Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Bian Cemburu


__ADS_3

Cleo berjalan tergesa gesa meninggalkan Bian yang sedang terpaku dibelakang sana dengan rahang yang mengeras karena diabaikan olehnya. Dan Cleo tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi pada pria itu saat ini.


Langkah kakinya semakin cepat menuju abang ojek online yang sudah menunggunya sedari tadi. Gadis itu benar benar membulatkan tekadnya untuk menghindari sejauh mungkin dengan makhluk yang namanya Fabian Nugraha itu.


"Ayo mas, saya sudah terlambat." Pintanya pada mas mas tukang ojek yang ternyata wajahnya lumayan ganteng dengan tubuhnya yang kekar berotot tidak kalah dengan pria dibelakang sana. Bahkan terlihat sekali jika tukang ojek itu masih muda seperti seorang mahasiswa.


"Kemana mbak ?" Tanyanya polos karena sempat kagum sama wajah ayu didepannya.


"Tadi bukannya diaplikasi sudah tertera dengan jelas ya mas ? Saya mau ke Universitas Trisakti mas."


"Hehehehe, maaf mbak, saya mendadak lupa, habisnya liat mbaknya yang cantik saya jadi lupa deh. Ayo mbak, kebetulan saya juga kuliah disana." Ajaknya dengan senyum malu malu kucing.


"Oh ya ? Jurusan apa ?" Sedikit tertarik dengan obrolan singkat mereka.


"Managemen bisnis mba, tapi sedang tahap pengajuan skripsi."


"Waah..sama donk. Aku juga lagi magang nih, sebentar lagi selesai."


"Kenapa bisa kebetulan ya, tapi kok saya nggak pernah lihat mbaknya sih."


"Saya ambil kuliah malam mas."


"Oh..pantas. Oh iya kenalin aku Revan." Mengulurkan tangan kanannya kearah Cleo yang langsung disambut hangat oleh gadis itu tanpa mereka berdua ingat jika dibelakang sana wajah Bian sudah memerah menahan amarah.


"Aku Cle..."


"Nggak usah genit genit jadi cewek." Sahut sebuah suara yang langsung menarik tangan Cleo yang hendak menyambut uluran tangan Revan.


Mereka berdua langsung menengok kebelakang dan menemukan sosok Bian dengan wajah yang sangat menyeramkan bagi seorang Cleo. Sepanjang hidupnya mengenal pria ini belum pernah sekalipun Bian menampilkan wajah dinginnya seperti saat ini.


"Maaf mas, anda ini siapa ya ?"


"Kau tanya aku ini siapa ?" Tanyanya dingin.


Revan mengangguk dengan tenang sama sekali tidak ada raut ketakutan diwajahnya saat melihat rona wajah Bian yang menunjukkan gelagat tidak bersahabat.


"Aku..aku pacarnya dia dan kau jangan sembarangan mendekati pacarku." Jawabnya enteng.


Cleo, melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria ini. Menyentak kasar tubuh Bian sampai membuat pria itu sedikit terhuyung kebelakang.


"Ngawur, siapa yang anda bilang pacar. Kalau bicara jangan suka asal. Ayo Re, aku sudah sangat telat ini." Gerutunya sambil meraih helm yang disodorkan pria didepannya.


"Aku bilang aku yang akan mengantarmu." Lagi lagi Bian meraih kasar lengan Cleo, bahkan kali ini dia melepas helm yang sudah berada dikepala gadis itu lalu memberikannya pada Revan.

__ADS_1


"Pergilah." Ketusnya.


"Dia memesan ojekku, dan aku tidak bisa pergi jika tidak dengan pemesanku. Bisa bisa aku tidak dibayar nanti." Jawabnya santai yang mana membuat mata Bian melotot.


Pria itu mendengus lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Ini bayaranmu dan sekarang pergilah." Usirnya dengan raut wajah kesal.


"Oke." Meraih lembaran uang merah itu dengan senyuman puas lalu menatap pada Cleo.


"Cle, nanti aku tunggu dikantin ya, ada traktiran untukmu lumayan dapet rezeki nomplok ini." Ujarnya dengan senyum sumringah.


"Siap Re." Jawab Cleo tidak kalah sumringahnya.


Revan langsung tancap gas meninggalkan dua orang yang mungkin saja sedang bersitegang menurut pikirannya.


Dasar pasangan kekasih aneh, berantem kok dipinggir jalan. Tapi Cleo sangat cantik sepertinya aku juga jatuh cinta pandangan pertama dengan gadis itu. Gumamnya dalam hati.


Sementara Cleo yang saat ini sedang kesal karena ulah Bian yang mengusir ojek pesanannya, berjalan menjauh meninggalkan Bian. Baginya percuma saja meladeni pria itu yang bahkan mempunyai seribu satu cara untuk membuatnya merasa tersakiti.


"Mau kemana ?"


"Kampuslah mau kemana lagi." Ketusnya sambil berjalan.


"Tidak perlu repot repot." Menghentak kasar cekalan Bian lalu kembali berjalan, saat ini tujuannya adalah halte bis yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya.


Hah..gara gara pria menyebalkan ini aku harus menunggu bus yang lewat. Bisa bisa aku terlambat beneran ini. Gerutunya dalam hati.


"Aku bilang aku akan menggantarmu. Apa kau ingin terlambat ?" Tanyanya dengan menatap tajam gadis didepannya yang sama sekali tidak ingin menatap dirinya.


"Dan saya juga sudah bilang kalau anda jangan repot repot membuang waktu dan tenaga anda untuk mengantar saya. Dan lebih baik saya terlambat daripada harus diantar oleh anda. Pergilah, anda sudah mengganggu waktu saya." Ketusnya tajam.


Ditolak mentah mentah bahkan diabaikan oleh Cleo tentu saja membuat seorang Bian meradang. Ini sudah berkali kali Cleo selalu mengabaikan dirinya. Dan berkali kali pula Bian selalu lupa jika apa yang terjadi saat ini adalah karena keinginannya juga. Tapi anehnya pria tampan itu selalu amnesia dan seakan tidak terima diperlakukan seperti ini.


"Aaaaaaaa ! Apa yang kau lakukan ! Turunkan aku." Teriaknya saat pria itu menggendongnya layaknya menggendong sebuah karung beras.


Cleo memukul mukul punggung Bian ataupun seluruh tubuh pria itu yang kira kira bisa dia jangkau. Protes dengan apa yang dilakukan pria itu dengan seenaknya.


Bruk


"Diam disini." Ujarnya saat Bian menurunkannya dikursi depan mobilnya.


Menutup lalu memutari mobilnya menuju pintu kemudi. Dan moment ini tidak disia siakan oleh Cleo yang langsung membuka kembali pintu mobilnya. Mumpung pria menyebalkan itu belum masuk kedalam mobil, pikirnya.

__ADS_1


"Aku bilang diam dan jangan protes, atau kamu ingin kucium disini hah. Kenapa kau selalu membangkangku Cle."


Entah kecepatan apa yang dipakai oleh pria itu hingga tiba tiba sudah ada didalam mobilnya, padahal baru saja dia melihat Bian melangkah memutari mobilnya.


"Aku mau turun." Ketusnya, sepertinya percuma juga dia memakai bahasa formal untuk pria menyebalkan yang duduk disebelahnya.


"Sepertinya kau memang lebih senang jika ku cium Cle." Ucapnya sembari mengikis jarak diantara mereka.


"Ap-apa yang kau lakukan ? Menjauhlah." Ujarnya panik.


"Kenapa ? Bukankah selama ini kau selalu mengharapkan moment bersamaku seperti ini ?" Ejeknya dengan nada sinis.


Iya tapi tidak dalam keadaan seperti ini juga.


"Anda terlalu percaya diri Tuan." Ketusnya tidak kalah sinis.


Mendengar jawaban Cleo membuat Bian meradang, pria itu semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak keduanya tinggal beberapa centi lagi. Bahkan Cleo bisa merasakan deru nafas Bian yang beraroma mint.


"Menjauhlah kalau tidak aku akan melukai diriku sendiri." Ancamnya tiba tiba dengan tangan yang sudah memegang sebuah gunting kecil dan mengacung tepat dihadapan Bian.


Pria itu terkejut dan langsung memundurkan wajahnya seketika. Panik tentu saja, bagaimana bisa gadis itu tiba tiba mendapatkan benda berbahaya seperti itu.


"Kau ! Apa yang kau lakukan, buang benda itu, itu bahaya." Ujarnya dengan wajah tegang.


Cleo tersenyum sinis, beruntung dia ingat jika didalam tasnya ada sebuah gunting kecil yang dia beli tadi yang belum sempat dia simpan dirumahnya karena keburu Cherry datang kekontrakan dia tadi pagi.


"Buka pintunya." Ketusnya dengan wajah yang menyimpan amarah dan kesal.


"Cle.."


"Aku bilang buka pintunya kalau tidak kau akan bersama dengan mayatku disini." Ancamnya sembari mengarahkan gunting itu kepergelangan tangannya, bersiap menggunting urat nadinya.


Bian yang panik hanya bisa pasrah dan menyerah, menekan tombol kunci mobil dan membiarkan gadis itu keluar dari mobilnya.


"Aku sudah bilang bukan menjauhlah dariku dan bersikaplah seolah olah kita tidak saling kenal. Dan aku rasa kau bukanlah pria tuli dan juga pikun." Sarkasnya lalu menutup keras pintu mobil Bian.


Bian tersentak, baru kali ini dia melihat sisi lain seorang Cleo yang biasanya selalu terlihat lembut dan ramah.


"Sial !!" Umpatnya sembari memukul stir mobil.


Pria itu menghela nafas kasar dengan pandangan matanya tetap terarah pada Cleo yang berjalan semakin jauh dari mobilnya.


"Apa yang terjadi denganku ? Kenapa aku selalu dibuat pusing olehnya ? Bukankah selama ini aku membencinya ? Gara gara dia aku harus kehilangan sosok orang yang aku cintai." Gumamnya kasar dengan nafas berat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2