
Aira turun dari taxi lalu melangkah gontai menuju ke sebuah rumah kontrakan kecil yang selama ini menaunginya dan melindunginya dari teriknya panas matahari dan juga derasnya hujan.
Gadis itu menghela nafas secara kasar, lagi lagi dia mendengar pembicaraan beberapa tetangganya yang memang tidak menyukainya.
"Lihatlah dia, cantik tapi sayang kelakuannya mirip seorang jalang." Bisik seorang ibu pada beberapa temannya.
"Apa maksudmu jeng."
"Ya itu si Aira, kelakuannya sudah mirip seperti p****r, anak saya pernah lihat dia ada disebuah club malam sedang melayani seorang tamu disana. Hati hati jeng, jaga suami dan anaknya, jangan sampai tergoda oleh jalang itu." Ucapnya lagi dengan tatapan sinis tertuju pada Aira.
"Masa sih jeng ?" Tanya ibu lainnya dengan wajah tidak percaya.
"Ih jeng Siska ini tidak percaya banget sih, mana ada gadis baik baik yang bekerja ditempat hiburan begitu kalo bukan jadi p****r ? Coba pikir deh."
Ibu ibu lainnya tampak manggut manggut membenarkan ucapan sang pemilik rumah tadi. Sementara Aira hanya bisa mencengkeram ujung kemejanya mendengar gosip yang amat menyakitkan itu. Namun lagi lagi gadis itu hanya bisa pasrah sembari melempar senyum manis pada segerombolan ibu ibu yang terlihat sedang arisan itu.
"Sore bu, saya permisi lewat ya."
"Eh...i-iya nak." Jawab ibu yang bernama Siska tadi sembari mengulum senyum canggung.
Sementara sang pemilik rumah hanya memandang jijik padanya.
"Cih dasar jalang, cepat pergi dari hadapanku. Aku jijik melihat mukamu itu."
Aira tidak mau ambil pusing, gadis itu lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Dia menganggap angin lalu kecaman dan hinaan para warga disini, karena hampir tiap hari gadis itu selalu mendapat cibiran sinis dari warga disana.
Gadis itu membuka pintu kontrakannya yang terlihat sempit. Sungguh sangat berbeda dengan kamarnya dulu yang ada dirumah Sean, suaminya..ralat mantan suaminya.
Aira menghela nafas pelan lalu merebahkan tubuhnya dikasur yang berukuran kecil, hanya muat untuk dia seorang. Kedua matanya menatap langit langit kamar dengan pikiran yang kacau. Dia mengingat semua yang ibu itu katakan tentang dirinya.
Aira lagi menghela nafasnya yang terasa sesak, airmata yang ditahan nya sedari tadi kini mengalir deras tanpa ada yang menahannya.Membayangkan hinaan dan cacian mulut tetangga yang membuatnya semakin terlihat lemah.
Gadis itu bukannya tidak bisa membalas perkataan mereka, tapi dia hanya sadar jika apa yang mereka katakan adalah kenyataan. Dia hanya seorang p****r murahan yang setiap malam menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang demi sesuap nasi dan juga demi kebutuhan hidupnya dan biaya kuliahnya.
Gadis itu bangkit lalu mengambil sebuah foto yang ada diatas meja dekat ranjangnya. Airmatanya kembali bergulir menatap foto sepasang suami istri yang tengah tersenyum dengan seorang balita dipangkuan sang wanita.
Ma, pa, Aira lelah hidup seperti ini. Kenapa kalian meninggalkan Aira. Andai saja saat ini kalian masih ada disampingku, Aira pasti tidak akan pernah mengalami hidup yang begitu pedih ini. Rasanya Aira sudah tidak sanggup lagi ma, pa.
Dering ponselnya berbunyi nyaring membuyarkan lamunan gadis itu. Menggeser layar hijau lalu menempelkan di telinga nya.
"Iya Cel."
__ADS_1
.........
"Baiklah aku bersiap siap dulu. Aku baru pulang dari kuliah Cel."
....
"Tidak aku baik baik saja, kau jangan khawatir. Bilang padanya suruh menungguku, satu jam lagi aku sampai disana."
....
"Ok, bye."
Tutt
Gadis itu lalu beranjak menuju kamar mandi untuk bersih bersih, lalu bersiap siap menuju tempat kerjanya. Marcel sang pemilik Club sekaligus sahabatnya itu bilang jika saat ini ada seorang klien yang sedang memintanya untuk melayaninya.
****
"Hai Cel."
"Ra kau sudah datang ?"
pribadinya. Bahkan Marcell tahu jelas jika gadis didepannya ini sudah menikah hanya dalam waktu yang sangat singkat.
"Marcell."
Pria itu tersentak sadar ketika panggilan keras disertai tepukan mendarat dipundaknya. Menatap wajah gadis didepannya dengan pandangan sendu.
"Jangan menatapku seperti itu Cell, aku tidak butuh belas kasihan orang lain, tidak terkecuali dirimu." Ketus Aira dengan pandangan teralih kebeberapa sudut ruangan. "Katakan dimana pelanggan ku ?"
Marcell menghela nafas sejenak lalu memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nomer yang Aira tahu pasti itu adalah nomor kamar. Dengan cepat Aira menarik kertas itu dari tangan Marcell.
"Katakan siapa dia." Tanyanya pada pria didepannya. Aira walaupun bekerja sebagai pemuas nafsu pria hidung belang, tapi gadis itu tidak sembarang memilih tamu. Dia selalu menghindari seorang tamu yang sudah berstatus milik seorang wanita alias menikah. Alasannya karena dia tidak ingin menyakiti hati sang istri dari tamunya itu.
"Tenang dia masih lajang, dia bos besar sebuah perusahaan properti Di negara ini. Namanya Alvian, dia begitu penasaran dengan dirimu yang kabarnya seorang primadona tapi begitu memilih milih pelanggannya. Kau tahu dia bahkan berani membayar mahal untuk rasa penasarannya itu."
Aira tersenyum kecut, diclub milik Marcell gadis itu memang menyandang sebagai primadona. Wajahnya yang sangat cantik dan bodynya yang aduhai itu memang pantas untuk menyandang gelar itu.
"Oke..aku segera kesana."
"Ra kau yakin ? Maksudku kau terlihat sangat lelah. Sepertinya hari ini kegiatanmu sangat sibuk sekali bukan ?"
__ADS_1
"Aku baik baik saja Cell, aku harus mengumpulkan banyak uang, aku ingin menebus kembali rumah kami." Ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Pergilah." Perintah Marcell yang sudah tidak sanggup melihat kepedihan di mata gadis itu.
Gadis itu lalu melangkah perlahan menuju ruangan ditingkat atas. Club milik Marcell memang menyediakan beberapa kamar untuk para tamunya yang menginginkan pelayanan lebih seperti yang Aira lakukan.
Aira sudah sampai didepan pintu sebuah kamar yang ada dilantai atas. Mengetuk pintu pelan lalu kemudian masuk setelah mendengar seruan dari dalam yang menyuruhnya masuk.
"Selamat malam Tuan ?" Sapa nya pada sosok yang sedang membelakanginya dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.
Pria itu menoleh lalu tersenyum tipis, Aira sedikit terhenyak melihat wajahnya. Satu kata yang terlintas dikepalanya tentang sosok pria yang saat ini berjalan kearahnya. Tampan.
Pria itu masih tersenyum menatap wajah cantik Aira yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah penuh kekaguman. Gadis itu tidak sadar jika saat ini dia sudah berdiri tepat dihadapannya, bahkan jarak mereka begitu dekat.
Alvian menatap kagum wajah gadis yang masih terbengong itu. Mendekatkan bibirnya ditelinga Aira, berbisik pelan sembari mengecup daun telinganya.
"Kau cantik sekali. Lihat air liurmu menetes cantik."
Aira tersadar lalu terbatuk karena tersedak dengan air liurnya sendiri. Membuat pria itu terkekeh kecil.
"Kau lucu sekali, baru kali ini aku bertemu gadis selucu dirimu."
Aira tersenyum manis, senyuman yang mampu menghipnotis pria itu. Langkahnya semakin dekat lalu menarik pinggang gadis itu dengan nafas yang sudah terdengar memburu.
"Apa kita bisa mulai sekarang cantik ?" Serunya dengan suara yang sudah berubah serak.
Aira kembali tersenyum lalu mengusap lembut dada bidang pria itu. Mengecup sensual dada yang masih terbungkus kemeja hitam itu.
"Mandilah dulu tuan."
Pria itu mengernyitkan dahinya lalu menatap wajah Aira heran. Mengetahui jika pria itu terlihat bingung, gadis itu kembali melanjutkan ucapannya yang belum selesai.
"Saya hanya ingin membuat anda terlihat fress dan segar. Mari saya bantu untuk membersihkan diri. Sepertinya sedikit pijatan bisa membuat tubuh anda terlihat rileks." Ucapnya lagi dengan penuh kelembutan.
Pria itu memperlihatkan senyuman senang, walau merasa heran. Pasalnya baru kali ini dia mendapatkan servis yang lain dari biasanya. Biasanya para penghibur langsung menerkamnya sesaat setelah dia membawanyaa masuk kedalam kamar. Tapi gadis ini justru melakukan hal lain sebelum mereka berdua menuju inti dari pertemuan ini.
Alvian menjadi penasaran dengan sosok gadis didepannya. Langkah kakinya berjalan menurut mengikuti Aira yang sudah menuntun tangannya menuju kamar mandi. Ujung bibir pria itu sedikit terangkat keatas yang semakin lama semakin lebar hingga menciptakan sebuah lengkungan indah disana.
Gadis yang menarik. Gumamnya pelan.
TBC
__ADS_1