Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Kumohon, jangan menangis


__ADS_3

Tengah malam setelah pergulatan malam panasnya bersama sang istri, Alex masih saja terjaga sembari menatap langit kamar. Sementara sang istri sudah lebih dulu terbuai kealam mimpi.


Alex mendes*h kasar kala ingatannya melayang pada cerita Jiza sore tadi. Saat mendengar cerita istrinya tentang kejadian yang terjadi di mall tadi, Alex hanya diam dan memutuskan akan memikirkan cara untuk menyatukan kedua manusia yang saling mencintai itu namun masih memilih ego masing masing.


Dan sekarang dia di buat pusing karena belum mendapatkan ide untuk membuat keduanya kembali bersatu. Dan satu satunya cara yang bisa membantunya adalah dengan meminta bantuan seseorang. Tapi siapa ?


Aaarrggghhh


Alex menggeram kesal, sungguh kali ini dia benar benar sangat pusing. Siapa orang yang harus dia mintai pertolongan ?


Setelah cukup lama termenung memikirkan kira kira siapa orang yang harus dia mintai tolong, tiba tiba senyum kecil terbit dibibirnya yang sedari tadi terus menggeram kesal. Senyumnya semakin lebar kala dia merasa yakin jika hanya orang itulah satu satunya manusia yang bisa dia harapkan dapat membantunya.


Aku yakin dia pasti bisa diajak bekerjasama denganku.


Alex lalu kembali berbaring disebelah sang istri saat pikirannya kini sudah mulai lega. Dengan senyum kecil terus menghiasi bibirnya, mata Alex mulai memberat dan akhirnya menyusul sang istri yang sudah sejak tadi terlelap dalam mimpinya.




**Diruangan Lain**



Cleo yang tidak lagi bisa terlelap dalam tidurnya semenjak kejadian itu, berulang kali mendes@h kasar. Matanya memberat karena kantuk tapi entah kenapa susah sekali diajak kompromi. Berulang kali membolak balikkan tubuhnya kekanan dan kekiri hingga membuatnya merasa kesal sendiri.



Frustasi karena insomnia yang selalu menyerangnya, akhirnya Cleo bangkit dari rebahannya sembari mengusap kasar wajahnya. Ini sudah kesekian kalinya dia selalu begini di tiap malam. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya karena hampir tiap malam dia tidak pernah bisa lelap dalam tidurnya dan ini sungguh sangat menyiksa dirinya.



Dengan gontai Cleo menyalakan lampu kamarnya lalu berjalan kearah balkon. Membuka pintu balkon selebar mungkin hingga membuat angin malam langsung masuk menerpa tubuhnya yang hanya terbalut sweater tipis. Bukannya merasa dingin Cleo justru malah berjalan keluar kamar dan berdiri di pinggir pagar besi dengan kedua tangan yang berpegangan pada terali besi sembari menatap gelapnya malam yang menampakkan begitu banyak bintang dilangit.



*Kak Bian*, gumamnya lirih.


__ADS_1


Gadis itu sebenarnya merasakan rindu yang teramat sangat pada sang kekasih, tapi rasa kecewa lagi lagi datang menghampirinya dikala dia hendak datang menemui sang kekasih dan mencoba memperbaiki hubunga mereka.



"Apa aku terlalu egois karena merasa kalau hanya aku yang merasa disakiti ?"



"Apa sekarang kau pun mulai membenciku karena sikapku ini kak ?"



"Maafkan aku...aku memang egois karena tidak pernah memikirkan perasaanmu. Maafkan aku..hiks."



Ditengah malam gadis itu menangis tersedu memikirkan nasib hidupnya. Dia tahu semua orang mulai menghujatnya karena sifat egoisnya yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi apakah dia salah jika dia egois sedikit saja. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya yang di bohongi oleh orang orang terdekatnya dan itupun dalam kurun waktu yang lama.



Menutupi kenyataan tentang kakaknya yang meninggal karena menyelamatkan dirinya. Dan karena fakta itulah dia harus menanggung penderitaan selama ini. Di hujat sanak saudara, dianggap anak pembawa sial, diasingkan bahkan dengan tega pamannya mengusirnya layaknya dia adalah seorang pengemis.




Lalu sekarang dimana letak keegoisannya ? Dia hanya ingin menyendiri barang sejenak. Melupakan serentetan kejadian yang menimpanya dan mulai menerima suratan takdir yang sudah digariskan untuknya. Tapi kenapa mereka tidak mengerti dan malah menganggap jika dia sangat egois.



Cleo sungguh tidak bisa lagi menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya seakan ada batu besar yang menindihnya hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Dan perlahan tubuh rapuh itu mulai merosot turun dan terjatuh duduk dilantai yang dingin.



Tidak jauh dari rumah itu tepatnya di seberang jalan sebuah mobil hitam terparkir dengan jendela kacanya yang terbuka menampakkan sosok wajah pria yang di rundung gelisah. Raut wajahnya terlihat sendu dengan tatapan matanya terus mengarah pada sosok gadis yang sampai saat ini masih duduk menyender di pagar balkon.



"Kumohon jangan menangis lagi, aku sungguh tidak tega melihatnya sayang. Andai aku bisa ingin sekali aku menghampirimu dan memelukmu sangat erat. Tapi kebencianmu padaku membuatku tidak berdaya. Aku tidak bisa melakukan apapun selain menatapmu dari jauh. Kumohon berhentilah menangis, maafkan aku." Desisnya lirih disertai airmata yang sudah mengalir di wajahnya yang tampan namun tak terurus.

__ADS_1



Bian kini sudah tidak perduli jika semua orang menganggapnya pria cengeng, karena memang kenyataannya dia selalu menangis tiap melihat kekasihnya bersedih seperti itu. Tidak ada lagi pria datar dan dingin sedingin kulkas. Yang ada sekarang hanyalah pria cengeng dan lemah.



"Aku akan menunggumu sampai kamu benar benar bisa memaafkan ku, bahkan demi mendapatkan sebuah maaf darimu aku rela jika kamu menyuruhku untuk pergi darimu Cleo sayang." Imbuhnya lagi.



Tak ingin hatinya semakin hancur melihat keadaan kekasihnya, Bian akhirnya mulai menyalakan mobilnya dan berlalu dari rumah Alex. Sudah cukup hari ini dia memantau sang kekasih, memastikannya baik baik saja. Walau setiap hari dia selalu melihat kesedihan Cleo didepan matanya.



Suara deru mobil Bian yang melaju pergi rupanya menarik perhatian Cleo yang masih bersandar di pagar balkon kamarnya. Karena malam memang sudah sangat larut dan sepi maka tidak heran jika gadis itu bisa mendengar suara sekecil apapun walau jaraknya agak terlalu jauh. Seketika gadis itu berdiri mencoba melihat mobil siapa yang baru saja meninggalkan tempat itu.



"Kak Bian ?" Lirihnya sejenak dengan tatapan terpaku karena terkejut.



Melihat siluet mobil itu Cleo sangat yakin kalau mobil tadi adalah milik Bian, karena dari body belakangnya saja dia sudah sangat menghafalnya. "Dia kesini ? Jadi selama ini mobil yang selalu terparkir di bawah pohon itu milik kak Bian ? Aku pikir ---- "



Ya, Cleo sudah lama mengetahui jika selama ini ada sebuah mobil hitam yang selalu terparkir di bawah pohon sana. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya, karena dia pikir itu hanyalah sebuah mobil yang mungkin saja hanya butuh tempat parkir. Tanpa dia sadari kalau mobil itu milik kekasihnya, Bian, karena memang Cleo tidak pernah memperhatikannya.



Dan kini saat dia memperhatikan dengan lebih teliti lagi keseluruhan mobil itu , dia baru sadar jika mobil itu adalah mobil Bian. Tapi sayang mobil itu sudah melaju jauh sebelum dia sempat turun dan menghampirinya.



” Kan Bian --- ”



**TBC**

__ADS_1


__ADS_2