Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Apa yang membuatmu bersedih


__ADS_3

VIP Room...


Beberapa saat setelah kepergian Aira, sepasang suami istri itu hanya terdiam membisu sibuk dengan pikirannya masing masing. Sesekali terdengar helaan nafas yang begitu berat diantara keduanya, nampak sekali ada beban yang begitu besar yang mereka tanggung.


"Apa yang harus kita lakukan ma ?" Tanya Tuan Andre pada sang istri.


"Mama juga bingung pa, tapi melihat Ara yang sudah bahagia dengan hidupnya sekarang, sangat tidak adil jika kita memberitahukan kondisi Sean pa. Dia sudah cukup menderita selama ini, mama tidak tega jika harus kembali membuatnya terluka dan bersedih." Jawab Nyonya Silvi dengan hati yang remuk mengingat bagaimana kondisi Sean yang sudah tidak ada harapan lagi.


Melihat istrinya kembali menangis dengan segera Tuan Andre menghampiri dan kemudian memeluk erat istrinya. Sama seperti istrinya, diapun juga merasakan hancur ketika mendapati kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan oleh Sean.


"Jangan menangis ma, saat ini yang harus kita lakukan adalah mendukung Sean dan memberikan kasih sayang kita padanya. Membuat hatinya terhibur untuk menutupi kesedihannya."


Nyonya Silvi mengangguk lemah didalam dekapan suaminya, wanita yang masih cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi itu hanya bisa pasrah setelah segala cara yang mereka lakukan ternyata tidak membuahkan hasil apapun. Kondisi Sean semakin memburuk dan tidak punya harapan lagi.


"Kita akan kehilangan putra kita pa." Isaknya dengan hati yang pilu. "Putraku. yang selama ini aku kandung selama 9 bulan pada akhirnya akan meninggalkan kita."


Wanita itu semakin terisak dengan hati yang terluka, jujur saja dia belum siap untuk kehilangan Sean.


"Ikhlaskan ma, bagaimana lagi. Dokter pun sudah mengatakan tidak ada harapan lagi, saat ini kita hanya bisa menunggu detik detik saat hari itu akan tiba. Hari dimana kita akan kehilangannya untuk selama lamanya."


Tuan Aryan melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi istrinya dengan telapak tangannya yang besar.


"Ingat ma, jangan tunjukkan wajah sedih ini didepan Sean, jangan sampai dia ikut bersedih karena sudah membuat kita bersedih begini. Selalu tersenyum seolah olah tidak terjadi apapun, apa kamu bisa melakukannya ma ?"


"Lalu bagaimana dengan Ara pa ? Lambat laun dia pasti akan tahu kan." Tanya Nyonya Silvi dengan gurat khawatir membingkai wajahnya.


"Biarkan semuanya mengalir seperti air ma, ingat Sean sendiri yang melarang kita untuk mengatakan kondisinya jika suatu saat kita bertemu dengan Ara. Dan sekarang saat kita sudah bertemu dengannya, jujur papa ingin mengatakan padanya tentang kondisi Sean yang sekarat, tapi begitu melihat reaksinya tadi saat papa menyebutkan nama Sean, papa mengurungkan niatan papa. Dan mama bisa melihat sendiri bagaimana trauma Ara yang masih melekat dihatinya ma." Ucap Tuan Aryan panjang lebar.


"Biarkan tetap seperti ini ma, jikapun Ara tidak akan mengetahuinya sampai kapanpun anggap saja ini penebusan dosa Sean yang selama ini sudah begitu banyak menyakitinya." Imbuhnya dengan bijak walau tidak dapat dipungkiri hatinya ikut merasa sesak jika mengingat dia akan kehilangan putra semata wayangnya.


Nyonya Silvi kembali menghambur dipelukan suaminya dengan isak tangis yang semakin kencang. Keduanya larut saling menyalurkan kesedihan yang mendalam hingga tidak sadar jika gadis yang mereka bicarakan sudah berdiri ditengah tengah pintu dengan tangan yang menutupi bibirnya dan airmata yang sudah menganak sungai.


"Apa maksud kalian ? Apakah yang kalian katakan itu adalah kebenaran ?"

__ADS_1


Sepasang suami istri itu terkejut setengah mati saat mendengar suara Ara diruangan tersebut. Spontan mereka saling melepaskan pelukannya dan kembali memasang senyum seolah olah tidak terjadi apapun.


"Ara kamu kembali sayang ? Apa ada yang ketinggalan nak ?" Tanya Nyonya Silvi dengan tersenyum manis dan tetap memasang wajah seperti biasa.


"Ponselku ketinggalan ma." Sahutnya singkat lalu berjalan menuju meja dimana ponselnya memang tergeletak disana.


Bergerak cepat meraih benda pipih itu dan memasukkannya kedalam tas dengan tangan gemetar, dan itu semua tidak luput dari penglihatan mata Tuan Andre.


Pria paruh baya itu menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya secara perlahan saat tersadar jika Aira mungkin sudah mendengar percakapan mereka.


"Jadi katakan padaku ma, apakah yang aku dengar tadi adalah kebenaran ? Sean saat ini sedang sakit dan..waktunya juga tinggal sedikit." Bibirnya bergetar saat mengucapkan kata kata itu.


"Tidak nak, semua yang kamu dengar tidaklah benar, kamu hanya salah dengar sayang." Lirih suara Nyonya Silvi berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya.


"Salah dengar ? Aku bukan anak kecil berusia 5 tahun yang percaya begitu saja sekalipun orangtuanya berbohong ma. Aku wanita dewasa dan aku juga pernah menjadi seorang istri dari seseorang walaupun itu hanya satu hari."


Tuan Andre sudah tidak dapat berkutik lagi, dengan terpaksa dia harus memberitahu gadis itu.


"Pa.." Seru Nyonya Silvi pada suaminya sembari menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah ma, tidak ada gunanya lagi kita menyembunyikannya, Ara sudah dengar semua yang kita bicarakan tadi." Jawab Tuan Andre sembari menghela nafas panjang, sementara sang istri sudah terkulai lemas diatas sofa.


"Jadi yang aku dengar tadi memang benar ? Aku pikir itu hanyalah gurauan saja." Ucapnya lirih dengan bibir bergetar.


"Sean sakit, ginjalnya mengalami komplikasi dan sebenarnya kamipun tidak tahu apa penyebabnya sampai ginjalnya rusak. Itu kesalahan kami, semenjak kepergiannya 2 tahun silam, kami benar benar memutuskan hubungan komunikasi dengannya, bahkan papa menyita semua kartu dan aset yang dia pegang. Dan papa juga baru tahu Sean sakit satu bulan yang lalu tepatnya setelah kami kehilangan dirimu nak." Tuan Andre menjeda ceritanya lalu menatap wajah Aira yang sudah deras dengan airmata.


"Apa tidak ada jalan keluarnya pa ? Kalian bisa membawanya berobat keluar negeri kan." Serunya dengan isak tangis yang semakin kencang.


"Sudah nak, walau dia awalnya menolak tapi kami berhasil memaksanya dan membawanya ke Jepang dengan harapan akan berhasil. Tapi harapan kami melayang saat Dokter disana pun sudah mengangkat kedua tangannya menyerah karena kami memang terlambat membawanya. Dan saat ini kami hanya menunggu detik detik hari itu akan tiba, hari dimana kami akan kehilangan Sean, putra kami."


Aira tidak bisa mengucapkan kata katanya lagi, dia syok benar benar syok hingga bingung harus mengatakan apa.


Perlahan gadis itu melangkah mundur hingga kemudian berbalik berlari menjauh dari ruangan tersebut dengan diikuti tatapan sendu Tuan Andre.

__ADS_1


Maafkan papa Se, kami sudah melanggar janji kami padamu. Tapi bagaimanapun dia memang harus tahu, setidaknya kamu bisa meminta maaf padanya sebelum kepergianmu.


Sementara Aira terus berlari dan saat berada didepan pintu keluar gadis itu berhenti sejenak menghapus jejak airmata yang masih membekas diwajahnya. Setelah dirasa sudah hilang dia meneruskan langkahnya menuju mobil Alvian yang terlihat sudah menunggunya dipintu keluar parkir.


"Sudah ketemu ?" Tanya Alvian sesaat kekasihnya itu sudah masuk kedalam mobil.


"Ada mas, hehe ternyata benar ketinggalan disana, maaf ya sudah menunggu lama." Ucapnya meringis berusaha menutupi kesedihannya.


"Tidak masalah sayang. Baiklah ayo sekarang kita pulang, tadi Oma sudah menelponku, lebih tepatnya sih menanyakan cucu cantiknya ini." Jawabnya dengan tersenyum.


"Siap bos."


Alvian tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya yang memberi hormat layaknya seorang bawahan pada atasannya. Tanpa menunggu lama mobil itu sudah meluncur kencang memecah padatnya jalanan ibukota.


"Ra, apa terjadi sesuatu ?" Tanya Alvian hati hati pasalnya semenjak masuk kedalam mobil gadis itu hanya membisu dengan kepala yang bersender dijendela.


"Hah..tidak ada mas. Memang kenapa ? Kok nanya gitu." Gadis itu malah balik bertanya berusaha menutupi rasa gugupnya dan juga kesedihannya.


"Tidak ada sayang, hanya tumben saja pacar aku ini diam terus nggak kayak biasanya." Jawab Alvian singkat.


"Aku hanya mengantuk mas, bolehkah aku tidur ? Aku benar benar mengantuk."


"Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu jika sudah sampai dirumah."


"Maaf ya mas."


"Its oke Baby."


Aira kemudian memejamkan kedua matanya dan tidak menunggu lama gadis itu sudah tertidur pulas. Alvian menghentikan mobilnya dipinggir jalan, menurunkan sedikit kursi penumpang Aira supaya gadis itu merasa nyaman.


Aku tahu sudah terjadi sesuatu padamu Ra, aku bisa melihatnya dengan jelas kedua matamu yang sembab. Apa yang sudah terjadi sayang hingga membuatmu begitu sedih seperti ini ?


TBC

__ADS_1


__ADS_2