
Aku dimana ?
Cleo menatap sekeliling kamar yang nampak terasa asing dimatanya. Ruangan kamar dengan nuansa warna abu dan putih, ciri khas seorang pria.
Deg
Jantung gadis itu langsung berdebar menyadari saat ini dia sedang berada didalam kamar milik seorang lelaki. Cleo segera mengingat ingat apa yang terjadi malam itu sebelum kesadarannya menghilang.
"Aww...iisssshhh." Rintihnya ketika kepalanya terasa sakit saat dia mencoba bangun dari tidurnya.
"Hei, kenapa bangun ? Kau masih belum sehat." Cegah seseorang yang langsung menidurkannya lagi di pembaringan.
Kak Bian
Mata gadis itu mengerjap beberapa kali seakan tidak percaya dengan pemandangan didepan matanya.
"Kenapa menatapku seperti itu ? Apa kau terpesona padaku ?" Tanya Bian dengan senyuman menggoda.
"Emm..anu...itu."
"Kenapa ? Kau mendadak gugup." Bisiknya sembari mendekatkan wajahnya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Cleo rasanya mau copot melihat bagaimana saat ini wajah Bian yang semakin mendekat padanya. Dengan cepat gadis itu berpaling kearah samping demi menutupi wajahnya yang sudah memerah.
Cup
Satu kecupan di pipinya mampu membuat jantung gadis itu berhenti sejenak. Kejutan yang sungguh luar biasa yang tidak pernah dia sangka sangka.
Cleo langsung menatap wajah Bian yang yang hanya berjarak beberapa centi saja didepannya. Pandangan matanya penuh selidik dan tanda tanya besar.
"Ap...apa yang kau lakukan ?" Gagapnya dengan jantung yang sudah jedag jedug tidak karuan.
Bian masih menatap wajah ayu didepannya yang masih agak pucat dengan tatapan lembut, tidak seperti biasanya yang selalu mengintimidasi.
"Menyingkir dari tubuhku kak." Gadis itu benar benar merasa risih dengan sikap Bian yang mendadak berubah manis, walau sejujurnya di dalam hatinya dia menyukai perubahan pria itu, namun tetap saja harga dirinya sebagai perempuan harus dijunjung tinggi.
"Bagaimana kalau aku tidak mau ?" Jawabnya santai yang mana langsung membuat kedua mata gadis itu melotot.
"Ap-apa maksudmu ?"
Wajahnya memucat dengan keringat yang mulai merembes keluar, manakala Bian semakin mendekatkan wajahnya. Bahkan kedua matanya sudah berkaca kaca karena ketakutan.
Puk
__ADS_1
"Kau itu sangat cengeng, baru begitu aja sudah mau nangis. Gimana kalau pas malam pertama, bisa bisa aku dikoroyok oleh semua orang karena mendengar teriakanmu yang menangis kencang." Kekehnya sembari beranjak dari tubuh Cleo setelah memukul pelan kening gadis dibawah kungkungannya itu.
Apa tadi dia bilang, M-malam pertama ? Apa dia sedang bermimpi
Hatinya berperang antara kenyataan ataukah mimpi yang saat ini sedang terjadi padanya. Terheran heran dengan sikap Bian yang 180° berubah manis dan hangat padanya.
"Sampai kapan kau akan terus menatapku seperti itu ? Ayo makan, dari pagi perutmu belum terisi sama sekali. Dan ini sudah waktunya makan malam." Cetusnya sembari melangkah menuju pintu keluar.
Apa ! Malam ?
"Kak, tolong jelaskan padaku saat ini aku sedang ada dimana ? Lalu apa maksud ucapanmu tadi ? Bukankah ini masih siang hari." Tanyanya dengan kening berkerut.
Bian tergelak mendengar perkataan dari gadis yang saat ini namanya sudah memenuhi hatinya. Dengan sedikit menggoda gadis itu, Bian menjawab perkataan Cleo dengan sesekali mengerlingkan sebelah matanya genit.
"Kau terlalu menyukaiku Cle, makanya tidurmu sangat lelap sampai sampai kau tidak merasakan kalau hari sudah berganti gelap."
Kedua mata Cleo saling mengerjap.
Apa apaan pria ini, percaya diri sekali ucapannya itu.
Gadis itu memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena malu. Apa yang dikatakan pria ini memang kenyataannya benar, dia terlalu menyukai Bian sampai sampai dia terlelap dalam tidurnya karena merasakan hangat dan nyaman.
Cleo mendengus saat Bian masih saja menertawakannya walaupun kakinya sudah meninggalkan kamar. Tapi dari dalam kamar Cleo masih bisa mendengar tawa Bian yang belum berhenti.
Cleo memandang sekeliling dan langsung menghela nafas ketika melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.30 waktu malam. Bergegas dia bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Selang beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dan muncul kepala gadis itu dengan kedua matanya yang sudah berkeliling kamar. Berharap jika pria dingin yang sekarang sudah berubah bucin itu tidak ada didalam kamar.
Syukurlah pria itu tidak ada disini, aku harus segera memakai pakaianku
Tidak lama kemudian gadis itu keluar kamar dengan tubuh yang segar dan penampilan yang cantik. Tentunya dengan pakaian mahal yang sudah disiapkan Bian saat gadis itu mandi.
"Kemarilah, ayo kita makan." Ajak Bian saat melihat Cleo yang sudah terlihat segar keluar dari kamarnya.
"Emm..aku mau pulang kak." Ucapnya lirih.
Bian yang saat itu hendak menuangkan air minum kedalam gelas, mendadak menghentikan niatnya lalu menatap tajam pada gadis yang berdiri didekat meja makan.
"Tidurlah disini." Jawabnya singkat.
"Maaf, aku nggak bisa kak. Aku mau pulang." Bantah Cleo dengan nada masih terdengar lirih, namun cukup terdengar ditelinga Bian.
Pria itu meletakkan teko diatas meja dengan tenang, sementara tanpa Cleo tahu tangan kirinya sudah mengepal kuat. Bian hanya bisa menahan semua emosinya mendengar penolakan Cleo, namun sekuat tenaga dia berusaha bersikap santai.
Dengan wajah datar Bian berjalan menghampiri Cleo yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk. Jujur melihat wajah Bian yang kembali berubah dingin saat dia menolak keinginannya itu mampu membuat hatinya ketar ketir tidak karuan. Dia takut membuat pria itu marah yang berujung pada keluarnya kata kata pedas yang menyakitkan hatinya.
Grep
Wajah cantik Cleo terkejut setengah mati saat Bian menarik pinggangnya lalu memeluknya erat. Pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci. Bahkan Cleo bisa merasakan detak jantung Bian yang terasa bergemuruh hebat.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendengar penolakan sayang." Kata Bian dengan tatapan lembut yang mampu menembus dalam manik mata Cleo yang hitam pekat.
Dia tadi memanggilku apa
"Sa-sayang ?" Gagapnya.
"Hmm..sayang." Jawabnya sembari menaik turunkan alisnya dengan menggoda. "Mulai hari ini aku akan memanggilmu sayang dan aku juga ingin kau tinggal disini bersamaku."
Blank
Satu
Dua
Tiga
Wajah pucat dengan pikiran blank menyerang Cleo karena saking terkejutnya dia dengan ucapan Bian. Gadis itu bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan kata kata, matanya hanya tertuju pada wajah tampan didepannya ini dengan pikiran kosong.
Cetak
"Aww." Ringisnya sembari mengusap keningnya yang disentil oleh Bian. "Kenapa kau menyentilku ? Sakit tahu." Keluhnya dengan wajah kesal.
"Salah siapa kau bengong begitu."
"Itu juga karenamu, enak saja asal bicara tanpa disaring dulu. Lagian siapa juga yang mau tinggal denganmu. Sorry ya gini gini aku bukan wanita murahan." Jiwa galaknya mulai keluar.
"Siapa yang mengatakan kalau kau itu wanita murahan ?"
"Em..itu..."
"Dengar keputusanku mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Mulai saat ini kau akan tinggal disini dan aku tidak menginjinkanmu untuk tinggal dikontrakanmu yang jelek itu. Kalau kau tidak mau aku ada disini, tenang saja jangan khawatir. Aku akan tinggal dirumah papa."
Kata kata Bian meluncur dengan irama tenang dan santai dengan kedua tangan yang masih melekat erat di pinggang ramping wanitanya. Sepertinya enggan sekali pria itu melepas belitan tangannya yang sejak tadi membuat gadis itu risih sendiri.
"Aku tidak mau."
Bian langsung melepas belitan tangannya dan itu membuat Cleo bernafas lega. Namun sepertinya nasibnya masih belum beruntung. Baru bisa bernafas lega, dia kembali menjerit saat merasakan tubuhnya melayang diudara. Bian mempobong tubuhnya layaknya dia memanggul sebuah karung beras.
"Aapanyang kau lakukan !!! Lepasin." Pekiknya sambil memukul mukul punggung pria itu.
Bian menulikan pendengarannya, pria itu terus melangkah kembali kedalam kamar.
Bruk
Tubuh Cleo terhempas diatas kasur empuk milik Bian dengan keras membuat gadis itu sesikit merasa nyeri dibahian pinggul.
"Mau apa kau." Ucapnya dengan gemetar ketakutan saat melihat Bian yang mulai melepaskan pakaiannya.
Pria itu menyeringai dengan jemari tangan yang sibuk melepaskan pakaiannya satu persatu dan kini hanya menyisakan celana boxernya saja. Dan sungguh itu membuat Cleo semakin ketakutan. Gadis itu semakin beringsut mundur kebelakang.
__ADS_1
"Kau tanya aku mau apa ? Tentu saja aku akan membuatmu hamil anakku sayang. Dengan begitu kau akan menuruti perkataanku bukan." Ujarnya dengan senyum devil tercetak jelas di bibirnya.
TBC