
"Apa !!"
Suara bariton itu terdengar keras menggema dirumah sederhana yang tidak terlalu besar itu. Bahkan hanya beberapa petak kecil dan tiga buah kamar yang ada didalamnya. Namun walaupun kecil, rumah tersebut terlihat sangat asri dan nyaman. Teras yang luas dan didepannya tumbuh banyak pohon pohon rindang yang membuat betah siapapun orang tinggal disana.
Didalam ruangan tamu yang tidak besar itu, berdiri seorang pria paruh baya yang terlihat tampan namun matang diusianya yang tidak muda lagi, nampak menahan amarah dengan ponsel yang melekat ditelinganya. Tangan kanannya nampak mengepal kuat sehingga menampilkan urat uratnya yang kokoh dan kekar.
"Apa kau yakin ?"
"Baiklah saya segera kesana, usahakan kau bisa mencegahnya sebelum semuanya terlambat."
Tutt
"Kurang ajar, beraninya dia berbuat seperti itu pada putriku. Lihat saja Sean, aku tidak akan mengampunimu." Desis pria itu dengan gigi gemeletuk menahan amarah yang membuncah dihatinya.
"Pa.."
Andi, pria itu menoleh pada sosok wanita yang masih sangat cantik di usianya yang sudah matang. Jihan, wanita itu menatap heran suaminya yang saat ini seperti tengah emosi. Dengan lembut diusapnya dada bidang suaminya untuk mencoba membuat suaminya tenang.
"Ada apa ? Kenapa kau terlihat sangat marah." Tanyanya dengan suara lembut.
Andi menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Sean.." Desisnya lirih.
"Sean ? Ada apa dengan menantu kita itu ?"
Andi menatap intens wajah istrinya, apa jadinya jika Jihan tahu yang sebenarnya ? Tentang perbuatan menantunya itu pada putri kesayangannya. Melihat sifat lembut istrinya, sudah dipastikan jika pasti Jihan akan merasa hancur.
"Kau yakin bisa mendegarnya ma ?"
"Ada apa ? Kau membuatku penasaran pa."
Andi kembali menarik nafasnya lalu membawa tubuh istrinya duduk dikursi kayu tersebut.
Dengan berat pria itu menceritakan seemua yang dia dengar dari seseorang yang sudah dia sewa untuk mengawasi putrinya. Seperti dugaannya, Jihan terlihat sangat syok dan hancur mendengar nasib yang menimpa putrinya. Bahkan wanita itu hampir pingsan dan terjatuh kelantai jika sang suami tidak bergerak cepat menarik tubuhnya.
Setelah agak reda dengan tangisannya, Jihan segera bangkit berdiri dan menatap suaminya.
"Apalagi yang kita tunggu pa, ayo kita segera kesana. Mama takut semuanya akan terlambat." Desak Jihan dengan tangis yang masih membuncah.
"Tunggu disini ma, papa ambil motor kita."
Pria itu segera menstater motor bututnya dengan sang istri yang sudah berdiri tidak sabar disampingnya. Segera naik saat suaminya memberinya isyarat.
Keduanya lalu segera bergegas menuju tempat dimana putrinya saat ini, dalam hati pria itu berharap semoga kali ini dia tidak terlambat, atau dia akan menyesal.
Sangat tidak baik mengendarai kendaraan jika suasana hatinya dalam keadaan tidak baik baik saja, seperti halnya Andi saat ini yang terlihat sangat panik dan terburu buru.
Jihan melihat bagaimana suaminya mengendarai motornya dalam keadaan tidak terkendali, sedikit merasa takut. Namun sebisa mungkin wanita itu tidak protes, pasalnya diapun merasakan hal yang sama dengan suaminya. Hatinya sangat gelisah dan panik.
__ADS_1
"Hati hati pa." Hanya itu yang selalu dia ingatkan pada suaminya, yang dijawab oleh anggukan kepala Andi.
Sebentar lagi mereka tiba ditempat tujuan, sebuah hotel bintang lima milik sahabatnya Andre Ganendra. Tinggal satu blok lagi maka dia akan sampai dihotel tersebut. Namun naas saat baru saja ingin berbelok, tiba tiba dia kehilangan kendali motornya dan tepat bersamaan dari arah lawan muncul sebuah truk yang melintas cukup kencang.
"Papa ! Awas." Teriak Jihan sembari memeluk erat tubuh suaminya.
"Astaghfirullah, Ya Allah."
Dan..
Bruak
Tabrakan tiidak terelakkan lagi, tubuh keduanya terpental jauh dari jalan. Andi menatap sendu tubuh istrinya yang tergeletak bersimbah darah dijalanan. Tubuh istrinya tadi terpental terpisah darinya dan kepalanya tepat menabrak pohon besar.
Andi dengan susah payah merangkak menuju istrinya yang sudah tidak bergerak. Tubuhnya sendiri terasa remuk dan darah juga mengalir deras dari kepala dan bibirnya. Tubuhnya pun remuk, karena tertabrak badan truk, beruntung mereka tidak terlindas roda besar truk tersebut
"Ma..ma..." Panggilnya lirih dengan airmata yang sudah mengalir deras dimatanya. Menyaksikan bagaimana istrinya tiada didepan matanya dalam keadaan yang mengenaskan.
Pria itu memegang tangan istrinya lalu mencium keningnya lembut. Dengan terbata membisikkan kata kata cinta untuk sang istri.
"A..ku..men..cin..tai..mu..is..tri..ku." Bisiknya dengan nafas tersengal sengal.
Sebelum kesadarannya hilang, pria itu meraih ponselnya yang ada disaku, beruntung benda itu tidak ikut hancur seperti tubuhnya saat ini. Menekan lemah nomor disana lalu menempelkannya ditelinga.
"Ha..lo..Dre..to..long..pu..tri..ku..di..hotel....muuuhhh."
Bersamaan dengan itu tenaganya mulai melemah dengan pandangan matanya yang mulai mengabur. Pria itu akhirnya mulai memejamkan kedua matanya dengan hati yang membawa kebencian mendalam pada sosok Sean, sang menantu.
***
Sementara itu didalam kamar hotel, hari sudah menunjukkan pukul 3 sore hari. Alex yang sudah terbangun lebih dulu hanya bisa menatap bingung pada gadis yang saat ini masih terlelap tidur. Tangannya memindai wajah Aira yang terlihat sangat bersinar walau dalam keadaan tidur.
"Cantik." Gumamnya pelan. " Bagaimana bisa Sean membuangmu dengan begitu kejamnya Ra. Sungguh aku masih tidak percaya dia bisa melakukan hal itu padamu Ra. Nasibmu sangat memprihatinkan sekali gadis."
Merasa ada belaian diwajahnya perlahan mata gadis itu terbuka. Gerakan matanya yang mengerjap sungguh terlihat lucu dan menggemaskan bagi Alex. Pria itu tersenyum lembut lalu mengecup singkat keningnya.
"Kau sudah bangun ? Mandilah supaya badanmu kembali segar." Nada suara Alex terdengat sangat lembut ditelinga Aira.
Gadis itu beringsut dengan dibantu oleh Alex, tubuhnya terasa lemah dan sakit. Sungguh Sean tidak tanggung tanggung memberinya obat dalam dosis yang agak tinggi. Membuatnya melakukan olahraga ranjang itu sampai berjam jam lamanya.
Beberapa menit lamanya Aira sudah selesai dengan ritual mandinya, lalu duduk disisi ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Dia menunggu orang suruhan Alex yang saat ini sedang membeli pakaian untuknya.
"Dudukkah disini, sebentar lagi orang suruhanku akan datang membawa pakaian untukmu." Ucap Alex.
Aira mengangguk lemah, diwajahnya masih terlihat bekas kesedihan yang mendalam. Gadis itu bahkan tidak mengatakan sepatah katapun, masih asik dengan kebisuannya. Memang apalagi yang mau dia katakan. Hidupnya sudah hancur lebur karena Sean.
Suara bel kamar membuyarkan perhatian Alex, bergegas pria itu melangkah
menuju pintu. Dia pikir itu adalah asistennya, namun tubuhnya membeku saat melihat sosok yang berdiri tegap didepannya.
__ADS_1
"Alex." Suara terkejut pria didepannya terdengar sampai kedalam kamar. Sementara Alex nampak gugup dan salah tingkah.
"O-om Andre."
"Alex..jadi kau..kurang ajar."
Bugh
Bugh
Bugh
Bogeman mentah pria itu daratkan diwajah dan tubuh Alex. Andre menghajar habis habisan Alex dan tidak memberi satu kesempatanpun untuk Alex membela diri.
"Om..dengar duku penjelasan Alex." Pekik Alex ditengah tengah bogeman ayah dari sahabatnya itu.
"Beraninya kau menyentuh putriku Lex."
Pria itu sangat beringas, dia begitu geram apalagi saat melihat kondisi Aira yang sangat memprihatinkan.
"Aira, putriku." Kali ini suara lembut milik seorang wanita terdengar disana.
Nyonya Silvi, istri dari Tuan Andre langsung berlari kearah gadis yang sedang terlihat lemah. Memeluk erat gadis itu dengan tangisan yang sangat memilukan.
Aira seketika menumpahkan tangisannya saat wanita itu memeluknya. Gadis itu menangis tersedu sedu didalam pelukan mama Silvi, menumpahkan segala lara yang ada dihatinya.
Hati wanita itu ikut merasakan sakit yang saat ini dirasakan oleh Aira, hati siapa yang tidak sakit jika melihat putrinya yang diperlakukan begitu buruk oleh pria yang notabenenya adalah suaminya.
"Maafkan mama yang tidak bisa menyelamatkanmu sayang. Atas nama Sean mama minta maaf." Ucapnya ditengah tengah isakannya.
Aira tidak menjawab apapun yang dikatakan mama mertuanya, gadis itu masih asik dengan tangisannya. Sementara disana Tuan Andre sudah bisa menetralkan emosinya, walau susah, Alex berhasil meyakinkan om Andre jika dia hanya menolong Aira. Dengan wajah lebam Alex menceritakan semua yang terjadi pada gadis itu.
Kilatan amarah terlihat dipancaran mata Tuan Andre. Kedua tangannya mengepal kuat, lalu pria itu bergerak cepat, menelpon asistennya.
"Will, bekukan semua kartu kredit dan debit Sean sekarang juga. Cabut semua fasilitas yang dia punya saat ini, biarkan dia hidup hanya dengan hasil dari usaha miliknya sendiri. Saya mau lihat apa wanita itu masih setia padanya jika tahu Sean saat ini sedang miskin." Perintahnya tegas lalu segera mematikan panggilan telponnya.
Aira menatap Mama Silvi yang saat ini sudah bisa mengendalikan emosinya. Mencoba berbicara dengan suara yang masih tercekat.
"Ada apa mama dan papa kesini ?"
Nyonya Silvi menatap pada suaminya, seakan meminta tolong untuk ikut menjelaskan pada Aira. Mengerti, Tuan Andre segera berjalan kearah gadis itu, mengusap ujung kepalanya dengan kasih sayang.
"Ra, maafkan papa dan mama yang terlambat menyelamatkanmu. Kedatangan papa dan mama kesini selain ingin menyelamatkanmu, sebenarnya ada sesuatu yang harus papa katakan padamu. Walaupun ini bukan waktu yang tepat, tapi bagaimanapun kau harus mengetahui hal ini."
"Ada apa pa ?"
Tuan Andre menghela nafasnya secara perlahan lalu menghembuskannya kasar.
"Ini tentang orangtuamu."
__ADS_1
TBC