Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Rencana Sherina


__ADS_3

"Bos --"


Bian mendongak menatap asistennya yang saat ini sedang berdiri didepannya. Raut wajahnya tak terbaca dengan tangan kanannya yang memegang sebuah tablet.


"Hmm --"


"Asisten Nona Sherina ingin membuat janji temu dengan anda. Beliau mengatakan ada sesuatu hal penting yang ingin dibahas dengan anda Bos."


Kening Bian berkerut mendengar ucapan Ricko, tangannya yang sejak tadi bergerak lincah diatas keyboard laptopnya langsung terhenti seketika.


"Ada apa ? Ini tidak biasanya Rick, karena yang aku dengar dia adalah pria yang sangat tertutup. Bahkan selama menjalin kerja sama dengan Sherina, dia tidak pernah sekalipun ikut campur menangani proyek kami."


Ricko terdiam, hatinya membenarkan kata kata bosnya. Dari yang dia tahu Frans memang pria yang sangat tertutup. Tidak pernah membuat masalah ataupun kasus apapun.


Pria yang dia tahu menjabat sebagai kaki tangan sekaligus asisten pemilik perusahaan BIMA. Corp itu adalah pria yang sangat misterius. Setiap hari yang dia lakukan adalah bekerja didalam perusahaan berkutat dengan berkas berkas. Sementara urusan lapangan lebih dominan Sherina yang menanganinya.


"Bos, aku rasa mungkin dia ingin membahas masalah kehidupan pribadi." Tebak Ricko yang kini mulai tidak menggunakan bahasa formal.


"Apa maksudmu ? Perkataanmu malah membuatku semakin tidak mengerti Rick." Dengusnya kesal karena merasa asistennya itu terlalu berbelit belit. " Bicara intinya saja Rick." Imbuhnya.


Terlihat Ricko nampak mendesah sembari menghela nafas panjang. Entah kenapa semenjak cinta bosnya ini diterima oleh Cleo, bosnya berubah menjadi pria yang agak bodoh. Pasalnya daya tangkap dan kepekaan pria yang terkenal karena kecerdasannya itu mulai berkurang.


"Bos entah kenapa tapi aku merasa kalau ini ada hubungannya dengan Nona Sherina."


Mendengar itu Bian ikut terdiam dan mulai merenung. Ya, jujur dia juga merasa heran karena tidak biasanya Frans yang terkenal tertutup dan tidak terlalu dikenal dikalangan pebisnis itu mau menghubungi dirinya.


Mungkin apa yang dikatakan Ricko ada benarnya, pertemuan ini ada hubungannya dengan Sherina.


"Jam berapa dia minta bertemu ?"


"Waktu jam istirahat makan siang bos."


"Apa nanti waktuku free ?"


"Anda free bos."


"Bagus, konfirmasi dengan pihaknya kalau aku menerima ajakannya. Aku juga penasaran ada masalah apa sampai membuat kaki tangan Tuan Bima ingin bertemu denganku."


"Baik bos."


*


*


*


Sementara itu...


Sherina yang saat ini tengah berada diapartemen Milly, sahabatnya semasa kuliah dulu, mulai menceritakan permasalahnnya pada gadis itu. Tidak ada satupun cerita yang terlewatkan semuanya dia ceritakan dari A - Z.


Sedangkan didepannya, Milly, seperti biasa mendengarkan cerita Sherina dengan wajah yang berubah ubah. Terkadang kesal, marah, sinis dan tersenyum.


Bagaimana tidak kesal, sahabatnya itu didalam hidupnya selalu dikelilingi oleh orang orang kaya dan tampan. Dan jangan lupakan kehidupan glamournya yang selalu mewah dan elegan. Membuatnya semakin iri dan rasa ingin merebutnya semakin besar.


Dia tidak boleh membiarkan Sherina selalu bahagia, maka dari itu dengan cara apapun dia harus bisa membuat gadis itu merasakan kehidupan seperti dirinya juga. Dan jalan satu satunya demi mencapai tujuannya itu adalah dengan berpura pura menjadi sahabatnya.


Apalagi dia tahu kalau semenjak kuliah, Sherina jarang mempunyai teman. Semua itu disebabkan karena sahabatnya itu adalah tipe orang yang tertutup dan jarang bergaul.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan ? Apa kau mempunyai ide ?" Tanya Sherina pada Milly.


"Ck, kau itu adalah orang yang sangat pintar Rin, setahuku hal semacam ini sangatlah mudah bagimu mendapatkan ide." Cibir Milly dengan wajah jenaka.


"Ga taulah aku bingung. Baru kali ini aku buntu ide Mill, Bian benar benar membuatku mati kutu. Dia pria pertama yang sudah berani menolakku dan lebih memilih sekretaris sialan itu. Aku tidak terima kalau wanita itu memiliki Bian, karena Bian hanya milikku saja."


*Ya, r*ebutlah dia Rin dan nanti aku yang akan merebutnya darimu. Hahahha


Keduanya diam larut dengan pikiran masing masing. Milly melirik Sherina yang nampak terlihat frustasi, ada seringaian tipis terbit dibibirnya yang merah.


"Kenapa kau tidak menjebaknya saja Rin ?" Cetus Milly ditengah keterdiaman mereka.


"Kau gila ! Bian pria yang sangat pintar Mill, sangat susah menjebaknya. Apalagi kalau asistennya itu sudah menempel akan sangat sulit untuk mendekatinya." Serunya dengan mata melotot.


"Ck, kau itu sangat b****h Rin."


"What ! Kau bilang apa !"


"Apa ! Mau marah marah saja karena memang kau itu b****h, gunakan otakmu untuk mencari kelemahan pria itu." Ketus Milly yang membuat Sherina semakin kesal.


Tapi dia terdiam karena apa yang dikatakan oleh Milly benar adanya, akhir akhir ini otaknya selalu tidak sinkron jika sudah bersangkutan deengan Bian dan Cleo. Mungkin benar yang dikatakan oleh Milly kalau dirinya sekarang berubah menjadi wanita b****h.


"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Desahnya dengan wajah frustasi.


Milly memutar bola matanya jengah dengan sikap sahabatnya itu.


"Kemari." Serunya melambaikan tangan meminta Sherina mendekat padanya.


Milly membisikkan sesuatu ditelinga gadia itu. Entah apa yang dia katakan yang jelas sebuah senyuman tipis namun penuh kelicikan terbit disana.


"Sangat yakin. Aku pastikan kalau dia akan menjadi milikmu dan menyingkirkan sekretarisnya itu." Jawab Milly penuh keyakinan.


"Tapi bagaimana kalau gagal ?" Tanyanya berubah murung, ada sedikit keraguan disetiap kata katanya.


"Kalau gagal kau harus menjalankan rencana B. Tapi aku yakin sekali kalau rencana A pasti akan sukses."


"Ak--"


Ddrrtt


Suara nada pesan diponselnya menghentikan perkataan Sherina. Melihat ID sang pemanggil dengan cepat Sherina mengangkat panggilan di ponselnya


"Bagaimana ?"


"-----------------"


"Kau yakin itu akurat ?"


"------------------"


"Baiklah, kerja bagus. Aku akan memberimu bonus nanti."


Sherina tersenyum penuh kemenangan, kali ini dia sangat yakin kalau rencananya dan sahabatnya tidak akan gagal.


"Siapa Rin ?"


"Hah ? Bukan siapa siapa, dia seseorang."

__ADS_1


"Kau tidak mau menceritakan padaku ?"


"Aku akan bercerita tapi tidak sekarang, nanti kalau semua rencana kita sudah berhasil. Maaf bukannya aku tidak percaya padamu, aku hanya tidak ingin rencana kita gagal Mill, kau mengerti kan."


Dengan senyum terpaksa Milly menganggukkan kepalanya, siapa yang tahu jika didalam hatinya dia merasa sangat kesal.


Sial, siapa yang menelponnya ? Kalau begini aku pun tidak bisa menjebaknya.


"Berhubung hari ini aku sangat senang, bagaimana kalau kita ke club ? Sudah lama bukan kita tidak kesana ?"


"Ayo, aku selalu siap Rin." Jawab Milly antusias dengan senyuman manis terbit diwajahnya.


*


*


*


Diwaktu yang sama...


"Selamat siang Tuan Frans, maaf sudah membuat anda menunggu."


Frans, pria maskulin dengan rambut berwarna pirang itu berdiri menyambut kedatangan Bian dengan senyuman ramah. Tidak lupa pria itu mempersilahkan tamunya duduk.


"Selamat siang Tuan Bian, senang bertemu dengan anda. Silahkan duduk saya juga baru datang beberapa detik yang lalu." Sambutnya dengan senyuman lebar.


Bian turut membalas senyuman Frans dengan tidak kalah hangatnya, keduanya lalu duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Frans.


Bian menatap ruangan VIP yang ada di sebuah restoran ternama. Melihat perilaku Bian, Frans pun langsung membuka mulutnya.


"Maaf kalau membuat anda tidak nyaman Tuan, sengaja saya memilih privat room karena saya tidak ingin pembicaraan kita didengar oleh orang lain." Ujarnya dengan raut wajah tidak enak.


"Oh, tidak apa apa Tuan, saya tidak keberatan. Saya hanya merasa kagum dengan penataan desain interiornya yang sangat elegan."


Frans menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


"Ngomong ngomong usia kita sepertinya tidak terlalu jauh, bisakah kita tidak bersikap formal seperti ini? Aku akan lebih senang kalau kau memanggilku tanpa menggunakan embel embel." Pinta Bian pada Frans yang langsung dijawab dengan sangat antusias oleh pria itu.


"Sepertinya itu bukan permintaan yang sulit Bi."


"Ya ya kau benar." Jawab Bian dengan tawanya.


Setelahnya keduanya nampak larut dalam perbincangan ringan yang terkadang membuat keduanya sesekali tertawa. Dan setelah cukup berbasa basi, Bian mulai memasang wajah serius, begitupun dengan Frans.


"Baiklah Frans, aku rasa sudah cukup kita berbasa basi. Sekarang bisakah kau jelaskan padaku maksud dari permintaanmu bertemu denganku ? Karena aku merasa heran laki laki super sibuk sepertimu yang bahkan tidak perduli dengan keramaian dunia luar mau menyempatkan diri bertemu denganku yang hanya orang kecil saja dia didepanmu."


"Hahahaha..kau terlalu merendahkan diri Bi, aku tidak sehebat itu."


"Ya ya ya..sekarang katakan apa maksud tujuanmu meminta bertemu denganku. Karena aku bukanlah orang yang sabar Frans." Dengusnya kesal karena pria didepannya ini seperti sedang mengukur ukur waktu.


"Hah..baiklah kau benar ini saatnya kita serius, aku memang sengaja meminta bertemu denganmu karena ada sesuatu hal penting yang ingin aku rundingkan denganmu, Bian."


"Tentang --?"


"Sherina."


TBC

__ADS_1


__ADS_2