
Pagi hari.....
Seperti rencananya tadi malam, pagi ini Cleo memutuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit lebih pagi. Tidak lupa dia meminta ijin pada Ricko bahwa hari ini dia datang terlambat kekantor.
Tepat pukul 8 pagi, Cleo tiba di pelataran Rumah Sakit Permata. Gadis itu menghirup udara dalam dalam mencoba menghilangkan perasaan gugup yang tiba tiba melandanya. Bahkan debaran jantungnya semakin kencang saat dia tiba didepan ruangan Dokter Haris, Dokter spesialis Jantung yang terkenal akan kejeniusannya.
"Cleo ?" Panggil asisten Dokter Haris yang berjaga tepat didepan ruang kerja sang Dokter.
"Kak Hani ? Apa kabar ?" Sambutnya dengan wajah sumringah.
Kedua orang itu langsung berpelukan layaknya seorang teman. Ya, karena seringnya Cleo berobat bahkan gadis itu menjadi pasien tetap sang Dokter sampai membuat keduanya saling mengenal dan akrab. Bahkan Hani sangat menyayangi Cleo, dia sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri.
"Aku baik Cle. Ada apa ? Apa jantungmu bermasalah lagi ?" Tanyanya sirat dengan rasa khawatir yang begitu besar.
Melihat kekhawatiran Hani, Cleo hanya tersenyum tipis. Kemudian tangannya menggenggam tangan Hani dengan perasaan tulus.
"Aku baik baik saja kak, hanya saja aku ada sedikit urusan dengan Dokter Haris. Apa beliau sibuk kak ?"
"Oh, syukurlah kalau kamu nggak apa apa. Kakak sempat panik tadi." Mengurut dadanya lega. "Dokter Haris ada didalam, kebetulan belum ada pasien lagi jadi kamu bisa langsung masuk aja." Lanjutnya.
Cleo mengangguk kemudian berjalan menuju arah pintu ruangan Dokter Haris dengan gugup. Tangannya nampak gemetar dengan keringat dingin yang membasahi kedua telapak tangannya.
****
Cleo berjalan lesu keluar dari pelataran Rumah Sakit. Gadis itu nampak kehilangan semangat dalam hidupnya. Satu satunya orang yang dia harapkan nyatanya sama sekali tidak bisa membantunya.
Wajah Cleo nampak murung mengingat bagaimana Dokter Haris tadi berucap. Nyatanya Dokter Haris juga tidak tahu siapa idenditas sang pendonor, karena saat dia hendak menemui orang tersebut dia kehilangan jejak. Keluarga pendonor itu sudah membawa jenazah orang yang sudah mendonorkan jantungnya kepada Cleo dan menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
Saat dia bertanya pada bagian informasi, dia juga tidak mendapatkan apapun. Karena pihak keluarga ternyata juga menyembunyikan identitas sang pendonor.
Dokter Haris tidak bisa berbuat apa apa, karena bukan dia Dokter Bedah yang mengoperasi pendonor. Saat itu dia juga sedang ada operasi salah satu pasiennya. Bertanya pada Dokter yang membedah pun percuma, karena Dokter tersebut sudah lupa dengan wajah sang pendonor yang hanya dilihatnya sekilas.
Kini tidak ada harapan lagi untuk Cleo, dia merasa semua jalan yang dia lalui menemui jalan buntu. Semangat yang tadi malam sempat membara kini perlahan menyurut.
Aku harus berbuat apa lagi ? Ya Allah kumohon bantu aku
Dengan langkah lesu Cleo berjalan keluar dan berdiri dipinggir jalan. Raut wajahnya yang cantik nampak sangat suram dan murung. Bahkan dia melewatkan sebuah Taxi yang dia tunggu tunggu karena saking asiknya dia melamun.
Hingga akhirnya datang sebuah mobil sport warna merah yang langsung berhenti disisi jalan. Seorang pria turun kemudian berjalan menghampiri Cleo yang masih asik dengan dunia lamunannya itu.
"Cle, ayo aku antar." Sapa pria itu yang ternyata adalah Bian.
Cleo mendongak antara sadar dan tidak, pandangan matanya kosong. Membuat Bian yang menatapnya mendesah berat.
Pelan tapi pasti Bian menarik tangan Cleo menuju mobilnya tanpa perlawanan dari gadis itu. Sejenak Bian mengrenyit bingung dengan sikap Cleo. Tidak biasanya gadis itu menurut dan ikut dengannya tanpa ada perlawanan sama sekali.
Ya, Dokter Haris ternyata hanya berpura pura tidak tahu demi memenuhi janjinya pada Amira yang memintanya untuk merahasiakan hal ini pada adiknya apapun yang terjadi. Tadinya Dokter Haris merasa keberatan, karena bagaimanapun Cleo harus tahu siapa yang sudah berkorban untuknya.
Dokter itu hanya takut jika suatu saat Cleo malah mengetahui rahasia ini dari orang lain dan tentunya itu akan berefek buruk pada kesehatannya. Namun karena rengekan dan bujukan Amira yang terlihat sangat memprihatinkan membuat Dokter Haris mau tidak mau harus menuruti keinginan Amira. Dan berharap semoga kelak semuanya akan baik baik saja.
Dan Bian yang panik tadi langsung dengan cepat memutar mobilnya kembali menuju kearah Rumah Sakit. Oria itu gelisah dan berharap semoga keadaan gadis itu baik baik saja.
Bian melirik kearah Cleo disebelahnya yang terlihat seperti mayat hidup. Pandangan mata gadis itu kosong menatap lurus kedepan. Bahkan rengekan manja gadis itu sama sekali tidak terlihat hari ini.
Entah kenapa hati Bian ikut merasa nyeri melihat Cleo yang seperti ini. Sejujurnya dia sangat menyukai seorang Cleo yang selalu memberontak dan cerewet. Dia merindukan Cleonya yang seperti dulu.
__ADS_1
Cleonya ? Ya, akhirnya Bian sadar jika selama ini dia sudah mencintai gadis ini. Semenjak kepergian Alvian semalam, pria muda itu banyak merenung hingga dini hari. Dan setelah itu dia mulai menyadari jika dia teramat mencintai Cleo.
Dan sekarang tugas dia adalah meminta maaf padanya atas semua kesalahannya yang selama ini dia lakukan pada Cleo. Bian juga memutuskan untuk mengejar cinta gadis itu yang selama ini dia sia siakan.
Mobil yang dilajukan Bian sampai di depan apartemen miliknya. Hari ini dia memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor dan melimpahkan pekerjaannya pada Ricko. Dan tentu saja dia sudah menghubungi asistennya itu. Tidak lupa dia juga mengatakan kalau Cleo tidak bisa masuk kerja karena sedang sakit.
"Ayo masuk." Ajaknya pada gadis yang masih betah dengan kebisuannya.
Cleo yang mulai sadar secara oerlahan menatap bangunan yang dia rasa asing. Ini bukan bangunan kantornya tapi bangunan mirip sebuah apartemen.
"Kau mau bawa aku kemana kak ?" Tanyanya dengan kening berkerut.
Bian tersenyum dan itu pertama kalinya Cleo melihat senyuman Bian untuknya setelah kematian kakaknya.
"Jangan banyak bertanya, ikut saja." Kata Bian sembari menarik lembut tangan Cleo.
Gadis itu menurut tanpa sedikitpun memberontak seperti yang dia lakukan sebelum sebelumnya. Entah kenapa semenjak kepulangannya dari Rumah Sakit, tubuhnya mendadak lemah dan tidak bertenaga.
"Aku capek kak, ingin istirahat. Bolehkah aku ijin cuti kerja satu hari saja ?" Keluhnya dengan wajah muram.
Bian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap wajah Cleo yang sedikit pucat. Tanpa berbicara panjang lebar, pria itu mengangkat tubuh Cleo ala bridal style dan membawanya menuju pintu lift.
Sementara Cleo yang tidak menduga jika Bian akan melakukan hal seperti itu, hanya bisa pasrah tanpa sedikitpun melawan. Tubuhnya benar benar sangat lelah dan lemah. Dan kini dia hanya bisa berpegangan pada leher kokoh Bian dengan kepala yang sudah bersender didada bidang Bian.
"Kenapa kau menggendongku kak ?" Tanyanya dengan suara lirih setelah itu Cleo nampak terlelap di dalam gendongan Bian.
Melihat jika gadisnya terlelap membuat Bian menghela nafas dalam. Menatap wajah ayu yang nampak pucat kini sedang terlelap dalam tidurnya. Terlihat sekali gurat kelelahan dan kesedihan di urat urat wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, mulai sekarang aku berjanji akan membuatmu bahagia." Bisiknya lirih ditelinga Cleo.
TBC