
Pagi hari...
Kediaman rumah Alvian pagi itu nampak biasa saja seakan tidak terjadi apapun. Semua orang bersikap wajar dan bekerja seperti biasa, kecuali Pak Doni. Ya satpam penjaga itu merasa panik sekaligus takut secara bersamaan.
Mendapati sang nona mudanya yang tidak kunjung kembali, padahal dia sudah menunggunya sampai berjam jam lamanya. Pak Doni begitu khawatir hingga membangunkan rekannya Pak Budi untuk menggantikannya, sementara dia sendiri pergi menyusul Aira kearah minimarket yang gadis itu sebutkan.
Tapi saat sampai disana, tidak ada sosok nona mudanya. Saking khawatirnya dia bahkan sampai berkali kali memperlihatkan foto Aira pada kasir namun tetap saja mereka mengatakan jika tidak ada gadis yang seperti difoto yang berbelanja ditempat mereka.
Esok pagi...
Oma Tamara sedang duduk dimeja makan saat Alvian turun dengan pakaian formalnya. Sepertinya Oma memang sedang menunggu Alvian dan juga Aira untuk menikmati sarapan bersama.
"Kenapa wajahmu sangat kusut begitu Vian. Apa semalam kamu lembur lagi ?"
"Iya Oma, Vian semalam menyelesaikan proyek baru yang akan segera Vian selesaikan." Kilahnya menutupi kegalauannya, semenjak bangun pria itu belum sempat menengok Aira, dia masih takut dan juga masih merasa bersalah pada kekasihnya itu karena sikapnya semalam. Rencananya dia akan meminta maaf pada Aira selepas makan siang nanti.
"Kemana Aira tumben sekali sudah siang begini dia belum turun, ini tidak seperti biasanya Vian. Apa kamu tahu apa penyebabnya, coba tengok sana Oma khawatir takut dia sakit atau kenapa gitu." Perintah Oma Tamara pada Alvian.
"Dia masih tidur Oma, tadi Vian sempat menengok sebentar." Jawabnya jujur, memang tadi dia melongok sebentar karena pintu kamar yang terbuka sedikit, hingga Alvian bisa melihat tubuh Aira yang masih terbungkus selimut. Tanpa dia tahu jika itu adalah bantal dan guling yang disusun oleh Aira.
"Ya sudah, biarkan saja kalau begitu. nanti biar pelayan yang membawakan sarapan kekamarnya." Menghentikan sejenak ucapannya dan meneguk teh hijau miliknya. "Mungkin dia lelah setelah menjenguk temannya, apa semalam dia pulang agak larut ?"
"Darimana oma tahu kalau dia habis menemui temannya dan pulang malam ?" Tanya Alvian dengan wajah terkejut.
"Ya pasti oma tahu lah, Aira kan meminta ijin sama Oma sebelum dia berangkat. Tadinya dia ingin meminta ijin sama kamu, tapi kamunya buru buru pergi kata kamu ada meeting pagi. Makanya Oma menyuruhnya unyuk menelponmu saja, tapi ponselmu nggak bisa dihubungi. Dan akhirnya dia hanya mengabarimu lewat pesan, kok kamu kayak terkejut gitu sih Vian, emang kamu nggak lihat ponsel kamu hah."
Deg Deg
Jantung Alvian berdetak sangat kencang, tiba tiba wajahnya berubah pucat. Ya, dia belum sempat mengecek ponselnya, cemburu keburu menguasai akal dan pikirannya.
Memory tentang semalam kembali berputar layaknya sebuah kaset film, bagaimana dia yang memaki Aira dengan kata kata kasar, dan astaga dia ingat ucapannya yang pasti membuat gadis itu terluka kembali.
Sret
Brak
Suara kursi yang tertarik kebelakang disusul dengan suara jatuhnya kursi yang begitu keras terdengar saat pria tampan itu buru buru berlari kekamarnya, membuat jantung Oma Tamara seakan hendak copot. Tapi Alvian tidak perduli saat ini yang dia pikirkan hanya Aira, kekasihnya. Dia salah, yang dia sudah salah paham.
Dia mengingat bagaimana terlukanya wajah kekasihnya saat dia mengeluarkan kata kata kejam itu. Sorot mata Aira yang mendadak berubah kosong dan hampa pertanda bahwa gadis itu tidak baik baik saja.
Brak
"Sayang.." Panggilnya keras berusaha membuat gadis itu terbangun, tapi sayang tidak ada jawaban sama sekali, ruangan itu terlihat sunyi.
Tubuh tertutup selimut itu terdiam saja membuat Alvian memandangnya curiga. Dengan jantung berdebar pria itu berjalan pelan kearah tubuh yang tertutup selimut dengan pikiran yang sudah traveling kemana mana.
Sett
Tubuh kekar itu langsung melorot kelantai marmer ketika dia membuka selimut yang menutupi sosok yang dia kira Aira itu ternyata hanya sebuah guling dan bantal yang dijejer sesempurna mungkin.
Matanya memejam dengan hati yang sesak dan perih.
__ADS_1
"Sayang.." Gumamnya dengan perasaan bersalah yang membuncah dihatinya. " Maaf, tolong jangan pergi. Aku hanya emosi, kenapa kamu malah pergi meninggalkan aku."
Alvian terisak menyadari kesalahannya yang mengakibatkan kekasihnya pergi. Tubuhnya mendadak lemah seakan tidak ada tulang yang menyangganya. Hanya ada penyesalan dan penyesalan.
Plak
Sebuah tamparan keras melayang dipipi Alvian hingga terasa panas dan perih. Tamparan yang baru pertama kalinya diberikan oleh Omanya sepanjang dia hidup.
Oma Tamara adalah sosok yang lembut tapi tegas, dia tidak akan bertindak keras jika kesalahan yang dilakukan oleh orang itu tidaklah fatal. Dan melihat tamparan itu sudah sangat jelas jika kesalahan yang cucunya lakukan adalah sangat sangat fatal.
"Oma tidak percaya jika kamu mendadak berubah menjadi sangat bodoh Vian. Bagaimana kamu bisa mengatakan hal serendah itu pada calon istrimu sendiri hah. Bukan cuma Aira, Oma sendiri yang hanya mendengarnya saja merasakan sakit yang luar biasa. Apalagi gadis itu yang langsung menerima perkataanmu yang tidak kamu saring dulu itu."
"Oma, aku.."
"Apa ! Kamu mau bilang kalau kamu itu cemburu hah. Cemburu kamu itu tidak beralasan Vian. Harusnya kamu mencari tahu lebih dulu sebelum kamu menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar. Oma benar benar kecewa padamu Vian. Oh Airaku yang malang, pasti saat ini dia sangat terluka. Dan itu semua gara gara kamu Vian, gara gara sikapmu yang bodoh itu hingga membuat calon cucu menantu kesayangan oma pergi."
"Maaf Oma."
"Maaf saja tidak cukup Vian, pergi dan cari dimana dia. Bawa dia pulang bagaimanapun caranya, tapi Oma sendiri ragu dia akan ikut secara hatinya pasti begitu terluka dan ya pasti gadis itu sudah membencimu Vian." Ketus Oma Tamara yang langsung pergi kekamarnya meninggalkan Alvian terduduk disofa sendirian.
"Jangan berani memecat Pak Doni, dia tidak bersalah. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah kamu Vian, ya kamu, cucuku yang tampan tapi sayangnya bodoh." Imbuh Oma Tamara lagi sebelum dia masuk kedalam kamarnya.
Ya, setelah geger tadi pagi karena kabar hilangnya Aira, Pak Doni akhirnya memberanikan diri untuk maju dan menceritakan semua yang terjadi tadi malam dengan raut wajah ketakutan. Tadinya Alvian memang terlihat sangat murka, tapi melihat Oma yang melindungi satpam penjaganya itu membuat Alvian mengurungkan niatnya untuk menghajar pria paruh baya tersebut.
Alvian meraih ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya.
"Cepat cari gadis yang bernama Aira aku tunggu kabarmu sampai siang ini. Nyawamu ada ditanganku jadi cepat lakukan tugasmu dan jangan banyak bertanya." Perintahnya tegas dengan sorot mata dingin khas miliknya.
💕 💕 💕*
Satu minggu berlalu semenjak kejadian itu, Aira sudah bisa kembali menata hidupnya walau tidak mudah. Berbekal senyuman yang selalu menghiasi wajahnya tiap dia ditanya apakah dirinya baik baik saja.
Sungguh gadis itu sangat pandai menyembunyikan luka, bahkan pada Jiza dan juga kedua orangtua sahabatnya itu. Mereka begitu khawatir dengan kondisi Aira yang sudah mereka anggap sebagai putrinya itu.
"Kamu beneran nggak apa apa sayang." Tanya Mama Rani untuk kesekian kalinya sembari membelai sayang kepala Aira.
"Tidak apa apa ma, percayalah Ara baik baik saja." Jawab Aira dengan tersenyum manis.
Mama Rani mendesah pelan, kemudian menatap intens wajah gadis didepannya ini.
"Baiklah, tapi jika butuh apa apa jangan sungkan bilang ya. Kami semua disini selalu ada untukmu sayang, kami sangat menyayangi dirimu." Ucap Mama Rani dengan lembut.
Aira sontak menghambur kedalam pelukan Mama sahabatnya itu, dia meneteskan airmata haru karena ternyata masih ada oranglain yang sayang padanya.
"Makasih ma."
"Sama sama sayang."
Setelah kepergian Mama Rani, Aira kembali merenungkan nasib hidupnya yang selalu miris selama ini. Tapi hanya sebentar, setelah itu dia bersiap siap untuk pergi kerumah sakit tempat Sean dirawat selama ini.
Langkah kakinya yang tadinya pelan mendadak berubah kencang dan kini dia malah berlari dengan nafasnya yang ngis ngosan. Firasatnya buruk saat melihat wajah wajah panik didepannya. Suasana nampak tidak seperti biasa.
__ADS_1
Ada Tuan Andre dan Nyonya Silvi, Alex dan juga Jiza, namun yang membuat perasaannya tidak enak bukan masalah keberadaan mereka disana, tapi wajah wajah mereka yang terlihat suram. Bahkan Nyonya Silvi nampak berada dipelukan suaminya dengan isakan yang tertahan dan kedua matanya yang sembab.
"Mama ada apa ? Kenapa wajah kalian murung begini." Tanya Aira bertubi tubi.
"Sayang, kamu yang tabah ya." Jawab Nyonya Silvi yang hendak memeluk Aira. namun gadis itu mengelak.
"Ada apa ma ? Kenapa Ara harus tabah. Apa yang kalian sembunyikan dariku. Dan dimana kak Sean ? Apa dia baik baik saja." Cercanya terus menerus.
"Ra.."
"Kenapa kalian hanya diam saja. kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku hah." Teriaknya keras membahana, dia semakin merasakan firasat buruk melihat kediaman mereka semua dan juga tatapan sedih di mata mereka.
"Lex, kamu juga tidak mau mengatakan apapun padaku."
Pria itu mendesah, memandang kesemua orang yang nampak menganggukkan kepalanya. Dengan berat dia harus menyampaikan kabar ini pada Aira.
"Ra...Sean."
"Ada apa dengannya."
"Sean..sudah tidak ada Ra, 30 menit yang lalu dia menghembuskan nafasnya yang terakhir."
Aira membeku dengan pandangan mata kosong, hatinya sesak seperti dihimpit sebuah batu besar dan berat. Dia merasakan sesak nafas hingga lambat laun pandangannya pun memburam dan akhirnya...
Bruk
Tubuh itu langsung roboh kelantai dengan kedua mata yang terpejam. Membuat semua orang yang disana histeris dan langsung berlari kearahnya.
"Aira !"
***
Sementara itu...
Brak
"Tuan.."
"Bian sudah kukatakan untuk mengetuk pintu sebelum kau masuk keruangan bosmu hah. Apa kau tuli." Sentak pria tampan itu dengan wajah memerah karena amarah, tatapannya nyalang tertuju pada sang asisten yang sudah lancang masuk keruangannya tanpa seijinnya.
"Tidak ada waktu Tuan, anda harus mendengar ini." Jawabnya tanpa takut pada sang atasan sekaligus kakak sepupunya itu.
"Katakan, awas saja jika kabar yang kau bawa itu tidak penting, akan kutendang kau kekutub selatan sana." Ancamnya yang tidak membuat Bian merasa takut.
"Kak." Kali ini panggilannya berubah tidak formal. " Tuan Sean meninggal."
Pandangan mata yang tadinya tertuju pada laptop didepannya mendadak langsung berubah haluan kearah adik sepupunya itu. Terkejut pasti dia terkejut dengan berita yang di bawa oleh Bian.
"Bagaimana dengan Aira."
"Kakak ipar pingsan dan belum sadar sampai sekarang."
__ADS_1
TBC