Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Ancaman


__ADS_3

"Halo adik."


Tuan Adi tersentak, ternyata yang dikatakan Bian benar adanya, orang itu sudah berani menabuh gendang perang, terbukti dengan saat ini dia yang sudah berani menghubunginya.


"Apa Maumu ?"


"Hahahaha..kau memang anak yang cerdas seperti biasanya Di, tahu apa yang aku inginkan bahkan sebelum aku mengatakannya padamu."


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaan milik Kak Barra padamu Erick."


"Kau akan memberikannya padaku Adi, dan aku pastikan itu akan terjadi."


"Kau terlalu percaya diri Erick Nugraha, apa kau lupa kalau perusahaan ini bukan milikmu."


"Itu milikku, apa yang menjadi milik adikku maka itu juga menjadi milikku Adi."


"Adikmu ?" Adi tergelak kencang namun dengan nada yang terdengar seram. "Sejak kapan kau menganggap kak Barra adikmu ? Apa kau lupa kalau kak Barra sudah tidak menjadi bagian dari keluarga Nugraha, bahkan kau dan mama yang sudah mengeluarkan dia dari daftar keluarga."


"Apa yang mama lakukan adalah hal yang benar, dia tidak pantas bersanding dengan wanita murahan itu."


"Jangan berani menyebut kak Tania wanita murahan, dia wanita yang baik dan tulus mencintai Kak Barra."


"Hahahaha kenapa kau membelanya Adi ? Apa dia juga memberikan tubuhnya padamu. Oh iya aku dengar istri Sean juga bekas p*****r, tidak kusangka jika dia juga sama dengan mertuanya. Rasanya aku juga ingin mencicipinya."


"Berani kau menyentuh menantuku, aku pastikan kau akan kehilangan kepalamu Erick, tidak perduli jika aku harus mendekam dipenjara karena membunuh kakak kandungku sendiri. Camkan itu."


Tuan Adi memijat pelipisnya yang mendadak sakit, ancaman Erick tidak bisa didiamkan. Dia tahu jika pria gila itu tidak pernah main main dengan ucapannya.


Meraih ponselnya kembali lalu menghubungi Putranya.


"Bi, kerahkan seluruh anak buah andalanmu. Perketat penjagaan dirumah Alvian, jangan sampai terjadi sesuatu pada Aira dan juga Oma kamu. Kali ini sepertinya kita harus bekerja keras. Atur pertemuan dengan Alvian sesegera mungkin."


Tuan Adi menghela nafas, matanya tertuju pada bingkai foto didepannya yang menampilkan tiga anak remaja saling berangkulan sembari tersenyum.


"Apa yang harus aku lakukan kak Barra untuk melindingi putra dan perusahaanmu. Kau tahu terkadang aku merindukan kebersamaan kita dulu, saling menyayangi dan tidak ada permusuhan sama sekali. Jika memungkinkan aku ingin kembali pada jaman dimana kalian berdua yang selalu melindungiku, kak Barra, kak Erick."


Tanpa terasa sudut matanya mengeluarkan airmata, mengingat hubungan rumit keluarganya saat ini.


Sementara itu...


Aira nampak duduk berdampingan dengan suaminya, Alvian, dimansion milik Tuan Andre. Tatapan bingung terlihat jelas disana, wanita cantik itu mengedarkan pandangan matanya pada dua orang yang duduk didepannya itu.


Satu jam yang lalu Tuan Andre menelpon Alvian untuk membawa Aira kemansion miliknya. Dengan tidak lupa menyuruh pria itu untuk membawa serta amplop cokelat yang waktu itu dikirim kerumahnya.

__ADS_1


Sebenarnya Aira sudah membuka amplop teesebut dan membaca file file didalamnya. Dan ekspresi terkejut jelas ada ketika membaca isi dari berkas berkas yang mencantumkan dengan jelas kepindahan nama dari seluruh aset milik Sean kini beralih menjadi miliknya.


"Papa, apa maksud dari semua ini ? Ara sungguh bingung."


Tuan Andre menghela nafas panjang lalu menatap wajah istrinya. Melihat sang istri yang menganggukkan kepalanya, akhirnya pria paruh baya itu mencoba untuk memberi penjelasan pada Aira.


"Begini sayang, papa tahu kamu bingung, tapi papa akan menjelaskannya secara pelan dan detail. Ini semua memang aset hasil dari kerja keras Sean selama ini tanpa sepeserpun meminta bantuan dari papa. Restoran, Villa, Hotel dan perkebunan di Bogor semua murni milik Sean.


Satu hari sebelum kepergiannya, Sean menyerahkan ini pada papa dan mengatakan kalau dia memberikan seluruh hartanya padamu dan dia juga sudah mengganti nama kepemilikannya menjadi namamu. Dia ingin disaat dia sudah pergi kamu tetap merasa bahagia tanpa kekurangan apapun."


"Tapi pa, Ara tidak butuh ini semua. Ada mas Alvian yang sudah menjagaku jadi papa tidak perlu khawatir."


"Ara, Sean tidak tahu kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan Alvian sayang, Sean berpikir jika hidupmu masing dalam kesusahan. Dan dia tidak ingin kamu kembali terjerumus kedalam lubang yang sama. Makanya dia mengalihkan semua hartanya pada wanita yang teramat dia cintai yaitu kamu.


Papa dan mama sangat berharap kamu tidak menolak pemberian Sean, bagaimanapun Sean juga wajib memberikan nafkah lahirnya padamu mengingat jika dulu dia pernah menelantarkanmu nak."


Aira menoleh kesamping dimana wajah suaminya yang tersenyum menjawab kegundahan hatinya dengan disertai anggukan kepalanya. Hati wanita cantik itu berubah menjadi lega, melihat suaminya yang tidak merasa keberatan.


"Baiklah papa, Ara akan menerima apa yang sudah diberikan oleh Kak Sean padaku. Papa benar sudah sepatutnya kita menjaga peninggalan berharga milik kak Sean."


"Baiklah kalau begitu, papa ucapkan terima kasih padamu nak, sudah mau menerima apa yang Sean berikan padamu."


Aira mengangguk lalu menghampiri pasangan suami istri itu lalu memeluk keduanya dengan erat.


"Ara sayang sama papa dan mama."


Setelah pulang dari Mansion Tuan Andre, Alvian melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya. Senyum pria tampan itu tidak pernah hilang semenjak dia masuk kedalam mobil, membuat Aira merasa heran dengan tingkah suaminya.


"Mas."


"Hmm."


"Apa ditubuhku ada yang aneh ?"


"Tubuhmu ? Apanya yang aneh sayang ?" Bukannya menjawab tapi Alvian malah balik bertanya.


"Iya, apa ada yang aneh ditubuhku, kamu dari tadi selalu senyam senyum sendiri."


Seketika tawa Alvian meledak dan itu membuat Aira semakin bingung dan kesal.


"Mas !" Serunya dengan ekspresi wajah cemberut.


"Maaf sayang tapi suer deh kamu tu lucu banget."

__ADS_1


"Jadi badut aja kalau lucu, udahlah aku nggak mau ngomong lagi." Sungutnya lalu membalikkan badan menghadap jendela mobil memunggungi tubuh suaminya.


Alvian menggelengkan kepala melihat istrinya yang merajuk, kembali fokus pada jalanan didepannya dan membiarkan Aira larut dalam kekesalannya.


Aira mengrenyit saat sadar jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kerumahnya, wanita itu kembali menghadap suaminya dengan wajah penuh tanya.


"Mas ini bukan jalan menuju rumah, mas mau bawa aku kemana ?"


Alvian hanya tersenyum dengan tangannya yang mengusap lembut pipi istrinya. Lalu meraih tangannya dan menggenggam erat.


"Kita pulang keapartemen mas dulu ya, malam ini kita menginap disana."


"Tapi mas, kalau kita menginap disana, Oma dirumah sendiri donk ? Kita pulang aja ya mas."


"Duuh yang sayang sama Oma aku, makasih ya udah menyayangi Oma."


"Kita pulang kerumah aja ya mas." Tidak mengindahkan ucapan Alvian, Aira masih berusaha mengajak suaminya itu untuk pulang.


"Kita pulang keapartemen sayang, jangan khawatir Oma ada suster yang menjaganya 24 jam full. Ini malam kita, mas ingin berduaan aja sama kamu tanpa ada gangguan."


"Tapi.."


"Tidak ada kata penolakan, Oke."


Pada akhirnya wanita itu diam dengan bibir yang cemberut, melawan suaminya rasanya percuma saja, karena Alvian pasti akan tetap pada pendiriannya membawanya pulang keapartemennya.


Tidak berselang lama mereka sampai di apartemen milik Alvian. Aira masih saja membisu walaupun kakinya tetap melangkah mengikuti suaminya yang kini menggandeng tangannya.


Pria itu membuka pintu apartemennya lalu menarik lembut istrinya untuk masuk kedalam. Kesan pertama yang wanita itu dapatkan adalah takjub dengan dekorasi dan interior didalamnya yang terkesan klasik tapi elegan.


Suaminya memang sangat menyukai dekorasi yang bergaya klasik, maka tidak heran jika apartemen ini juga bergaya klasik tapi tidak meghilangkan kesan mewah didalamnya.


Alvian terus membawa istrinya menuju kamar miliknya, dan seketika Aira membeku saat melihat keindahan yang tercetak didalamnya. Kamar yang dirias layaknya kamar pengantin, dengan lilin dilantai yang membentuk tanda love dan tulisan My Wife.


Aira menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu memandang wajah suaminya dengan mata yang berkaca kaca. Alvian tersenyum tapi dia tidak mau membuat suasana menjadi cengeng karena tangisan istrinya.


Pria itu tetap membawa Aira menuju balkon kamarnya yang disana juga sudah terdapat kejutan untuknya. Sepasang meja dan kursi untuk tempat mereka dinner malam ini. Meja yang sudah dihias semewah mungkin dengan berbagai macam makanan diatasnya dan juga lilin yang memenuhi seluruh balkon kamarnya.


"Kamu suka ?"


"Indah sekali mas."


"Kita makan dulu ya, mas tahu kamu pasti lapar."

__ADS_1


Aira mengangguk lalu menurut saja ketika pria itu menyuruhnya duduk dikursi. Sementara dia sendiri duduk dikursi depannya. Tanpa kata mereka menikmati makanan mereka sebelum akhirnya menuju acara inti.


TBC


__ADS_2