
Layar besar dan luas berwarna putih tiba tiba meluncur deras kebawah. Lampu ballroom hotel seketika padam dan diganti dengan sebuah lampu proyektor yang mengarah kearah layar. Beberapa menit kemudian sebuah film, bukan film tapi sepertinya sebuah video dan juga beberapa foto terlihat jelas disana.
Sebuah foto Alex dan Aira yang sedang bersama dengan tubuh keduanya yang sama sama polos. Juga video dimana mereka berdua sedang bercumbu dengan berbagai macam gaya.
Seketika ruangan luas yang tadinya hening kini berubah menjadi ramai dan bising. Bisik bisik para tamu terdengar dimana mana, bahkan ada yang menatap jijik kearah sosok wanita yang sedang berdiri dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran.
Alvian berdiri, dengan cepat dia menggebrak meja dan menendang apapun yang ada disana.
"Apa apaan semua ini, cepat matikan jika tidak jangan salahkan jika terjadi sesuatu pada kalian."
Klap
Layar tiba tiba mati dan lampu kembali menyala. Sekarang dapat terlihat jelas bagaimana raut wajah Alvian yang begitu mengerikan. Wajah sang iblis yang sudah lama mati itu kini muncul kembali, dan semua orang yang melihatnya nampak merasa ketakutan.
"Jika ada salah satu dari kalian yang sampai berani menyebarkan hal ini, maka lihat saja esok hari apa yang akan kalian dapatkan dariku." Ucapnya dingin dengan suara yang begitu keras menggema diruangan tersebut.
Sontak para tamu menggelengkan kepala, walaupun tatapan mereka terlihat jijik, namun hati mereka sangat takut akan ancaman Alvian, karena mereka tahu jika Alvian adalah sosok pria yang tidak pernah bermain main dengan ucapannya.
Sama halnya dengan Alvian, Alex pun nampak berkilat, bagaimana bisa pria tua didepannya ini tahu segalanya tentang dirinya yang dulu dengan Aira. Bahkan dia merasa kalau sudah menghapus semua hal yang berbau tentang mereka berdua.
Tuan Adi dan juga Bian pun tidak kalah terkejutnya. Bian, pria itu langsung melakukan tindakan. Meringkus orang yang sudah berani membuat onar. Dan kini dihadapan mereka nampak dua orang anak buah Erick yang sudah babak belur tidak berdaya.
Erick tertawa sumbang sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling. Dia puas melihat wajah wajah tegang milik beberapa orang didepannya, terutama wajah Alvian, sang keponakan yang teramat dia benci.
Pandangannya terhenti pada sosok wajah ayu yang saat ini sedang menatap sendu padanya. Sorot watanya penuh luka dan kesedihan. Sejenak ada debaran aneh saat melihat sorot mata itu, hati Erick merasa ikut sakit, namun dengan segera dia mengenyahkan perasaan aneh tersebut.
"Bagaimana Tuan Alex, apa kau senang dengan hadiahku."
"Erick !" Geram Alvian dengan langkah lebar menuju pamannya itu, namun cekalan dilengan kekarnya membuatnya berhenti dan menoleh kearah samping dimana Om Adi nampak menggelengkan kepalanya.
"Lepas Om, biar aku menghajar pria b****k ini."
"Kendalikan dirimu Al, lebih baik saat ini kamu tenangkan istrimu. Lihatlah dia nampak begitu syok."
Alvian tersadar lalu berbalik kebelakang dimana sang istri yang sedang menatapnya dengan pandangan mata kosong. Seketika airmata pria tampan itu luruh melihat kondisi Aira yang sangat memprihatinkan.
"Pergilah, om akan menyelesaikan semuanya." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Alvian bergegas berjalan menuju Aira dan langsung merengkuh tubuh istrinya yang nampak lemah. Membisikkan kata kata cinta dan dukungan untuknya.
"Ayo pulang." Bisiknya lalu dengan gerakan cepat dia menggendong tubuh Aira membawanya pergi dari tempat laknat tersebut.
"Hei, keponakanku kenapa kamu malah pergi. Pestanya belum selesai." Teriak Erick dengan tawa kerasnya yang membahana.
"Erick, kau begitu bodoh." Cetus Tuan Adi dengan mata berkilat.
Matanya memberi isyarat pada Alex dan Bian supaya mereka mensterilkan ruangan. Dengan cepat Alex, Bian dan dibantu dengan beberapa anak buah Bian, membubarkan kerumunan para tamu dan terpaksa menghentikan acara pernikahan yang sudah berantakan gara gara ulah Erick.
Para tamu undangan sudah bubar, dan tentu saja setelah dengan beberapa ancaman dari Bian dan juga Alex. Mereka menjamin bahwa apa yang mereka lihat saat ini tidak akan pernah tersebar luas diluaran sana.
Erick masih tertawa sampai tidak sadar jika diruangan luas ini hanya tinggal dirinya, Adi, Alex, Bian dan juga beberapa anak buah Bian.
"Sudah puas tertawanya." Suara Tuan Adi kini terdengar dingin dengan mata yang tidak pernah terlepas menatap kakaknya.
Tawa Erick terhenti, dan seketika dia sadar jika diruangan ini hanyalah tinggal dirinya dan juga beberapa orang saja.
"Kenapa kau membubarkan semua orang Adi, lihatlah karena ulahmu tontonan ini jadi tidak menarik lagi." Keluhnya dengan wajah masam.
Tuan Adi nampak menggelengkan kepalanya. Melihat sang kakak yang nampaknya sangat frustasi, bahkan dia yakin jika kakaknya itu mengalami stres dan tekanan yang sangat berat.
"Bawa dia, kalau dia berontak seret saja. Dan bawa ketempat biasa." Titahnya dingin dan datar.
"Hei Adi ! Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, aku kakakmu dan sudah sepatutnya kau membelaku. Bukannya membela anak soalan itu yang sudah membuat mama meninggal bodoh." Teriak Erick membahana saat beberapa pria tinggi besar menyeretnya keluar dari ballroom hotel.
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu Erick. Saat ini kau sudah benar benar keterlaluan." Desisnya dengan amarah membara.
"Alex, om minta maaf karena perbuatan kakak om yang sudah menghancurkan acara pernikahanmu." Ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Jangan khawatir om, kami baik baik saja. Lebih baik saat ini kita melihat kondisi Aira."
"Ya, kau benar. Kalau begitu Om pamit dulu."
Alex mengangguk membiarkan Om Adi dan juga Bian meninggalkan ruangan Balroom. Kini disana hanya tinggal dia, Jiza dan juga kedua orangtua mereka masing masing.
Kedua orangtua Alex dan Jiza juga segera undur diri, mereka membiarkan anak dan menantunya itu menyelesaikan masalah keduanya. Sementara mereka sendiri, tidak perlu penjelasan karena mereka sudah tahu jelas bagaimana kehidupan Aira dimasalalu. Dan beruntungnya mereka tidak pernah mempermasalahkannya.
__ADS_1
"Sayang.." Suara Alex terdengar lirih, apalagi saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu sedang duduk dengan pandangan mata kosong.
Hati Alex teriris, bagaimanapun ini semua salahnya.
"Za, sayang."
Gadis itu tersadar dan menoleh kearah Alex, pria yang beberapa jam lalu sudah resmi menjadi suaminya. Bola mata hitamnya mengerjap dan seketika airmatanya langsung menetes.
"Maaf."
Hanya itu kata yang bisa Alex ucapkan untuk mewakili kesedihannya melihat bagaimana istrinya menangis dalam diam.
"Kenapa minta maaf ?"
"Maaf sudah membuatmu merasa sedih dan maaf juga sudah menyakitimu dengan foto foto tadi."
Jiza menatap wajah murung Alex, ada senyuman tipis diwajahnya yang cantik.
"Aku tidak marah kok."
"Hah..maksudmu ?" Alex melongo bingung mendengar jawaban Jiza.
"Aku juga tidak sedih karena foto foto tadi."
"Sayang." Alex bertambah bingung, dia tadi sungguh mengira kalau istrinya itu sudah terpukul sedih karena kejadian tadi.
"Kamu tadi sangat sedih bahkan sampai menangis loh. Kok sekarang bilang nggak sedih sih."
"Aku memang sedih dan menangis, tapi bukan karena kejadian tadi ataupun karena foto fotomu saat dengan Aira."
"Lalu ?" Kening Alex kini semakin berkerut.
"Aku sedih karena pasti saat ini Aira sedang tertekan. Aku melihat wajah syoknya tadi. Apa kita bisa kesana sayang ? Aku ingin menghiburnya."
Sumpah demi apapun, rasanya saat ini Alex ingin memeluk tubuh istrinya itu. Bagaimana bisa gadis ini mempunyai hati sebaik ini. Lega, hati Alex lega seakan tidak ada beban. Dia yang tadinya merasa takut akan kemarahan istrinya, nyatanya fakta didepannya tidak sesuai dengan yang dia pikirkan.
Menggenggam jemari lentik Aira lalu mengecup punggungnya dengam lembut.
__ADS_1
"Ayo kita kerumah Alvian."
TBC