
Tubuh lemah itu masih membeku berdiri ditempatnya, bahkan ketika semua orang sudah pergi meninggalkan area pemakaman, gadis itu masih tetap diam membeku dan menatap kosong pusara didepannya.
Hanya ada dirinya, kedua orangtua Sean dan juga Alex serta Jiza sahabatnya yang masih berada dipemakaman milik keluarga Ganendra. Rasanya enggan untuk beranjak dari tempat itu seperti ada lem kuat yang menahan tubuhnya.
Tuan Andre menggendong tubuh istrinya yang kembali pingsan karena tubuhnya yang kian melemah. Setelah dia memberi kode pada Alex bahwa dia akan pulang terlebih dahulu. Seharian ini, wanita paruh baya itu sudah lebih dari 5 kali tidak sadarkan diri, dan ketika bangun selalu histeris meneriakkan putranya Sean.
Sepertinya wanita itu benar benar dalam keadaan terpuruk, kehilangan putra semata wayangnya tanpa dia duga sebelumnya. Walaupun ada rasa marah dalam dirinya karena sikap Sean yang kejam dan keterlaluan, tapi diujung hatinya dia tetaplah menyayanginya, tidak ada orangtua yang tega membenci apalagi sampai menelantarkan anak kandungnya.
Sepeninggal kedua mertuanya, Aira masih menatap kosong kedepan, rintik hujan mulai turun mewakili perasaannya saat ini. Dia benar benar tidak menyangka akan secepat ini kehilangan Sean didalam hidupnya.
Aira tidak bisa memungkiri, jika disudut hatinya, masih bersemayam nama Sean, cinta pertamanya. Bahkan karena cinta itulah yang membuatnya rela dan ikhlas merawat Sean disisa sisa terakhir hidupnya.
"Ra, ayo kita pulang, hari semakin sore. Kamu juga harus istirahat." Ajak Jiza dengan tatapan sendunya mengarah pada sahabatnya yang terlihat sangat buruk.
"Pulanglah Za, aku masih ingin disini." Jawabnya lirih.
"Ra, please..jangan begini, Sean juga akan sedih jika melihatmu sedih begini. Yakinlah dia sudah bahagia diatas sana."
"Benarkah Za, kalau memang dia sedih lalu kenapa dia harus pergi ninggalin aku disini." Erangnya dengan airmata yang kembali mengalir, bahkan kedua matanya terlihat bengkak karena tiada hentinya dia menangis.
"Ra, kumohon jangan begini." Suara Jixa kembali terdengar dan berubah serak karena tangis.
"Pulanglah Za, aku mohon. Aku masih ingin sendiri disini." Pintanya lagi dengan suara yang hampir habis.
Jiza berdiri kemudian memeluk tubuh Alex dengan perasaan hancur, melihat sahabatnya yang seperti ini sungguh membuatnya seakan kehilangan separuh jiwanya.
Alex yang mengerti kondisi disana, mencoba untuk mengalah dan tidak mengatakan apapaun. Pria tampan itu juga tahu bagaimana sakitnya ditinggal seseorang yang sangat berarti.
Baginya Sean bukan hanya sekedar sahabat, tapi sudah seperti saudara untuknya. Walau dia membenci, sesungguhnya pria itu masih tetap menganggap Sean saudaranya sendiri. Dia bersikap seperti itu hanya ingin Sean tersadar jika yang dilakukannya adalah kesalahan.
"Kita biarkan Aira disini dulu sayang, kita turuti kemauannya sebentar."
"Tapi..."
"Tidak apa apa, ada orang orangku yang menjaganya disana." Ucapnya dengan menunjuk kearah sudut pemakaman dimana dua orang berpakaian hitam berdiri.
Jiza mengangguk menyetujui ajakan Alex, setelah itu Alex melangkah mendekat kearah Aira dan menyentuh pundaknya.
"Jangan terlalu lama disini Ra, hujan tidak baik untuk kesehatanmu. Segeralah pulang, dan cobalah untuk mengikhlaskan semuanya walau aku tahu itu sangatlah sulit. Aku pulang dulu ya."
Aira mengangguk pelan tanpa memalingkan wajahnya kebelakang, membuat Alex menghela nafas dalam. Segera pria itu berbalik dan menggandeng lengan Jiza untuk pergi dari tempat itu sebelum hujan bertambah semakin deras.
__ADS_1
Sepeninggal Alex dan Jiza, tubuh Aira roboh tepat di samping pusara Sean yang masih basah. Tangisan gadis itu kembali terdengar dikeheningan area pemakaman. Dia seorang diri disana, tapi Aira merasa jika sosok Sean ada bersamanya saat ini.
"Kenapa kamu pergi kak, aku begitu kesepian disini. Aku sudah mengatakan jika aku tidak membencimu kan, aku bahkan sudah memaafkanmu, tapi kenapa kamu malah pergi ninggalin aku. Kamu bahkan belum membayar semua yang sudah kamu lakukan padaku. Aku masih menganggapnya hutang. Aku menyayanginu kak, setidaknya jika kita tidak bisa bersama anggaplah aku sebagai adikmu. Bukankah dari dulu aku memang adikmu kan." Rintihnya pilu.
Tanpa Aira sadari sosok bayangan Sean yang berdiri disampingnya menatap pilu gadis didepannya.
Jangan sedih sayang, maafkan aku yang sudah berkali kali menyakitimu. Kamu harus bahagia, Airaku, gadis tangguhku.
"Kak Sean.." Cicit Aira seakan mendengar suara Sean, dia bahkan mengedarkan pandangannya berkeliling area pemakaman.
Aku disini disampingmu.
"Aku menyayangimu kak, sungguh aku juga sangat merindukanmu."
Aku juga sayang, bahkan aku lebih merindukanmu dan begitu mencintaimu.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu disini kak."
Cobalah untuk ikhlas sayang, karena masih ada seseorang yang menunggumu. yang begitu mencintaimu melebihi diriku. Kamu akan bahagia dengannya, jangan bersedih Airaku.
Bayangan sosok Sean masih menatap pilu tubuh Aira yang saat ini memeluk pusara miliknya. Dia bahkan melihat pakaian yang dikenakan oleh Aira berubah cokelat kotor karena lumpur. Pria itu berusaha untuk memeluknya, tapi setiap dia menyentuhnya, tangannya seperti menyentuh benda kosong, terus seperti itu hingga membuatnya lelah.
Aira sendiri tidak perduli dengan kondisinya saat ini yang nampak kotor dan berantakan. Rasanya sangat nyaman memeluk pusara yang masih basah itu. Memang kehilangan seseorang akan membuat kita sadar betapa berartinya orang tersebut didalam hati kita.
Langkah kaki itu semakin lebar dan kini berubah menjadi larian panjang tepat saat dia turun dari mobil mewahnya. Tidak perduli jas mahalnya yang basah karena hujan yang kini mengguyur deras tubuhnya. Bahkan teriakan asisten sekaligus adiknya itu tidak dia perdulikan sama sekali.
Dasar pria bucin. umpat Bian didalam mobil.
Pria mudah itu enggan untuk mengeluarkan suaranya kembali, karena percuma saja, suaranya akan kalah dengan derasnya hujan. Dia tidak ingin suara yang menurutnya seksi akan berubah jelak karena serak. Hanya diam dan membiarkan kakaknya itu melakukan apapun yang ingin dilakukan. Tugasnya hanya menatap dan menjaganya dari kejauhan.
Alvian memelankan langkahnya saat melihat sosok gadis yang duduk meringkuk didepan pusara. Hatinya seakan ikut teriris melihat bagaimana gadis pujaan hatinya itu begitu terpuruk dan hancur. Tanpa dia sadari jika dipun ikut menangis.
Kau jahat Se, sudah membuat kekasihku menangis dan sedih hingga seperti ini.
"Sayang..." Panggilnya sembari menyentuh pundak Aira, membuat gadis itu tersdar dan mendongak keatas.
Jleb
Hati Alvian bagai ditusuk sembilu, perih dan sakit datang secara bersamaan. Melihat wajah Aira yang begitu bengkak karena sembab dan kondisinya yang sangat memprihatinkan.
"Tuan Alvian, anda disini."
__ADS_1
Jangan, tolong jangan memanggilku seperti itu, jangan biarkan ada dinding pemisah diantara kita sayang, aku tidak sanggup jika harus kehilangannmu.
Alvian masih membeku dengan tatapan yang masih tertuju pada Aira. Sementara gadis itu berdiri dan berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Ah, lagi lagi dia pandai menyembunyikan luka.
"Tuan.." Panggilnya lagi menyadarkan Alvian.
Grep
Pria itu langsung memeluk erat tubuh Aira, membuat gadis itu terkejut dan kaget.
"Tuan..."
"Menangislah dipelukanku sayang, apapun itu keluarkan semuanya dan jangan ditahan lagi. Aku disini dan dadaku siap untuk tempatmu bersandar."
Alvian mengesampingkan beribu pertanyaan saat ini. Baginya cukup dengan adanya Aira disisinya itu sudah membuatnya bahagia. Memberikan bahu dan dadanya untuk tempat gadis itu bersandar dan dia janji mulai saat ini tidak akan lagi melukai hatinya.
Merasa nyaman, Aira akhirnya menumpahkan segala lara yang selama ini dia tahan. Pertahanannya roboh seketika, didalam pelukan Sean, dia meluapkan segala amarah, sedih dan perasaan lainnya yang bercapur aduk.
"Aku membencimu Al, sangat membencimu." Teriaknya sembari memukul dada Alvian berkali kali.
"Maaf.."
"Aku juga membenci kak Sean, dia sudah meninggalkan aku disini."
"Masih ada aku sayang, aku akan selalu mencintaimu disini."
Aira masih menumpahkan tangisnya yang begitu menyesakkan dadanya, hingga lambat laun Alvian merasa tubuh gadis itu melemah. Pria itu terkejut saat melihat Aira ternyata pingsan dengan suhu tubuh yang memanas.
Walau panik, Alvian berusaha bersikap tenang. Dengan segera membopong tubuh lemah itu dan membawanya kemobilnya. Lekas menyuruh Bian untuk membawanya keapartemen miliknya setelah sebelumnya dia juga menghubungi Dokter pribadinya.
Dibelakang sana, tepatnya disebelah pusara, sosok Sean menatap kepergian Aira dengan senyuman tulus membingkai wajahnya.
Kamu harus bahagia Ra
Aku mengikhlaskanmu sayang
Maafkan aku..
Selamat tinggal..Airaku..
Gadis tangguhku, selamanya kamu akan tetap menjadi gadis tangguhku. Andai waktu bisa diputar kembali aku akan memberikan cintaku yang besar untukmu...hanya untukmu.
__ADS_1
TBC