
Assalamualaikum..
Hai kesayangan, maaf beberapa hari Aira dan juga Riana tidak up. Alhamdulillahnya author sedang mendapatkan ujian.
Mencoba ikhlas walaupun agak sulit, tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Aku sadar betul kalau semua yang ada dimuka bumi ini hanyalah milik Allah dan akan kembali pada Allah nantinya. Begitupun dengan harta.
Sempat sesak dan blank karena kehilangan harta benda membuat aku kehilangan semangat, tapi alhamdulillah dukungan suami selalu menguatkan membuat aku perlahan bisa mengikhlaskan.
Bingungkah ? Jadi gini, waktu itu author sempat mengalami yang namanya kecopetan, astaghfirullah..semoga yang mencopet segera mendapatkan hidayah. Aamiin.
Semua uang, identitas, Atm, dan surat surat penting raib. Walau sempat down, alhamdulillah aku sudah ikhlas sekarang, berpikir positif, mungkin akunya kurang bersedekah jadi rezekinya diambil lagi oleh Allah.
Pesan author nih buat kesayangaan aku, selalu berhati hati kalau ditempat ramai, jangan bawa benda berharga apapun, kalau perlu bawa uang seperlunya saja. Satu lagi nih. posisikan tas dibalik ya. jadi resleting tas bukan menghadap kedepan tapi menghadap ketubuh kita, supaya tidak memudahkan untuk pelaku berbuat kejahatan.
Udah segitu aja pesan dariku, semogga kita semuaa selalu dihindarkan dari kejahatan apapun..aamiin.
************************************************************************************
Happy Reading...
"Istriku sangat cantik sekali."
Wajah Aira merona mendapatkan pujian dari sang suami tercinta, gadis itu tersenyum sembari menundukkan kepalanya.
"Kenapa menunduk begitu sayang, suamimu ada didepan bukannya dibawah." Goda Alvian dengan senyum jahilnya, dia tahu saat ini istrinya itu merasa malu.
"Mas udah ah, aku malu."
Alvian terkekeh lalu dengan lembut meraih pinggang istrinya dan membawanya kedalam pelukannya. Sementara kedua telapak tangan Aira berada di depan dada bidang suaminya menahan tubuh kekarnya.
"Kamu benar benar sangat cantik sayang, mas sangat menyukainya. Mas ingin selamanya tetap seperti ini." Harapnya dengan menatap kagum bola mata hitam Aira.
Aira mendongak keatas, posisi tubuhnya yang hanya sebatas leher Alvian, membuatnya harus mengangkat lehernya supaya bisa memandang dengan jelas wajah Alvian.
"Sesuai keinginanmu mas."
Kedua mata mereka saling memandang memancarkan cinta yang begitu besar diantara keduanya. Perlahan tangan Aira bergerak keatas dan memeluk leher Alvian, merekatkan tubuhnya semakin erat dengan tubuh kekar suaminya yang begitu menenangkan hatinya.
__ADS_1
Pelukan itu begitu membuat Aira merasa nyaman dan tenang. Aira begitu mengidolakan suaminya, mungkin dia terlalu berlebihan tapi sungguh dia sangat mencintai pria ini. Pria yang setiap harinya selalu memperlakukannya dengan lembut dan hangat. Bahkan semenjak menikah belum pernah sekalipun pria ini berkata kasar padanya.
Suara musik berubah menjadi lembut dan mendayu, saat sang MC mempersilahkan beberapa tamu undangan yang ingin menari dansa dengan pasangannya.
"Mau dansa denganku nona ?" Tanya Alvian sembari membungkuk dan mengulurkan sebelah tangannya.
Aira tersenyum malu namun tidak urung tangannya terulur menyambut tangaan suaminya yang dibalas dengan kecupan lembut dipunggung tangannya oleh Alvian, lalu membawa wanita pujaannya kearena dansa. Dengan perlahan lahan tubuh keduanya menyatu dan bergerak seirama dengan dengan musik dansa.
"Aku mencintaimu." Bisik Alvian merdu ditelinga sang istri dengan kedua matanya yang terus menatap wajah ayu didepannya.
"Aku juga mencintaimu mas, sangat." Balasnya tidak kalah lembut, lalu menyenderkan kepalanya didada bidang Alvian.
Alvian mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut dan penuh penghayatan.
"Tetaplah disampingku apapun yang terjadi nanti sayang. Sebesar apapun badai menghantam kita, aku harap kita akan selalu kuat untuk menghadapinya. Untukmu aku selalu berdoa semoga kamu selalu kuat dan menjadi wanita tangguh. Jangan mudah percaya ataupun terpuruk dengan omongan orang. Jangan merasa takut, karena aku, suamimu ini akan selalu berada dibarisan paling depan untuk terus melindungimu."
Aira mengrenyit lalu mendongak keatas, merasa heran akan ucapan suaminya yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa mas berkata seperti itu ?"
Alvian tersenyum, mengecup kilas bibir merah istrinya.
Aira tersenyum dengan kedua matanya yang sudah berkaca kaca. Menyenderkan kepalanya didada bidang suaminya dengan degupan jantung yang begitu kencang. Tubuh mereka masih bergerak mengikuti irama musik dansa yang mengalun lembut.
Aku merasa kalau kamu menyembunyikan sesuatu yang besar dariku mas. Tapi untuk bertanya aku tidak mempunyai keberanian yang lebih. Tapi aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kita mas, aku janji sehebat apapun badai yang menerpa kita, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Seperti dirimu yang selalu melindungiku dan menguatkan aku, begitupun denganku. Aku berjanji akan selalu menjadi kekuatanmu, bukan kelemahanmu.
Meninggalkan pasangan romantis kita beralih pada satu pasangan lagi yang tidak kalah romantis dari mereka. Kedua anak manusia itu juga sedang ikut tenggelam dalam lautan cinta yang mereka ciptakan sendiri.
Alex yang jahil dan berubah menjadi pria mesum, memeluk pinggang erat istrinya dengan sesekali saling menggesekkan sesuatu dibawah sana. Tentu saja tingkah Alex itu mendapat pelototan tajam istrinya.
"Mas ! Bisakah kalau kamu itu tidak mesum begitu. Aku jadi bingung kenapa mendadak sikapmu berubah menjadi mesum akut begitu." Sungutnya sembari berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh suaminya.
Alex menyeringai, lalu semakin merekatkan tubuh keduanya hingga tidak ada jarak.
"Aku sudah tidak sabar untuk nanti malam sayang." Bisiknya ditelinga istrinya.
Sontak saja Jiza melotot lalu mencubit perut sickpax Alex, membuat pria itu memekik kesakitan.
__ADS_1
"Sakit sayang, kamu itu, baru beberapa menit kita menikah, tapi kamu sudah melakukan kdrt padaku." Sungutnya dengan memasang wajah melas.
Jiza cemberut lalu memalingkan wajahnya, hatinya sedikit kesal akan sikap absurd suaminya.
"Kenapa marah ? Aku hanya bercanda. " Membawa wajah istrinya supaya menghadap padanya. "Apapun itu aku bersyukur dan bahagia karena memilikimu didalam hidupku. Semenjak kehadiranmu, hidupku terasa semakin berwarna. Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu. Kedepannya tetaplah disampingku hingga menua nanti."
Ucapan dan pengakuan cinta Alex sukses membuat hati gadis itu bergemuruh menahan rasa bahagia yang begitu membuncah. Kedua tangannya memeluk pinggang kekar Alex dengan erat.
"Aku mencintaimu mas." Ucapnya lirih dan semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.
Hati Alex begitu bahagia kala sang istri mulai memanggilnya dengan panggilan mas, dia semakin mengeratkan pelukannya. Suasana pesta pernikahan yang begitu romantis, Alex menyukai ini. Dan dia harus berkali kali lipat mengucapkan terima kasihnya pada Alvian nanti.
Namun kebahagian dua pasangan itu sepertinya hari ini harus kembali diuji. Padahal ini hari bahagia Alex dan Jiza, namun sepertinya takdir masih ingin sekali lagi menguji dua pasang manusia itu. Takdir ingin melihat seberapa kuat mereka menghadapi badai ini.
"Selamat malam semuanya."
Suara pria dengan suara berat namun terkesan dingin membuyarkan beberapa pasang tamu yang masih menikmati alunan musik dansa. Bahkan mereka sampai tidak sadar jika musik dansa sudah lama berhenti.
Kini tatapan para tamu hanya tertuju pada satu orang pria paruh baya yang saat ini tengah berdiri dipanggung pelaminan. Tatapan bingung terlihat jelas dikedua mata Alex dan Jiza juga dengan tamu undangan. Namun tidak dengan Alvian dan juga Bian, bahkan disudut ruangan Tuan Adi sudah mengepalkan kedua tangannya.
Erick, beraninya kau mengacau disini. Geram Tuan Adi dalam hati.
Erick, pria itu menyeringai saat melihat raut wajah tegang adik dan keponakannya itu. Rasanya begitu senang melihat mereka dengan wajah panik. Tatapannya beralih pada sosok wanita cantik disamping Alvian.
"Maaf mengganggu acara indah anda Tuan Alex, saya hanya ingin memberikan hadiah yang sangat istimewa untuk anda dihari pernikahan anda Tuan. Mengingat jika anda adalah sahabat keponakan dan menantu saya, otomatis anda pun menjadi keluarga saya. Jadi sudah seharusnya saya memberikan anda hadiah."
"Siapakah dirimu Tuan ?" Tanya Alex dengan kening berkerut.
"Saya adalah paman dari pria itu." Menunjuk kearah Alvian yang matanya sudah berkilat karena marah.
Alex tersenyum, dia belum sadar jika pria didepannya ini bakal memberikan hadiah yang tidak akan pernah dia duga sebelumnya.
"Silahkan paman, saya senang dengan kedatangan paman disini. Kau benar paman, keluarga Alvian adalah keluarga saya juga, kami memang sangat dekat."
Erick tersenyum menyeringai, lalu dengan gerakan tangannya dia memberi kode pada anak buahnya untuk segera melakukan apa yang dia perintahkan.
"Apa apaan ini !"
__ADS_1
TBC