
Aira masih bercengkerama dengan Oma Tamara ketika Alvian pulang untuk makan siang. Pria itu memang selalu menyempatkan pulang kerumah untuk menikmati makan siang bersama istri dan Oma nya. Baginya tidak ada makanan seenak buatan sang istri tercinta.
"Sayang aku pulang."
Suara bariton milik suaminya langsung membuat Oma Tamara dan Aira seketika menoleh kearah Alvian yang sedang berdiri dengan senyum yang merekah dibibirnya. Dibelakang pria itu berdiri Bian dengan gaya coolnya seperti biasa.
Alvian langsung duduk ditengah di antara Oma dan Istrinya. Mengecup kedua wanita itu dengan sayang setelah itu memeluk mesra sang istri.
"Mas, malu ih ada Oma sama Bian juga." Celetuknya menahan malu.
"Anggap saja kami ini patung tak bergerak kakak ipar." Cibir Bian dengan jengah, pasalnya kakak sepupunya itu selalu tidak melihat tempat saat ingin bermesraan.
"Bilang saja kau itu iri, makanya cari pacar."
"Ngapain iri, aku ada Oma ini." Sahutnya sembari memeluk Oma Tamara, bahkan pria itu menciumi wajah omanya karena merasa gemas.
Oma Tamara sendiri terkekeh melihat bagaimana sikap Bian yang nampak begitu manja padanya. Dengan lembut wanita yang sudah lanjut itu mengusap ujung kepala Bian yang tengah menyender dengan memeluk bahunya.
"Kakakmu berkata benar nak, kamu ini kan sudah cukup umur, sudah sepantasnya untuk berumah tangga."
"Bagaimana mau menikah Oma, pacar saja nggak punya." Kekehnya sambil terus bermanja manjaan dengan Oma Tamara.
"Apa perlu Oma yang mencarinya untukmu sayang."
"Tidak perlu Oma, Bian bisa mencarinya sendiri."
"Bi, sepertinya gadis yang waktu itu cocok deh sama kamu." Celetuk Aira yang langsung mendapatkan tatapan dari tiga orang disana.
"Gadis yang mana sayang ?" Tanya Alvian dengan alir berkerut, pasalnya pria itu tidak pernah sekalipun melihat adiknya itu bercakap cakap dengan seorang wanita.
"Gadis yang waktu itu loh mas, yang datang pas pernikahan kita itu. Kalau tidak salah temannya Cherry deh. Aku sempat melihat loh Bian dan gadis itu sedang mengobrol bersama."
"Maksudmu si Cleo teman Cherry ?"
Aira mengangguk cepat. " Dia gadis yang sangat cantik dan baik."
"Darimana kamu bisa tahu kalau dia itu baik sayang ?" Kening Alvian berkerut.
"Aku sempat mengobrol dengannya mas, dan dia gadis yang sangat ramah. Aku menyukainya, tapi aku melihat dibalik sikapnya yang ramah dia menyimpan begitu banyak misteri. Sorot matanya mengatakan begitu, dia terlihat banyak menyimpan kesedihan."
"Oh ya ? Bi apa kamu menjalin hubungan dengan Cleo ? Kenapa kamu nggak bilang sama kakak."
"Siapa yang mempunyai hubungan dengan gadis sial itu kak, kakak ipar waktu itu salah paham saja. Bian tidak sedang mengobrol dengannya, tapi kami sedang berdebat. Waktu itu dia menumpahkan air minuman kedalam bajuku."
"Oh, kakak pikir kamu sedang mengobrol Bi." Ucap Aira sembari mengulum senyum tipis.
"Bagaimana kalau..."
"Nyonya besar makanannya sudah siap." Sahut Bi Susi memotong pembicaraan hangat mereka.
"Baik bi, kami akan segera kesana." Jawab Aira dengan senyum ramahnya.
Setelah kepergian Bi Susi, Aira mengajak semuanya untuk segera menuju meja makan untuk bersantap siang. Gadis itu menyusul langkah suaminya sembari mendorong kursi roda Oma Tamara. Sementara Bian sendiri berjalan dibelakang dua wanita cantik itu dengan senyum yang mengembang. Tiba tiba saja dia teringat sosok gadis yang selama ini bersemayam dihatinya.
__ADS_1
Kau sedang apa ? Aku merindukanmu gadis.
Mereka mulai menyantap makan siang dengan sesekali saling melemparkan candaan. Tidak ada larangan bagi Alvian untuk diam saat makan, baginya hal itu malah membuat suasana menjadi sunyi dan canggung. Dia ingin disetiap moment selalu dipenuhi dengan suasana hangat dan ceria.
Ditempat lain...
"Dasar anak nakal, apa harus menunggu mama sakit dulu baru kamu itu mau pulang kerumah hah."
Omelan dan jeweran ditelinga langsung diterima Alex saat pria itu baru saja masuk kedalam rumah besar milik kedua orangtuanya. Membuat Alex langsung memekik kesakitan.
"Adududududuh..ma sakit tau."
"Biarin, kalau perlu mama gunting sekalian ni telinga biar putus."
"Jangan dong ma, nanti Alex nggak ganteng lagi, kan kasihan calon menantu mama punya suami yang jelek."
"Biarin saja, nanti Jiza mau mama cariin suami baru lagi yang pastinya pria yang lebih ganteng dari kamu."
"Tapi Jiza maunya mas Alex saja ma." Seru Jiza yang langsung membuat mama Rani menoleh kebelakang, wanita cantik itu belum sadar dengan keberadaan calon menantunya disana.
"Eh, ada calon menantu mama yang cantik." Ucapnya dengan wajah yang sudah berubah ceria.
Seketika Mama Rani melepas cubitan tangannya ditelinga putranya dan bergegas menghampiri gadis yang sedang berdiri dengan senyuman manisnya.
"Menantu mama ikut juga, maaf ya tadi nggak lihat." Ucapnya sembari melakukan cipika cipiki dengan calon menantunya itu.
"Gimana mau lihat orang dari tadi sibuk menganiaya anaknya sendiri." Keluh Alex sambil mengusap usap telinganya yang memerah.
"Ma, aku kok ditinggal."
"Bodo amat, kamu mah bukan anak mama. Pokoknya mama hari ini mau berduaan saja sama calon menantu mama yang cantik ini. Bye." Sewotnya meninggalkan Alex yang masih berdiri melongo ditempatnya.
"Ma, anak mama kan aku." Tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Nggak lagi, udah ganti. Yuk sayang kita tinggalkan bule tengil ini disini."
Alex garuk garuk kepala melihat tingkah absurd mamanya. Sementara Jiza terkikik geli melihat bagaimana wajah jenaka Alex. Gadis itu melambaikan tangan kanannya seolah sedang mencemooh tunangannya.
"Yank.." Panggilnya namun tetap saja dia diacuhkan.
Ck, dasar wanita kalau sudah ketemu sesama jenis lupa deh sama anak dan pacar. Untung cinta kalau nggak....
Setelah asik bercengkerama dengan calon menantunya dan juga membiarkan Alex duduk sendirian disofa yang ada diruang keluarga. Kini mereka tengah duduk santai diruang keluarga setelah selesai dengan acara makan malam. Waktu juga sudah menujukkan pukul 8.30 malam.
Suasana diruang keluarga mendadak berubah serius saat Tuan Billy selaku papa Alex ikut duduk disana dan mulai menatap putra dan calon menantunya itu dengan tatapan serius.
"Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ?" Tanya Tuan Billy pada Alex.
"Besok pa, Jiza minta besok katanya."
"Alex ! Jangan bercanda kamu." Sentak Tuan Billy pada Alex, pasalnya putranya itu masih sempat sempatnya bercanda disaat tengah serius begini.
Mendengar teriakan papanya bukannya takut tapi malah membuat Alex cengengesan, sementara Jiza sudah berkeringat dingin. Melihat calon mertuanya itu yang nampak serius dan sedang tidak ingin bercanda, membuat suasana diruangan itu mendadak mencekam.
__ADS_1
"Papa ih jangan teriak begitu dong, liat tuh calon menantumu sampai gemetaran begitu." Sela istrinya saat melirik bagaimana pucatnya wajah Jiza.
"Ck, anakmu itu yang bikin papa begini sayang. Lihatlah anakmu itu selalu saja tidak pernah serius." Ketus Tuan Billy seraya menatap jengah Alex yang masih menunjukkan wajah tengilnya.
"Anakmu juga pa, dia ada kan karena benih tengil papa." Protes sang istri.
"Alex kan bicara jujur pa, memang besok kok menikahnya."
"Alex bicara yang benar nak, jangan buat papamu semakin kesal." Kali ini sang mama harus ikut mengeluarkan suaranya.
Alex menghela nafas, jika sudah mamanya yang bicara pria itu mendadak diam dan menuruti semua ucapannya.
Padahal aku yang menanam benih, tapi kenapa dia hanya menurut pada mamanya saja. Ini tidak adil. Keluh pria paruh baya itu didalam hatinya.
"Ma, Alex memang berkata apa adanya. Baiklah kalau memang tidak ada yang setuju besok Alex menikah, maka Alex akan mengundurnya menjadi 1 minggu kedepan."
"Apa !" Teriak ketiga orang disana.
"Kenapa ? Apa tidak setuju lagi, kalau tidak.."
"Mama setuju." Sahut sang mama cepat.
"Papa juga."
Alex tersenyum puas, lalu berpaling menatap wajah Jiza yang masih bengong.
"Yank.."
Gadis itu masih bengong dengan mulut sedikit terbuka, membuat Alex menggelengkan kepalanya.
"Dia bengong ma."
Kedua orangtua itu terkekeh, melihat calon menantu mereka itu yang masih asik melamun.
Tuk
"Isssh..sakit tahu." Pekiknya langsung tersadar kealam nyata.
"Makanya jangan kebanyakan bengong, lagi ngapain sih bengong begitu."
"Siapa yang bengong, ngawur."
"Iya iya nggak bengong, cuma melamun."
Jiza memalingkan wajahnya dengan bibir yang mengerucut. Gadis itu merasakan malu yang begitu besar, pasalnya dia kepergok tengah melamun ditengah keluarga Alex.
Beruntungnya orangtua Alex adalah orang yang asik, mereka tahu jika saat ini gadis itu sedang malu. Makanya mereka berdua langsung mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah berhubung semuanya sudah jelas, maka tidak ada yang harus ditunda lagi. Hal baik seperti ini memang sudah seharusnya segera dilaksanakan. Dan besok papa dan mama akan langsung kerumah Jiza untuk membicarakan hal ini. Apa kamu juga setuju Za ?"
Perlahan gadis itu mengangguk, tidak ada gunanya lagi dia menolak. Karena sebenarnya dia pun menginginkan hal yang sama dengan Alex, dia ingin hanya dia saja yang menjadi milik Alex begitupun sebaliknya, dia ingin hanya dia saja yang memiliki Alex.
TBC
__ADS_1