Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Menjenguk baby Zayn dan Zyan


__ADS_3

"Mas ayo cepetan, lama banget deh udah kayak perempuan aja."


"Sabar sayang, ini mas juga lagi siap siap dulu."


"Mas itu udah tahu kalau dandan itu paling lama daripada aku, tadi ngapain pake acara ganggu ritual mandi aku segala, kan jadinya gini lama, ihhh sebel deh."


Percakapan singkat yang terjadi disebuah rumah mewah kediaman Mahendra siang itu menampakkan sang istri yang sedang mengomel tidak karuan ketika melihat suaminya yang dia rasa sangat lamban jika sudah berdandan itu. Sembari mengomel wanita cantik itu duduk disofa menunggu sang suami dengan raut muka kesal.


"Sabar sayang, nanti kalau sabar disayang pacar loh."


"Nggak punya pacar mas, adanya suami."


"Oh iya ya, mas lupa kalau neng cantik ini sudah punya suami." Godanya sembari tersenyum nakal yang mana malah membuat sang istri melotot.


"Nggak lucu."


"Lah emang mas lagi ngelawak ? Ya nggak lucu lah orang mas ini sedang merayu istri mas yang sangat cantk ini kok." Kerlingan mata genitnya dia lemparkan kearah istrinya.


"Mas kapan berangkatnya ? Bercanda mulu, nanti keburu brojol duluan anaknya." Pekiknya kesal lalu berdiri sembari menghentakkan kakinya dengan manja.


Alex yang melihat tingkah istrinya yang tidak pernah berubah itu hanya tersenyum sembari mnggelengkan kepalanya. Dengan lembut dia menarik pinggang ramping Jiza dan mendekapnya erat, menatap mesra manik mata hitam sang istri dengan sangat dalam, hingga membuat Jiza merona karena mendapatkan tatapan mata yang sarat akan cinta yang sangat besar.


Alex menyelipkan anak rambut istrinya yang menjuntai didepan ke belakang telinganya, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. Cara ini selalu dia lakukan jika mood sang istri sedang dalam keadaan tidak baik, dan itu terbukti saat ini. Nampak Jiza begitu  menikmati sentuhan lembut suaminya dan emosi yang sedari tadi membuncah dihatinya secara perlahan mulai menhilang. Kini wanita itu sudah dalam keadaan tenang dan melembut seperti biasanya.


"Istriku sangat cantik jika selalu tersenyum seperti ini, jangan marah marah terus tidak baik untuk kesehatan." Pujinya yang mengandung pesan didalamnya untuk sang istri tercinta.


"Maaf mas, habis kamunya yang terlalu lama sih." Ucapnya lirih.


Alex terkekeh pelan, lalu melingkarkan kedua lengannya kebelakang tubuh sang istri, mengungkungnya kedalam pelukan hangatnya.


"Disana Ara tidak sendirian sayang, ada Alvian, Oma Tamara, papa Andre dan Mama Silvi, bahkan ada Om Adi beserta istri dan jangan lupakan Paman Erick yang selalu siap siaga menyambut cucu pertama keluarga Siregar."


"Tapi aku ingin berada didekatnya saat bayinya lahir mas, aku ingin melihat moment yang sangat membahagiakan itu. Pasti sangat mengharukan melihat perjuangan Ara yang melahirkan anaknya."


"Hmmm...jadi begitu. Gimana kalau kita mencobanya sendiri, maksud mas, kenapa kita nggak merasakannya sendiri daripada melihat orang lain lebih baik kamu sendiri yang merasakannya." Ucap Alex ambigu.

__ADS_1


"Maksud mas gimana ?" Tanya Jiza yang tidak mengerti maksud ucapan suaminya.


"Sayang sepertinya sudah cukup waktu kita untuk berpacaran, sekarang waktunya kita memproduksi Alex junior. Bagaimana apa kamu setuju dengan pendapat mas ?" Tanyanya sembari mengerling nakal.


"Beneran mas ? Aku mau banget mas."Pekiknya dengan raut wajah yang sudah berubah ceria.


"Kenapa sepertinya kamu sangat senang sekali sayang ? Apa kamu sangat mengharapkannya selama ini ?" Tanya Alex sembari menaik turunkan alisnya.


Dengan wajah malu Jiza menganggukkan kepalanya perlahan, lalu membenamkan wajahnya kedalam dada bidang suaminya.


"Kenapa nggak bilang pada mas ?"


"Aku pikir mas masih belum menginginkannya dan masih ingin menghabiskan waktu berdua denganku dulu."


"Mas memang masih sangat menikmati waktu kita sayang mengingat kita hanya beberapa bulan saja berpacaran, tapi jika istri cantik mas ini memang menginginkan seorang baby, kenapa mas harus menolaknya. Mas justru bahagia kalau kamu sudah siap untuk segera mengandung anak mas."


"Aku mencintaimu mas, tentu saja aku sangat mau mengandung anakmu, tepatnya anak kita mas."


"Baiklah karena kamu sudah setuju, berarti kita harus lebih giat lagi untuk memproduksinya supaya Alex junior cepat ada disini." Kerlingnya sembari menyentuh perut rata istrinya.


"Oh ya ? Mas pikir itu adalah kemauan kita berdua sayang, bahkan dari yang mas perhatikan selama ini kamu pun begitu menikmatinya." Bisiknya dengan nada nakal.


"Jadi nggak ke Rumah Sakitnya ! Kalau nggak aku mau tidur aja." cetusnya dengan sorot mata tajamnya mengarah pada sang suami yang masih saja terus menggodanya.


"Jadi donk sayang, masa iya istri aku yang sudah susah payah berdandan  cantik ini harus tidur hanya karena kita gagal menjenguk Alvian junior. Yuk." Mengulurkan lengannya yang segera disambut oleh istrinya dengan antusias.


"Kita seperti pasangan remaja ya yank kalau seperti ini, gaya pacaran anak SMA mah lewat." Selorohnya dengan wajah jenaka.


"Kita memang sedang pacaran mas, hanya bedanya gaya pacaran kita setelah menikah, lebih nyaman, lebih nikmat,dan tidak akan pernah merasa takut dengan dosa."


"Hm...waktu belum menikah saja, jangankan dicium disentuh aja sudah mencak mencak."


"Kalau sekarang ?" Goda Jiza dengan senyuman menggoda.


"Kalau sekarang mah bebas, malah kamu yang dosa kalau menolak ajakan suami loh."

__ADS_1


"Tapi kan nggak tiap hari juga, remuk badanku mas."


Alex tertawa keras untungnya saat ini mereka sudah berada didalam mobil, jadi tidak ada orang lain yang mendengar suara tawa Alex yang membahana.


Rumah Sakit Ganendra


Dua pasang mata tua itu tidak henti hentinya menatap pada kedua bayi mungil yang saat ini sedang tertidur di dalam box bayi. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata kata oleh Tuan Andre dan istrinya. Mendapatkan dua cucu di usia mereka yang sudah  setengah abad. Bahkan pria paruh baya itu tidak pernah berhenti meneteskan airmata harunya melihat dua bayi kecil dan mungil yang nampak begitu menggemaskan.


"Mereka sangat lucu ya pa."


"Iya ma, tapi kok yang perempuan mirip sekali sama mama ya ?" Tanya Tuan Andre dengan kening berkerut.


"Ya wajar pa, kan mama memang neneknya, gimana sih. Setidaknya harus ada mirip miripnya lah walau cuma sedikit." Sahut Nyonya Silvi dengan rasa bangga.


"Mama yang terbaik." Pujinya sembari menggenggam tangan istrinya sejenak lalu berpaling pada Alvian  yang saat ini sedang duduk di samping Aira.


"Apa kalian sudah punya nama untuk kedua cucu papa ini ?"


Alvian tersenyum lalu menatap sang istri yang nampak menganggukkan kepalanya.


"Pa jika papa tidak keberatan, kami berdua ingin supaya papa saja yang memberikan nama untuk kedua anak kami."


"Apa boleh ?" Tanyanya lirih.


"Tentu, bahkan kami sangat mengharapkannya pa." Ujar Alvian mantap.


Tuan Andre menangis haru dan menatap sang istri yang juga mengeluarkan airmatanya.


"Zaynendra Aditya Siregar dan Zyanaindra Aditya Siregar, bagaimana menurut kalian, maaf tapi papa memberikan sedikit marga papa didalamnya." Ucapnya yang menyelipkan nama Ganendra dibelakang nama Zayn dan Zyan.


"Sempurna pa, kami sangat menyukainya." Seru Alvian sembari menatap kesemua orang yang nampak mengangguk setuju.


"Setuju, baby Zayn dan Zyan, nama yang sangat bagus. Semoga sebagus akhlak dan juga kehidupannya aamiin."


"Aamiin." Jawab mereka dengan serentak.

__ADS_1


TBC


__ADS_2