Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Menguak Masa Lalu Barra Nugraha


__ADS_3

"Selamat pagi sayang."


Mata indah itu mengerjap perlahan saat telinganya mendengar suara maskulin milik suaminya. Namun rasa kantuknya masih terasa berat dimatanya, apalagi ditambah dengan pelukan erat suaminya yang terasa hangat dan menenangkan. Semakin membuat Aira enggan untuk bangun dan kembali memejamkan matanya sembari menelusupkan kepalanya didada bidang suaminya yang polos.


Alvian terkekeh pelan melihat istrinya yang malah semakin menelusup padanya, dengan gemas pria itu menciumi seluruh wajah istrinya tanpa ada satupun yang terlewati.


"Bangun baby."


"Ih diem sih mas, aku masih ngantuk." Jawabnya dengan suara serak.


"Bangun dulu, mandi terus sarapan, nanti dilanjut tidurnya."


"Tapi aku masih ngantuk mas."


Alvian akhirnya membiarkan istrinya kembali tidur, mungkin membiarkannya tidur satu jam lagi tidak masalah. Pasalnya dia tahu jika istrinya itu baru tidur tadi jam 4 pagi setelah semalaman penuh melayaninya.


"Baiklah, lanjutin tidurnya, mas mau pergi kekantor dulu ada sedikit pekerjaan dikantor. Mas usahain pulang cepat ya."


Aira tidak menjawab hanya bergumam sebentar setelah itu kembali lelap dalam tidurnya. Alvian tertawa kecil melihat istrinya yang sepertinya sudah tidak mampu menahan kantuknya. Setelah menyelimuti Aira, pria itu lalu melangkah keluar kamar dan menuju pintu keluar apartemen.


Alvian melajukan mobilnya menuju kantor milik papanya yang saat ini berada dibawah kekuasaan Om Adi Nugraha, papa Bian. Setelah sampai disana dia langsung naik lewat lift khusus para petinggi menuju keruangan Om Adi.


"Om.." Sapanya saat dia sudah berada didalam ruangan presdir.


"Al, kau sudah datang." Sambut Om Adi sembari bangun dari duduknya.


"Ada apa Om, tidak seperti biasanya Om memanggil Vian, apa terjadi sesuatu ?"


Om Adi tersenyum.


"Duduklah kita tunggu Bian dulu, dia akan segera kemari."


"Bian ?" Tanyanya dengan kening berkerut.


"Pa, kak Vian."


Kedua orang itu menoleh serentak kearah pintu dimana cowok tampan yang masih sangat muda berdiri disana.

__ADS_1


"Duduklah."


Alvian semakin merasa bingung, pasti telah terjadi sesuatu sehingga membuat Om nya itu memanggilnya sedemikian rupa.


"Om tahu kamu pasti bingung Vian."


Tuan Adi menghela nafas panjang sebelum akhirnya memulai pembicaraan.


"Vian ada satu rahasia besar yang selama ini Om simpan rapat rapat. Dan Om rasa ini sudah saatnya Om menceritakan semuanya padamu. Ini tentang kedua orangtuamu, dan perusahaan papamu."


"Rahasia apa Om."


"Tapi Om harap apapun yang Om ceritakan bersikap tenanglah dan jangan gegabah."


Alvian mengangguk dan mulai serius mendengarkan cerita Omnya.


"Semua berawal setelah kepergian kedua orangtuamu. Waktu itu kamu masih berumur 10 tahun saat Oma kamu memutuskan menyerahkan perusahaan papamu pada Om."


18 Tahun yang lalu...


Setelah kepergian anak dan menantunya karena kecelakaan, Tamara tidak bisa lagi menyimpan kesedihan hatinya. Putri yang teramat dicintainya dan hanya satu satunya orang yang dia punya setelah kepergian suaminya dulu, kini juga pergi meninggalkan dirinya dan juga cucu laki lakinya.


Menantunya Barra pergi dengan meninggalkan sebuah warisan berupa perusahaan dan juga beberapa aset lainnya untuk Alvian, hasil dari jerih payahnya selama ini. Dulu saat menikah dengan putrinya, Barra adalah seorang pria biasa yang tidak membawa uang sepeserpun.


Barra sebenarnya adalah putra kedua dari pasangan suami istri keluarga Nugraha. Putra pertamanya adalah Erick Nugraha dan adik bungsunya Adi Nugraha.


Keluarga Nugraha adalah keluarga pengusaha ternama, dan sangat menjunjung tinggi norma aturan yang begitu ketat. Entah itu pergaulan, pendidikan ataupun masalah jodoh untuk anak anaknya. Mereka harus tahu bibit, bebet dan bobot calon menantu mereka.


Erick, sang kakak pertama selalu menuruti kemauan orangtua mereka, diapun menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh kedua orangtuanya. Hidup dalam aturan dan terkekang membuat seorang Erick tumbuh menjadi pria yang ambisius dan licik. Menghalalkan segala cara demi tercapai tujuannya.


Berbeda dengan sang kakak, Barra justru pria yang tidak suka mengumbar umbar kemewahan, karena dia merasa apa yang dia punya saat ini adalah milik orangtuanya. Makanya saat dia dijodohkan dengan gadis pilihan kedua orangtuanya dia langsung menolak mentah mentah.


Barra yang saat itu sudah mempunyai seorang kekasih menolak keras kemauan orangtuanya, dan mengatakan jika dia sudah mempunyai calon sendiri. Walaupun calonnya bukan berasal dari keluarga kaya, tapi dia sangat mencintainya.


Tania Siregar, gadis cantik dengan tutur kata lembut dan mempunyai kesopanan yang tinggi, selalu mendahulukan kebahagiaan orangtuanya sebelum kebahagiaan dia sendiri. Gadis itu bahkan tidak pernah sekalipun melawan perintah dan perkataan orangtuanya.


Tuan Denny Nugraha selaku papanya Barra merasa penasaran dengan sosok kekasih dari putranya. Dan pria paruh baya itu mulai menyelidiki gadis yang membuat putranya itu untuk pertama kali menentangnya.

__ADS_1


Dan betapa murkanya saat dia tahu jika kekasih Barra hanyalah orang miskin bahkan bekerja disebuah Club malam. Walaupun hanya sebagai pelayan saja, tapi tentu saja hal itu pasti akan membuat citranya menjadi buruk.


Dan beberapa hari kemudian dia melakukan berbagai cara untuk memisahkan keduanya, namun usahanya selalu gagal. Pasalnya Barra yang sudah tahu hal itu akan terjadi, diam diam dia menyewa beberapa bodyguard untuk melindungi kekasihnya dari jarak jauh.


Tuan Denny semakin murka, dia menceritakan semuanya pada istrinya, Lusi Nugraha. Dan kali ini dia membiarkan sang istri yang memberskan semuanya.


Hingga pada suatu hari dimana itu adalah awal dari permasalahan ini terjadi hingga sekarang. Nyonya Lusi menjebak Tania dengan memberikan gadis itu mimunan yang sudah dia campuri obat tidur. Dan setelah gadis itu pingsan dia langsung membawanya kehotel dimana disana sudah menunggu orang bayarannya untuk melakukan tugasnya.


Namun lagi lagi usaha wanita itu gagal, karena kali ini Adi sang adik bungsu datang menyelamatkan calon kakak iparnya. Adi yang tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua orangtuanya, bertekad untuk membuntuti ibunya dan menolong Tania.


Tidak perduli jika nanti orangtuanya akan mengamuk padanya, saat ini yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan masa depan kakak tercintanya. Adi langsung menghajar orang bayaran mamanya tepat ketika pria itu hendak melucuti pakaian Tania. Namun sebelum dia masuk Adi sempat menelpon kakaknya dan mengatakan semuanya.


Mendengar hal itu tentu saja Barra sangat murka, kali ini orantuanya sudah keterlaluan. Bagaimana bisa mamanya yang dia kenal dengan sifat keibuannya mempunyai pemikiran untuk merusak seorang gadis.


Dengan wajah yang memerah karena amarah yang begitu besar, Barra pulang kerumah orangtuanya. Setelah sebelumnya dia menyuruh Adi untuk membawa Tania ketempat yang lebih aman. Hari ini dia akan menyelesaikan semuanya.


Mobil yang dikendarai Barra sudah masuk dipelataran rumah papa dan mamanya. Dengan emosi dia langsung keluar dan berjalan menuju rumah mengabaikan beberapa artnya yang menyapa ramah padanya.


Dan wajahnya semakin memerah saat dia melihat kedua orangtuanya sedang tertawa bahagia seakan tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun. Keduanya asik bercengkerama dengan seorang gadis yang mengenakan pakaian kurang bahan.


"Barra kamu pulang sayang, sini duduk. Kebetulan ada Cindy datang, dia pengen ketemu kamu loh, kangen katanya." Sambut Nyonya Lusi dengan wajah sumringahnya.


Cindy hanya tersenyum dengan wajahnya yang memerah karena malu mendengar ucapan calon mertuanya itu. Ya, dia gadis yang hendak dijodohkan oleh orangtuanya untuk dirinya. Gadis yang berprofesi sebagai seorang desainer ternama, gadis angkuh dan sangat ambisius sama seperti kakaknya, Erick.


Namun rupanya orangtuanya tidak mengetahui sifat asli gadis itu, karena Cindy terlalu pintar untuk menyembunyikannya.


Barra mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, melihat bagaimana orangtuanya yang masih bisa santai setelah apa yang mereka lakukan pada Tania, kekasihnya. Lebih emosi lagi saat melihat kedatangan wanita ular dirumahnya.


"Apa yang mama lakukan pada Tania."


Raut wajah Nyonya Lusi langsung berubah saat mendengar tuduhan putranya, namun sesegera mungkin wanita itu menutupi raut wajah terkejutnya.


"Apa maksudmu nak ? Mama tidak melakukan apapun." Jawabnya pura pura tidak tahu.


Barra tersenyum sinis, pandangannya tertuju pada sang papa yang terlihat duduk santai.


"Berhenti berpura pura seakan tidak tahu apa apa ma. Mama pikir aku bodoh sehingga tidak tahu apa yang mama lakukan pada Tania. Barra sungguh tidak menyangka dibalik sikap lembut mama tersimpan sifat yang mengerikan seperti monster."

__ADS_1


"BARRA !"


TBC.


__ADS_2