Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Bertemu


__ADS_3

Mobil sedan mini cooper milik Alvian sudah sampai didepan Mall T*****k, setelah memarkirkan mobilnya tersebut Alvian keluar lalu dengan mesra menggandeng pinggang ramping milik Aira dengan sangat posesif.


"Mas, jangan begini ah, malu tahu dilihat banyak orang ini." Bisik Aira ditelinga Alvian.


Bagaimana tidak malu, saat ini mereka menjadi pusat perhatian banyak orang. Selain karena mereka memang pasangan yang serasi, yang cowok sangat tampan dan berkharisma, sementara yang perempuan cantik bak bidadari, dan jangan lupakan dengan sikap posesif Alvian yang malah semakin membuat mereka terkagum kagum.


"Ngapain malu sayang kita nggak telanjang ini." Jawab Alvian santai dengan tangan kanan masih memeluk erat pinggang Aira.


Aira sendiri kini sudah tidak mampu lagi berkata apapun, dia begitu teramat malu dan gadis itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah didada bidang Alvian.


Namun saat matanya tanpa sengaja menatap pada segerombolan mahasiswi yang sedang berbisik bisik dengan tatapan mata penuh memuja pada Alvian, dengan segera gadis itu memasang wajah masam. Dan tanpa berkata apapun dengan sigap Aira melepaskan tangan Alvian yang memeluk erat pinggangnya dengan kasar.


Alvian yang terkejut dengan sikap kekasihnya yang secara tiba tiba menghempaskan tangannya, kini semakin terkejut dengan aksi selanjutnya yang dilakukan oleh Aira. Gadis itu tiba tiba berhenti lalu menghadap kearah Alvian yang juga ikut menghentikan langkahnya, menatap manik mata hitam milik Alvian dengan senyuman penuh makna, membuat hati pria itu seketika merasakan perasaan tidak enak.


Cup


Alvian melotot sempurna saat dengan nekad Aira mengalungkan kedua tangannya dilehernya lalu mencium bibirnya dengan cepat. Bahkan gadis itu juga bermain main dengan bibirnya dalam durasi yang agak lama.


Alvian yang tadinya terkejut kini mulai tersadar akan penyebab gadis itu yang tiba tiba menciumnya. Dan dugaannya sepertinya benar saat telinganya mendengar suara teriakan histeris para gadis gadis muda yang sedang berkumpul dijung sana. Ah, ternyata Alvian mengerti sekarang, dan diam diam pria itu tersenyum tipis.


Tidak ingin menyia nyiakan kesempatan langka, dengan cepat pria itu merengkuh pinggang Aira dengan kirinya sementara tangan kanannya menekan leher kekasihnya untuk memperdalam ciuman mereka. Bahkan kini Alvianlah yang mengambil alih posisi kemudi.


Mereka terus berciuman tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya yang bahkan ada yang sampai mengumpati mereka.


"Astaga mereka benar benar tidak punya malu. Berbuat mesum ditempat terbuka."


"Aaahhh..mata suciku ternoda."


"Pria tampanku."


"Hatiku patah melihat mereka."


Dan masih banyak lagi bisikan bisikan yang terus keluar dari bibir mereka yang menatap kelakuan Alvian dan Aira saat ini. Aira nampak puas saat dia melihat wajah wajah kesal para gadis itu. Hingga suara deheman seseorang menyadarkan mereka berdua.


"Mas, mbak kalau mau berbuat mesum ya jangan disini napa. Mending cari kamar hotel sana, nggak sopan. Ini Indonesia bukan luar negeri." Ucap dua orang satpam dengan sorotan mata tajamnya mengarah pada dua insan ini.


Aira yang sadar akan tingkahnya mendadak menundukkan kepalanya kemudian berdiri berlindung dibelakang punggung Alvian, membuat alis pria itu sedikit terangkat. Sungguh hati gadis itu sangat malu, dan dia merutuki kebodohannya yang hanya karena cemburu membuatnya melakukan hal yang sangat memalukan itu.


Sementara Alvian hanya tersenyum dengan menatap santai kedua satpam tersebut. Tidak ada rasa takut didalam hati pria itu.


"Maaf pak, kami tahu kami salah, tapi gimana lagi ya, istri saya sedang hamil dan dia sedang ngidam ingin berciuman didepan orang. Tadinya saya nggak setuju tapi kan bapak tahu sendiri wanita hamil seperti apa kalau ngidamnya nggak dituruti. Bisa bisa anak saya nanti ecesan loh, bapak juga punya istri kan ? Pasti dulu istrinya bapak pernah ngidam juga kan." Ucap Alvian panjang lebar membuat kedua satpam itu manggut manggut.

__ADS_1


"Benar, wanita hamil memang aneh, dulu istriku juga ngidam aneh, masa dia pengen dielus elus sama bapak kepala desa yang masih muda dan ganteng coba, kan aku jadi kalang kabut. Untung pak Kadesnya mau." Ucap salah satu satpam yang berkumis.


"Aku juga,, itu masih mending, lah istriku dulu ngidam paling aneh. Masa dia minta dicariin benih ikan yang masih kecil kecil itu dan harus dapet pula. Setelah dapet aku pikir mau dimasak atau apa, nyatanya cuma mau dipake buat mainan saja." Jawab yang satunya lagi.


Kini mereka malah saling curhat tentang masalah istri istri mereka pada saat hamil, membuat Alvian menggaruk tengkuknya dengan tersenyum masam.


Lah, kenapa mereka jadi saling curhat begini.


"Ehmm, baiklah pak apa boleh kami melanjutkan perjalanan kami."


Tersadar kedua satpam itu langsung menoleh kemudian memasamg wajah ramah.


"Silahkan mas, yang sabar ya ngadepin istrinya yang lagi hamil. Ya sudah berhubung karena istri mas nya sedang hamil, jadi kami memaafkan kelakuan kalian berdua. Aduh ada ada saja, untung anak anda tidak meminta untuk sekalian telanjang disini ya mas. Bisa berabe nanti." Lawak satpam yang berkumis tadi.


Mata Alvian membola, namun kemudian dia memberikan senyuman miring.


Wah ni satpam bener bener minta dilakban mulutnya , ember bener. Umpat Alvian dalam hati.


Setelah berpamitan pada mereka Alvian lalu membawa Aira yang masih menundukkan kepalanya berlalu dari tempat itu dan melanjutkan langkahnya lagi. Dan didalam perjalanan, pria itu membisikkan kata kata ditelinga Aira yang langsung membuat gadis itu semakin menunduk saking malunya.


"Aku suka jika kamu cemburu, apalagi dengan yang kamu lakukan barusan. Nanti kalau sudah menikah kamu harus lebih agresif lagi padaku ya." Goda Alvian lalu mengecup sensual daun telinga Aira.


Alvian terkekeh, lalu segera mengajak Aira untuk meninggalkan tempat itu supaya gadisnya itu tidak merasakan malu yang begitu besar. Bagaimanapun saat ini mereka berdua menjadi tontonan gratis banyak orang.


Keduanya akhirnya sampai dilantai 3 mall tersebut, dimana dilantai itu menjual produk produk bermerk kalangan atas. Dan sepertinya Aira sudah kembali bersikap normal, terbukti saat ini gadis itu dengan manja memeluk erat lengan Alvian dengan sangat posesif.


Keduanya berkeliling mencari sesuatu yang kira kira menarik hati. Saat mata Aira tertuju pada store yang menjual aksesoris antik, dia mengajak Alvian untuk masuk kegalery tersebut. Namun baru saja dia hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam galery, sebuah suara yang sangat familiar membuat langkahnya terhenti.


"Ara."


Deg


Aira mematung namun belum berani untuk membalikkan badan, sementara Alvian nampak mengrenyitkan dahinya kala melihat perubahan wajah Aira. Wajah gadis itu berubah pucat namun nampak kesedihan terlihat jelas disana.


"Ara kamukah itu ? Apa kamu nggak ingin bertemu denganku lagi." Tanya Jiza dengan suara tercekat.


Aira perlahan membalikkan badannya setelah dia yakin jika itu adalah suara sahabatnya. Saat dia sudah berbalik seketika dia terenyuh dengan pemandangan didepannya. Jiza, sahabatnya terlihat nampak sedih dan tunggu badannya sedikit kurus. Hati Aira merasa sakit melihatnya, sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu terlihat sangat menyedihkan.


"Za." Panggilnya lirih kemudian tanpa berkata apapun dia berjalan menghampiri sahabatnya yang sudah banjir airmata.


Keduanya berpelukan erat saling menumpahkan tangis dan kerinduan yang mendalam. Jiza begitu sangat lega pada akhirnya bisa kembali bertemu dengan sahabat tercintanya. Bahkan tanpa malu dia menciumi seluruh wajah Aira lalu kembali memeluknya.

__ADS_1


"Kamu kemana aja Ra, tidak tahukah kamu selama ini aku mencarimu kemana mana. Aku sangat mengkhawatirkanmu, harusnya kamu pulang saja kerumahku bukan. Mama dan papa juga sangat khawatir Ra." Ucapnya dengan sesenggukan.


Aira tidak mampu lagi berkata kata, dia hanya menganggukkan kepalanya berulang kali. Perasaan bersalah begitu menghantuinya, saat itu didalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya supaya dia terlepas dari belenggu Sean.


"Maaf..."


"Aku akan memaafkanmu kalau kamu akan bersedia untuk menjelaskannya pada kami." Sahut suara tegas disamping Jiza.


Aira melepaskan pelukannya lalu menoleh kearah samping.


"Alex.."


"Hm, kamu sukses membuat kami berdua jungkir balik Ra." Cetus Alex dingin.


"Maaf.." Jawabnya dengan kepala tertunduk.


Alex mendesah pelan, ditatapnya gadis didepannya ini yang sedang tertunduk.


"Aku selalu berpikir setiap hari dimana keberadaanmu, apa kamu baik baik saja, apa kamu sudah makan, bagaimana kamu diluar sana. Bagaimana jika kamu bertemu dengan orang jahat diluar sana Ra. Aku bahkan hampir seperti orang gila karena frustasi tidak bisa menemukanmu."


Aira menatap haru pria tampan didepannya ini, pria yang dari awal selalu memberikan perlindungan padanya, walau tidak urung mereka juga terkadang terlibat sebagai partner. Tapi setidaknya Alex selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan, tidak seperti Sean.


Aira tersenyum kemudian ganti memeluk Alex, rasa rindunya pada kedua sahabatnya ini perlahan sudah terobati. Aira merasa begitu sangat bahagia karena bisa bertemu dengan kedua orang yang begitu berharga dihidupnya, hingga karena saking bahagianya dia sampai sedikit lupa akan keberadaan seseorang yang berada disana dengan hati yang sudah memanas berusaha menahan rasa cemburunya.


"Ekhem.."


Suara deheman keras membuyarkan lamunan Aira dan juga kedua orang itu, membuat ketiganya berpaling kearah sumber suara. Jila Alex dan Jiza nampak kebingungan dengan keberadaan orang asing didepannya ini, lain lagi dengan Aira yang sudah memasang wajah gugupnya melihat sorot mata tajam Alvian yang sepertinya siap untuk melahapnya sekarang ini.


"Apa belum selesai peluk pelukannya sayang ?" Tanyanya dengan menekankan kata sayang.


Alex dan Jiza tentu saja terkejut mendengar panggilan yang orang itu lontarkan pada Aira. Lebih terkejut lagi saat mereka melihat Aira berjalan kearah pria itu lalu memeluk pinggangnya dari depan.


"Jangan marah, mereka adalah sahabat aku." Rayunya berusaha mencairkan hati Alvian yang nampaknya masih memanas.


"Tapi tidak pakai acara pelukan segala."


"Maaf ya mas." Bisiknya.


"Ra, sepertinya kamu harus menjelaskan sesuatu pada kami." Celetuk Jiza sambil berkacak pinggang dengan Alex disampingnya yang melakukan hal yang sama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2