik yang paling disayanginya.


Dan setelah perdebatan yang sangat panjang, keputusan Amira tidak bisa diganggu gugat, akhirnya Bian dengan terpaksa menyetujui permintaan terakhir kekasihnya. Dan sejak hari itu Bian menyimpan kebencian pada sosok yang sebelumnya sangat akrab dengannya. Menyalahkan gadis itu atas kematian Amira dan mengecapnya sebagai gadis pembawa sial.


Flashback Of


Sementara itu...


Cleo yang baru saja pulang dari kampusnya segera masuk kedalam kontrakannya yang sangat kecil. Yang luasnya hanya beberapa meter saja dengan tiga ruangan. Satu ruang tamu, satu tempat tidur dan satu kamar mandi yang disebelahnya merangkap menjadi dapur.


Cleo menghirup udara malam yang nampak menyegarkan, kemudian duduk diteras rumahnya setelah sebelumnya membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Pandangan matanya menatap langit gelap yang malam ini nampak sangat indah dengan taburan bintang bintang yang berkelap kelip. Cleo tersenyum tipis namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah murung. Begitu banyak beban yang selama ini menghimpitnya, membuatnya merasa lelah.


Cleo menatap foto yang ada dilayar ponselnya. Foto dua gadis cantik yang berbeda usia dengan senyum sumringahnya. Posisi keduanya saling berpelukan, lebih tepatnya gadis yang paling muda nampak memeluk erat gadis disebelahnya dari arah samping sembari menempelkan pipi mereka.


Foto itu adalah foto dirinya dengan sang kakak yang sudah meninggal. Amira, sang kakak yang sangat menyayanginya begitu juga dengan dirinya yang sangat menyayangi kakaknya. Keduanya seakan tidak dapat terpisahkan.


Cleo menatap sendu foto kakaknya yang terlihat sangat bahagia, tersenyum tulus seakan tidak ada beban.


"Kakak, Cle sangat merindukanmu. Hanya kau satu satunya keluargaku didunia ini. Bahkan kakak rela dibenci oleh semua orang hanya demi membelaku yang hanya seorang anak pembawa sial. Apa kau juga membenciku kak, sampai kakak pun ikut meninggalkanku disini sendirian." Isaknya lirih dengan hati yang sesak.


Tiba tiba saja Cleo merasa degup jantungnya berdetak sangat kencang, desiran aneh namun terasa sangat sesak dan sakit.


Ada apa denganku ? Kenapa tiba tiba jantungku terasa sakit. Bukankah Dokter sudah menyatakan jika penyakit jantungku sudah sembuh total ? aku bahkan sudah mendapatkan donor waktu itu.


Cleo berusaha mengendalikan dirinya yang sempat stres. Dia masih ingat ucapan Dokter yang mengatakan supaya dirinya jangan terlalu stres dan banyak fikiran walaupun dia sudah sembuh. Namun ada satu pertanyaan yang sampai saat ini belum dia dapatkan jawabannya, yaitu tentang sosok yang sudah baik hati mendonorkan jantungnya.


"Sepertinya besok aku harus menemui Dokter Haris untuk kembali menanyakan siapa yang sudah mengorbankan hidupnya untuk menolongku." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2