
"Stop..hentikan."
Cleo memekik ketakutan dengan wajahnya yang semakin memucat seputih kapas. Segala cara sudah dia lakukan untuk menghentikan Bian, tapi sepertinya pria itu benar benar akan berbuat nekad.
Cleo kembali menjerit saat pria itu sudah menurunkan sebagian gaunnya kebawah hingga pundak dan bahunya yang putih dan mulus terekspos dengan sempurna hingga membuat sesuatu yang ada didalamnya menonjol keluar.
Bian masih meneruskan aksinya untuk membuat gadis dibawah kungkungannya itu menyerah dan akhirnya menuruti semua kemauannya. Kali ini bukan hanya tangannya yang berkelana tapi wajahnya pun mulai ikut mendekat.
"Bagaimana masih tetap tidak ingin tinggal disini ?" Bisiknya ditelinga Cleo dengan suara yang mendayu menggoda iman.
"Tidak." Jawabnya tegas dengan kepala yang masih betah menoleh kearah samping.
"Kau yakin ?" Seringainya dengan jari telunjuk tangan yang mulai bergerilya memindai tubuh wanitanya yang seketika membuat Cleo langsung panik kembali.
"Oke..oke..aku akan tinggal disini." Pekiknya kemudian.
Bian tersenyum puas sambil terus memindai wajah ayu wanitanya. Dan itu membuat Cleo semakin risih karena pria itu yang tidak kunjung beranjak pergi dari atas tubuhnya.
"Menyingkirlah dari tubuhku, bukankah aku sudah menuruti keinginanmu." Ketusnya yang merasa jengah dengan kelakuan pria yang namanya selalu memenuhi ruang hatinya itu.
"Dengan senang hati sayang, tapi setelah..." Bian menghentikan kata katanya dengan pandangan mata penuh mencurigakan.
"Setelah apa." Gadis itu malah bertanya dengan tampang polos yang membuat Bian merasa diatas angin.
"Setelah ini." Bisiknya lirih ditelinga Cleo lalu secepat kilat membungkam bibir wanitanya dengan bibirnya.
Cleo membelalak dengan tubuh yang membeku kaku mendapat serangan mendadak dari pria yang saat ini masih menguasai tubuhnya. Sesaat setelah kesadarannya kembali, gadis itu memberontak kuat dengan memukul punggung Bian berkali kali.
"Hah..hah...kau ! Beraninya menciumku." Hardiknya setelah Bian melepas ciumannya.
"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini kalau kau mau sayang." Godanya sembari tersenyum jahil.
Cleo melotot hingga kedua matanya seakan ingin keluar.
"Kau !"
Bian tergelak sembari turun dari ranjang menuju kamar mandi. Meninggalkan Cleo yang masih meratapi hilangnya keperawanan bibirnya karena ulah pria yang mendadak berubah mesum tersebut.
Bibirku, ciuman pertamaku
__ADS_1
"Bian sialan." Umpatnya sembari memukul mukul bantal yang ada dipangkuannya.
Sementara itu dikamar mandi Bian nampak mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dia harus mendinginkan sesuatu yang memanas di dalam dirinya. Sebuah hasrat yang tiba tiba muncul tanpa bisa dia kendalikan. Untung saja dia masih bisa menahannya, hingga hal hal yang tidak diinginkan bisa dia hindari.
"Sial." Rutuknya pada dirinya sendiri yang justru malah tergoda pada tubuh Cleo.
Niatnya yang tadi hanya ingin mengerjai Cleo kini malah dirinya sendiri yang justru terjebak dengan perbuatannya.
"Oh my Cle." Desahnya saat sesuatu yang sedari tadi membuatnya gelisah dan pusing kini sudah tertuntaskan walau hanya dengan membayangkan wajah cantik Cleo.
*
*
*
Sementara itu...
Sepasang suami istri nampak terkulai lemas diatas pembaringan dengan tubuh yang bermandikan keringat dan nafas yang masih naik turun. Bahkan nampak sekali sang wanita yang mulai memejamkan matanya karena kelelahan dengan ulah suaminya yang tidak habis habisnya menggempur dirinya.
Aira, mulai terlelap dalam pelukan hangat Alvian tanpa memperdulikan tubuhnya yang lengket. Wanita itu benar benar merasa lelah, setelah seharian mengurus baby twin dan malamnya memanjakan suami tercinta.
"Maaf sudah membuatmu lelah sayangku." Bisik Alvian di telinga istrinya dengan penuh cinta.
"Hmm..mas." Lirihnya hampir tidak terdengar.
"Apa."
"Aku lapar." Katanya dengan mata terpejam.
Alvian terkekeh lalu menepuk keningnya. Saking semangatnya dia berolahraga sampai lupa memberi makan sang istri.
"Maaf sayang, mas lupa kalau kamu belum makan. Mas akan membuatkanmu makanan."
Aira mengangguk lemah, sungguh tubuhnya sangat lemah dan gemetar. Bahkan sekedar mengangkat tangannya saja dia seakan tidak mampu.
Alvian bergegas memakai celana pendek dan kaos putihnya yang tergeletak dilantai. Senyum puas masih terlihat jelas diwajahnya yang tampan. Bayangan pelayanan sang istri yang selalu membuatnya ketagihan dan ingin lagi dan lagi.
Alvian merasa puas karena Aira selalu bisa memuaskan keinginannya diatas ranjang. Bahkan pelayanan wanita itu tidak pernah satu kali saja berubah, dari dulu selalu memuaskan.
__ADS_1
Beruntung saja baby twin sudah terlelap dan tidur anteng. Tentunya dengan ditemani oleh pengasuhnya yang sengaja Alvian suruh untuk tidur dikamar si kembar.
Ya, Alvian akhirnya memutuskan untuk mengambil jasa pengasuh demi membantu sang istri yang nampak kewalahan merawat baby twin. Walau awalnya Aira menolak namun akhirnya mau tidak mau wanita itu menyetujui keputusan suaminya saat dua hari yang lalu dia jatuh pingsan karena kelelahan.
Dengan senyum mengembang, Alvian membawa sepiring nasi goreng buatannya untuk sang istri tercinta. Sesampainya didalam kamar, pria itu membangunkan sang istri yang masih tergeletak lemah diatas ranjang.
"Sayang, ayo makan." Ajaknya sembari mengusap pipi Aira dengan lembut.
Aira bangun lalu duduk bersender di sandaran headboard. Tubuhnya yang polos hanya tertutupi selimut tebal. Rambut lurusnya yang panjang dibiarkan acak acakan.
"Mas, suapin." Rajuknya dengan suara manja.
Alvian tersenyum lalu mengecup singkat bibir istrinya.
"Baiklah, karena kamu sudah membuatku puas maka sekarang gantian mas yang akan memanjakan istri tercintaku ini." Ujarnya lembut namun mampu membuat semburat merah muncul dipipi Aira.
Dengan telaten dan penuh kesabaran, Alvian menyuapi sang istri yang nampak lahap sekali menikmati makanannya. Pria itu merasa hidupnya kini semakin lengkap dengan adanya Aira dan juga bayi kembarnya.
Kehadiran ketiga orang yang sangat dicintainya itu mampu mengisi hatinya yang kosong dan hampa. Dia yang sejak kecil sudah kehilangan adik dan kedua orangtuanya. Dan hanya hidup bersama dengan Oma Tamara, secara perlahan kekosongan dihatinya mulai terisi dengan hadirnya Aira dan kedua anaknya.
Alvian berjanji pada dirinya sendiri dia akan mencurahkan kasih sayang yang lebih untuk kedua anaknya. Mengingat dirinya yang dulu kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya karena kepergian mereka untuk selama lamanya.
Tapi bukan berarti dia akan memanjakan kedua anaknya, dia akan memberikan kasih sayangnya sesuai porsi dan takarannya.
Alvian masih menatap penuh cinta sang istri kesayangannya yang kini semakin bertambah cantik dimatanya. Walaupun sudah melahirkan dua orang anak, tapi tubuh Aira masih sangat bagus dan seksi. Tidak ada satupun bagian tubuhnya yang kendor, semuanya masih terasa kencang dan berisi.
"Terima kasih." Ucapnya tiba tiba sembari merapikan rambut istrinya yang acak acakan karena ulahnya.
Aira mengernyit lalu memberi tanda dengan kepalanya seakan bertanya apa maksud dari ucapan suaminya itu. Seakan mengerti dengan maksud istrinya, Alvian tersenyum kemudian mengecup kening Aira dengan lembut. Kedua tangannya yang besar menangkup wajah cantik istrinya dengan mata yang memancarkan sarat akan cinta yang begitu besar disana.
"Terima kasih sudah hadir didalam hidupku dan melengkapi semua kekuranganku. Menerima diriku dan masa laluku yang begitu buruk. Kamu membuatku merasa menjadi sosok laki laki yang dibutuhkan oleh orang lain. Kamu membuatku sadar jika cinta mampu membuat kebencian memudar dan berganti menjadi maaf. Kamu sudah membuat keluargaku yang terpecah belah kini sudah kembali damai dan bersatu.
Terima kasih banyak sayang, terima kasih. Sungguh kebaikan hatimu mampu membuat semua orang menjadi lebih baik. Dan aku sangat bangga bisa mendapatkan dirimu. Kalian bertiga adalah nyawaku, nafasku dan hidupku. Tanpa kalian hidupku ini tidak ada artinya sama sekali. Aku mencintai kalian semua, kamu dan anak anak kita."
Tes
Air mata wanita cantik itu menetes dengan tidak tahu malu dan tidak terkontrol saat mendengar kalimat kalimat yang diucapkan oleh bibir suaminya. Dengan cepat dia menghambur kedalam pelukan suaminya tanpa perduli dengan piring didepannya yang masih ada sisa maakanan kini tumpah mengotori tubuh dan tempat tidur.
"Aku mencintaimu mas, sangat mencintaimu."
__ADS_1
TBC