
Alex benar benar menepati ucapannya, setelah obrolan singkatnya dengan kedua orangtuanya malam itu, esoknya mereka langsung menyambangi rumah Jiza dan bertemu dengan kedua orangtuanya.
Walaupun agak terkejut dengan kedatangan calon besannya yang mendadak, dan juga niatan mereka yang melamar putrinya, pada akhirnya orangtua Jiza hanya bisa menerima lamaran tersebut. Tentunya setelah mendengarkan penjelasan calon besannya yang memang ada benarnya.
Mereka takut dengan pergaulan anak zaman sekarang yang terlalu bebas, menghalalkan segala cara dengan mengatasnamakan cinta diatas segalanya. Dan setelah mempertimbangkan beberapa point diatas akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti kemauan Alex.
Hari semakin cepat berlalu tanpa terasa pernikahan Alex dan Jiza hanya tinggal 2 hari lagi. Kabar pernikahan mereka pun sudah tersebar keseluruh penjuru negeri karena undangannya pun sudah mereka sebarkan. Konon katanya pernikahan ini akan di laksanakan di sebuah gedung hotel bintang 5 milik Alvian.
Aira begitu antusias mendengar kabar baik tentang sahabatnya ini, makanya demi melihat kebahagiaan istrinya, Alvian memberikan hadiah berupa pesta pernikahan mewah untuk kedua sahabat yang begitu berarti didalam hidup istrinya itu.
Seperti malam ini, Aira masih sibuk melihat lihat foto prewedding Alex dan Jiza yang dikirim oleh Jiza kedalam ponselnya dengan senyum indah yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Rona bahagia itu semakin membuat aura kecantikannya berkali kali lipat keluar. Membuat Alvian yang sedari tadi duduk menyamping pun enggan untuk memalingkan tatapan matanya dari wajah istrinya.
"Sayang."
Nada manja Tuan suami mulai muncul, melihat sang istri yang sedari tadi mengacuhkannya. Entahlah akhir akhir ini Alvian selalu bersikap manja pada istrinya yang cantik itu.
"Hmmm."
"Aku dicuekin terus loh dari tadi, kamu mah gitu, sibuk sama mantan istimewa sampai lupa kalau suaminya ada disebelahnya."
Aira mesem namun matanya masih fokus pada layar ponselnya. Suaminya itu kini berubah seperti wanita saja. Manja dan gampang ngambekan. Sangat berbanding terbalik dengan sifatnya yang dulu dingin dengan sorot matanya yang tajam, menusuk siapa saja yang berani mengganggunya.
Oma Tamara yang duduk diseberang sofa nampak memandang jengah cucunya itu yang nampak manja pada istrinya itu. Wanita lanjut itu merasa aneh dengan perubahan sikap Alvian.
"Al, apa kau itu sakit ?"
"Kenapa Oma bertanya begitu."
"Sikapmu seperti anak bayi yang minta disusuin." Cibirnya dengan wajah jengahnya.
Alvian mencebik tidak memperdulikan ucapan Omanya. Pria itu masih saja bergelayut manja dipangkuan sang istri. Membuat suster yang merawat oma terkikik geli.
Aira tentu saja malu dengan sikap manja Alvian yang selalu mengumbar kemesraan disembarang tempat. Dengan halus dan lembut, Aira mencoba membuat Alvian bangun dari posisinya.
"Mas bangun dulu gih, akunya nggak nyaman ini. Malu sama Oma dan suster." Bisiknya pelan ditelinga suaminya.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya sontak saja Alvian langsung mengalihkan pandangan matanya kearah Aira dan menatapnya tajam. Ada rona tidak suka terlihat jelas dibola matanya yang cokelat itu. Lalu tanpa berkata apa apa lagi dia beranjak bangun dan pergi berjalan menuju kamarnya yang ada dilantai atas.
Aira menghela nafas panjang melihat suaminya yang saat ini sedang merajuk. Membuat Oma Tamara terkekeh kecil, tidak habis pikir dengan sifat manja cucunya yang sudah kembali seperti dulu.
"Sana susul suami kamu sebelum dia makin merajuk kayak anak bayi." Kekehnya dengan gelengan kepala.
Aira tersenyum kecil, menghampiri oma nya untuk pamit masuk kekamarnya.
"Ara kekamar ya oma, oma juga segera istirahat udah malam." Pamitnya sambil mencium kedua pipi wanita lanjut itu.
Oma Tamara terharu dengan semua perlakuan lembut cucu menantunya itu. Dia memang tidak salah pilih istri untuk cucunya, Aira memang sudah ditakdirkan untuk Alvian. Terlepas dengan semua masa lalu buruk keduanya, Oma tidak pernah mempermasalahkannya, yang penting kedua cucunya saat ini sudah hidup bahagia.
"Non Aira sangat baik Nyonya." Celetuk suster dengan senyuman masih tercetak diwajahnya. "Bahkan dengan kami para pelayan saja nona tidak pernah membeda bedakannya."
"Aku tahu, dan aku bahagia karena sudah memilihnya untuk menjadi istri cucuku. Dia memang sangat baik dan lembut, maka tidak heran kalau banyak yang menyukainya." Ucapnya penuh haru sembari memandang kepergian Aira yang semakin menjauh.
Meninggalkan dua manusia yang masih mengobrol dibawah, kini Aira sudah berada didalam kamar. Wanita cantik itu mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan. Mencari sosok suaminya yang tidak terlihat disana.
Senyuman kecil terbit dibibirnya yang tipis saat melihat pintu balkon yang terbuka, Alvian pasti disana. Dengan segera wanita itu berjalan ke Arah balkon dan benar saja suami tampannya itu sedang berdiri dengan tubuh yang bersender dipagar.
Pria itu berdiri dengan pikiran yang menerawang jauh. Melihat dengan mata kepala sendiri istrinya yang begitu senang saat melihat foto Alex, diam diam membuatnya cemburu. Pikiran buruk sempat menghantuinya, dia tahu siapa Alex dimata sang istri.
Dia juga bingung dengan dirinya yang beberapa hari ini ingin selalu dimanja oleh istrinya. Rasanya setiap detik setiap menit dia menginginkan perhatian Aira selalu tertuju padanya. Aneh bukan, karena ini bukanlah kebiasaannya.
Hatinya juga sedang merasa gundah, menghadapi ancaman salah satu pamannya yang sukses membuatnya sedikit mengkhawatirkan istrinya. Dia takut pamannya nekad melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan Oma dan istri tercintanya. Walaupun Om Adi berjanji akan melindungi istrinya, tetap saja dia harus waspada, mengingat bagaimana kakak sulung papanya itu yang begitu nekad.
Disaat dia masih asik melamun, tiba tiba tubuhnya berjengit saat merasakan dua tangan mungil masuk menelusup dipinggangnya yang kekar. Disusul dengan pelukan erat dan nafas hangat yang menerpa punggungnya.
"Mas.." Suara lembut mendayu itu sontak membuatnya terpejam menikmati hangatnya pelukan sang istri.
"Hmm."
Dia cuek ingin sedikit menggoda dan memberi pelajaran pada istrinya karena sudah berani mengacuhkannya tadi.
"Dingin." Desahnya manja.
__ADS_1
Alvian tersenyum kecil tahu kode arti dari sang istri, tapi pria itu masih ingin menggoda wanita pujaannya itu.
"Kalo dingin pake selimut."
"Mass."
Mendengar nada suaminya yang masih dingin karena masih merajuk, membuat Aira mendecak sebal. Dia harus berpikir cepat untuk meruntuhkan kekesalaan suaminya. Sementara Alvian masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh istri nya itu untuk merayunya.
Aira melepaskan pelukannya dan kini berganti memeluk Alvian dari depan setelah dia menelusup melewati ketiak suaminya. Wajah cantiknya menengadah keatas guna melihat wajah tampan didepannya yang masih terlihat dingin dan datar.
Perlahan jemarinya yang lentik terangkat dan menelusuri wajah Alvian yang kini mulai tumbuh bulu halus disekitar dagunya.
"Mas ganteng masih marah."
Alvian masih diam tidak menyahuti ucapan istrinya, pandangan matanya masih tetap tertuju kedepan menembus gelapnya malam.
Gemas karena suaminya yang masih diam saja, Aira langsung mendekatkan bibirnya kedada bidang suaminya lalu menggigit keras benda liat itu. Sontak saja Alvian memekik kesakitan dan langsung menatap tajam wajah istrinya yang memperlihatkan senyum tak berdosanya.
"Sakit Ra." Desisnya menahan rasa nyeri karena gigitan istrinya.
Aira tersenyum nakal, tanpa berbasa basi dia langsung menarik leher suaminya dan mendaratkan ciuman ganasnya disana. Alvian yang mendapatkan dua serangan tiba tiba itu tentu saja terkejut, tapi tidak urung pria itu tersenyum dibalik ciuman istrinya.
Sekian detik berikutnya dia membalas ciuman istrinya dengan menarik tengkuk Aira untuk memperdalam ciuman mereka yang semakin lama semakin panas dan menuntut. Aira juga menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Rasanya beberapa hari belakangan ini dia ingin selalu berdekatan dengan suaminya dan menghabiskan setiap malam dengannya.
Alvian menatap wajah istrinya dengan mata yang sudah berkabut gairah membara. Tahu akan keinginan suaminya, Aira membelai manja dada bidang Alvian dan bergerak melepaskan satu persatu kancing piyama milik Alvian. Memberikan kecupan kecupan kecil disana yang justru semakin membuat Alvian tidak bisa lagi menahan sesuatu yang sudah bergejolak dari tadi.
"Kamu dengar, malam ini aku tidak akan sekalipun melepasmu sayang." Bisiknya ditelinga Aira dengaan nada suaranya yang berubah serak.
"Aku milikmu mas, dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku mencintaimu jadi jangan pernah meragukan aku lagi." Ucapnya lirih.
Alvian tersenyum dengan hati yang berbunga mendapatkan pengakuan cinta istrinya untuk kesekian kalinya.
"Aku juga mencintaimu istriku." Bisiknya tidak kalah lembut.
Lalu dengan mata yang masih saling memandang mesra penuh mendamba dari keduanya, Alvian membawa tubuh Aira untuk masuk kedalam kamarnya. Menutup pintu dengan kakinya dan membaringkan tubuh Aira dengan sangat hati hati diatas ranjangnya yang empuk.
__ADS_1
Dia sendiri ikut naik keatas ranjang dan sudah mengunci tubuh istrinya dengan tubuhnya yang besar, menatap penuh cinta wajah cantik yang ada dibawahnya. Dan malam itu ditengah dinginnya suasana malam tapi berbeda dengan yang ada diruangan kamar luas tersebut. Hanya ada suara suara indah yang terdengar disana berlomba dengan suara jangkrik dan hewan malam lainnya.
TBC...