
Wajah tampan dengan rahang yang tegas dan kokoh, ditunjang dengan perawakan tubuh yang kekar dan gempal, dengan perut sixpaknya. Tatapan matanya tajam dengan bola mata hitam melekat kuat hingga membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa tertarik kuat oleh pesonanya.
Tapi itu dulu, semua pahatan hampir mendekati sempurna itu memang begitu digilai oleh banyak wanita. Ya dulu, sebelum tubuh itu akhirnya melemah karena penyakit yang saat ini menggerogoti tubuhnya.
Tidak ada lagi tubuh kekar dan liat, yang ada hanyalah seonggok daging dengan tulang tulang yang mulai menonjol karena tubuh semakin lama semakin kurus. Dan tidak ada lagi wajah tampan, sekarang yang ada hanyalah wajah pucat dengan bibir kering dan juga mata sayu yang didalam sana terlihat benar menyimpan berjuta juta rasa bersalah dan penyesalan.
Miris..satu kata yang pantas disebutkan untuk seorang pria yang bernama Sean. Satu bulan yang lalu wajahnya masih bugar dan tubuhnya juga masih kuat. Tapi sekarang jangankan berdiri, kini dia hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda.
Semenjak Dokter mengatakan menyerah dan tidak mampu lagi berbuat apa apa, saat itu juga rasanya seluruh tubuh Sean mendadak turun drastis. Seakan ada hipnotis yang memerintah anggota tubuhnya untuk terus melemah.
Dibalik pintu Aira menatap sosok didepannya yang begitu memprihatinkan. Dia tidak menyangka mata yang dulu sempat memandangnya lembut kini hanya penuh dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Tidak ada rasa putus asa disana, sepertinya Sean memang sudah berusaha mengikhlaskan keadaan dirinya.
Justru saat ini gadis itu yang terlihat menyesal, bukan dalam artian menyesal karena meninggalkan pria ini, bukan, tapi dia menyesal karena dia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada mantan suaminya ini.
Dia memang membenci pria ini, karena pria ini yang sudah membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh sejatuh jatuhnya. Bagaimanapun dia hanya seorang manusia, yang punya rasa benci dan dendam. Tapi jika dia mengingat ucapan mamanya yang mengatakan jika Allah saja Maha pemaaf kenapa dia yang manusia kecil dimataNya tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.
Ya, Aira sudah memaafkan perbuatan Sean jauh sebelum pria itu datang kembali kedalam hidupnya. Dia tidak ingin berlarut larut dalam kesedihan dan dendam yang justru akan membuat hidupnya semakin tidak tenang.
Dia memaafkan tapi tidak untuk kembali pada Sean. Walau maaf sudah terucap tapi jujur luka itu masih membekas didalam hati bahkan menyisakan trauma yang begitu besar dan dalam.
Rasa trauma dan sakit itu kini membuyar ketika dia melihat langsung bagaimana kondisi Sean saat ini. Semenjak pertemuannya dengan orangtua Sean kemaren, Aira memutuskan untuk menengok Sean dirumah sakit milik keluarga Ganendra tanpa sepengetahuan Alvian.
Ngomong ngomong mengenai pria itu, Aira tadi belum sempat meminta ijin pada Alvian, karena pria itu sedang terburu buru dengan meeting pagi. Dia hanya berpamitan pada Oma Tamara untuk menjengut temannya yang sedang sakit.
"Kak Sean.." Panggilnya lirih dengan hati yang begitu sesak menahan tangis.
Sean membeku mendengar suara merdu yang selama ini dia rindukan disepanjang waktu. Perlahan menoleh kearah sumber suara dengan hati yang membuncah penuh kebahagiaan.
"Ara."
Kaki jenjang Aira melangkah perlahan masuk kedalam ruang kamar Sean, aroma khas obat langsung menguar dan masuk kedalam hidungnya. Netranya yang indah menatap nanar pada sosok pria didepanya.
Aira berjongkok didepan Sean yang saat ini duduk diatas kursi roda dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kedua matanya berkaca kaca dengan raut wajah yang sirat akan kesedihan.
"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Sean dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Aku baik kak."
"Maaf.."
"Untuk..."
Tes
Airmata itu akhirnya menetes keluar juga, Sean sudah tidak mampu menahannya lagi. Bahkan sekedar untuk menjawab pertanyaan Aira, Sean seakan tidak mampu.
"Maaf sudah membuat hidupmu menderita karenaku. Maaf..atas semua luka yang sudah kutorehkan dihatimu."
"Aku sudah memaafkanmu kak." Lirihnya.
"Bagaimana kamu bisa semudah itu memaafkanku Ra, padahal luka yang sudah kuberikan padamu begitu besar. Aku ikhlas jika kamu membenciku seumur hidupku, aku memang pantas menerimanya. Aku bahkan membuatmu merasa ketakutan hingga akhirnya kamu pergi meninggalkan kami."
Aira terdiam, jujur waktu itu dia memang ketakutan jika Sean kembali melukai dirinya. Bahkan rasa takut itu masih ada sampai detik ini, tapi sekuat tenaga gadis itu menahannya. Dengan tangan gemetar dia meraih jemari Sean yang nampak terlihat kurus.
"Kenapa tubuhmu begitu kurus kak, kenapa juga kamu harus mengalami rasa sakit ini, bukankah waktu itu operasinya sudah berhasil karena ginjalku memang cocok denganmu ? Lalu kenapa semuanya jadi begini."
"Tidak apa apa Ra, mungkin ini adalah karma untukku karena telah menyia nyiakan seorang gadis dan juga istri yang begitu baik seperti dirimu."
Aira tidak bisa mengucapkan kata kata lagi, gadis itu begitu larut dalam kesedihannya hingga tanpa terasa airmatanya mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Sean yang melihat gadis yang dicintainya bersedih, diapun ikut larut dalam kesedihannya. Dengan tubuh lemahnya dia sebenarnya ingin memeluk tubuh Aira yang selama ini begitu dia rindukan.
"Ra, bolehkah aku memelukmu, aku sangat merindukanmu, setidaknya aku bisa tenang jika aku pergi nanti karena kamu sudah memaafkanku." Pinta Sean dengan suara lirihnya.
Tanpa menunggu pria itu meminta dua kali, Aira langsung menghambur kedalam pelukan Sean, memeluk erat tubuh lemah dan kurus Sean dengan hati yang sangat pilu.
"Makasih sayang.." Ucap Sean dengan isakan yang tidak bisa dia tahan lagi dia begitu bahagia, setidaknya setelah ini dia bisa pergi dengan tenang tanpa adanya beban dihatinya.
Sementara Aira terus saja memeluk erat Sean dengan sesekali mengusap airmata yang masih saja mengalir deras dikedua pipinya. Entah apa yang dia rasakan saat ini, yang pasti dia tidak bisa mengutarakan lebih dalam lagi perasaannya.
"Apa kamu membenciku Ra ?"
__ADS_1
Aira mengeleng keras, membuat Sean menghela nafas lega.
"Aku tidak membencimu kak, aku hanya kecewa, kadang ingin sekali aku membencimu, tapi nyatanya rasa cintaku mengalahkan kebencianku padamu. Aku tidak bisa membencimu, tapi aku juga tidak bisa kembali padamu. Rasa kecewa dan luka dihatiku begitu kuat hingga rasanya aku begitu takut untuk kembali mengenal cinta."
Sean semakin merasa bersalah, karena dialah penyebab hati gadis itu merasakan trauma yang begitu besar. Pria itu bertekad akan membayar semua rasa sakit dan luka yang dia torehkan dihati Aira sebelum kepergiannya.
"Maaf."
Entah sudah yang keberapa kali kata maaf selalu keluar dari mulut pria itu, yang pasti kata maaf pun nyatanya tidak bisa mengobati luka hati Aira.
"Lupakan kak, sekarang yang terpenting adalah pengobatanmu kak. Jangan menyerah pasti ada cara untuk membuatmu sembuh." Ucap Aira mencoba memberi semangat pada Sean, walaupun dia sendiri tahu sudah tidak ada harapan tapi paling tidak dia berharap adanya satu keajaiban datang walaupun harapan itu hanya satu persen saja.
"Jangan terlalu berpikir Ra, ini sudah jalanku. Dan aku ikhlas menerimanya." Ucapnya dengan tersenyum pahit mengingat umurnya yang tinggal menunggu waktu saja. Dia lelah, ya dia sudah sangat lelah, lelah dengan hidupnya yang selalu rumit dan juga lelah dengan penyakitnya ini, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang selalu muncul dibagian perut dan dadanya.
"Aku akan menjagamu kak."
"Tidak Ra, pulanglah aku tidak ingin membuatmu kelelahan dengan mengurus pria yang berpenyakitan seperti aku ini." Sean berusaha menolak keinginan gadis itu, sudah cukup dia membebani Aira, kini tidak lagi.
"Ijinkan aku untuk merawatmu kak, setidaknya aku bisa mempunyai kenangan indah saat bersamamu. Kenangan yang tidak pernah aku dapatkan selama ini saat bersamamu orang yang selalu aku cintai, cinta pertamaku." Ucapnya dengan tulus.
Sean tergugu, gadis didepannya ini begitu tulus memberikan cinta yang dia miliki untuknya, tapi dia sendiri malah mempermainkan cinta tulus gadis ini. Rasanya dia sangat tidak pantas untuk mendapatkan cinta suci Aira.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah padamu Ra, aku tidak pantas menerima cintamu itu."
"Ini keinginanku kak, aku mohon jangan melarangku."
Sean tidak kuasa menolak permintaan gadis itu, dengan lemah pria itu menganggukkan kepalanya. Sementara Aira menatap senang wajah Sean karena pria itu mengabulkan permintaannya.
Sementara dibalik pintu sepasang suami istri tidak kuasa lagi menahan tangis harunya. Mereka bahagia setidaknya wajah putranya yang selama ini selalu memasang wajah sedih dan rasa bersalah, hari ini wajah itu terlihat bahagia tanpa beban.
Terima kasih ya Allah setidaknya Engkau memberikan putraku kebahagiaan sebelum Engkau mengambilnya dari kami.
**TBC
Bawang sekilo..🤣🤣🤣**
__ADS_1