Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Keputusan Tuan Adi


__ADS_3

”Darimana saja Bi ? Kenapa jam segini baru pulang ?” Cerca Tuan Adi pada putra sulungnya yang malam ini pulang sangat larut.


Mendengar suara tegas penuh wibawa milik sang papa yang langsung menyambutnya ketika baru saja dia masuk tentu saja membuatnya begitu terkejut hingga tanpa sadar tubuhnya terhuyung kebelakang.


”Papa--- ”


”Kenapa ? Apa kau pikir papa ini adalah hantu sampai kau ketakutan begitu.” Nada suara Tuan Adi terdengar ketus karena merasa kesal pada sang anak yang nampak terkejut dengan adanya dirinya yang memang malam ini sengaja menunggu kepulangan putranya itu.


”B-bukan begitu pa, hanya saja Bian agak terkejut tadi. Lagian nggak biasanya papa masih terjaga selarut ini, mana sendirian lagi."


”Terserah papalah mau tidur apa nggak, rumah rumah papa ini " Jawabnya dengan nada masih terdengar menyebalkan.


Enggan menyahuti sang papa yang tumben sekali mendadak berubah menjadi cerewet seperti emak emak, Bian melanjutkan kembali langkahnya yang tadi sempat tertunda. Dengan gontai pria itu hendak berjalan menuju arah kamarnya yang ada dilantai atas dengan wajah kusut, wajar hari ini agendanya sangat padat hingga membuatnya harus mati matian menyelesaikan semuanya.


Sebenarnya bukan hanya tubuhnya saja yang terasa lelah, hati dan pikirannya pun ikut lelah. Peristiwa peristiwa yang beberapa bulan terakhir ini menimpanya sungguh sangat menguras tenaga dan pikirannya.


” Eh, kamu mau kemana ?” Cegah Tuan Adi sembari menatap sang putra penuh tanya.


”Kemana lagi, ya ke kamarlah Pa mau tidur.” Jawabnya lesu.


”Enak aja tidur, papa sudah capek capek nungguin kamu eh yang ditunggu giliran datang malah mau ninggalin papa.” Sungutnya kesal.


”Pah, Bian capek udah ya jangan ngajak Bian berdebat.”


”No no no, pokoknya kamu harus disini dulu tidak ada bantahan.”


”Pa -----”


”Tidak ada bantahan Bi, ada yang mau papa bicarakan sama kamu.” Ucapnya dengan nada suara berubah tegas.


Walau tubuhnya benar benar terasa lelah, akhirnya Bian menuruti perintah papanya yang kini menatapnya sangat tajam pertanda jika apa yang akan di katakan oleh papanya itu memang sangatlah penting dan serius untuk dibahas.


”Ada apa pa ?” Tanyanya setelah menghempaskan tubuh lelahnya diatas sofa.


Bukannya menjawab, pria paruh baya itu memindai tubuh putranya dari atas sampai bawah yang terlihat kurus dan tak terawat. Ada rasa iba didalam hatinya melihat keadaan putranya yang nampak menyedihkan.


Dengan helaan nafas kasar yang keluar dari hidungnya, Tuan Adi mulai mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


”Bersiaplah lusa kamu akan pergi ke Itali.” Titah nya.


”Apa !”


Rasa kantuk dan lelah yang tadi menderanya seketika hilang tak berbekas terganti dengan raut wajah terkejut diwajahnya yang tampan. ”Apa papa bercanda ?”


”Apa kamu lihat wajah papa sedang bercanda Bi ?” Tanyanya datar.


Bian mendes@h frustasi lalu menyugar rambutnya kebelakang kasar. ”Buat apa Bian kesana pa ?”


”Tentu saja mengantar adikmu yang akan meneruskan pendidikannya disana.”


”Tapi disini juga banyak sekali akademi yang tidak kalah bagus sama yang diluar negeri pa. Kenapa Cherry sangat keras kepala sekali.”


”Biarkan saja adikmu itu mengejar impiannya selagi bisa membuatnya bahagia Bi, jangan terlalu mengekangnya. Kita hanya perlu memberikan dukungan dan doa kita padanya.”


”Tapi pergaulan disana kurang baik pa."


”Karena itu papa menugaskanmu untuk ikut kesana dan menjaga adikmu Bi.”


”Siapa yang menyuruhmu untuk tinggal disana Bi ?”


Bian menatap wajah papanya dengan kening berkerut, sungguh dia sangat bingung menangkap maksud ucapan papanya itu.


”Bian tidak mengerti maksud papa, jika Bian tidak disana lalu Bian harus kemana ?”


Dengan bibir tersenyum Tuan Adi menatap wajah Bian yang masih kebingungan.


”London.”



Keesokan harinya saat berada di kantor Bian merasa sangat malas mengerjakan pekerjaannya yang biasanya paling rajin dia kerjakan. Ucapan dan perintah papanya semalam masih terngiang ngiang dikepalanya.


”London.” Desisnya lirih dengan mata terpejam.


Bian sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran papanya yang menyuruhnya untuk menghandle anak cabang perusahaannya yang ada di London. Bukankah perusahaan disana sedang dalam keadaan baik baik saja.

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuat Bian semakin pusing apalagi waktu yang diberikan papanya hanya tinggal esok hari. Walau semalam dia sampai berdebat dengan sang papa karena menolak keras perintahnya. Namun apadaya jika papanya sudah berkata tegas dan penuh wibawa maka tidak ada alasan untuknya menolak lagi.


”Bi --- ” Suara keras yang berteriak di samping telinganya membuatnya tersentak dan tersadar dari lamunan panjangnya. Sembari menahan kesal pria tampan itu menatap tajam sosok yang sudah berani berteriak padanya.


”Apa kau sudah bosan hidup ? Kenapa kau berteriak padaku ? Apa tidak bisa berbicara pelan saja. Telingaku masih berfungsi dengan baik asal kau tahu.” Omelnya pada sang assisten yang berdiri didepannya.


"Masih berfungsi dengan baik katamu ? Ck, aku sudah memanggilmu lebih dari 20 kali tapi kau tetap saja asik melamun.” Decak Ricko dengan wajah jengahnya.


”Kau itu dasar asisten menyebalkan.”


Enggan membalas umpatan atasan sekaligus sahabatnya itu, Ricko duduk di bangku depan meja Bian dan memperhatikan raut wajah bosnya yang sepertinya sedang tidak baik baik saja.


”Ada apa denganmu ? Sepertinya kau punya masalah serius.” Terkanya.


Bian menghembuskan nafas kasar lalu menyenderkan tubuh besarnya di senderan kursi.


”Besok papa menyuruhku mengantar Chery ke Italia.” Jawab Bian pelan.


Ricko menatap wajah Bian dengan tatapan sirat akan banyak makna. Kerutan di dahinya menandakan jika pria itu saat ini sedang kebingungan.


” Lalu apa yang membuat wajahmu kusut begini, bukannya paman hanya memintamu mengantar saja bukan ?” Tanyanya dengan kening berlipat.


Bian menghela nafasnya yang terasa berat lalu menghembuskannya secara perlahan.


”Papa bukan hanya memintaku mengantar Chery Rick, tapi papa juga memintaku untuk mengurus anak cabang perusahaan yang ada di London.”


”Apa ! Bukannya perusahaan disana baik baik saja saat ini ? Lalu kenapa paman memintamu untuk pergi kesana ?” Pekik Ricko dengan suara yang keras.


”Kalau kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa Rick.” Ketus Bian.


Ricko nampak menyengir kuda memperlihatkan barisan giginya yang berjejer rapi. Nampak terlihat konyol, apalagi saat pria itu menggaruk tengkuknya dengan raut wajah yang entah.


”Lalu bagaimana dengan Cleo ?”


TBC


Dukung terus author dengan meninggalkan jejak kalian ya sayang .Jangan lupa like, vote dan komentnya..tararengkyu...

__ADS_1


__ADS_2