Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Aku wanita kotor


__ADS_3

Aira nampak menatap langit langit kamar dengan pikiran yang tidak menentu. Setelah pengakuan pria yang bernama Alvian tadi, sepertinya pikirannya mulai mengembara. Dan baru beberapa menit yang lalu Aira mulai mengingat sosok Alvian.


Gadis itu tersenyum miris akan hidup yang dia jalani. Mau lari kemanapun pada akhirnya dia akan jatuh kedalam lubang yang sama. Niatnya ingin pergi dari kehidupan Sean, tapi takdir membawanya pada orang yang mengingatkannya pada profesinya.


Takdir sungguh mempermainkan hidupku, ini begitu lucu dan mengenaskan.


Aira menarik nafasnya yang kembali terasa sesak, jika disuruh memilih Aira lebih memilih untuk tidak selamat saja.


"Kamu sudah bangun ?"


Suara bass khas milik Alvian menyadarkannya kembali dari lamunannya. Dia melirik sekilas kearah pria tampan itu, lalu kembali menatap langit langit kamar.


Melihat gadis itu hanya terdiam membuat Alvian merasa gemas. Dia bukan tipe pria yang sabar apalagi jika dicuekin seperti ini. Dan dia rela melakukan apa saja untuk membuat gadis itu memperhatikannya.


Aira terkejut dengan tindakan Alvian yang tiba tiba merangkak naik keranjang dan sekarang mengungkungnya dengan tatapan penuh arti. Senyuman penuh seringaian licik terlihat jelas disana.


Aira menatap penuh curiga pada pria yang berada diatas tubuhnya. Jantung gadis itu bergemuruh hebat dengan wajah yang sudah memanas. Sungguh saat ini keduanya terlihat sangat intim.


"K-kamu mau apa ?" Tanyanya dengan suara gugupnya.


Alvian menyeringai penuh misteri, lalu menatap wajah Aira dengan intens.


"Apalagi jika bukan untuk membuatmu bicara." Jawabnya singkat lalu dengan cepat dia menempelkan bibirnya pada benda kenyal tapi manis milik Aira.


Cup


Aira melotot dengan jantung yang bergemuruh hebat. Gadis itu membeku, bahkan saking terkejutnya gadis itu tidak membalas ciuman Alvian.


Mendapai Aira yang tidak membalas ciumannya membuat Alvian semakin gemas. Pria itu menggigit pelan bibir bawah Aira, yang langsung membuat Aira membuka mulutnya karena gigitan pria tersebut.


Dan Alvian tidak menyia nyiakan kesempatan tersebut. Lidahnya menerobos masuk mengabsen seluruh rongga mulut gadis itu. Ciumannya yang lembut dan menggoda mampu membuat Aira serasa terbang dan merasakan hal yang selama ini tidak pernah dia dapatkan, bahkan dari Sean sekalipun.


Cukup lama mereka berciuman sampai pada akhirnya nafas Aira yang hampir habis membuat pria itu baru melepaskan ciumannya. Alvian menatap lembut Aira yang nampak tersengal sengal karena ulahnya.


Alvian tersenyum tipis dengan jemarinya yang mengusap lembut bibir Aira yang masih nampak basah karena bekas ciumannya. Lalu pria itu kembali mengecup kilas bibir cherry itu yang selalu membuatnya candu.


"Aku tidak suka dicuekin, dan itu hukuman untukmu karena sudah berani bersikap acuh padaku." Bisiknya tepat didepan wajah Aira, bahkan deru nafasnya yang hangat begitu terasa di pipi gadis itu.


Aira berpaling demi menutupi rasa malunya. " Maaf."

__ADS_1


"Aku maafkan."


Alvian bangkit dari atas tubuh Aira lalu duduk ditepi ranjang. Saat gadis itu hendak bangun pria itu dengan sigap membantu Aira untuk duduk dan bersender dihead bad.


"Bagaimana keadaanmu ?"


Aira menatap sekilas wajah Alvian lalu kembali menunduk. Alvian sungguh merasa gemas dengan tingkah Aira yang seperti ini, sangat berbeda saat dulu dia melayaninya. Begitu seksi dan menggairahkan.


"Sayang ?" Suara lembut mendayu milik Alvian saat memanggilnya dengan sebutan sayang, membuat Aira langsung menoleh.


"Apa harus kupanggil dengan cara seperti itu supaya kamu tidak mengacuhkanku hmm ?"


"Ak-aku..."


"Apa ?"


"Maaf tapi aku tidak pantas mendapat semua itu."


"Kenapa tidak pantas ?"


Aira menghela nafasnya secara perlahan, lalu dia memberanikan diri untuk menatap wajah Alvian yang juga sedang menatap dirinya.


Raut wajah Alvian langsung berubah pias mendengar perkataan Aira. Rahangnya mulai mengeras dan rasa amarah langsung menggerogoti kepalanya.


Bagaimana dia bisa mengatakan akan pergi setelah aku bersusah payah mencarinya dan baru saja menemukannya.


Tanpa berkata apapun, Alvian langsung berdiri dan berjalan kearah pintu membuat Aira menjadi bingung. Bahkan gadis itu sampai berjengit kaget saat pria itu menutup pintu dengan begitu keras.


Ada apa dengannya ? Apa dia marah karena aku ingin pergi, tapi aku tidak ingin merepotkan orang lain lagi.


Enggan berpikir lebih, Aira lalu bangkit berdiri dan mulai membereskan ranjangnya yang sedikit berantakan. Walau masih sedikit merasa pusing, tapi dia menahannya. Keinginannya untuk pergi sejauh mungkin dari kota ini begitu kuat. Dan dia tidak ingin menundanya lagi, sudah cukup selama ini dia menderita seorang diri dan menyusahkan orang lain.


Saat dia berjalan kearah pintu bersamaan dengan Alvian yang kembali masuk. Pria itu mengrenyit saat melihat Aira yang sudah sedikit rapi.


"Kamu mau kemana ?"


"Ak-aku mau pergi." Jawab gadis itu gugup dengan kepala tertunduk.


Alvian merasa geram dengan sifat keras kepala gadis itu, lalu dengan kasar dia mencekal lengan Aira yang masih tertutup perban. Entah itu disengaja atau tidak yang jelas saat ini Aira meringis saat lengannya tercekal kuat.

__ADS_1


"Apa kamu tidak juga mengerti dengan sikapku padamu ? Apa kamu tidak mengerti jika aku menginginkanmu untuk selalu ada disini ? Aku memintamu untuk tidak pergi dan selalu ada bersamaku, sekarang ataupun selamanya. Aku sudah berusaha keras untuk mencarimu dan sekarang setelah aku menemukanmu, kamu pikir aku akan melepaskanmu pergi hah."


"Tuan..sakit."


"Al, panggil aku Al...aku bukan tuanmu." Ucapnya dingin.


"Al...sakit." Isakan kecil keluar juga dari bibir gadis itu yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit dipergelangan tangannya.


Alvian yang sadar jika dirinya sudah membuat gadis yang dicintainya itu kesakitan langsung melepaskan cekalannya lalu memeluk erat gadis tersebut.


"Tolong jangan pergi dari sini, aku sudah lama mencarimu Ra. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku sangat mencintaimu." Ucap Alvian dengan suara bergetar saat mengucapkan kalimat keramat tersebut.


Aira bengong dengan wajah terkejutnya, tidak menyangka jika pria itu mengutarakan isi hatinya.


"Jangan mencintaiku Al, aku mohon. Aku tidak pantas untuk dicintai oleh orang sebaik dirimu. Kamu bahkan tahu bagaimana kehidupanku, aku hanyalah seorang pe..."


"Ssttt....aku tidak perduli dengan status apapun itu. Bagiku yang penting sekarang ini adalah bagaimana keadaan hatiku yang menginginkanmu untuk selalu ada bersamaku. Sungguh aku mencintaimu Araku sayang."


Aira menggeleng keras, gadis itu mencoba menyadarkan Alvian jika pilihan hatinya tidaklah tepat. Dia harus melakukan ini, walaupun nanti akan membuat hati pria itu sakit, tapi akan lebih sakit jika suatu saat dia menyesali keputusannya itu.


Dengan kasar Aira melepas paksa pelukan Alvian lalu membalikkan tubuhnya membelakangi pria tersebut.


"Maaf Al, tapi aku tidak bisa menerima cintamu. Masih banyak gadis lain yang lebih baik dariku. Aku hanyalah wanita kotor dan tidak pantas untukmu. Aku tidak ingin kamu menyesali keputusanmu dikemudian hari."


Alvian langsung memeluk erat Aira dari belakang, sangat erat seakan tidak ingin terlepas lagi. Hati pria itu begitu takut mendengar penolakan yang dilontarkan gadis tersebut.


"Jangan menolakku Ra, aku mohon. Sungguh aku sangat mencintaimu, dan lupakan semua masa lalu yang begitu membuatmu trauma. Akupun bukan sosok yang sempurna Ra. Aku juga bukan pria baik baik, aku seorang pria brengsek seperti kebanyakan pria diluar sana. Tapi semenjak pertama kali bertemu denganmu entah kenapa hatiku mengatakan jika aku begitu menginginkanmu.


Bahkan aku sampai tidak bisa memejamkan mata, setiap detik hanya ada bayanganmu yang selalu menghiasi pikiranku. Walaupun aku tahu siapa dirimu, tapi rasa cintaku tidak bisa mengalahkan semuanya. Aku mencintaimu Ra, sungguh sangat mencintaimu."


Aira mengusap airmatanya yang menetes deras dipipinya. Dia begitu bahagia bisa mendapatkan cinta yang begitu besar untuknya. Namun rasa trauma dan sakit hati dimasalalunya begitu besar hingga membentuk rasa takut akan kejadian yang sama terulang kembali. Dan itu membuatnya mengalahkan perasaannya selama ini. Baginya cinta hanyalah permainan omong kosong dan dia begitu takut untuk bisa menyentuhnya lagi.


"Mengertilah Al, semua itu mustahil untuk aku lakukan. Lagipula aku sudah tidak bisa merasakan cinta lagi seperti biasanya. Hatiku sudah mati bersamaan dengan hilangnya harga diriku. Jadi percuma saja walaupun kamu mempunyai rasa cinta untukku, aku tidak bisa membalasnya karena rasa itu tidak ada sama sekali dihatiku." Ucapnya tegas penuh penekanan, rasa kecewa dan sakit hati pada Sean membuat hatinya membeku bagaikan sebongkah batu.


Alvian hanya bisa mematung melihat betapa rapuhnya hati gadis didepannya ini. Tangannya terulur ingin menyentuh dan memeluk gadis itu kembali, namun beberapa centi lagi tangannya akan menyentuh pundak Aira, Alvian membatalkan niatnya lalu menarik tangannya kembali.


"Dengar aku tidak akan pernah merubah keputusanku Aira. Dan aku pastikan jika aku akan membuatmu kembali merasakan cinta, apapun dan bagaimanapun caranya." Ucapnya dingin lalu berbalik keluar kamar meninggalkan Aira.


Kenapa kamu tidak juga mengerti Al. Aku bukanlah wanita baik baik, aku begitu kotor. Aku takut berdampingan denganmu yang mempunyai segalanya. Aku takut jika keberadaanku nanti membuatmu dalam kesulitan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2