Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Penyesalan yang terlambat.


__ADS_3

Kanker


Hanya satu kata tapi mampu membuat pikirannya membeku seakan mati rasa, bahkan dadanya kembali terasa sakit dan sesak seiring dengan munculnya kilasan bayangan wajah sang kakak tercinta yang tiba tiba memenuhi isi ruang kepalanya.


Tidak hanya itu saja, gadis malang itu juga dapat merasakan degupan jantungnya yang bergemuruh saat mendengar salah satu jenis penyakit yang konon menjadi momok mengerikan bagi sebagian orang yang kabarnya hanya beberapa orang saja didunia ini yang bisa berhasil sembuh.


Gadis itu meremas kuat kedua tangannya, keringat dingin mulai menetes di sela sela jaringan kulitnya. Mendapati kenyataan jika kakak tercintanya mengidap penyakit mematikan dan karena penyakit itulah sang kakak akhirnya meninggalkan dunia ini.


Kanker ?


Jadi selama ini kakak sakit kanker ? Dan aku tidak mengetahuinya sama sekali ?


Tapi bukankah kakak meninggal karena kecelakaan ?


Pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikirannya, jika memang kakaknya meninggal karena penyakit berbahaya itu. lalu kenapa mereka bilang kalau Amira meninggal karena sebuah kecelakaan ? Pikirnya.


Mendapati satu kenyataan lagi yang terungkap tanpa sengaja itu membuat dadanya semakin terasa sesak, berarti selama ini dia memang dibodohi oleh orang orang disekitarnya dan bodohnya dia selalu mempercayai mereka.


Sementara itu Cherry yang melihat sahabatnya terdiam beberapa lama kini mulai dirundung gelisah. Cleo nampak bengong dengan pandangan matanya yang kosong melihat lurus kedepan. Entah apa yang dipikirkan sahabatnya itu, yang jelas gadis itu terlihat sangat kacau.


"C-cle --" Dengan sedikit ragu Cherry memanggil dan menyentuh lengan Cleo dengan sedikit menggoyangkannya pelan. " Kau baik baik saja ?"


Wajah ayu tapi pucat itu berpaling padanya. Bola matanya menatap kosong padanya membuatnya semakin cemas. Bahkan kini Chery dapat melihat genangan air dikedua mata sahabatnya itu.


"K-kanker ? Kakakku mengidap kanker ? Tapi bukannya waktu itu kau bilang kalau kak Amira meninggal karena kecelakaan ? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku Cher ?"


Glek


"Mati aku." Gumam Cherry dengan suara lirih.


Bagaimana bisa dia bertindak ceroboh dan melupakan hal itu. Karena gemas dengan sikap Cleo yang keras kepala hingga membuat bibirnya kelepasan mengatakan hal yang sudah dilarang oleh keluarganya terutama kakaknya itu. Kini dia hanya bisa menelan salivanya susah dan berharap semoga Cleo tidak semakin salah paham yang berujung dengan membencinya.


"Cle..aku."


"Sepertinya selama ini aku memang benar benar sangat bodoh ya. Aku terlalu bodoh hingga mempercayai kalian semua yang jelas jelas membohongiku." Kekehnya dengan suara bergetar menahan amarah dan tangis.


"Cle.."

__ADS_1


"Pergilah."


Deg


"Cle, aku bisa menjelaskan semuanya." Tuturnya sembari menyentuh lengan Cleo, tapi sayang gadis itu menepis sentuhan Cherry membuatnya menahan sesak karena penolakan sahabatnya.


"Kau sahabatku Cher dan aku tidak mau bersikap kasar padamu. Tolong tinggalkan aku sendiri dan jangan ada satupun dari kalian yang masuk kesini." Tegasnya sembari menatap tajam Cherry.


Pasrah


Gadis itu akhirnya hanya bisa pasrah menerima kenyataan kalau Cleo memang kecewa padanya, bahkan lebih buruknya mungkin sahabatnya itu membencinya. Dilihat dari tatapan matanya yang penuh rasa kecewa yang teramat sangat dan itu tertuju padanya.


Dengan gontai Cherry berdiri lalu berjalan menuju kearah pintu keluar dengan airmata yang sudah tumpah di kedua pipinya. Niatnya yang ingin menghibur sahabatnya justru malah semakin menambah luka hati Cleo yang belum sempat mengering.


Cherry tidak bisa berkata apa apa lagi, dia menyadari kesalahannya yang mungkin sudah fatal. Salahkan saja mulutnya yang selalu ceplas ceplos tanpa bisa dia kendalikan. Jika sudah begini dia hanya bisa menyesali karena sudah mempunyai mulut seperti ember.


Maaf kak, aku sudah membuat kesalahan besar. Semoga saja dia tidak semakin membencimu. Keluhnya dalam hati.


Sebelum benar benar pergi gadis itu berhenti dan berpaling kebelakang menatap wajah Cleo. Berharap sahabatnya itu memanggilnya kembali, namun sayang yang dia dapati malah sebaliknya, sahabatnya itu memalingkan wajahnya kearah lain. Enggan untuk menatapnya bahkan kentara sekali kalau Cleo benar benar menginginkan dia pergi dari ruangan ini.


Cherry tersenyum getir lalu berbalik dan kembali meneruskan langkahnya menuju pintu keluar.


Mendapati kenyataan jika selama ini kakaknya mengidap penyakit mematikan dan dia tidak mengetahuinya sama sekali. Kini Cleo hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena sikapnya yang selalu tidak perduli dengan kehidupan kakaknya.


Sebenarnya bukan karena dia yang tidak perduli, tapi Amira adalah gadis yang selalu tertutup. Apapun yang terjadi padanya tidak sekalipun dia membiarkan sang adik untuk mengetahuinya.


Masih terekam dengan jelas diingatan Cleo wajah pucat kakaknya dulu. Dia pikir penyebab wajah pucat kakaknya itu memang benar karena kurang tidur seperti yang dikatakan kakaknya. Dan dengan bodohnya dia mempercayai ucapan Amira yang mengatakan kalau dia baik baik saja dan menyuruhnya untuk tidak khawatir dan takut.


Dan kini setelah apa yang sudah terjadi, Cleo akhirnya sadar kalau sang kakak sedang tidak baik baik saja. Namun semua itu sudah terlambat dan sekarang hanya menyisakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.


"Adik macam apa aku ini..hiks. Kakakku sakit bahkan aku sendiri tidak tahu. Dan sekarang sebagian diri kakak malah ada pada tubuhku. Maafkan aku kak..maafkkan aku..hiks."


Cleo menumpahkan tangisnya yang sedari tadi dia tahan. Dia sungguh tidak kuat lagi menerima kenyataan pahit yang datang bertubi tubi. Rentetan kejadian yang memutar bergantian layaknya kaset kusut membuat kepalanya terasa sangat sakit.


Dadanya semakin sakit dengan nafas yang sudah tersengal sengal. Butiran keringat dingin semakin mengalir di kening dan pelipisnya. Wajahnya kian memucat dengan pandangan mata yang semakin kabur. Sebelum dia benar benar hilang kesadaran, Cleo beringsut mencoba menekan tombol merah yang ada di sisi ranjang.


"Dok..ter --"

__ADS_1


Setelah itu dia kembali tergeletak tidak sadarkan diri diatas pembaringan rumah sakit. Samar dia bisa mendengarkan suara sang Dokter yang terdengar panik. Dan setelah itu dia benar benar tidak bisa merasakan apapun lagi, dunia sudah berubah gelap.


***


Dokter menatap satu persatu orang didepannya ini dengan perasaan yang entah dia sendiri harus bagaimana mengekspresikannya. Hanya helaan nafas kasar yang keluar dari indra penciumannya.


"Bukankah sudah saya katakan jika jangan sampai membuat pikirannya stress dan tertekan ?" Cerca sang Dokter dengan suara wibawanya. "Kenapa anda tidak mendengarkan perkataan saya nona ?" Imbuhnya sembari tatapan matanya tertuju pada Cherry.


"Dok..s- saya --"


"Kondisinya sangat buruk, bahkan dia hampir saja anfal jika kami tidak segera menanganinya."


Bian terkejut begitu juga dengan Cherry dan kedua orangtuanya. Namun mereka bingung dengan perkataan dari Dokter, karena mereka merasa tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan oleh Dokter tersebut.


Pandangan mata Bian beralih pada sang adik, karena Cleo mendadap drop setellah pertemuannya dengan adiknya itu.


"Bisa kau jelaskan apa yang dimaksud oleh Dokter Cher ? Apa yang kau katakan padanya ?" Suaranya terdengar dingin dan sinis.


"Kak..aku." Gugupnya dengan tubuh gemetar, sungguh saat ini dia sangat ketakutan apalagi melihat aura dingin sang kakak yang tertuju padanya.


"Saya harap kalian bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan kepala dingin. Tolong jangan membuat keributan di sini dan saya sangat berharap kejadian seperti ini jangan sampai terulang kembali. Saat ini kondisinya sudah mulai stabil kembali dan saya menyarankan untuk sementara dari kalian semua jangan ada yang menemuinya terlebih dahulu. Biarkan pasien istirahat dengan tenang." Pesannya berusaha memberikan penjelasan pada mereka.


"Baik Dokter, kami akan melakukan apa yang anda oerintahkan. Maafkan kami karena sudaamh membuat keributan disini." Sahut Tuan Adi Nugraha.


Dokter mengangguk dengan seulas senyum tipis kemudian pamit undur diri karena masih ada pasien lain yang harus dia periksa.


Sepeninggal sang Dokter, suasana mendadak hening dan mencekam. Tuan Adi menghela nafas panjang sembari memijat keningnya. Kepalanya mendadak terasa pusing memikirkan apa yang sudah terjadi.


Pria paruh baya itu lalu mengajak sang putra yang nampaknya masih di selimuti amarah itu untuk duduk di kursi tunggu. Terbukti dengan kepalan dikedua tangannya dan urat urat dirahangnya yang kokoh.


Ekor matanya melirik sang istri untuk membawa putrinya juga duduk disebelahnya. Tahu akan kode daru suaminya, Nyonya Mira pun mengajak sang putti untuk duduk dikursi tunggu.


"Sekarang katakan pada papa, apa yang terjadi didalam sayang. Katakan saja, kamu jangan takut." Tanya Tuan Adi dengan suara lembut namun tegas.


Cherry yang tadinya hanya menunduk takut, secara perlahan mulai berani mengangkat kepalanya. Menatap manik mata papanya yang menatapnya penuh kelembutan dan kasih sayang. Tidak ada tatapan penuh intimidasi seperti sang kakak.


"Pa,,ak- aku --"

__ADS_1


TBC


__ADS_2