
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku ?"
Aira masih terdiam mencerna maksud perkataan pria itu. Tersenyum sinis saat menyadari apa maksud dibalik pertanyaan itu.
Gadis itu berbalik lalu memberanikan diri menatap wajah Sean.
"Maaf mister, saya baru mengenal anda jadi saya belum ada niatan untuk mempertanyakan hal lain pada anda. Jika maksud mister bertanya tentang siapa anda saya rasa anda tidak lupa jika anda sudah menjelaskannya tadi diawal masuk ke ruangan ini. Jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya undur diri. Anda benar benar membuang waktu berharga saya."
"Apa maksud dari waktumu yang berharga itu adalah melayani para pria hidung belang itu ? Apa kau masih bekerja sebagai seorang p****r ?"
Sakit, itu yang Aira rasakan sangat ini, namun gadis itu berusaha sekuat mungkin menahan dadanya yang terasa begitu sesak.
"Maaf Mister, saya rasa bukan hak anda mengetahui apa pekerjaan saya, hubungan kita hanya sebatas dosen dan murid, tidak lebih. Jadi saya harap anda tidak melewati batasan itu. Saya tidak mengenal anda dan andapun tidak mengenal saya." Ujarnya dengan sorot mata penuh kebencian dan Sean bisa melihat itu.
"Kenapa kau tidak bilang jika kedua orangtuamu sudah meninggal ?" Tanyanya lagi tanpa memperdulikan bagaimana perasaan gadis didepannya itu.
Aira kembali merasa geram dengan tingkah pria didepannya yang mendadak terlihat perduli padanya.
"Jangan melewati batasan anda Mister, saya sudah mencoba memberi peringatan pada anda. Sepertinya saya memang hanya membuang waktu berada disini."
Aira kembali berbalik lalu melanjutkan niatnya membuka pintu itu.
"Apa orangtuamu meninggal karena tahu jika putri mereka adalah seorang jalang ? Ah aku rasa tebakanku benar, mana ada orangtua yang bisa terima saat tahu jika putrinya adalah seorang p***r murahan, kau begitu menjijikkan." Tanpa perduli pria itu kembali mengucapkan katakata menyakitkan itu.
"Berapa tarifmu dengan sekali melayani para pria hidung belang itu ?"
Aira membeku dengan kaki yang sudah terasa lemas seakan tidak ada tenaga sedikitpun yang menopangnya.
Saat dia hendak membalas ucapan Sean, ponselnya berdering dan memunculkan nama Marcell disana.
"Halo Cell...baiklah aku segera kesana. Suruh dia menungguku..tidak kuliahku sudah selesai. Apapun akan aku lakukan demi memuaskan pelangganku." Ucapnya dengan nada sedikit tinggi berharap pria itu juga mendengarnya.
__ADS_1
"Apa itu panggilan pekerjaanmu, sudah ada pria hidung belang yang menunggumu disana ?. Ternyata kau memang masih menggeluti pekerjaanmu yang menjijikkan itu. Cih aku beruntung karena pada akhirnya bisa bebas dari j***g murahan sepertimu." Ucapnya dengan wajah yang menunjukkan rasa jijik.
Aira sudah tidak kuat lagi menahan amarah didalam hatinya. Kedua tangannya saling mengepal disamping kanan dan kiri tubuhnya, dan itu semua tidak luput dari penglihatan Sean.
"Tuan Sean yang terhormat, saya rasa anda tidak lupa dengan memori anda. Anda pasti tahu dengan jelas siapa yang sudah menjadikan saya sebagai p****r dan melayani para pria hidung belang. Tarif saya ? Lebih baik anda tanyakan pada teman teman anda yang sudah mencicipi tubuh saya.
Maaf saya harus pergi, karena pelanggan saya membutuhkan servis saya diatas ranjang. Ini memang pekerjaan saya, saya kotor dan selamanya akan tetap kotor. Dan semenjak bertemu dengan pria bajingan bernama Sean, sejak itu pula saya sudah menjadi wanita kotor."
Gadis itu membuka pintu lalu menutupnya dengan kasar, berlari disepanjang lorong kampus dengan airmata yang sudah mengalir keras dan dada yang begitu sakit dan sesak.
Gadis malang itu terus berlari hingga sampai ditaman yang berada dibelakang kampusnya. Berjongkok dibalik pohon lalu meremas kuat kemejanya. Tangannya yang mungil memukul mukul dadanya yang terasa sangat sesak.
Ma ..sesak ma..ini sakit sekali. Ara sudah tidak kuat lagi. Kumohon jemput saja Ara.
***
Sementara didalam ruangan itu Sean hanya terpaku dengan tatapan kosong. Pikirannya berkecamuk, dengan perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa artinya.
Rasa gelisah terus menghantam hatinnya. Melihat kesedihan dan kehancuran hati gadis itu membuatnya ikut merasa sesak. Namun egonya begitu tinggi hingga dia tidak menyadari perasaan yang ada didalam hatinya.
Sean begitu frustasi, lalu tersadar saat Aira sudah tidak ada ditempatnya berdiri. Dengan cepat pria itu berlari kesana kemari mencari sosok gadis yang dia yakini masih ada disekitaran kampus itu.
Langkahnya tiada henti mencari, hingga pada akhirnya berhenti disebuah taman yang ada dibelakang kampus itu. Mata pria itu menatap nyalang pada sosok tubuh gadis yang sedang bersimpuh dengan tangis yang begitu menyayat hati.
Tangan Sean saling mengepal kuat menyaksikan bagaimana rapuh dan hancurnya Aira. Terlihat gadis itu meremas dan sesekali memukul mukul keras dadanya.
Tanpa dia sadari airmatanya mengalir dari sudut matanya. Hatinya juga begitu sesak, pria itu tidak berani menghampiri gadis itu. Walau hatinya ingin tapi tubuhnya seakan menolak.
Maafkan aku.tetaplah menjadi gadis yang tangguh dan kuat Ra. Walau aku selalu menyakitimu , maafkan aku..aku sangat menyesal.
Sean mengusap airmatanya dengan kasar, lalu segera beranjak pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah pria itu berhenti dan kembali berbalik. Pasalnya saat ini dia merasa mendengar suara familiar menyebut nama Aira.
__ADS_1
Dan benar saja disana terlihat Alex yang saat ini sudah memeluk tubuh Aira yang bergetar hebat.
Alex ? Kenapa dia disini ? Apa setelah malam itu mereka mempunyai hubungan. Aku tidak percaya ini, jadi ini alasan mu memutuskan persahabatan kita Lex.
Sean mengepalkan kedua tangannya, ada amarah kuat terlihat jelas diwajahnya. Dengan cepat pria itu berbalik lalu melangkah jauh meninggalkan kedua manusia didepannya itu.
***
"Ra..Ara kamu kenapa ? Apa yang terjadi padamu ?"
Aira mendongak saat mendengar suara pria yang dia kenal. Langsung memeluk erat tubuh Alex dengan tangisan yang begitu keras. Membuat Alex menjadi semakin heran.
Tadi dia berniat untuk menjemput Aira dikampusnya, entah kenapa semenjak tiba dikantor perasaannya sangat tidak enak, dan dia terus saja memikirkan Aira. Tidak ingin larut dalam kecemasan yang tiada berujung, akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi kekampus Aira.
Dan benar saja sesaat dia sampai disana dan hendak menuju kearah ruangan dimana Aira berada, Alex melihat gadis itu keluar dari sebuah ruangan dengan tangis yang sudah meledak.
Tanpa menunggu lama Alex segera menyusul langkah Aira yang menuju kebelakang gedung. Setelah sekian lama mencari akhirnya pria itu menemukan Aira yang saat ini sedang bersimpuh dengan kondisi tubuhnya yang terlihat sangat berantakan.
Perlahan pria itu mendekat kearah Aira lalu menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.
"Ra..Ara..kamu kenapa ? Apa yang terjadi padamu ?"
Gadis itu mendongak, dan langsung memeluknya erat saat dia tahu siapa yang ada disampingnya ini.
"Alex...bawa aku pergi dari sini. Aku tidak sanggup berjalan."
"Oke..oke..tenanglah aku akan membawamu pergi dari sini."
Dengan cepat tapi lembut Alex mengangkat tubuh Aira lalu dibawanya kedalam mobil miliknya. Walau ada begitu banyak pertanyaan dihatinya, tapi saat ini pria itu menahannya. Yang terpenting saat ini adalah membawa Aira pergi dari kampus tersebut.
Ada apa denganmu Ra ? Kau begitu menyedihkan dan inilah alasan aku kenapa aku begitu ngotot ingin menikahimu. Itu supaya aku bisa melindungimu dan menjagamu disaat kau sedang membutuhkan sandaran Ra.
__ADS_1
Alex masih menatap sendu Aira yang saat ini sedang tertidur karena kelelahan setelah menangis selama berjam jam. Perlahan pria itu kembali fokus pada jalan didepannya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kearah apartemennya.
TBC